NovelToon NovelToon
Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

Arya Pratama dikeluarkan dari sekolah. Nilai jelek, masa depan hancur, semua orang bilang dia tidak berguna. Tapi hari itu, dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya — bukan dia yang bodoh... seluruh dunia yang bodoh.

Apoteker tidak bisa hitung tambah-kurang. Profesor universitas menulis rumus yang salah selama ratusan tahun tanpa ada yang sadar. Juara catur dunia bisa dikalahkan dalam sepuluh langkah. Di dunia ini, pengetahuan SMA biasa adalah kekuatan tertinggi — dan Arya adalah satu-satunya orang yang memilikinya.

Dari siswa yang dibuang, dia naik menjadi legenda yang tidak pernah menunjukkan wajah aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16: Kebenaran Mulai Terbuka

Rahman menolak bicara selama tiga puluh tujuh menit.

Ia duduk dengan tangan diborgol, bibir pecah, dan mata yang tidak mau melihat foto korban. Komisaris Sari mencoba pertanyaan formal. Kapten Wira mencoba tekanan dingin. Pak Surya hampir kehilangan kendali dua kali dan harus ditarik keluar. Semua cara orang dewasa membentur dinding yang sama: Rahman diam, lalu tersenyum seolah diamnya adalah kemenangan.

Arya berdiri di belakang kaca ruang pemeriksaan, membaca setiap gerakan kecil.

"Dia takut pada orang lain lebih dari takut pada polisi," kata Arya.

Sari melipat tangan. "Kamu menyimpulkan itu dari apa?"

"Ketika Ibu menyebut penjara, pupilnya stabil. Ketika Kapten Wira menyebut keluarga korban, rahangnya tidak berubah. Tapi saat saya menyebut orang yang menyuruhnya, jari tengah kanannya berkedut. Itu bukan rasa bersalah. Itu refleks takut."

Kapten Wira menghela napas kasar. "Kita tidak punya waktu untuk kuliah bahasa tubuh."

"Maka gunakan waktunya untuk hal yang berguna." Arya menunjuk papan lokasi. "Dia tidak akan memberi alamat. Kita buat dia memberi arah tanpa sadar."

Sari menatapnya. "Caranya?"

"Tanya tempat yang salah. Sebut tiga lokasi palsu dengan urutan tertentu. Ia akan bereaksi paling kecil pada tempat terdekat dengan lokasi asli, karena otaknya sibuk menahan diri."

Kapten Wira menggeleng. "Itu spekulasi."

"Semua interogasi adalah spekulasi yang diberi seragam. Bedanya, spekulasi saya bisa diuji dalam lima menit."

Sari hampir tersenyum, tetapi menahannya. "Lakukan. Tapi kamu tidak masuk. Saya yang tanya."

Arya mengangguk. Ia menulis tiga nama tempat: gudang koperasi, rumah dinas terbakar, dan pabrik es kosong di sisi barat saluran air. Dua tempat pertama pernah disebut Pak Surya. Tempat ketiga ia pilih karena posisinya hanya satu belokan dari jalur drainase yang belum diperiksa.

Sari masuk kembali. "Rahman, kami sudah tahu korban dipindahkan. Gudang koperasi?"

Tidak ada reaksi.

"Rumah dinas lama?"

Rahman mendengus. "Cari saja."

"Pabrik es kosong?"

Jari tengah kanannya menekan borgol. Hanya sekali. Sangat cepat. Tapi Arya melihatnya. Putri yang berdiri jauh di belakang juga melihat tubuh Arya condong sedikit ke depan.

Sari keluar. "Pabrik es?"

"Bukan tepat di sana. Terlalu besar dan terlalu mudah disisir. Tapi dekat situ. Ada akses saluran air di barat sekolah yang tidak tercatat di denah baru."

Pak Surya teringat sesuatu. "Dulu ada rumah pompa kecil. Setelah banjir besar, ditutup."

"Ditutup di laporan atau benar-benar ditutup?" tanya Arya.

Pak Surya tidak menjawab. Jawaban itu sudah cukup.

Tim bergerak dalam sepuluh menit. Sari membawa dua mobil tanpa sirene. Arya ikut di mobil kedua setelah ayahnya ditelepon dan diberi penjelasan singkat. Budi awalnya menolak keras, tetapi ketika mendengar tiga anak mungkin masih hidup dan Arya hanya akan berada bersama polisi, ia menutup telepon dengan suara berat: "Pulang dalam keadaan utuh."

Jalan menuju pabrik es kosong melewati pasar yang mulai sepi. Hujan kecil turun, cukup untuk membuat aspal mengkilap dan jejak kaki cepat hilang. Arya memandangi kaca jendela, menghitung ulang waktu tempuh Rahman dari sekolah, beban tubuh korban, kemungkinan obat bius, dan kebutuhan air bagi korban hidup.

