Kael Lucien Raventhorne dikenal sebagai bos mafia paling berkuasa, tampan, dan dingin. Di balik reputasinya yang membuat semua orang segan, ia menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun. Sebuah kecelakaan tragis merenggut harapan terbesarnya setelah dokter memvonisnya mandul. Kehancuran itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Ia berhenti memercayai cinta dan memilih menjalani kehidupan tanpa ikatan, berganti pasangan dari waktu ke waktu demi mengisi kekosongan yang terus menghantuinya.
Namun takdir mempermainkannya.
Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun yang polos dan cantik. Kesalahpahaman dan rangkaian kejadian di luar dugaan membuat gadis itu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kael menganggap peristiwa itu hanya akan menjadi satu bab yang terlupakan, sementara sang gadis berusaha bangkit dari kenyataan yang mengubah hidupnya.
Sebulan kemudian, gadis itu kembali hadir di hadapan Kael dengan kabar yang musta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Aurora Elise Beaumont, gadis berusia dua puluh tahun, berdiri di balik tirai berat berwarna biru tua. Dentuman musik orkestra yang lembut mulai mengalun dari balik panggung, menandakan bahwa gilirannya hampir tiba. Jantungnya berdebar, bukan karena takut, melainkan karena inilah malam yang selama ini ia impikan.
Lampu panggung perlahan menyala, menyoroti sosoknya yang anggun dalam balutan gaun balet berwarna putih keperakan. Ia melangkah perlahan, lalu mulai menari. Setiap gerakannya begitu lembut, penuh penghayatan, seolah bercerita tentang harapan, kehilangan, dan keteguhan hati. Penonton terdiam, terpaku oleh keanggunan gadis yang menari di atas panggung itu.
Aurora adalah seorang penari balet. Meski baru pertama kali tampil secara profesional di sebuah pertunjukan besar, bakatnya begitu memukau. Gerakannya mengalir begitu alami, seakan tubuhnya menyatu dengan musik. Banyak yang tak percaya bahwa ini adalah debutnya. Namun, Aurora tahu betul, semua ini bukan keajaiban semata—melainkan hasil dari latihan bertahun-tahun dan mimpi yang tak pernah padam.
"Luar biasa... dia luar biasa." bisik seseorang di antara penonton.
"Aurora Elise Beaumont... nama yang akan kita dengar lebih sering mulai malam ini." sahut yang lain penuh kagum.
Namun, di balik tepuk tangan meriah dan sorotan panggung yang gemerlap, Aurora menyimpan sebuah kisah yang tidak banyak orang tahu.
Ia adalah seorang yatim piatu. Kedua orang tuanya telah tiada sejak ia masih kecil. Kini, ia hanya memiliki satu-satunya keluarga di dunia ini—kakaknya, Adrian Theodore Beaumont. Pria itu bukan hanya kakak baginya, tetapi juga pengganti peran ayah dan ibu.
Adrian selalu ada di setiap langkah Aurora. Ia yang mengantarkan Aurora ke sekolah balet, menjemputnya saat latihan hingga larut malam, memastikan adiknya makan dengan cukup, dan selalu menjadi sandaran ketika Aurora merasa lelah. Meski sibuk dengan pekerjaannya sendiri, Adrian tidak pernah absen dari kehidupan Aurora.
Aurora memang tidak pernah tahu apa pekerjaan kakaknya. Ia hanya tahu, Adrian bekerja di sebuah organisasi yang entah apa namanya. Setiap hari, Adrian menghabiskan waktu di depan komputer, menatap layar dengan serius. Kadang ia menerima panggilan di tengah malam, kadang pula pergi begitu pagi tanpa banyak bicara.
Pernah suatu malam, saat mereka makan malam berdua, rasa penasaran Aurora akhirnya tak bisa lagi ia sembunyikan.
"Kak, sebenarnya kakak kerja di mana?" tanyanya hati-hati. "Aku cuma tahu Kakak selalu di depan komputer. Organisasi apa memangnya?"
