Menggambarkan kemegahan hidup Doni Salman di usia 46 tahun, puncak kekuasaan Salman Group, hingga tragedi malam berdarah saat racun melumpuhkan sarafnya.
Konfrontasi kejam Amanda dan Andreas, pengakuan mengejutkan tentang anak gelap mereka, serta fakta mengerikan bahwa Zahra diperkosa dan dibunuh atas perintah Amanda.
Doni mati dalam murka, memicu keajaiban langit yang melempar jiwanya kembali ke tahun saat ia berusia 26 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26: Tajamnya Pena Notaris
Aroma wangi kayu cendana yang mahal menguar dari sudut ruangan kantor Notaris & PPAT Kamaruddin, S.H., yang terletak di salah satu lot elit di Jakarta.
Berbeda dengan ruang rapat PT Santoso Karya yang dipenuhi ketegangan mentah, ruangan ini terasa sunyi, dingin, dan kaku.
Dindingnya dilapisi lemari buku jati berukuran raksasa yang memuat ribuan jilid hukum, saksi bisu dari perpindahan aset-aset raksasa di ibu kota.
Di atas meja kaca tebal, beberapa bundel dokumen berlogo Garuda emas sudah tersusun rapi.
Notaris Kamaruddin, seorang pria tua berambut putih dengan kacamata berbingkai emas, sedang meneliti lembar demi lembar akta otentik pengalihan hak opsi saham dengan ketelitian seorang kurator seni.
Di sisi kanan meja, Devan Santoso duduk terdiam.
Wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua dibanding minggu lalu.
Kasus penangkapan Andreas oleh satuan Brimob subuh tadi telah berhasil diredam dari endusan media massa berkat koneksi politiknya, namun di dalam lingkaran internal perusahaan, reputasi Devan sebagai pemimpin mutlak telah mengalami retakan yang parah.
Di sebelahnya, Amanda Santoso duduk dengan dagu terangkat tinggi, menyembunyikan amarah dan harga dirinya yang terluka di balik sapuan lipstik merah menyala.
Di sisi seberang, Doni Salman duduk dengan ketenangan yang mutlak.
Kemeja flanel biru tuanya telah berganti dengan kemeja katun polos berwarna putih bersih yang lengannya digulung hingga ke siku, memperlihatkan lengan mudanya yang tegap.
Sepasang mata sumur tuanya menatap lurus ke arah pena bulu bertinta hitam yang terletak di tengah meja alat kecil yang sebentar lagi akan mengukir sejarah baru bagi kebangkitan Salman Group.
"Semua berkas formal telah saya periksa secara saksama, Pak Devan, Saudara Doni,"
Notaris Kamaruddin membuka suara, memecah keheningan dengan nada suara yang bariton dan legalistik.
"Berdasarkan kontrak kerja sama logistik bertanggal tujuh hari yang lalu, serta bukti audit penghematan biaya operasional sebesar dua puluh empat koma delapan persen yang telah disahkan oleh direktur keuangan, maka syarat hukum untuk pengaktifan awal hak opsi saham kosong sebesar dua persen atas nama Doni Salman telah terpenuhi tanpa cacat hukum."
Kamaruddin menggeser dokumen Akta Notaris Nomor 42 tentang Pengalihan dan Pengikatan Hak Opsi Saham ke hadapan Devan Santoso.
"Silakan tanda tangan di sebelah sini, Pak Devan, selaku Direktur Utama yang mewakili pemegang saham pengendali PT Santoso Karya."
Devan menatap lembaran kertas putih tebal itu dengan pandangan yang sarat akan kebencian.
Dua persen saham mungkin terdengar kecil bagi orang awam, namun bagi perusahaan konstruksi yang bersiap melakukan Initial Public Offering (IPO) di bursa efek dua tahun lagi, dua persen itu setara dengan kepemilikan aset bernilai puluhan miliar rupiah.
Lebih dari itu, saham ini memberikan Doni hak konstitusional untuk hadir dan berbicara di dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
"Doni," Devan menahan ujung penanya, matanya menyipit tajam menatap pemuda di depannya.
"Kamu memenangkan ronde pertama ini karena kecerobohan Andreas."
"Tapi jangan mengira memiliki dua persen saham di perusahaanku akan membuatmu bisa duduk sejajar denganku di papan atas Jakarta."
"Dunia ini terlalu luas untuk anak muda yang baru memegang uang miliaran."
Doni Salman menarik sudut bibirnya, membentuk seulas senyuman tipis yang sangat dingin sebuah ekspresi yang biasa ia gunakan ketika menghadapi kompetitor yang sudah di ujung tanduk di kehidupan masa depannya.
"Saya tidak pernah meminta untuk duduk sejajar dengan Anda, Pak Devan," jawab Doni,
suaranya terdengar sangat tenang namun memiliki bobot intimidasi yang pekat.
"Dua persen ini hanyalah kompensasi atas keringat dan efisiensi yang saya berikan untuk proyek Anda."
