NovelToon NovelToon
Menggunakan Pengetahuan Modern Untuk Menyelamatkan Sebuah Desa Di Dunia Lain

Menggunakan Pengetahuan Modern Untuk Menyelamatkan Sebuah Desa Di Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anime / Fantasi Isekai / Tamat
Popularitas:240
Nilai: 5
Nama Author: Saiful Bachri

Takahiro, seorang pemuda yang gemar bermain gim dan menghabiskan sebagian besar waktunya mengurung diri di kamar, suatu hari tanpa sengaja tersesat ke dalam dunia gim yang sedang ia mainkan.

Di dunia lain yang bernama Terrovia, Takahiro memulai kehidupan barunya sebagai manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sihir.

Berbekal pengetahuan yang ia peroleh dari dunia modern, ia membantu para petani di Desa Veria dan berjuang tanpa kenal lelah untuk memperbaiki kehidupan orang-orang yang tengah dilanda kesulitan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saiful Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keresahan

Gelak tawa meledak berulang kali, memantul di dinding-dinding kayu rumah Joe yang biasanya sepi. Sejak kedatangan Uchi beberapa menit lalu, suasana hangat seolah tumpah ruah memenuhi ruang keluarga.

Joe sedang berada di atas angin, menggebu-gebu menceritakan berbagai kekonyolan masa mudanya saat pertama kali belajar berburu. Atmosfer makin pecah saat Bellinda ikut menimpali, membongkar kisah memalukan tentang pertemuan pertama mereka.

Di sudut lincak, Cate sampai harus memegangi perutnya yang mulai kram. Air mata merembes di sudut matanya, berkali-kali ia usap kasar dengan punggung tangan karena napasnya mulai tersengal.

"Hentikan, aku sudah tidak tahan lagi!" seru Cate di sela tawa yang menguras tenaga.

Permintaan itu menguap begitu saja. Joe justru makin gencar "menyerang" putri sulungnya dengan rentetan banyolan baru. Belum sempat Cate mengambil napas, Uchi ikut menyambar, membocorkan rahasia masa kecil Cate saat wajah gadis itu penuh lumuran lumpur sawah.

"Sudah cukup, aku nggak tahan," ulangnya. Wajah Cate memerah padam. Ia menggeliat gelisah di kursinya, merapatkan kedua paha untuk menahan sesuatu yang sudah berada di ambang batas pertahanan kandung kemihnya.

Sia-sia. Seribu kata konyol yang meluncur dari bibir Joe menjadi eksekutor bagi pertahanan otot perut Cate. Pada satu ledakan tawa yang paling keras, kendali itu jebol. Tanpa bisa dicegah, cairan hangat merembes deras, menembus kain celananya hingga menetes membasahi lantai beton di bawah kakinya.

Seketika, Cate tersentak berdiri. Wajahnya yang tadi merah karena tawa kini berubah pucat pasi.

Di sebelahnya, Bellinda langsung mengangkat tangan ke arah Joe—sebuah isyarat darurat agar suaminya tutup mulut. Wanita paruh baya itu merasakan hawa basah yang hangat menjalar di dekat telapak kakinya.

Tawa di ruangan itu mati seketika. Kegelisahan yang sedari tadi ditahan Cate akhirnya meledak menjadi rasa malu yang tak tertanggungkan.

"Tuh, kan!" gerutunya kesal, suaranya naik satu oktaf dengan mata berkaca-kaca. "Gara-gara ayah yang dari tadi nggak bisa berhenti, aku jadi ngompol."

Sambil menutupi bagian depan celananya dengan kedua tangan, Cate berlari melarikan diri menuju kamar mandi. Ia meninggalkan orang tua dan sahabatnya dalam keheningan yang mendadak canggung.

Suasana hangat tadi langsung menguap tak berbekas. Joe dan Bellinda saling lempar pandang dengan raut bersalah, sementara Uchi hanya bisa menunduk sambil meremas ujung bajunya.

Dalam hitungan detik, ruang keluarga itu berubah tegang. Sebagai kepala keluarga, Joe menatap istrinya, meminta petunjuk lewat isyarat mata tentang cara menjinakkan amarah putri mereka nanti.

Lewat tatapan matanya yang tenang, Bellinda memberi kode agar Joe meminta maaf dan menggunakan makanan sebagai sogokan perdamaian.

Teringat sesuatu, Joe melirik ke arah lemari rak. Di sana, bingkisan daging ayam dari Bee sudah dibumbui oleh Bellinda dan siap diolah, permukaannya terlihat mengkilap dan segar. Tak mau membuang waktu menunggu putrinya keluar, Joe bangkit, berniat mengambil daging itu untuk segera dimasak.

Namun, baru saja kakinya melangkah dua kali...

Brak!

Daun pintu depan tiba-tiba terdorong kasar hingga membentur dinding. Seorang gadis berambut abu-abu muncul di ambang pintu dengan napas berderu hebat bak habis dikejar serigala.

Itu Vyora. Rambutnya berantakan, dan matanya bergerak liar menyapu seisi ruangan sempit tersebut.

"CATE!" teriak Vyora parau.

Ledakan suara itu membuat Bellinda, Joe, dan Uchi membeku di tempat. Transisi dari insiden memalukan tadi ke gedoran pintu panik ini membuat otak mereka kehabisan kata-kata.

