NovelToon NovelToon
Nana Si Pelindung Tuan Terbuang

Nana Si Pelindung Tuan Terbuang

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Nana bukan siapa-siapa — seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di jalanan Surabaya, mencuri untuk bertahan hidup. Sampai suatu hari, hidupnya berubah ketika dia masuk ke dunia keluarga Sie, salah satu dinasti konglomerat paling berkuasa di Indonesia.

Di sana, dia bertemu Steven Sie — putra ketiga yang dibuang keluarganya sendiri, dingin dan penuh misteri. Semua orang bilang dia pengkhianat. Semua orang ingin dia hancur.

Tapi Nana tahu yang sebenarnya.

Ketika Steven dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar — dihancurkan di mata publik, dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan — hanya Nana yang berdiri melawannya. Sendirian. Tanpa bukti. Tanpa dukungan. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai mati.

Perjalanannya membawanya dari ruang sidang Jakarta hingga ke lorong-lorong gelap Singapura, dari pengkhianatan keluarga hingga pengorbanan yang tak terbayangkan. Di sepanjang jalan, ada Daniel Tjang — pengusaha paling berbahaya dan paling mempesona di Jakarta — yang diam-diam mempertaruhkan segalanya untuknya.

*Satu wanita. Dua pria. Dan satu pertanyaan yang mengubah segalanya:*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26

Nana tidak menjawab.

Pertanyaan Pak Shen tetap menggantung di ruang tamu, lebih berat daripada bau teh pahit dan detak jam. Kalau ia menjawab percaya, ia terdengar bodoh. Kalau ia menjawab tidak, semua pelajaran tentang laporan palsu dan orang yang merasa bersalah seolah sia-sia.

Pak Shen tidak memaksanya.

"Bagus," katanya.

Nana mengangkat kepala. "Saya belum menjawab."

"Jawaban yang terlalu cepat biasanya hanya suara dari ketakutan. Bawa pulang pertanyaannya."

Ia memberi isyarat ke pintu.

Di luar, Steven berdiri di samping mobil. Begitu Nana keluar, matanya memeriksa wajahnya lebih dulu, lalu tangan, lalu map kecil yang ia bawa.

"Pak Shen bertanya apa?"

Nana masuk ke mobil. "Hal yang katanya harus kubawa pulang."

Steven tidak bertanya lagi.

Sepanjang perjalanan kembali ke Rumah Besar Sie, mereka sama-sama diam. Surabaya bergerak di luar kaca. Pedagang membuka lapak, motor menyalip terlalu dekat, matahari menyentuh atap-atap toko. Dunia tampak tidak tahu bahwa di kursi penumpang, Nana sedang membawa pertanyaan yang bisa mengubah cara ia melihat laki-laki di sebelahnya.

Saat mobil masuk gerbang, suasana rumah sudah berbeda.

Kepala pelayan menunggu di depan tangga dengan wajah tegang. "Pak William meminta Tuan Steven langsung ke ruang kerja."

Steven turun. "Siapa di dalam?"

"Bu Tamara, Bu Lusia, Nona Stella, Irwan, dan perwakilan legal. Paman Albert ikut melalui video."

Nana ikut turun.

Steven menatapnya. "Kau ke paviliun."

"Tidak."

"Nana."

"Saya membawa pertanyaan pulang, bukan untuk disimpan di kamar."

Untuk sesaat, Steven terlihat ingin menyeretnya pergi. Namun pintu ruang kerja terbuka, dan suara William keluar rendah.

"Steven."

Tidak ada tempat untuk berdebat.

Ruang kerja William terasa lebih sempit dari biasanya. Di meja besar, beberapa dokumen terbuka. Tamara berdiri di dekat jendela, wajahnya pucat tapi tenang. Lusia duduk dengan kipas tertutup rapat di pangkuan. Stella langsung mencari Nana dengan mata khawatir. Di layar tablet, Albert tampak berada di ruangan rumah aman, kacamata tipisnya memantulkan cahaya.

William meletakkan satu lembar kertas di meja.

"Kau bertemu orang Victoria Wan pagi ini?"

Nana menoleh ke Steven.

Steven tidak menyangkal. "Ya."

Perwakilan legal yang berdiri di sisi meja menggeser tablet ke arah William. Di layar ada pesan singkat dari alamat perusahaan luar yang tidak memakai nama Victoria Wan, tetapi semua orang di ruangan itu tampak tahu siapa yang berada di belakangnya.

Terima kasih atas itikad baik Tuan Steven Sie. Dengan ritme pengiriman yang sudah dibagikan, kesalahpahaman minggu ini bisa ditahan agar tidak melebar.

Nana membaca kalimat itu dua kali. Itikad baik. Ritme pengiriman. Kesalahpahaman. Kata-kata halus yang terdengar seperti sarung tangan putih menutup tangan kotor.

"Mereka memakai namamu," kata Tamara.

"Aku bisa membaca," jawab Steven.

