NovelToon NovelToon
Assassin Terkuat Di Dunia Murim

Assassin Terkuat Di Dunia Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Action
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bonggiw01

Aku Assasin Terkuat yang tak terkalahkan, bahkan setelah menjadi seorang kakek tua, tidak ada yang bisa membunuh ku.
"Hidup ku bosan. aku harap... aku bisa bertemu dengan musuh yang lebih kuat dari ku..."
Tenyata keinginan ku Terkabul!

Setelah aku mati oleh serangan jantung, Aku di hidup kan kembali di dunia Murim... di dunia yang banyak sekali Petarung yang sangat kuat.

ini perjalanan ku sebagai Assasin Terkuat di dunia modern, sekarang hidup di dunia murim.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bonggiw01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Pembantaian Cabang Clan Taring Naga

WUUUUSSHH!

Ryan melesat maju, tubuhnya hampir tak terlihat, seperti bayangan yang menembus gelombang manusia.

SRAAAAK! SRAAAK! SRAAAK!

Katana-nya berkilau di bawah cahaya bulan, menebas tangan, kaki, bahkan tubuh-tubuh yang langsung terbelah menjadi dua.

BYUURR!

Darah memancar liar, menyembur ke wajah rekan mereka sendiri, organ dalam berhamburan ke tanah, dan jeritan kesakitan memenuhi udara. 

Beberapa tubuh bahkan masih bergetar meski sudah kehilangan kepala.

Namun gelombang serangan tidak berhenti. 

Ribuan pendekar itu menyerbu tanpa takut, seperti gelombang lautan yang tak ada habisnya.

Ryan bergerak cepat, menyelinap di antara celah sempit musuh.

WUUUSSSH!

Tubuhnya menekuk, berputar, lalu…

SRAAAK! SRAAAK! SRAAAK! SRAAAK!

Katana kembali berkilau, memotong pinggang, dada, dan leher. 

Satu kepala terlempar ke udara, memancurkan darah seperti air mancur, jatuh menimpa wajah murid di belakangnya.

Ryan melesat ke sisi lain.

SRAAAK! SRAAAK! SRAAAK!

Suara daging robek menggema. 

"AAAGGRRRHHH!"

"TIDAK!"

Jeritan demi jeritan terputus tiba-tiba saat tubuh-tubuh roboh tanpa nyawa. 

Tanah perlahan berubah menjadi genangan merah.

“Bajingan! MATI KAU sialan!” teriak salah satu pendekar yang nekat, mengayunkan pedangnya dengan serangan vertikal penuh tenaga.

Namun Ryan hanya menoleh sekilas.

SRAAAAAK!

Katana-nya menebas cepat.

Pedang si pendekar patah, kepalanya terlepas, menggelinding di tanah dengan mata masih terbuka lebar.

Pertarungan menjadi neraka. 

WUUSSH!

Ryan terus melesat, tubuhnya seperti kilatan cahaya yang mengiris setiap musuh.

SRAAAK! SRAAAK! SRAAAK!

Bau amis darah semakin menusuk, teriakan bercampur tangisan membuat suasana semakin mencekam.

“PASUKAN PENJAGA! SEKARANG GILIRAN KALIAN!” teriak Tetua Qiwel dari atas panggung batu.

“BAIK, TETUA BESAR!!”

Suara serempak menggema.

BOOOOMMM!

Dari dalam bangunan, puluhan penjaga elit muncul. 

Berbeda dari murid biasa, tubuh mereka memancarkan aura biru yang tebal, tekanan energi mereka membuat tanah bergetar.

WUUUSSHHH!

Mereka melesat dengan kecepatan tinggi, pedang-pedang mereka mengeluarkan kilatan cahaya tajam, mengepung Ryan dari segala arah.

Namun Ryan tetap tenang.

Matanya dingin, napasnya stabil.

SRAAAK! SRAAAK! SRAAAK!

Satu demi satu penjaga elit terbelah. 

Tubuh-tubuh mereka terpotong menjadi beberapa bagian sebelum bahkan sempat menyentuh Ryan. 

Kepala mereka terlempar ke udara, darahnya memancar bagai hujan.

