Bima Liem wakes in another's body—a young Chinese-Javanese man in Waringin, East Java, crushed by family pressure, insults, and silent injustice.
This time, he won't stay silent. A mysterious Golden Defiance System binds to him: every time he resists moral blackmail, social pressure, or unfairness, he earns points for extraordinary abilities—god-level legal skills, deadly combat, hacking, spy drones, and hidden wealth.
Armed with law and the system, he begins an unprecedented mission: send every wrongdoer to prison—one by one. Trolls, bullies, corrupt officials, fake doctors, campus thugs, cruel neighbors—none escape the People's Prosecutor.
Everyone sees a humble village youth, unaware behind that calm face lurks a hidden billionaire, national hero, and the most dangerous man in any courtroom. You can choose silence. But if you choose evil—don't expect me to choose good.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 011: Peluru Balik
Pukul tujuh tiga puluh pagi, Ratna sudah berdiri di depan pintu dengan jaket denim dan tas selempang.
"Aku ikut," katanya sebelum Bima bertanya.
Bu Sri dari dapur langsung menyahut, "Ratna, kampusmu bagaimana?"
"Hari ini tidak ada kelas penting. Dan kalau pun ada, aku tetap ikut. Aku yang paling tahu grup kampusku ngomong apa. Itu bisa jadi bukti juga."
Bima melihat adiknya. Wajah Ratna masih lelah, tetapi matanya tidak menghindar. Ratna datang sebagai saksi, sebagai korban tekanan sosial, dan sebagai orang yang memilih berdiri.
"Oke," kata Bima. "Tapi di Polsek, kamu bicara sesuai yang kamu lihat dan terima. Jangan tambah-tambah."
Ratna mengangguk. "Siap, Pak Pengacara palsu."
"Belum pengacara. Baru korban yang rapi."
Pak Harto mengantar mereka sampai pagar. Telur sudah dibersihkan. Noda kuning samar masih menempel di sela besi. Ia memandang noda itu, lalu berkata, "Bima, kalau nanti polisi... kalau mereka tidak percaya?"
"Mereka boleh tidak percaya saya," jawab Bima. "Tapi mereka harus membaca bukti."
Polsek Waringin berada di dekat jalan utama. Bangunannya kecil dan sibuk. Ada motor patroli di depan, papan pelayanan masyarakat, dan beberapa orang duduk menunggu dengan wajah urusan masing-masing.
Bripka Wanto, polisi berkumis tipis dengan mata tajam tapi tidak galak, menerima mereka di meja pelayanan.
"Saudara Bima Liem?" Ia menatap Bima, lalu layar ponselnya sebentar. "Nama Anda sedang ramai."
Ratna langsung menegang.
Bima tetap tenang. "Karena itu saya datang, Pak Wanto. Saya ingin membuat laporan. Fitnah, manipulasi video, ancaman daring, dan intimidasi ke rumah."
Pak Wanto menyandarkan punggung. "Saya harus jujur. Video yang beredar membuat banyak orang punya kesan buruk. Kalau Anda datang hanya untuk klarifikasi biasa, saya sarankan mediasi keluarga dulu."
Bima meletakkan map plastik tebal di meja. "Saya tidak datang membawa kesan, Pak. Saya membawa kronologi dan bukti digital."
Map itu dibuka.
Satu halaman ringkasan kronologi. Satu flashdisk. Cetakan screenshot chat. Tabel metadata. Foto pagar dilempari telur. Daftar komentar ancaman. Tautan video viral. Perbandingan frame video editan dan rekaman asli.
Pak Wanto mengambil halaman pertama. Alisnya turun. Lalu ia mengambil halaman kedua. Lima menit kemudian, posisi duduknya berubah.
"Ini Anda susun sendiri?"
"Ya."
"Dari mana rekaman asli restoran?"
"Ada kamera restoran dan kamera sekitar. Saya mendapat salinan yang relevan dari sumber yang bisa diverifikasi. Kalau dibutuhkan, saya siap minta restoran menyerahkan salinan resmi melalui permintaan penyidik."
Pak Wanto menatapnya lebih lama. "Anda tahu prosedur."
"Saya belajar cepat ketika keluarga saya dilempari telur."
Ratna mengeluarkan ponselnya. "Saya juga punya bukti perundungan di grup kampus, Pak. Mereka menyebut nama keluarga kami, menyebarkan alamat, dan ada yang menyuruh orang datang."
Pak Wanto membaca beberapa pesan. Wajahnya mengeras.
"Baik. Kita buat laporan dulu. Dugaan pencemaran nama baik dan fitnah, manipulasi konten, ancaman, serta penyebaran data pribadi kalau alamat ikut disebarkan. Untuk pasal, nanti penyidik dan jaksa yang merumuskan lengkap. Anda siap dimintai keterangan?"
"Siap."
Prosesnya tidak secepat film. Ada formulir, KTP, tanda tangan, pertanyaan berulang, kronologi detail, dan penjelasan file digital. Bima menjawab semua tanpa tergesa. Ratna memberikan keterangan tentang pesan di grup kampus.
Seorang anggota polisi muda sempat lewat dan melirik Ratna. "Ini yang videonya itu, Pak?"