"Mengenai luasnya dunia... saya rasa saya tahu persis seberapa luas tanah yang akan runtuh jika fondasinya mulai digerogoti oleh keserakahan pemiliknya sendiri."
"Silakan tanda tangani, waktu saya tidak banyak."
Mendengar ucapan Doni yang begitu tajam dan penuh teka-teki, Amanda Santoso tidak bisa lagi menahan emosinya.
Ia memajukan tubuhnya, menatap Doni dengan tatapan meremehkan yang biasa ia gunakan untuk menggilas mental pria-pria bawahannya.
"Doni Salman, simpan kesombongan kampunganmu itu."
"Kamu mengira bisa mendikte keluarga kami hanya karena memegang selembar kertas ini? Di Jakarta, uang bisa membeli hukum, dan kekuasaan bisa menghapus nama seseorang dari akta mana pun dalam semalam."
"Jangan sampai kamu tersedak oleh dua persen saham yang belum tentu bisa kamu cairkan ini."
Doni mengalihkan pandangannya kepada Amanda.
Di masa lalu, tatapan tajam dan kecantikan Amanda selalu berhasil membuat lutut Doni muda gemetar karena pesona palsunya.
Namun sekarang, melihat Amanda yang sedang meluapkan ego marahnya, Doni hanya melihat seorang wanita naif yang tidak mengerti bahwa seluruh kemewahan yang melekat di tubuhnya saat ini berada di atas bom waktu finansial yang sumbunya sudah menyala.
"Terima kasih atas nasihatnya, Nona Amanda,"
bisik Doni dengan nada yang begitu lembut namun sarat akan ancaman maut yang tertahan.
"Saya akan memastikan tidak akan tersedak. Dan saya harap... Anda juga bisa menjaga kesehatan Anda dengan baik dalam beberapa bulan ke depan, karena badai di bursa efek sering kali datang tanpa memberikan surat pemberitahuan terlebih dahulu."
Sret... Sret...
Devan Santoso akhirnya menghentakkan penanya, membubuhkan tanda tangan kasarnya di atas kertas segel tersebut dengan napas yang memburu.
Harga dirinya yang terluka memaksa dirinya untuk segera mengakhiri penghinaan tak kasat mata ini.
Notaris Kamaruddin kemudian menggeser dokumen tersebut ke hadapan Doni.
Dengan gerakan tangan yang sangat anggun, mantap, dan tanpa keraguan sedikit pun, Doni Salman menuliskan tanda tangannya di bawah kolom pemegang hak opsi.
Goresan tinta hitam itu resmi mengunci status hukumnya.
Pada hari Senin sore ini, di pertengahan tahun 2006, Doni Salman seorang pemuda yang seminggu lalu masih berstatus buruh manifes gudang pelabuhan yang berbau solar telah resmi menancapkan kuku finansial pertamanya di dalam struktur kepemilikan salah satu raksasa infrastruktur Jakarta.
Setelah seluruh proses birokrasi selesai, Doni berdiri dari kursinya, mengambil salinan dokumen akta miliknya, lalu memberikan sebuah anggukan kepala yang sangat formal kepada Notaris Kamaruddin.
Ia sama sekali tidak memandang Devan maupun Amanda lagi, menganggap keberadaan mereka di ruangan itu sudah selesai dalam kalkulasi taktisnya.
Doni melangkah keluar dari kantor notaris menuju pelataran parkir gedung. Angin sore bertiup kencang, memainkan ujung kemeja putihnya.
Di bawah langit Jakarta yang mulai berubah jingga, Doni mengeluarkan telepon seluler lamanya. Ia memeriksa pergerakan bursa saham penutupan sore ini melalui menu WAP sederhana.
Kode saham BUMI: Rp1.050 per lembar.
Dana sepuluh setengah miliar rupiah hasil anomali sistem Bank Nusa Sentosa yang ia benamkan di bursa efek kini telah membengkak, menghasilkan keuntungan murni miliaran rupiah di atas kertas seiring dengan mulai bergeraknya sentimen positif batu bara global.
Ditambah dengan dua persen opsi saham PT Santoso Karya yang baru saja ia amankan, modal kapitalnya kini telah melampaui batas kritis untuk mendirikan entitas bisnis mandiri miliknya.
Doni Salman menarik napas dalam-dalam, merasakan gelombang kekuatan finansial yang luar biasa besar mulai mengalir di bawah kendalinya.
Langkah ketiga dari cetak biru balas dendamnya berjalan tanpa ada kesalahan satu milimeter pun.
Sekarang, saatnya ia mendirikan benteng fisiknya sendiri, sebuah wadah raksasa yang akan ia gunakan untuk menampung seluruh amunisi finansialnya dan mulai melakukan serangan balik secara terbuka kepada bisnis keluarga Santoso: Salman Group yang sesungguhnya kini telah siap dilahirkan ke dunia.