Ryan menatap mereka dengan tatapan datar. “Kalian terlalu lemah. Apa yang sebenarnya diajarkan di dalam Clan ini? Atau memang Clan kalian hanya sekumpulan sampah?”

“BAJINGAN! RASAKAN INI!” teriak Hendrik, salah satu kapten penjaga elit. 

Tubuhnya memancarkan aura naga, langkahnya menghentak tanah hingga retak. Ia memasang kuda-kuda, pedangnya bergetar.

“TEKNIK PEDANG TARING NAGA! — TIGA CAKAR NAGA!”

WUUSSSH! WUUSSHH! WUUUSHHH!

Tiga serangan memancar berbentuk cakar naga raksasa meluncur cepat menerjang Ryan.

TRANG! TRANG! TRANG!

Suara benturan keras menggema. Ryan dengan tenang menahan semuanya, pedangnya bergetar tapi tubuhnya tidak bergeser sedikit pun.

Tatapannya dingin, tanpa emosi.

SRAAAAK!

Satu tebasan tegas meluncur, begitu cepat hingga mata telanjang tak bisa melihatnya.

Leher Hendrik terputus.

Matanya melebar tak percaya, mulutnya bergerak tanpa suara.

‘T-tidak mungkin… Dia menahan teknik itu? Gerakan pedangnya bahkan tak terlihat oleh mata…’ pikir Hendrik di detik terakhir sebelum kesadarannya hilang.

BYUR!

Kepalanya jatuh ke tanah, darah menyembur deras dari leher yang terputus.

Tempat itu berubah menjadi tempat ladang pembantaian.

Potongan tubuh berserakan, organ dalam menutupi tanah, darah menggenang seperti sungai merah. 

Bau anyir memenuhi udara, menusuk hidung siapa pun yang bernapas.

Di bawah cahaya bulan pucat, Ryan terus bergerak tanpa henti. 

SRAAAK! SRAAK! SRAAAK!

Katana-nya bernyanyi, menghasilkan simfoni kematian.

SRAAAK! SRAAAK! SRAAAK!

Setiap ayunan menebas, setiap gerakan memutus nyawa.

Qiwel yang menyaksikan dari kejauhan terbelalak, tangannya bergetar.

‘T-tidak mungkin… Bocah itu… dia benar-benar monster! Aku tidak pernah menyangka Kultus Iblis bisa menciptakan manusia sekuat ini!’

Matanya menyipit. ‘Dia sangat berbahaya… Jika dibiarkan hidup, dia bisa menjadi sama kuatnya dengan Raja Kultus Iblis! Aku harus mengakhiri bocah ini sekarang, sebelum dia tumbuh menjadi ancaman terbesar bagi dunia!’

Namun di lapangan itu, Ryan terus membantai tanpa henti.

SRAAAK! SRAAK! SRAAAK!

Matanya tenang, dingin, tak sedikit pun menunjukkan emosi.

Setiap tebasan, setiap kepala yang terlepas, dilakukan dengan ekspresi seolah ia hanya sedang berlatih gerakan biasa.

Malam itu, benteng Clan Taring Naga telah berubah menjadi neraka dunia.

------------

“BERHENTI!!”

Suara Tetua Qiwel menggema.

Ribuan pendekar yang masih hidup langsung berhenti bergerak. 

Mereka mundur terbata, napas terengah, tubuh gemetar ketakutan.

Lapangan itu kini seperti neraka. 

Lebih dari dua ribu mayat berserakan menumpuk di segala penjuru. 

Beberapa tubuh terpotong dua, sebagian tanpa kepala, organ dalam berserakan hingga menggenangi tanah dengan darah segar yang kental dan berbau anyir menusuk.

“OHEEKK!! OHHHEEKK!!”

Beberapa pendekar tak sanggup lagi menahan mual. 

Mereka muntah di tempat, lutut goyah, wajah pucat pasi melihat ladang pembantaian itu.

Di tengah semua itu, Ryan berdiri. 

Tubuhnya berlumuran darah, wajahnya tenang, matanya dingin bagaikan iblis yang turun ke dunia. 

Katana di tangannya meneteskan darah, menodai tanah merah yang sudah basah oleh kematian.