"Kalau dia menahan mereka lebih dari dua hari, perlu sumber air," katanya.

Sari yang duduk di depan menjawab, "Rumah pompa."

"Atau pipa bocor di dekatnya. Pelaku miskin persiapan. Geraknya jauh dari profesional. Ia memilih tempat yang sudah punya fasilitas dasar."

Kapten Wira memeriksa pistolnya. "Kamu yakin tidak ada pelaku kedua di lokasi?"

"Tidak yakin. Tapi kalau ada, Rahman tidak akan kembali sendiri ke aula. Ia akan mengirim orang lain. Artinya rantai perintah tidak dekat secara fisik. Yang menyuruhnya memberi pengaruh dari jauh."

Mobil berhenti dua ratus meter dari pabrik es. Polisi turun tanpa suara. Putri dan Rizky tidak ikut, tetapi Putri mengirim satu pesan: Jangan sok kuat. Arya membacanya, lalu membalas: Saya sok akurat.

Putri di rumah menatap balasan itu dan ingin marah, tetapi senyumnya keluar lebih dulu.

Di lapangan, Arya menunjuk ke pagar berkarat. "Bukan lewat gerbang. Bekas roda di gerbang terlalu lama. Lewat saluran."

Mereka menyusuri dinding sampai menemukan beton rendah tertutup semak. Di baliknya ada mulut drainase setinggi pinggang orang dewasa. Bau air busuk keluar, bercampur sesuatu yang lebih tajam: obat pembersih murah.

Kapten Wira berbisik, "Ada yang membersihkan jejak."

"Terlalu banyak," jawab Arya. "Orang yang tidak biasa membersihkan akan memakai cairan terlalu kuat."

Mereka masuk bergantian. Sari meminta Arya tetap di belakang. Ia patuh, tetapi matanya bekerja lebih cepat daripada langkah polisi. Di dinding drainase, ada goresan baru setinggi bahu anak. Di lantai, air mengalir ke kiri, tetapi serpihan plastik bergerak ke kanan karena ada lubang sedot kecil.

"Rumah pompa masih aktif sebagian," kata Arya. "Ikuti suara mesin rendah."

Sari memberi isyarat. Mereka bergerak ke kanan. Setelah dua belokan, suara dengung terdengar. Samar, tertutup hujan. Di ujung lorong, ada pintu besi hijau dengan gembok baru.

Kapten Wira mengangkat alat pemotong. Sebelum ia memulai, Arya berkata, "Tunggu."

Semua orang berhenti.

Dari balik pintu, terdengar ketukan lemah. Satu kali. Jeda panjang. Dua kali.

Itu suara manusia.`r`n`r`nDi dalam mobil, Sari menerima kabar bahwa Rahman tetap menolak menyebut nama pemberi perintah. Namun dari ponsel lamanya, unit digital menemukan beberapa file audio terhapus sebagian. Suaranya rusak, tetapi ada frasa yang berulang: jangan biarkan bibit tumbuh.

Arya meminta rekaman itu diputar sekali. Ia mendengarkan tanpa berkedip. "Suara itu milik orang lain. Lebih muda, berpendidikan, dan sengaja memakai kata yang terdengar ideologis. Orang seperti itu ingin pengikut merasa sedang menyelamatkan dunia. Kata kejahatan akan ia kubur sedalam mungkin."

Sari menoleh dari kursi depan. "Kamu makin membuat kasus ini terdengar besar."

"Kasusnya memang besar sejak korban dipilih di lingkungan sekolah. Rahman alat yang buruk. Tetap saja alat."

Kapten Wira bertanya, "Kalau kamu jadi orang yang memberi perintah, apa yang kamu lakukan setelah alatmu tertangkap?"

Arya melihat hujan di kaca. "Memutus jejak. Mengawasi penyelidikan. Dan mencari tahu siapa yang membuat alat itu gagal."

Mobil menjadi sangat sunyi setelah itu.

Di tikungan terakhir sebelum drainase, Arya meminta semua orang berhenti lagi. Ia menunjuk genangan kecil yang tidak bergerak searah aliran utama. "Ada rongga di bawah lantai atau pipa samping. Kalau kita lewat terlalu keras, suara langkah akan masuk ke ruang sebelah."

Kapten Wira mencoba menekan lantai dengan ujung sepatu. Bunyi kosong terdengar pelan. Ia menatap Arya, lalu memberi isyarat agar semua bergerak lebih ringan. Untuk kedua kalinya malam itu, seorang polisi bersenjata mengikuti instruksi siswa SMA tanpa komentar.

Sari mencatat perubahan itu dalam diam, untuk dirinya sendiri. Arya membaca peta, bangunan, orang, dan bahaya dengan cara yang membuat latihan bertahun-tahun terasa lambat.

Seseorang di dalam masih hidup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!