Pak Wanto menatapnya sekali. "Di ruangan ini kita pakai berkas, bukan gosip. Ambil buku register."
Kalimat itu pendek, tetapi cukup membuat Ratna mengendurkan bahu. Bima mencatatnya dalam kepala: Wanto tampak sulit dibeli oleh keramaian.
Saat berita acara awal diketik, Pak Wanto meminta Bima menjelaskan satu per satu file. Bima tidak memakai istilah terlalu teknis. Hash ia jelaskan sebagai sidik jari file. Metadata sebagai catatan bawaan video. Perbedaan timestamp sebagai bukti bahwa video sudah diekspor ulang setelah kejadian.
"Kalau nanti ahli digital forensik memeriksa, hasilnya akan sama," kata Bima. "Saya tidak meminta Bapak percaya pada saya. Saya meminta Bapak mengunci barang bukti sebelum mereka menghapus sumbernya."
Pak Wanto mengetuk meja dengan pulpen. "Baik. Itu alasan yang masuk akal."
Dua jam kemudian, tanda terima laporan berada di tangan Bima.
Pak Wanto memegang flashdisk bukti. "Saya akan teruskan ke unit terkait. Tapi saya perlu bilang, setelah laporan masuk, pihak sana mungkin menghubungi untuk damai."
"Mereka boleh menghubungi," kata Bima. "Saya boleh menolak."
Untuk pertama kalinya, Pak Wanto tersenyum tipis. "Itu hak Anda."
Saat keluar dari Polsek, Bima tidak langsung pulang. Ia duduk di warung kopi kecil seberang jalan, membuka akun media sosial baru yang tidak memakai nada marah. Judul unggahannya sederhana:
Rekaman Lengkap Restoran Rejeki Makmur - Tanpa Potongan.
Video publik itu berdurasi tiga menit dua puluh detik. Ia tidak memuat semua hal pribadi. Cukup memperlihatkan Darmawan memaksa Harto minum alkohol, Bu Sri menyebut obat, Bima mengambil gelas, Siska merekam dari sudut tertentu, dan keluarga Bima pergi. Di akhir, Bima menambahkan teks pendek:
Video yang beredar telah dipotong untuk menghilangkan konteks. Laporan polisi sudah dibuat. Semua ancaman dan penyebaran alamat rumah sedang didokumentasikan.
Ia menekan unggah.
Satu menit pertama, komentar masih menghina.
Lima menit kemudian, orang mulai ragu.
"Loh, versi lengkapnya beda banget?"
"Yang cewek itu kok dari awal sudah rekam?"
"Omnya maksa orang minum padahal lagi obat? Parah."
"Berarti video pertama editan?"
Lima belas menit kemudian, akun lokal Waringin membagikan ulang. Tiga puluh menit kemudian, salah satu netizen menemukan akun @airmata_siska baru dibuat sebelum unggahan viral. Satu jam kemudian, komentar yang tadinya menyerang Bima mulai berbalik menyerang Siska.
Beberapa akun yang paling keras menghina mulai menghapus komentar. Bima sudah menyimpannya. Ada yang mengganti nama pengguna. Bima sudah mencatat tautan lamanya. Ada yang menulis, "Aku cuma ikut komentar, jangan baper." Bima memasukkan tangkapan layar itu ke folder baru: Pembelaan Bodoh.
Ratna menunjuk layar sambil mendengus. "Tadi pagi mereka berani banget. Sekarang jadi cuma ikut-ikutan."
"Itu sebabnya hukum penting," jawab Bima. "Kerumunan tidak punya tulang punggung. Surat panggilan punya."
Ratna menatap layar dengan mulut terbuka. "Mas... cepat banget."
"Opini memang cepat," kata Bima. "Makanya jangan pernah menjadikannya pengganti otak."
Pak Wanto menghubungi sore hari.
"Saudara Bima, kami butuh Anda siap dihubungi lagi. Tim sudah mengamankan terlapor utama untuk pemeriksaan awal. Siska Kurniawan ditemukan di hotel Waringin. Dua nama lain sedang dilacak."
Ratna hampir menjatuhkan gelas. "Siska ditangkap?"
"Diamankan untuk pemeriksaan," koreksi Bima. Matanya dingin. "Langkah pertama."
Malamnya, rumah mereka tidak lagi dilempari telur. Tetangga yang tadi pagi mengintip sekarang lewat dengan senyum canggung. Di grup RT, orang yang meminta klarifikasi tiba-tiba menulis: "Semoga masalah Pak Harto sekeluarga cepat selesai. Kita jangan mudah percaya video potongan."
Bu Sri membaca itu, lalu tertawa kecil sambil menangis.
Pak Harto duduk lama di teras. "Cepat sekali orang berubah."
"Bukan berubah, Pak," kata Bima. "Mereka hanya pindah ke sisi yang terlihat menang."
Ponsel Bima bergetar.
Nomor tidak dikenal.
Ia mengangkatnya tanpa suara.
Di seberang, napas Darmawan terdengar berat.
"Bima? Ini Om Darmawan. Kita perlu bicara." Ada jeda, lalu suara itu merendah. "Berapa... berapa yang kamu mau supaya cabut laporan?"