Di saat teman sekelasnya dipanggil ke dunia lain sebagai Pahlawan dan memperoleh kemampuan legendaris, Haruto Mirakawa hanyalah korban yang ikut terseret.
Karena bukan bagian dari ritual pemanggilan, semua skill hebat sudah habis saat gilirannya tiba.
Yang tersisa hanya satu kemampuan biasa:
Shadow Tool.
Kemampuan untuk menciptakan satu alat dari bayangannya.
Bukan pedang suci.
Bukan sihir penghancur.
Hanya... alat.
Merasa bersalah, sang dewa memberinya berkah kecil untuk bertani dan sebuah tombak tua yang kemudian menyatu dengan skillnya.
Lalu Haruto dikirim ke tempat yang katanya tenang dan jauh dari perang.
Tempat itu ternyata adalah...
Hutan Kematian.
Di hutan yang ditakuti seluruh dunia, Haruto hanya ingin menjalani hidup santai, menanam sayur, membangun rumah, dan menikmati hari-harinya.
Namun sedikit demi sedikit, para monster cerdas, buronan, dan orang-orang yang kehilangan tempat pulang mulai berdatangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kūkyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan yang Berbeda
Suara gesekan logam dengan kulit monster memenuhi hutan perbatasan. Bau anyir darah, yang sangat asing bagi hidung remaja dari dunia modern, kini menyengat tajam. Kelompok pahlawan—delapan anak muda yang dipanggil dari Bumi—kini berdiri di tengah medan pertempuran yang kacau.
Kenji, sang Sword Saint dengan rambut hitam yang mulai berantakan, mengayunkan pedangnya dengan presisi yang mengerikan. Setiap ayunan membelah kulit Ogre seolah itu hanya selembar kertas. Di sampingnya, Rina, seorang High Mage yang sejak tadi sibuk merapal mantra, napasnya tersengal-sengal. Mana-nya hampir kering setelah menembakkan belasan fireball.
"Jangan panik! Tetap pada posisi!" teriak Kenji.
Namun, tidak semua pahlawan memiliki ketenangan Kenji. Sarah, seorang Healer yang seharusnya berada di barisan belakang, kini gemetar hebat. Tangannya yang memegang tongkat suci bergetar karena melihat salah satu rekan mereka, Hiroki—seorang Spearman yang sombong—hampir kehilangan lengannya saat ditangkis oleh gada kayu monster Ogre.
"Hiroki! Mundur!" teriak Mika, sang Archer yang sedari tadi panik karena anak panahnya sudah hampir habis. Dia bahkan belum pernah membunuh sesuatu yang lebih besar dari tikus, dan sekarang, monster setinggi dua meter sedang mencoba menginjaknya.
Pertarungan itu berakhir dengan kemenangan, tetapi suasananya jauh dari kata heroik. Mereka berdiri di atas tumpukan bangkai monster, terengah-engah dengan pakaian yang robek dan berlumuran cairan hitam. Tidak ada sorak-sorai. Hanya ada napas yang memburu dan tatapan mata yang kosong. Mereka baru sadar: dunia ini tidak menunggu mereka untuk siap. Dunia ini berusaha membunuh mereka di setiap langkah.
Dalam perjalanan pulang menuju ibu kota, mereka melewati desa-desa di perbatasan. Pemandangan di sana jauh lebih mencekam daripada medan perang. Rumah-rumah kayu hanya menyisakan kerangka yang hangus, ladang gandum yang seharusnya menguning kini rata dengan tanah, dan para pengungsi yang duduk bersimpah darah di tepi jalan.
"Ini... ini yang kita lawan?" bisik Sarah, menutup mulutnya dengan tangan.
"Dunia ini sedang berperang, Sarah," sahut Kenji dingin, meski matanya menatap tajam ke arah desa yang terbakar itu. "Dan kita baru saja menginjakkan kaki di bagian paling busuknya."
