"Aku memaafkan pengkhianatanmu demi nama baik keluarga, tapi hatiku sudah mati."
Arga, CEO 30 tahun, terjebak nikah bisnis dengan istri yang hamil anak orang lain. Hatinya dikunci rapat.
Sampai Queen, mahasiswi bar-bar 20 tahun + pewaris universitasnya, datang dan menantang semua aturan.
Satu ciuman di club malam meruntuhkan tembok esnya.
Sekarang Arga harus pilih: Tetap di neraka pernikahan, atau terbakar dalam gairah terlarang dengan mahasiswinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAKAT TERPENDAM DAN STRATEGI BARU
Langkah kaki Queen terasa begitu ringan saat ia berjalan membelah kerumunan lantai dansa Illusion Club. Senyum kemenangan yang teramat manis merekah di bibir ranumnya yang kini tampak sedikit bengkak dan memerah akibat peninggalan ciuman brutal beberapa menit lalu. Di bawah sorotan lampu neon yang berkelebat, ia melangkah dengan dagu terangkat, memancarkan aura kepuasan yang mutlak. Taruhan gila itu telah ia selesaikan dengan gaya yang tidak akan pernah dilupakan oleh siapa pun yang menyaksikannya.
Begitu Queen sampai di meja V.I.P tempat kedua sahabatnya menunggu, suasana langsung pecah.
"Gilaaa! Hot banget tadi! Gue nonton dari sini berasa lagi nonton film bokep live, Queen!" seru Alya dengan suara melengking, setengah berteriak menembus dentuman musik. Kedua matanya berbinar-binar penuh kepuasan. Tangannya bergerak heboh mengepalkan udara. Rencana terselubungnya untuk meruntuhkan pertahanan sang kakak berjalan jauh lebih sempurna dari apa yang ia bayangkan sebelumnya. Untuk pertama kalinya dalam satu tahun terakhir, Alya melihat kakaknya kehilangan kendali sebagai seorang pria.
Karin yang duduk di sebelah Alya ikut mencondongkan tubuhnya ke depan dengan wajah yang masih memerah padam. Efek syok sekaligus kagum masih tergambar jelas di raut wajahnya. "Iyah, gila sih lo, Queen! Otak lo boleh aja pas-pasan kalau di kelas, tapi buat urusan ginian... lo bener-bener suhu! Padahal setahu gue lo gak pernah pacaran seumur hidup, tapi gimana caranya lo bisa ngelakuin hal se-ganas itu tadi?!" timpal Karin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, masih tidak habis pikir dengan adegan panas yang baru saja ia tonton di seberang ruangan.
Mendengar pujian dan kehebohan sahabat-sahabatnya, Queen tidak menunjukkan kegugupan sedikit pun. Dengan gaya bar-bar khasnya yang teramat santai, ia mengibaskan rambut panjangnya yang bergelombang ke belakang bahu. Meskipun sikap luarnya terlihat sangat tenang dan acuh tak acuh, sebenarnya di balik gaun satin hijaunya, dada Queen masih berdegup kencang. Jantungnya berpacu dengan ritme yang sangat liar. Sentuhan tangan kokoh Arga di pinggangnya dan bagaimana pria matang itu melumat bibirnya dengan brutal masih menyisakan sensasi kesemutan yang aneh di sekujur tubuhnya.
"Itu namanya bakat terpendam, Girls," jawab Queen dengan nada santai seraya mendudukkan kembali bokongnya di atas sofa kulit. Ia menyandarkan punggungnya, menatap kedua sahabatnya dengan tatapan meremehkan yang jenaka. "Lagian, lo berdua harus tahu bedanya cewek amatir sama cewek yang punya insting alami. Pak Arga itu ibarat benteng es, kalau lo cuma ketuk pelan-pelan ya gak bakal runtuh. Harus dihantam pakai bom sekalian."
Alya tertawa bangga mendengar jawaban itu. "Sialan lo! Jadi, tas Hermes limited edition gue resmi melayang ke tangan lo ya setelah ini?"
"Jangan lupakan Mini Cooper baru di garasi rumah gue," sahut Karin sambil mendesah pasrah, namun matanya tetap memancarkan binar kekaguman. "Gue rela kehilangan mobil demi melihat pemandangan langka dosen killer kita berubah jadi sekolam air raksa yang meleleh."
Queen terkekeh renyah. Namun tiba-tiba, ia sedikit meringis. Sensasi hangat dan berdenyut di bagian bawah tubuhnya membuat fokusnya sedikit terganggu. Tanpa rasa malu atau canggung—karena di depan dua sahabat dekatnya ia memang tidak pernah menyaring kata-katanya—Queen memegang area intimnya sejenak di balik gaunnya, lalu meringis manja dengan ekspresi yang sangat frontal.