“Dengarkan baik-baik,” ucap Qiwel dengan nada tegas. “Menjauhlah kalian semua! Bocah ini bukan lawan kalian! Kalian tidak akan pernah bisa mengalahkannya! Aku yang akan turun tangan!”

Dengan perlahan, Tetua Qiwel menarik pedangnya dari sarung.

WUUUSSHH!

Sekejap, pedang itu memancarkan aura biru menyala. 

Cahaya itu beriak seperti api, menari di sekitar bilah pedangnya, memancarkan tekanan menakutkan yang bisa dirasakan bahkan oleh mereka yang jauh.

Ryan menyipitkan mata, lalu tersenyum tipis.

‘Hoo… menarik. Pertama tubuh yang memancarkan aura… sekarang pedang? Sepertinya ada kekuatan lain di dunia ini yang belum kuketahui,’ pikirnya. ‘Tapi satu hal jelas… pak tua ini jauh lebih kuat sekarang.’

Alih-alih takut, Ryan justru menyeringai. ‘Mungkin pertarungan ini akan cukup menghibur ku.’

BOOOMMM!!!

Lantai arena retak saat Qiwel melompat turun. 

Getarannya memecahkan batu, menimbulkan dentuman keras. 

Semua murid pendekar yang tersisa buru-buru menyingkir, tidak berani berada terlalu dekat.

Qiwel berdiri tegak, tatapannya tajam menembus Ryan.

‘Dia… bocah ini tidak mengeluarkan auranya sama sekali? Apakah dia terlalu percaya diri? Atau… memang dia belum bisa mengeluarkannya?’ pikir Qiwel, lalu menyeringai tipis. ‘Ya… itu sangat Bagus. Itu berarti ada celah yang bisa kupakai!’

Dengan suara berat dan penuh tekanan, Qiwel berbicara, “Bocah… aku akui, kau memang kuat. Terlalu kuat bahkan. Tidak pernah ada lulusan Kultus Iblis yang sekuat ini di usia muda. Tapi justru karena itulah… kau adalah ancaman. Aku harus mengakhirimu sekarang, sebelum kau tumbuh menjadi monster yang lebih besar.”

Ryan mengangkat katana, menatap Qiwel dengan dingin. “Sangat disayangkan, Pak Tua. Karena aku datang ke sini memang untuk membunuhmu, jangan khawatir, setelah membunuh mu, aku akan membereskan yang lain nya juga.”

Tatapan keduanya bertemu. 

Udara seakan membeku, murid-murid yang menyaksikan bahkan tak berani bernapas.

“Bagus,” ucap Qiwel, menyeringai sinis. “Kalau begitu… mari kita selesaikan ini sekarang juga.”

Keheningan sesaat menyelimuti arena.

Lalu...

WUUUSSHHH!!

Keduanya menghilang dari tempat mereka berdiri, bergerak dengan kecepatan luar biasa.

TRAAAANNGG!!!

Benturan pedang pertama terdengar menggelegar, mengirimkan suara logam berdenting keras ke seluruh penjuru.

DHUUUAAARRR!!

Hempasan angin dari benturan itu menyapu lapangan. 

Tumpukan mayat terhempas ke samping, organ dan darah terlempar menjauh, membersihkan arena dari jasad. 

Tanah retak, udara bergetar, dan bulan di langit terlihat lebih pucat dari biasanya.

Di tengah lapangan yang kini kosong, Ryan dan Tetua Qiwel berdiri saling berhadapan. 

Pedang mereka beradu, aura membara di udara.

Pertarungan epik akan segera dimulai.

1
Endi Tu Endy
dari awal lagi kah
Terserah
gass thor 🍻
V.MaryGrace
lanjut thorr
Terserah
ninggalin jejak dulu
Ed Troivan
update terus💪👍
The Rizki: kenalan yuk
total 1 replies
Ed Troivan
Lumayan ceritanya thorku 💪
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
xebeck D ron
awal lagi nih?
ZAHRANI
keren mantap jiwa thor👍👍
Heroik gg
katanya season 2 bang kok balik season 1
Anonim
👍
Betesyon Betesyon
ini cerita nya di mulai dari awal lagi kah?
RR
lagi pindahan atau lagi tes ombak nih bang😁, semangat terus pokonya dahh
ZAHRANI: bang jangan sampek hiatus😭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!