Di mata tiga alam, kaum Dewa adalah simbol kesucian dan Iblis adalah perlambang petaka. Namun, kebenaran tertutup oleh kabut keserakahan. Demi mencapai keabadian mutlak, Dewa Tinggi Ling Cang berniat mengorbankan Dewi Shen Liya—pemilik Wadah Ilahi dengan energi suci termurni. Menolak menjadi tumbal, Shen Liya melarikan diri ke dunia fana dalam kondisi terluka parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee44, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Pertemuan Tak Sengaja di Gang Gelap
Lentera-lentera kertas berwarna merah dan kuning keemasan mulai menyala di sepanjang jalanan Kota Gusu saat malam tiba. Suasana pasar malam kota fana itu terlihat berkali-kali lipat lebih meriah daripada siang hari.
Bau harum dari sate daging panggang, manisnya kue beras, dan riuh rendah suara tawa anak-anak manusia yang berlarian menciptakan atmosfer kehidupan yang teramat hangat.
Shen Liya berjalan perlahan dengan gaun katun biru mudanya, sebelah tangannya menggandeng erat jemari Gu Yu kecil. Di balik cadar sutra tipisnya, sepasang mata sang Dewi berbinar menyaksikan kedamaian mortal ini.
Di samping mereka, Gu Jue melangkah dengan tenang, mengenakan jubah rami abu-abu kasarnya. Sesekali, tangan kokoh Gu Jue bergerak mengambil sepotong manisan buah persik dari pedagang kaki lima untuk diserahkan kepada Gu Yu, memicu ekspresi kaku namun bahagia di wajah pangeran cilik itu.
"Kota ini benar-benar hidup, Ah Jue," bisik Shen Liya lembut, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu tegap suaminya saat mereka berjalan di antara kerumunan.
"Manusia mortal selalu menemukan cara untuk bersenang-senang di tengah umur mereka yang singkat," jawab Gu Jue datar, namun tangan kirinya diam-diam menggenggam pinggang Shen Liya dengan kelembutan yang protektif.
Di rumah halaman baru mereka, Lan Xi—yang masih menyamar sebagai pelayan Ah Xi—sengaja ditinggal untuk menjaga rumah (sekaligus sebagai hukuman dari Gu Jue karena telah merusak kuali dapur tanah liat saat mencoba memasak bubur manusia sore tadi).
Kebebasan sesaat ini dimanfaatkan oleh ketiganya untuk menikmati waktu sebagai keluarga normal.
Namun, kedamaian malam itu mendadak terusik saat mereka melewati sebuah persimpangan gang sempit yang gelap di sudut pasar kain tua.
Sret! Berdenting!
Suara desingan senjata tajam yang memotong udara diikuti oleh suara dentingan rantai besi yang nyaring terdengar lamat-lamat dari balik tembok bata abu-abu gang tersebut.
Bau anyir darah segar fana yang bercampur dengan hawa energi spiritual yang kotor mendadak menguar tajam, menusuk indra penciuman pekat milik ketiga anggota keluarga rahasia ini.
Gu Yu kecil adalah yang pertama menghentikan langkah kakinya. Sepasang mata sehitam tintanya menyipit tajam menembus kegelapan gang.
"Ibu... ada riak energi yang mirip dengan orang-orang berbaju merah di kaki gunung kemarin."
Shen Liya terkesiap. Ia segera melangkah mendekati bibir gang gelap tersebut, mengintip ke dalam bersama Gu Jue yang berdiri kokoh di belakang punggungnya bak benteng batu.
Di dalam gang yang remang-remang, diterangi oleh sisa cahaya lentera jalan yang pecah, seorang pemuda berusia belasan tahun dengan pakaian sutra mahal yang telah robek dan berlumuran darah sedang tersungkur lemas di atas tanah. Wajahnya yang tampan dipenuhi memar dan rasa takut yang luar biasa pekat.
Mengepung pemuda tersebut, berdiri empat orang pria bertubuh kekar dengan jubah merah darah yang memancarkan hawa dingin yang kejam. Di tangan mereka, masing-masing menggenggam ujung rantai besi pusaka yang mengalirkan energi spiritual aliran hitam fana.
Mereka adalah pendekar elit dari Sekte Awan Darah—satu dari tiga faksi manusia yang dibutakan oleh keserakahan sayembara Ling Cang.
"Hahaha! Tuan Muda Lin, berhentilah berlari!" seru salah satu pendekar Sekte Awan Darah, tawanya menggema kasar di antara dinding gang yang sempit.
