Seorang gadis tanpa bakat.
Menjadi aib bagi sebuah keluarga sihir api yang berkuasa.
Sebuah pengkhianatan yang menjatuhkannya ke jurang maut.
Tapi di kegelapan jurang, takdir memilihnya.
Kontrak dengan naga kuno mengubahnya menjadi wadah dari seluruh elemen.
Dari sampah keluarga ... menjadi ancaman bagi dunia.
Dari yang dibuang ... menjadi yang ditakuti.
Ini kisah tentang kebangkitan.
Ini kisah tentang KONTRAK NAGA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27 Nama Yang Menggema
Sebulan kemudian.
Papan pengumuman di semua kerajaan mendadak dipenuhi oleh selembar kertas perkamen tebal berwarna merah darah. Di bagian atasnya, sebuah cap sihir hologram memancarkan tulisan yang berpijar, menarik perhatian ratusan warga kota yang langsung berdesakan untuk melihatnya.
"BURONAN TINGKAT A: SANG PENYELAMAT"
"NAMA ASLI: TIDAK DIKETAHUI. JULUKAN: DEWI AIR, PENJINAK BENCANA, SANG BADAI"
"KEKUATAN: 4 ELEMEN"
"HADIAH: 5 JUTA KOIN EMAS"
Bukan empat, tapi lima. Karena elemen angin tidak terlalu ditampakkan Eliya.
Bisik-bisik ketakutan dan kekaguman langsung menjalar di antara kerumunan. Selama ratusan tahun, belum pernah ada satu pun penyihir yang bisa menguasai lebih dari dua elemen tanpa tubuhnya hancur berkeping-keping. Siapa sebenarnya sosok misterius ini?
Di Kota Ashfall, kota yang dipenuhi kabut asap dan hawa panas vulkanik, suasananya jauh lebih menegangkan. Di dalam aula istana yang megah, Lord Ignis memecahkan meja marmer di hadapannya hingga hancur menjadi puing-puing berdebu. Napasnya memburu, mengeluarkan percikan api dari sela-sela giginya yang menggeram marah.
"Empat elemen sihir? Mustahil!" teriak Lord Ignis, suaranya menggelegar di antara pilar-pilar istana yang megah hingga membuat para pengawal berlutut ketakutan.
"Sihir kuno itu sudah punah! Siapa yang berani memalsukan informasi ini untuk menakut-nakuti dunia?" Suara itu kembali menggelegar, menciptakan gelombang kejut yang menggetarkan daun pintu juga jendela.
Lantai marmer istana pun ikut bergerak, mengikuti amarah sang raja. Para menteri diam membisu, tak ingin menyulut kemarahan orang nomor satu di kerajaan Ignis itu.
Di sudut ruangan, Seraphina gemetar hebat. Tangannya yang memegang cangkir teh perak bergoyang parah hingga cairannya tumpah. Wajahnya mendadak pucat pasi seperti mayat.
Pikirannya melayang pada hari di mana badai itu dimulai. Saat Aurelia dibuang ke jurang Lembaran Naga, dan dengan sengaja berniat membunuhnya. Mata gadis itu tampak berbeda, menunjukkan kilatan yang tidak biasa. Dendam dan ancaman yang seketika saja membuatnya terkesiap.
"Tidak mungkin Aurelia ... ya, tentu saja bukan dia. Semua orang tahu dia hanya sampah yang tidak berguna. Dia putri yang terlahir tanpa bakat sihir. Bahkan, ayah menganggapnya sebagai aib karena tak mampu membangkitkan binatang sihir meski hanya kelas rendah, " bisik Seraphina lirih, hampir tidak terdengar.
Suaranya bergetar, keringat dingin muncul dari pori-pori di pelipisnya. Rasa bersalah dan ketakutan kini bercampur aduk di dadanya. Jika gadis yang dia usir itu benar-benar Sang Penyelamat, maka mereka semua berada dalam bahaya besar.
"Tidak! Itu tidak mungkin dia!" Dia meyakinkan hatinya bahwa sang penyelamat itu bukanlah Aurelia.
****
Sementara itu, di sebuah kedai teh bertingkat di perbatasan Kerajaan Cahaya Langit, atmosfernya jauh lebih tenang, tapi terasa intens. Di lantai atas yang sepi, dua pemuda dengan jubah agung sedang duduk berhadapan. Di tengah meja mereka, tergelar poster buronan merah yang sama.
Sebuah berita yang menggemparkan seluruh benua di dunia Aethervan. Raja-raja merasa cemas, para penyihir tua pun ikut merasa penasaran tentang sosok dibalik nama besar yang dikabarkan dunia.