Tak menemukan sosok yang dicarinya, Vyora langsung menerjang ke arah Joe. Bahunya naik-turun menahan sesak saat ia berdiri tepat di hadapan pria paruh baya itu.

"Paman, Cate ke mana?" tanyanya memburu.

Joe masih mengerjap, berusaha memproses kepanikan ekstrem di wajah Vyora. Tanpa sanggup bersuara, ia hanya mengangkat tangan, menunjuk ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat.

Saat Vyora hendak melesat ke sana, Bellinda akhirnya berhasil menguasai diri.

"Vyora-chan, kamu kenapa?"

Vyora sama sekali tak menggubris pertanyaan itu. Ia seolah tuli oleh kecemasannya sendiri. Kakinya mengentak lantai, menuju kamar mandi. Berbeda dengan kamar Joe dan Bellinda yang hanya ditutupi tirai usang, kamar mandi ini memiliki pintu kayu sungguhan, dan Vyora langsung menggedornya dengan kepalan tangan yang keras sambil meneriakkan nama sahabatnya.

Di luar rumah, Takahiro yang sejak tadi menyendiri di bawah bayangan malam, menangkap firasat buruk itu lebih tajam. Tadi ia melihat Vyora berlari melintasi halaman, dan kepanikan gadis itu terbaca jelas di matanya. Rasa penasaran menarik kaki Takahiro melangkah pelan ke dalam rumah, berdiri di dekat pilar untuk menyimak kekacauan yang sedang terjadi.

Di dalam kamar mandi, Cate yang sedang kalut membersihkan diri merasa terganggu oleh ketukan brutal itu. Ia membuka pintu setengah, menampilkan wajah bingungnya yang langsung disambut oleh raut ketakutan Vyora.

"Vyora, kamu kenapa, sih? Tiba-tiba—"

Tanpa ba-bi-bu, Vyora menyambar lengan kanan Cate dan menariknya paksa.

Cate yang masih tak nyaman dengan insidennya sendiri, refleks menyentak lengannya kembali.

"Kamu kenapa, sih? Kenapa tiba-tiba bersikap seperti ini?" tuntut Cate, dahinya berkerut dalam.

Vyora terdiam. Mulutnya terbuka-tutup tapi tak ada suara yang keluar. Bola matanya bergerak liar, sementara jemarinya gemetar hebat. Kegelisahannya benar-benar sudah di ujung tanduk.

Melihat sahabatnya tampak begitu tersiksa, nada bicara Cate melunak satu oktaf. "Iya, kamu kenapa?"

"Aku nggak bisa jelasin di sini!" timpal Vyora cepat, kembali mencengkeram lengan Cate dengan lebih erat. "Benih padi yang aku dan ayah tanam tadi sore, tiba-tiba semuanya jadi mati!"

Dari sudut ruangan, mata Takahiro sedikit menyipit. Sesuai dugaannya. Tadi ia melihat ada bercak lumpur mengering di pipi kiri Vyora. Otaknya langsung berputar, mencoba menganalisis anomali apa yang bisa membuat benih padi mati massal dalam hitungan jam.

Bellinda bangkit dan menghampiri kedua gadis itu di depan pintu kamar mandi. Ia mencoba memposisikan diri sebagai penengah.

"Vyora-chan, tenangin diri kamu terlebih dahulu," tuturnya lembut. "Jangan tergesa-gesa mengambil tindakan ataupun keputusan. Siapa tahu benih padi yang kamu tanam bersama ayahmu itu bukan mati, melainkan ada kesalahan saat menanamnya."

Kata 'kesalahan saat menanam' itu justru melukai harga diri Vyora. Rahangnya mengeras. Ia bukan anak bawang yang baru turun ke lumpur sawah kemarin sore. Ia sudah hafal setiap sentimeter proses bercocok tanam dari A sampai Z. Tuduhan bahwa ia melakukan kesalahan dasar terasa seperti tamparan ejekan baginya.

"Maaf, Bibi, tapi aku tidak punya waktu untuk mempermasalahkan ini," tegas Vyora dingin. Tatapannya beralih dari wanita paruh baya itu kembali ke sahabatnya. "Cate, ayo ikut aku."

Melihat determinasi yang tak bisa diganggu gugat di mata Vyora, Joe dan Bellinda tak punya alasan untuk menahan putri mereka. Keduanya saling bertukar pandang sejenak, lalu mengangguk bersamaan, memberikan izin dalam diam.

Sadar telah mendapat restu, Vyora langsung menarik Cate keluar rumah. Namun, tepat saat mereka mencapai ambang pintu depan, pemuda asing yang sedari tadi hanya mengamati akhirnya bersuara.

"Tunggu!" tegur Takahiro, melangkah maju dari balik bayangan pilar. "Aku ikut, siapa tahu aku bisa membantu."

"Aku juga ikut!" seru Uchi tak mau tertinggal.

Tak punya kemewahan waktu untuk berdebat, Vyora mengangguk cepat, mengizinkan pemuda berambut putih dan sahabatnya itu untuk ikut bergabung.

Dalam hitungan detik, keempat muda-mudi itu bergegas menghilang ke dalam pelukan malam. Ketegangan berlipat ganda kini tertinggal di dalam rumah, membiarkan sepasang suami istri itu terpaku dalam keheningan yang menyisakan tanda tanya besar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!