Rantai besinya berdenting di atas lantai batu. "Rumah mewah keluargamu di distrik utara saat ini sudah dikunci rapat oleh pasukan inti kami. Ayahmu sang saudagar kaya menolak menyerahkan seluruh keping emas logistik sekte kami untuk memburu dewi langit, jadi kalian semua harus mati!"
"K-Kalian monster serakah... Langit tidak akan mengampuni sekte kalian!" teriak pemuda bernama Lin tersebut dengan suara parau, air mata keputusasaan mengalir bebas di pipinya saat melihat ujung rantai besi tajam musuh mulai diangkat ke udara, siap menghujam dadanya.
Melihat pemandangan kejam di depannya, terlebih saat mendengar nama "dewi langit" disebut-sebut sebagai alasan pembantaian keluarga manusia tersebut, dada Shen Liya berdenyut perih karena rasa bersalah yang mendalam.
Keserakahan yang dipicu oleh fitnah Ling Cang telah mulai menumpahkan darah manusia mortal yang tidak bersalah di kota ini.
Tergerak oleh rasa empati sucinya yang tidak tega melihat seorang anak manusia mati di depan matanya, Shen Liya tidak bisa tinggal diam.
"Hentikan!" seru Shen Liya tegas.
Sebelum Gu Jue sempat menahan pundaknya, Shen Liya sudah melangkah maju memasuki gang gelap tersebut. Ia membalikkan telapak tangan kanannya di balik lengan gaun katun biru mudanya, memaksakan sekerat kecil energi sucinya untuk berkumpul di ujung jemari. Demi menjaga agar energinya tidak memicu radar langit atas, ia memanipulasinya menjadi sihir angin fana tingkat rendah.
Wusss!
Sebuah pusaran angin badai kecil yang sangat tajam mendadak meledak keluar dari sapuan tangannya, meluncur cepat menghantam pergelangan tangan keempat pendekar Sekte Awan Darah. Hantaman angin tersebut begitu presisi, membuat rantai-rantai besi di tangan mereka seketika terlepas dan terlempar menghantam dinding batu hingga memercikkan bunga api.
"Siapa yang berani mencampuri urusan Sekte Awan Darah?!" Empat pendekar berbaju merah darah itu tersentak kaku, buru-buru berbalik dengan wajah penuh amarah.
Di ujung gang, mereka hanya melihat seorang wanita bercadar biru muda yang anggun berdiri bersama seorang anak kecil bermata hitam dan seorang pria jangkung berpakaian rami abu-abu kasar. Penampilan mereka bertiga terlihat murni seperti rakyat jelata biasa yang kebetulan melintas.
"Hanya tikus fana yang menggunakan trik sihir angin jalanan!" desis kapten pendekar Sekte Awan Darah, matanya berkilat haus darah saat ia kembali menarik rantai besinya dari atas tanah.
"Membunuh beberapa manusia tambahan malam ini bukan masalah bagi kami! Habisi mereka semua!"
Dua pendekar berbaju merah melompat maju, mengayunkan rantai besi tajam mereka lurus ke arah kepala Shen Liya dan Gu Yu kecil.
Gu Jue yang sejak tadi berdiri diam dalam bayangan, melangkah maju satu tindakan perlahan, memosisikan tubuh tingginya tepat di depan anak dan istrinya. Sepasang mata sehitam tintanya berkilat warna ungu menyala yang teramat mematikan selama sepersekian detik di dalam kegelapan gang sebelum diredam kembali dengan sangat rapi.
Kalian... benar-benar bosan hidup, batin Mo Jue, hawa pembunuh yang sedingin es abadi mengunci pergerakan udara di dalam gang tersebut seutuhnya.
Tanpa menggunakan sihir energi iblis yang kasat mata, Gu Jue bergerak murni menggunakan kecepatan fisik mutlaknya yang mengerikan. Sebelum rantai besi musuh sempat mendekat dalam jarak satu meter, tubuh tegap Gu Jue sudah lenyap, meninggalkan sekerat bayangan rami abu-abu di udara.
Brak! Buk!
Dua hantaman fisik murni tanpa cela terdengar berdentum keras. Tangan kanan Gu Jue bergerak secepat kilat, mencengkeram tenggorokan dua pendekar terdepan lalu menghantamkan kepala mereka satu sama lain dengan kekuatan fisik monster yang mengerikan.
Dua tengkorak pendekar Sekte Awan Darah itu seketika retak, dan tubuh mereka ambruk ke tanah berlumpur dalam kondisi pingsan atau mati seketika.