ELIO, sang Putra Jenius Cahaya, bersandar pada kursinya dengan senyum tipis yang misterius. Rambut emasnya berkilau terkena cahaya matahari sore. Matanya yang sewarna langit menatap lekat-lekat pada tulisan 'empat Elemen'.
"Menarik," kata Elio sambil mengetukkan jarinya ke meja. "Dunia ini sudah terlalu lama membosankan. Sosok seperti ini ... aku harus bertemu dengannya."
Kedua sudut bibirnya terangkat lebih tinggi, tapi matanya menatap tajam setiap kata yang tertulis di atas perkamen itu. Bukan pada lima juta koin emas, melainkan pada gelar yang dimilikinya.
"Lima juta koin emas untuk memburu penyihir jenius? Ini terlalu meremehkan!" desisnya mencibir hadiah sayembara yang dicetak dengan huruf besar.
Di seberang pemuda berambut emas itu, dia Darian, sang Putra Tanah, tidak sedramatis Elio. Tubuhnya yang tegap dan kokoh tampak tegang. Dia langsung berdiri, merapikan pelindung lengan kulitnya yang tebal dengan wajah serius tanpa ekspresi.
"Aku pergi dulu," kata Darian pendek. Tanpa menunggu jawaban dari Elio, dia berbalik dan melangkah pergi, berniat mengerahkan seluruh jaringan mata-matanya untuk menemukan gadis itu sebelum kerajaan lain bergerak.
Dia pun penasaran tentang sosok yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan hangat di berbagai kalangan. Elio tak peduli, ia berbalik menghadap jendela kedai, menatap jauh pada cakrawala. Siluet seseorang muncul di langit, tapi hanya terlihat di dalam pikirannya sendiri.
"Aku pasti akan menemukanmu," gumamnya seraya meremas kertas lusuh itu.
****
Jauh dari hiruk-pikuk kerajaan dan kejaran para pemburu hadiah, suasana di dalam sebuah tenda kain sederhana di tengah hutan cemara terasa sangat sunyi. Angin malam berembus pelit, membuat api unggun kecil di luar tenda sedikit bergoyang.
Di dalam tenda, Eliya duduk bersila di atas tikar rajut. Di tangannya, ia melihat posternya sendiri. Ia mengusap kertas kasar itu, menatap angka buronan yang tertulis di sana.
"Empat eleman? Begitu cepat tersebar ternyata." Ia tersenyum, matanya tak lepas dari kertas di tangan.
Rahasia besar Eliya sudah bocor hampir sepenuhnya. Bukan empat, tapi lima dari tujuh elemen inti di dunia Aethervan telah bangkit di dalam tubuh seseorang yang tidak diketahui identitasnya. Dunia hanya mengenalnya sebagai dewi sekaligus ancaman.
Rayn, yang sejak tadi sibuk membersihkan belati peraknya di sebelah Eliya, mendongak. Dia menyadari perubahan ekspresi gadis itu. Dengan gerakan tenang, dia menyimpan belatinya dan menggeser posisi duduknya agar lebih dekat.
"Berikutnya kita akan pergi ke mana?" tanya Rayn, suaranya berat namun selalu berhasil menenangkan badai di dalam kepala eliya.
Dia tidak peduli dengan hadiah lima juta koin emas itu. Baginya, itu hanyalah recehan yang tidak ada artinya.
Eliya menarik napas dalam-dalam, lalu menatap peta kulit kusam yang tergelar di lantai tenda. Jarinya bergerak, melewati pegunungan dan sungai, lalu berhenti tepat di sebuah simbol kuno berbentuk lingkaran ganda di ujung utara.
"KUIL BINTANG KE 7," desis Eliya pelan sembari mengetuk telunjuknya di atas kertas itu.
Eliya beralih menatap Rayn dengan keyakinan baru.
"Kudengar di dalam sana tersimpan inti sihir Cahaya dan Kegelapan. Dua elemen terakhir yang sulit didapatkan. Bahkan, oleh penyihir cahaya seperti Putra jenius dari kerajaan Cahaya Langit itu. Aku harus mendapatkannya sebelum kegelapan benar-benar datang menyerang," ucap Eliya lagi, kali ini bola matanya berputar Kael yang sejak tadi diam.
Rayn tersenyum tipis, lalu mengangguk. "Kalau begitu, kira harus bersiap-siap. Perjalanan kita akan menjadi jauh lebih liar setelah ini."