Adrian hanya tersenyum kecil. Ia mengusap pelan kepala adiknya sebelum menjawab dengan nada tenang.
"Yang perlu kamu tahu cuma satu, Aurora. Kakak bekerja agar kamu bisa terus mengejar mimpimu. Soal pekerjaan kakak... biarkan itu jadi urusan kakak."
Aurora hanya mengangguk. Ia tahu, Adrian tidak suka membicarakan pekerjaannya. Karena itu, ia tidak pernah memaksa. Yang ia tahu, apapun keinginannya—dari sepatu pointe, les tambahan, hingga keinginan kecil yang bahkan tak pernah ia ucapkan—semuanya selalu terwujud berkat Adrian.
Dan malam ini, setelah ia menari sepenuh hati di panggung, ia kembali mengingat semua pengorbanan kakaknya. Air matanya nyaris jatuh saat ia membungkuk memberi hormat di akhir penampilan. Ia menari bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk seseorang yang selalu percaya padanya: Adrian Theodore Beaumont.
Pertunjukan malam itu berakhir dengan gemilang. Penampilan Aurora berhasil memikat setiap tamu yang memenuhi gedung pertunjukan. Tepuk tangan panjang dan pujian yang mengalir dari berbagai kalangan menjadi bukti bahwa debut profesionalnya sebagai penari balet telah melampaui ekspektasi banyak orang.
Usai berganti pakaian, Aurora dipanggil oleh manajernya ke ruang rias.
Wanita berusia sekitar tiga puluh dua tahun itu menyambutnya dengan senyum penuh kepuasan.
"Selamat, Aurora. Penampilanmu malam ini benar-benar luar biasa," ujarnya sambil menyerahkan selembar kartu nama berwarna hitam elegan. "Ada perusahaan besar di bidang perhiasan yang tertarik menjadikanmu wajah baru mereka. Mereka ingin bertemu langsung denganmu."
Aurora menerima kartu itu dengan mata berbinar. Ini adalah kesempatan yang selama ini ia nantikan.
"Benarkah?" tanyanya tak percaya.
"Tentu. Pertemuannya bersifat pribadi agar pembahasannya lebih nyaman. Besok malam datanglah ke Grand Imperial Hotel, Presidential Suite 2701. Mereka sudah menunggumu."
Aurora mengangguk pelan tanpa sedikit pun menyimpan rasa curiga. Selama bertahun-tahun bekerja bersama wanita itu, sang manajer selalu membimbing kariernya dengan baik. Tak pernah sekalipun terlintas di benaknya bahwa orang yang begitu ia percaya justru sedang menjerumuskannya ke dalam sebuah perangkap.
Aurora sama sekali tidak mengetahui bahwa pertemuan yang disebut sebagai negosiasi kerja sama itu hanyalah kedok belaka. Diam-diam, manajernya telah menjual informasi tentang dirinya kepada salah satu organisasi mafia paling berpengaruh di negeri itu.
Sementara Aurora masih membayangkan masa depan yang semakin cerah, seseorang di balik layar tengah menyusun rencana yang akan mengubah hidupnya untuk selamanya.
...----------------...
Dalam perjalanan pulang, Aurora memilih singgah di sebuah pusat perbelanjaan. Ia ingin membeli beberapa perlengkapan balet baru, sekaligus mencari hadiah kecil untuk Adrian sebagai ucapan terima kasih atas semua pengorbanan kakaknya selama ini.
Mobilnya perlahan memasuki area parkir bawah tanah. Basement mal malam itu tampak lengang. Hanya beberapa kendaraan yang terparkir berjauhan, sementara suara langkah kaki sesekali bergema di antara deretan pilar beton.
Baru saja mematikan mesin mobil, Aurora merasakan dorongan untuk segera ke toilet.
"Aduh... sepertinya aku tidak bisa menunggu lebih lama." gumamnya pelan sambil tersenyum kecil.