Jauh dari hiruk-pikuk perang para pahlawan, di sebuah bengkel kecil yang pengap di ibu kota, seorang Dwarf bernama Brom sedang menatap palu warisannya dengan tatapan nanar. Brom adalah seorang pandai besi dengan spesialisasi perkakas pertanian dan zirah berkualitas tinggi. Namun, integritasnya adalah kutukan baginya.
Beberapa bulan lalu, kerajaan memesan peralatan perang dalam jumlah besar. Brom, yang patuh pada aturan guild, menempa semuanya dengan baja terbaik. Namun, para pejabat korup yang menangani logistik perang diam-diam mengganti baja kualitas tinggi dengan logam murahan agar mereka bisa mengantongi keuntungan pribadi.
Ketika perang pecah, perlengkapan itu hancur dalam hitungan hari. Senjata patah saat beradu, zirah retak seperti kaca, dan ratusan prajurit tewas sia-sia. Untuk menutupi skandal itu, para pejabat menunjuk Brom sebagai kambing hitam.
"Bengkelnya yang cacat! Dia disuap musuh!" teriak seorang pejabat di depan umum saat menyita bengkel Brom. Hari itu, seluruh hasil kerja keras Brom selama bertahun-tahun—pedang, cangkul, peralatan pahat—dihancurkan dengan palu godam di depan matanya.
Brom berhasil meloloskan diri sebelum ditangkap, namun hidupnya berubah menjadi pelarian abadi. Ia berpindah dari kota ke kota, dari bengkel kumuh satu ke bengkel lain, selalu dihantui oleh poster buron yang terpampang di setiap gerbang kota. Hadiahnya terus naik, dan wajahnya kini dikenal di mana-mana.
Puncak penderitaan datang saat seorang pemilik penginapan di kota kecil mengenali wajahnya. Tentara datang mengepungnya. Saat dirantai dalam perjalanan menuju penjara ibu kota, sebuah serangan monster liar terjadi di tengah hutan. Di tengah kekacauan itu, Brom berhasil melepaskan diri. Namun, sekarang statusnya bukan hanya buronan, melainkan tahanan yang kabur—dosa yang hukumannya adalah eksekusi di tempat.
Hari-hari berikutnya adalah neraka. Tidak ada kota yang berani menerimanya. Bahkan sesama Dwarf, yang takut akan pembalasan kerajaan, menutup pintu mereka saat Brom mengetuk. Ia berjalan dalam keadaan lapar, tidur di lorong-lorong sempit, dan satu-satunya yang tersisa hanyalah palu warisan ayahnya.
Suatu malam, hujan mengguyur lebat. Brom duduk di sebuah persimpangan jalan yang becek, menggigil hebat. Ia memegang palu itu, satu-satunya benda yang membuat dirinya tetap merasa sebagai seorang Dwarf. Ia tidak punya arah. Tidak ada tempat lagi untuknya di dunia manusia.
Esok paginya, saat kabut tipis menyelimuti jalanan, ia berdiri di persimpangan itu. Di depannya ada dua papan penunjuk arah yang sudah lapuk. Ke kiri menuju kota besar berikutnya—tempat di mana poster buronnya sudah pasti terpampang. Ke kanan, jalan setapak yang menyempit menuju wilayah yang tidak pernah disentuh oleh peta kerajaan: Hutan Kematian.
Brom menatap kedua jalan itu cukup lama. Ia menatap telapak tangannya yang kapalan, lalu melihat ke arah Hutan Kematian yang gelap dan misterius. Sebuah tawa kering dan getir keluar dari tenggorokannya.
"Kalau semua tempat di dunia ini menganggapku sudah mati," gumamnya, suaranya parau oleh rasa putus asa, "mungkin memang sudah saatnya aku pergi ke tempat orang mati."
Ia memanggul palunya dengan tenaga terakhir yang ia miliki. Langkahnya berat namun pasti, meninggalkan peradaban yang mengkhianatinya, dan melangkah masuk ke dalam lebatnya Hutan Kematian. Ia tidak tahu apa yang ada di sana, dan sejujurnya, ia tidak lagi peduli.