"M-Mundur! Monster!" teriak kapten pendekar dengan panik, mencoba melempar jimat asap merah untuk melarikan diri dari gang tersebut.
Namun, Gu Yu kecil tidak memberikan mereka kesempatan. Sebelum kapten itu sempat menggerakkan jarinya, sesosok bayangan putih kecil melesat secepat kilat dari balik jubah rami Gu Yu. Xiao Bai melompat ke udara, mendarat dengan lincah tepat di atas wajah sang kapten pendekar.
HISS!
Dengan geraman bariton rendah yang menekan, harimau kecil itu melebarkan cakar peraknya, mencakar telak tangan musuh hingga jimat asap merah tersebut terlepas dan jatuh ke dalam kubangan air batu gang.
Gerakan lincah Xiao Bai membuat musuh kehilangan keseimbangan dan berteriak panik mencoba mengusir anak harimau itu dari wajahnya. Di saat yang sama, Gu Yu kecil melompat maju dengan lincah, menghunus pedang kayu kecil dari punggung jubah raminya.
Menggunakan teknik pernapasan perut yang diajarkan ayahnya kemarin fajar, Gu Yu mengayunkan pedang kayunya menghantam lutut kedua pendekar tersisa secara akurat.
Prak! Prak!
Suara retakan tulang kaki manusia fana terdengar renyah di dalam gang yang sepi. Dua pendekar Sekte Awan Darah itu menjerit kesakitan yang teramat sangat sebelum akhirnya hantaman pegangan pisau obat milik Gu Jue mendarat di tengkuk mereka, membuat mereka semua pingsan tak sadarkan diri di atas tanah gang.
Pertarungan senyap di gang gelap itu selesai dalam waktu kurang dari satu menit, bersih tanpa meninggalkan sisa riak energi yang bisa memicu radar langit Ling Cang.
Shen Liya buru-buru berjalan mendekati pemuda Lin yang masih tersungkur gemetar di sudut tembok. Ia berlutut pelan, memeriksa denyut nadinya.
"Tenanglah, Tuan Muda. Kau sudah aman sekarang. Luka-lukamu hanya luka luar."
Pemuda bernama Lin itu mendongak, air matanya menetes deras membasahi pakaian sutranya saat melihat keanggunan suci Shen Liya yang baru saja menyelamatkan nyawanya. Ia langsung bersujud dengan kepala menghantam lantai batu berulang kali di depan kaki sang Dewi.
"P-Penyelamat... mohon bantuan Nyonya dan Tuan sekalian!" tangis pemuda Lin pecah, suaranya parau dilingkupi keputusasaan yang teramat pekat.
"Nama saya Lin Yun, putra dari Saudagar Kaya Lin di distrik utara kota ini. Saat ini... seluruh rumah kediaman keluarga saya sedang diserbu dan dikepung oleh ratusan pasukan inti dari Sekte Awan Darah! Mereka menuntut seluruh keping emas logistik kami untuk membiayai sayembara berdarah memburu buruan langit! Jika tidak ada yang menolong... ayah, ibu, dan seluruh pelayan di rumah saya akan dibantai habis malam ini! Saya mohon... selamatkan keluarga saya!"
Mendengar konspirasi dan kekejaman yang sedang berlangsung di rumah saudagar kaya tersebut akibat dampak langsung dari keberadaannya, Shen Liya terpaku dengan hati yang tersayat hebat. Ia mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata hitam Gu Jue dengan pandangan yang sarat akan permohonan emosional yang mendalam.
Gu Jue berdiri tegak di tengah gang, membersihkan sisa debu di lengan jubah rami abu-abunya dengan gerakan yang sangat tenang. Sepasang mata sehitam malam milik sang Raja Iblis menyipit tajam menatap ke arah distrik utara kota yang mulai diselimuti hawa merah darah samar dari kejauhan.
Sekte Awan Darah... ratusan pasukan inti di satu tempat? batin Mo Jue, sudut bibirnya terangkat membentuk guratan senyum pembunuh yang teramat kejam di dalam kegelapan gang.
Sangat bagus. Ini adalah kesempatan sempurna untuk memusnahkan satu dari tiga serangga pengganggu ini tanpa perlu repot mencarinya satu per satu.
Gu Jue menurunkan pandangannya menatap Gu Yu kecil yang sudah menyarungkan kembali pedang kayunya dengan wajah yang berkilat penuh semangat bertarung. Ikatan batin di antara ayah dan anak itu seketika mengunci sebuah kesepakatan senyap untuk melakukan pembersihan fisik besar-besaran malam ini demi melindungi senyuman di wajah wanita mereka.