Ia mengambil tas tangan, mengunci mobilnya, lalu melangkah menuju toilet yang berada di sudut basement. Lorong menuju ke sana terlihat sepi dan diterangi cahaya lampu yang redup. Aurora sama sekali tidak menyadari bahwa sejak ia memasuki area parkir, sepasang mata tajam telah mengawasi setiap gerakannya dari kejauhan.
Aurora mempercepat langkahnya menyusuri lorong basement yang lengang. Pantulan suara hak sepatu baletnya bergema pelan di antara dinding beton yang dingin. Cahaya lampu putih yang redup membuat suasana terasa semakin sunyi. Di ujung lorong, ia melihat papan penunjuk menuju toilet wanita.
Tanpa berpikir panjang, Aurora mendorong pintu toilet itu.
Namun, baru selangkah memasuki ruangan, tubuhnya seketika membeku.
Di hadapannya, seorang pria bertubuh gempal tergeletak tak bergerak di atas lantai keramik. Pakaiannya telah berlumuran darah, sementara beberapa luka tampak memenuhi wajahnya yang pucat. Genangan darah mengelilingi tubuh pria itu, membentuk noda merah gelap yang perlahan mengalir mengikuti celah lantai.
Aurora menutup mulutnya dengan kedua tangan, berusaha menahan jeritan yang hampir lolos dari bibirnya. Napasnya tercekat.
Aroma anyir yang menyengat memenuhi seluruh ruangan, membuat perutnya terasa mual.
Tatapannya tanpa sadar beralih ke tangan kiri pria tersebut. Darah terus menggenang di bawah lengannya. Dari bekas luka yang tampak jelas di pergelangan tangannya, Aurora dapat menebak bahwa pria itu sudah kehilangan terlalu banyak darah. Tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Namun, pemandangan mengerikan itu ternyata bukanlah hal yang paling membuatnya ketakutan.
Beberapa langkah dari tubuh pria tersebut berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan bahu bidang. Sebagian lengan kirinya dipenuhi tato berwarna hitam yang terlihat jelas hingga ke pergelangan tangan. Wajahnya nyaris tanpa ekspresi.
Pria itu berdiri di depan wastafel, membuka keran air, lalu mencuci kedua tangannya dengan tenang. Air yang mengalir perlahan membawa noda merah yang menempel di jemarinya hingga menghilang ke lubang pembuangan. Bercak darah juga masih tampak mengenai sebagian wajah, kemeja, dan ujung lengannya.
Di atas wastafel, tergeletak sebilah belati dengan mata pisau yang masih berlumuran darah.
Pemandangan itu membuat tubuh Aurora bergetar hebat. Ia bahkan lupa bagaimana cara bernapas.
Pria itu perlahan mengangkat wajahnya, menatap pantulan cermin di depannya. Tatapan dingin itu kemudian beralih ke sosok Aurora yang masih berdiri kaku di ambang pintu.
Tak ada kepanikan di wajahnya.
Tak ada usaha untuk melarikan diri.
Seolah keberadaan seorang saksi bukanlah sesuatu yang perlu ia khawatirkan.
Pria itu adalah Kael.
Dengan gerakan tenang, Kael menutup keran air, mengambil sapu tangan berwarna hitam dari saku jasnya, lalu mengeringkan jemarinya satu per satu. Sikapnya begitu santai, seakan ruangan itu hanyalah kamar mandi biasa, bukan tempat yang baru saja menjadi lokasi sebuah pembunuhan.
Sementara itu, Aurora masih terpaku di tempatnya. Wajahnya memucat, kedua kakinya terasa lemas, dan pikirannya kosong. Ia hanya mampu menatap pria asing itu dengan rasa takut yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya. Malam yang semula dipenuhi kebahagiaan kini berubah menjadi awal dari mimpi buruk yang tak pernah ia bayangkan.
...****************...
maap,unfollow dan unsubscribe