"Bukan itu maksudku." Suara Tamara tetap tenang, tapi ujung jarinya menekan meja sampai memutih. "Begitu pesan ini masuk arsip lawan bicara, setiap tindakan mereka berikutnya bisa ditarik ke kalimat bahwa kau memberi itikad baik lebih dulu."

Perwakilan legal menambahkan hati-hati, "Secara posisi negosiasi, ini merugikan. Jika ada kebocoran lanjutan, mereka bisa mengatakan akses pertama diberikan secara sukarela."

Nana merasakan isi ruangan turun setingkat lebih dingin.

Stella menarik napas kecil. "Koko..."

Lusia langsung berdiri. "Kau gila? Setelah Hasan mengirim rambut anak ini ke rumah kita, kau bertemu orang mereka?"

"Duduk, Lusia," kata William.

Lusia duduk lagi, tapi wajahnya merah.

Tamara bertanya pelan, "Apa yang kau berikan?"

Steven berjalan ke meja dan mengambil lembar itu. "Cuplikan jadwal pengiriman lama. Bukan jadwal penuh."

Ruangan langsung membeku.

Nana mendengar suaranya sendiri sebelum sempat berpikir. "Kau memberi mereka jadwal?"

Steven tidak melihatnya. "Cukup untuk membuat mereka berhenti menebak."

"Menebak dengan cara mengirim Hasan?" suara Stella pecah.

"Menebak dengan cara menyentuh staf, vendor, dan anak baru yang tidak seharusnya ada di daftar mereka," jawab Steven.

Nana merasa kalimat itu mengenai dirinya, tapi bukan sebagai perlindungan. Lebih seperti ia dijadikan alasan.

William memukul meja sekali. Tidak keras, tapi seluruh ruangan ikut tersentak. "Kau tidak punya wewenang."

"Kalau menunggu wewenang, mereka sudah punya jalur asli sebelum kita selesai rapat."

"Kau menyerahkan posisi tawar keluarga."

"Aku menyerahkan umpan."

Albert di layar berbicara, suaranya lembut tetapi berat. "Steven, umpan yang tidak diberitahukan kepada keluarga tetap tampak seperti pengkhianatan."

Nana menatap layar.

Albert tidak marah seperti Lusia. Tidak menggertak seperti William. Justru karena itu, kata pengkhianatan terdengar lebih masuk akal.

Steven menoleh ke tablet. "Maka lihatlah sesuai tampaknya, Paman."

Kalimat itu membuat Nana dingin.

Pak Shen semalam berkata tentang kertas, saksi, keluarga, semua bergerak ke arah satu orang. Hari ini, di depan matanya, ruangan itu mulai bergerak ke arah Steven.

Tamara memegang ujung meja. "Siapa yang tahu jadwal yang kau berikan?"

"Aku."

"Irwan?"

"Setelahnya."

Irwan yang berdiri di dekat pintu tampak tidak nyaman, tapi tidak membantah.

"Pak Shen?" tanya Nana tanpa sadar.

Semua orang menoleh kepadanya.

Steven akhirnya melihatnya. Matanya gelap. "Jangan bawa Pak Shen ke sini."

"Kenapa? Karena kalau dia tahu, dia akan bertanya siapa yang paling diuntungkan?"

Udara di ruang kerja menajam.

Stella berbisik, "Na."

Nana tahu ia seharusnya berhenti. Ia tidak berhenti.

"Kau bilang itu umpan. Tapi kau tidak memberi tahu siapa pun. Kau tidak menjelaskan ke Pak William. Kau tidak menjelaskan ke Cici Tamara. Kau bahkan tidak menjelaskan ke Irwan sebelum melakukannya." Suaranya lebih rendah. "Apa bedanya dengan orang yang membuat semua orang menebak sendiri ada api di balik pintu?"

Steven tidak menjawab.

Diamnya kali ini bukan perlindungan. Bagi Nana, untuk pertama kalinya, diam itu terasa seperti dinding yang sengaja dibangun agar ia tetap di luar.

William mengambil dokumen itu kembali. "Mulai sekarang, semua akses Steven ke data pengiriman dibekukan sampai rapat berikutnya."

"Papa," kata Stella, panik.

"Cukup."

Albert menunduk di layar. "Mungkin itu langkah paling aman sementara."

Steven tersenyum tipis, tanpa humor. "Tentu. Bekukan saja."

Ia berbalik keluar.

Saat melewati Nana, ia berhenti sebentar. Tidak cukup dekat untuk menyentuh. Tidak cukup jauh untuk pura-pura tidak melihat.

"Sekarang kau punya bahan untuk menjawab Pak Shen," katanya pelan.

Lalu ia pergi.

Nana berdiri di ruang kerja, dengan semua mata masih panas di sekitarnya. Di tasnya, kertas tiga pertanyaan Pak Shen terasa seperti terbakar.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Daniel masuk di layar.

Kalau semua orang di ruangan mulai terdengar yakin, keluar dulu dan cari udara. Keyakinan orang panik sering lebih berbahaya daripada kebohongan.

Nana membaca pesan itu sekali.

Lalu sekali lagi.

Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu siapa yang sedang menjaganya dan siapa yang sedang membuatnya tersesat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!