"Btw, gue ke toilet dulu ya..." ucap Queen sambil berdiri kembali dari sofa, membenarkan letak gaunnya yang sedikit bergeser. Ia menatap Alya dan Karin dengan senyum nakal yang tak berdosa. "Punya gue mendadak becek gara-gara permainan brutal Pak Dosen tadi. Sialan, ciuman bapak-bapak usia tiga puluh tahun ternyata se-merangsang itu."
Pfttt!
Alya dan Karin yang baru saja menyedot minuman mereka langsung tersedak secara bersamaan. Detik berikutnya, tawa terbahak-bahak meledak dari mulut kedua gadis kaya raya itu. Mereka sampai memegangi perut masing-masing, tidak kuat menahan kelakuan bar-bar dan ucapan tanpa filter dari sahabat mereka yang satu itu.
"Gila lo, Queen! Frontal banget jadi cewek!" teriak Karin di sela-sela tawanya.
"Sana buruan bersihin! Jangan sampai lo banjir di sini!" usir Alya sambil melempar selembar tisu ke arah Queen, menyembunyikan tawa puasnya yang terdalam karena tahu sang kakak telah berhasil meninggalkan efek yang begitu kuat pada diri sahabatnya.
Queen hanya menjulurkan lidahnya dengan cuek, lalu membalikkan tubuh dan melangkah dengan santai menuju arah toilet V.I.P.
Sementara itu, di sudut remang-remang ruangan yang berjarak beberapa puluh meter dari meja ketiga gadis itu, atmosfer di sekitar sofa Arga Dirgantara terasa begitu pekat dan berat.
Pria bertubuh tegap itu masih terduduk mematung di tempatnya. Posisinya sama sekali tidak berubah sejak Queen bangkit dari pangkuannya, namun badai di dalam pikirannya sedang berkecamuk dengan hebat. Arga menatap lurus ke arah gelas whiskey di genggaman tangannya yang kini bergetar sangat tipis. Es batu di dalam gelas itu sudah mencair sepenuhnya, menyatu dengan cairan alkohol, sama seperti pertahanan dirinya yang meleleh tanpa sisa hanya dalam waktu kurang dari lima menit.
Ibu jari tangan kanannya bergerak perlahan, mengusap bibir bawahnya sendiri yang masih terasa sedikit perih dan berdenyut akibat gigitan berani Queen. Aroma manis vanila dan buah beri yang ditinggalkan gadis itu seolah masih tertinggal di indra penciumannya, menolak untuk menguap meskipun udara club dipenuhi asap.
Napas Arga perlahan mulai teratur, namun debaran di dadanya menolak untuk tenang. Pikiran pria berusia 30 tahun itu kini sepenuhnya dipenuhi oleh bayangan wajah manis dan kelakuan gila mahasiswa barunya sendiri. Bisikan manja Queen yang menawarkan diri untuk menjadi teman ranjangnya terus berdengung di dalam kepalanya seperti kaset rusak, merusak seluruh logika dan prinsip hidup yang selama ini ia agungkan.
Selama ini, Arga mengira hatinya telah mati total setelah dikhianati oleh Keysha. Ia mengira dirinya telah kebal terhadap pesona wanita mana pun karena rasa muak yang mendalam. Namun malam ini, seorang gadis belia berusia 20 tahun, dengan segala kebar-baran dan keberaniannya, telah membuktikan bahwa Arga salah besar. Sentuhan fisik yang intens dan keliaran yang ditunjukkan Queen justru membangkitkan kembali sisi jantan di dalam diri Arga yang telah lama tertidur dan mengering.
Arga meneguk sisa whiskey hangat di dalam gelasnya hingga tandas, membiarkan rasa panas membakar kerongkongannya untuk kedua kali. Matanya yang gelap kembali menatap ke arah kerumunan, mencari-cari siluet gaun hijau zamrud yang telah mengacaukan seluruh sistem sarafnya malam ini.
"Queen..." desis Arga dengan suara baritonnya yang teramat serak dan rendah, menyebut nama gadis itu dengan nada yang tidak pernah ia gunakan di dalam kelas.
Ada rasa tidak terima di dalam hatinya karena gadis itu memutus permainan di saat ia baru saja akan memulai. Ada rasa penasaran yang teramat dalam yang kini mulai menggerogoti akal sehatnya. Tembok es tebal yang ia bangun sebagai perisai diri dari kehancuran rumah tangganya telah runtuh seutuhnya malam itu juga. Dan Arga tahu, mulai besok pagi di kampus, koridor universitas tidak akan pernah sama lagi baginya. Perburuan rahasia antara sang dosen killer dan mahasiswi cegil itu... baru saja dimulai.