"Mama akan menikah."
Kalimat itu menghantamku tanpa aba-aba.
"Aku tidak setuju, Ma..."
Suaraku bergetar, berharap keputusan itu masih bisa berubah.
"Mama berhak bahagia, Amerta."
Kalimat sederhana itu seolah menjadi palu yang menghancurkan seluruh angan-anganku.
Amerta Bunga Adiguna.
Namaku dipanggil untuk menerima kenyataan yang tak pernah siap kuhadapi.
Di balik rumah yang diselimuti nuansa temaram, berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan tatapan yang sulit ditebak. Ia hanya mengamati jalannya acara dari kejauhan, membiarkan keheningan berbicara lebih banyak daripada kata-kata.
Mahesa Putra Dirgantara.
Sosok yang kehadirannya perlahan mengubah seluruh jalan hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bulane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 28
Bunyi bip-bip-bip yang diikuti suara klik pelan menandakan bahwa pintu unit apartemen mewah di kawasan Margonda itu telah terbuka. Amerta melangkah masuk sambil membawa tas ranselnya yang terasa seberat batu, diikuti oleh Mahesa yang berjalan santai di belakangnya.
Meskipun wajah pria itu sudah tidak sepucat tadi siang di kampus, sisa-sisa lemas akibat sakit lambung masih terlihat dari cara bicaranya yang lebih hemat energi.
"Taruh tasmu di sofa. Jangan langsung masuk kamar," perintah Mahesa dengan suara rendahnya yang familier. Ia melepas kemeja hitam kampusnya, menyisakan kaus dalaman abu-abu yang mencetak jelas lekuk tubuh tegapnya.
Amerta mendengus, melempar tasnya ke sofa kulit berwarna gelap dengan kasar. "Aku sudah menyelesaikan semua koreksi makalah mahasiswa Antropologi itu sampai mataku mau copot, Mahesa. Utangku untuk obat lambungmu sudah lunas, kan? Aku mau pulang ke kosan."
Mahesa berjalan menuju dapur bersih yang dibatasi oleh sebuah meja bar minimalis. Ia menuangkan air putih ke dalam gelas, meminumnya setengah, lalu menatap Amerta dengan senyum miring yang langsung membuat firasat Amerta memburuk.
"Lunas? Siapa bilang?" Mahesa berjalan mendekati sofa, membawa laptop peraknya yang tadi siang dipakai Amerta. "Kamu lupa dengan syarat yang kubilang tadi siang di ruang dosen, Ta?"
Jantung Amerta mencelos. "Syarat... yang mana?"
Mahesa membuka layar laptop, memutarnya ke hadapan Amerta, lalu mengetuk jari telunjuknya di atas baris data Excel. "Kelas Antropologi B, nomor urut 14. Nama mahasiswanya Danendra Putra. Kamu memasukkan nilai tugasnya 85, padahal di draf makalahnya saya beri nilai 58. Kamu typo membalik angkanya, Amerta."
Wajah Amerta seketika memucat. Ia buru-buru memeriksa layar. Sial, itu benar! Saking mengantuk dan gugupnya tadi siang di bawah pengawasan Mahesa, jemarinya salah mengetik angka.
"Itu... itu kan cuma satu kesalahan kecil dari lima puluh mahasiswa!" kilah Amerta, mencoba membela diri sambil melangkah mundur saat Mahesa mulai berjalan mengikis jarak di antara mereka.
"Satu kesalahan di kampus tetaplah kesalahan fatal bagi seorang asisten dosen," ucap Mahesa, suaranya berubah menjadi nada rendah nan sensual yang biasa ia gunakan jika mereka sedang berdua di luar lingkungan kampus. Pria itu menghentikan langkahnya tepat satu jengkal di depan Amerta. "Dan hukumannya... kamu harus menyuapiku makan malam di apartemen. Ingat?"
Atmosfer di dalam apartemen ber-AC itu mendadak terasa begitu panas. Amerta bisa mencium aroma wood and amber dari tubuh Mahesa yang bercampur dengan kehangatan ruangan.
"Tapi kamu kan sudah sembuh! Tadi siang saja sudah bisa mengomeli mahasiswa di kelas reguler!" protes Amerta, matanya bergerak liar mencari jalan keluar, namun Mahesa dengan cepat mengurung pergerakannya dengan berdiri tepat di jalur menuju pintu keluar.
"Dinding lambungku belum sembuh total, Sayang," goda Mahesa. Ia mengulurkan tangannya, menyelipkan beberapa helai rambut Amerta yang berantakan ke belakang telinga gadis itu. Sentuhan jarinya yang hangat membuat bulu kuduk Amerta meremang. "Efek nasi goreng stroberi buatanmu itu masih terasa mual kalau aku harus memegang sendok sendiri."
"Alasan! Kamu cuma mau mengerjaiku lagi, kan?!" Amerta mencoba memukul dada Mahesa, namun pria itu justru menangkap pergelangan tangan Amerta dengan mudah, menguncinya dengan genggaman yang lembut namun tidak bisa dilepaskan.
Mahesa sedikit menundukkan kepalanya, menyamakan tinggi wajah mereka hingga Amerta bisa melihat dengan jelas pantulan dirinya di dalam manik mata biru tajam milik kakak tirinya itu.
"Kalau iya aku sedang mengerjaimu, kamu mau apa?" bisik Mahesa tepat di depan bibir Amerta. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman provokatif yang sangat seksi. "Mau kabur? Pintu apartemen ini menggunakan kode password yang baru kuubah sore ini. Kamu tidak akan bisa keluar tanpa izinku, Amerta."
Amerta menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya mau melompat keluar. Sisi dominan dan manipulatif dari Mahesa selalu berhasil membuat seluruh kata-kata bantahan yang sudah ia siapkan di kepala menguap begitu saja.
"Kamu... benar-benar monster gila, Pak Mahesa," cicit Amerta pasrah, sengaja menekankan kata 'Pak' untuk mengingatkan pria itu pada status mereka.
Mahesa justru terkekeh rendah, sebuah tawa bariton yang bergetar di dadanya dan terasa begitu intim di telinga Amerta. Ia melepaskan cekalan tangannya pada pergelangan tangan Amerta, lalu beralih menyentuh dagu gadis itu, mendongakkannya sedikit.
"Di apartemen ini, tidak ada Pak Mahesa, Ta. Hanya ada kakak tirimu yang sedang menagih tanggung jawab dari adik kecilnya yang nakal," bisik Mahesa dengan nada suara yang mendayu, membuat wajah Amerta kembali memerah sempurna hingga ke ujung telinga. Pria itu mundur satu langkah lalu menunjuk ke arah meja makan dengan kedipan mata jenaka. "Sekarang, ambil bubur ayam hangat yang sudah kupesan lewat aplikasi di atas meja, dan lakukan tugasmu."
Amerta hanya bisa mendengus frustrasi sambil berjalan menuju meja makan dengan menghentakkan kakinya kesal, sementara dari balik punggungnya, Mahesa memperhatikan setiap gerak-geriknya dengan tatapan penuh kemenangan dan binar kasih sayang yang tersembunyi rapat.