“Kita sudah sama-sama tahu kan, pernikahan ini keinginan orang tua kita, jadi kamu jangan terlalu banyak berharap pada diriku. Asal kamu tahu, dengan pernikahan ini, kebahagiaanku sudah terrenggut. Jangan kuatir, aku tidak akan meminta hak ku sebagai seorang suami. Sampai saatnya nanti tiba, aku akan tetap memperjuangkan kebahagiaanku.”
“Kamu tahu... gara-gara pernikahan ini, semua rencanaku berantakan, termasuk tinggal di rumah ini bersama istri pilihanku. Rumah ini sudah aku persiapkan untuk dia...”
Karena kalimat itulah, seorang gadis yatim piatu bernama Karina menjalani kehidupan yang penuh liku-liku dengan sorang anak laki-laki yang merindukan sosok ayahnya.
Sementara saat Karina akan belajar membuka hatinya pada sosok laki-laki yang sangat menyayangi anaknya, datang seorang gadis yang sedang hamil anak laki-laki itu.
Masih adakah bahagia yang dapat dia raih? Apa jawaban yang harus diberikan pada anaknya?
Ikuti terus ceritanya ya. Dukung dg vote, like & komen biar smangat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astirai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Pertanyaan Sam
Karina dan Samuel sudah menempati rumah baru yang direkomendasikan oleh Rian. Sebuah rumah minimalis
yang terlihat asri, berada di dalam cluster yang tidak begitu luas dan ramai, yang jaraknya tidak juga begitu
jauh dengan rumah pak Rudy dan sekolah Samuel. Dengan ditemani mbak Sumi, ART di rumah mami, mereka memulai hidup baru. Setiap pagi, sebelum ke kantor, Karina mengantar Sam ke sekolah dengan mengendarai mobil hadiah dari pak Rudy, sedangkan pulang dijemput mbak Sumi. Dan tidak terasa sudah dua bulan lebih mereka menempati rumah baru. Sam pun terlihat bisa menikmati dengan lingkungan barunya, bahkan di sekolahpun Sam
terkenal sebagai anak yang cerdas.
Setiap akhir pekan, kadang-kadang mereka menginap di rumah pak Rudy, bahkan saat Karina harus ke luar kota untuk urusan kantorpun Sam selalu dititipkan di rumah pak Rudy. Karina tidak mau meninggalkan Sam hanya berdua dengan mbak Sumi, karena Karina ke luar kota sampai beberapa hari.
Sore itu, Karina pulang kantor lebih cepat dari biasanya, karena dia habis ikut meeting proyek dengan pak Kristo di sebuah restoran, dan setelah selesai disuruh langsung pulang.
“Halo.... boy... lagi ngapain anak ganteng mami....?” Tanya Karina yang melihat Sam sedang
menggambar.
“Mami sudah pulang....?” Tanya Sam menyambut maminya kemudian mencium pipi maminya.
“Oke kamu terusin dulu ya, mami mandi dulu...”
Setelah menyelesaikan mandinya, Karina menghampiri Sam yang masih asyik menggambar. Karina melirik
pekerjaan Sam, dan dahinya berkerut.
“Sam... what did you draw...?” Tanya Karina.
“My family mami.... Tadi disekolah belajar menggambar.” Jawab Sam cuek sambil melanjutkan gambarnya.
Setelah selesai, Sam menunjukkan gambar yang dibuat kepada maminya. Karina melihat di situ ada gambar sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Meskipun itu hanya sebuah coretan anak kecil yang
terlihat belum sempurna,tapi dada Karina terasa sesak.
“Mami... this is a picture of dady..., this is mami and this is Sam....” Jawab Sam seolah menjelaskan arti coretan-coretanyang dibuatnya. Karina memeluk Sam untuk menyembunyikan air mata yang hampir saja menetes..
“Mami... apakah ini gambar papi Ian...?” Tiba-tiba Sam melepaskan diri dari pelukan maminya dan menunjuk
gambar yang diamaksud. Karina terdiam dengan pertanyaan itu. Dia bingung, apayang harus dia katakan untuk menjawab pertanyaan Sam.
“Mami.....” Panggil Sam lagi karena maminya masih diam.
“Eh.... iya Sam... kenapa..??”
“Ini gambar mami, ini Sam, terus..... apa ini papi Ian...?” Sam kembali mengulang pertanyaannya.
DEG!!!
Ada rasa nyeri di hati Karina dengan pertanyaan anaknya. Apakah kamu merindukan kehadiran seorang dady Sam? Tanya Karina dalam hati.
“Kenapa kamu tanya begitu Sam..?”
“Tadi di sekolah diajari menggambar my family. Teman-teman Sam bilang itu gambar dadynya atau papanya. Berarti ini juga gambar papi Sam kan mi…? Gambar papi Ian…. Is it true mami….?” Tanya Sam menuntut jawaban.
Karina tersenyum, meskipun hatinya berdebar-debar untuk menjawab. Karina menarik nafas panjang dan membuangnya pelan-pelan.
“Sam….. kamu boleh menyebut itu gambar papi Ian. Kamu pinter sekali menggambar Sam. This is very nice Sam. Good boy…..” Karina mencium kedua pipi Sam, mencoba mengalihkan perhatian Sam dengan pertanyaannya.
Malam hari, Karina sulit memejamkan matanya. Dia selalu teringat dengan pertanyaan Sam tadi sore. Apakah selama ini dia egois dengan menutup hatinya untuk Edo yang begitu menyayangi Sam? Ah….. Edo. Dimanakah kamu sekarang? Apakah kamu marah padaku? Sebegitu besarkah kemarahanmu sampai tidak mau menemui di
saat-saat terakhir? Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam hati Karina. Kembali kenangan berbagai peristiwa kebersamaannya bersama Edo melintas.
Karina mengingat begitu dekatnya hubungan antara Edo dengan Sam. Perhatiannya yang sangat besar, bahkan saat Sam sakit, Edo memperlakukan Sam seperti anaknya. Apakah aku harus membuka hatiku demi Sam? Ah……. Sam maafkan mami….
Tak terasa air mata Karina menetes. Dipandanginya wajah Sam yang tidur terlelap di sampingnya. Wajah yang mengingatkan Karina pada seseorang yang sudah menorehkan rasa sakit di hatinya. Ya…. Wajah Sam sang sangat mirip dengan wajah Seno, bakan semakin Sam besar, kemiripan itu semakin nyata. Pelan-pelan Karina
mencium pipi Sam sambil berurai air mata. Haruskan mami mempertemukan kamu dengan papimu Sam? Tapi papimu sudah Bahagia dengan keluarganya. Mami tidak berhak mengusiknya karena papimu tidak pernah menginginkan mami Sam.
Kembali terngiang di telinga Karina, kata-kata Seno yang sangat menyakitkan, yang membuatnya mengambil keputusan untuk pergi menjauh dari sisinya. Dulu dia tidak pernah menyangka kalau akhirnya hadir Sam di dunia ini. Apakah sekarang Sam tidak berhak mengenal ayahnya?
*******
Halo..... Trims banyak yang masih terus setia mengikuti kisah Karina & Samuel ya...
Yuk jangan bosan-bosan, dengan tetap semangat dukung terus dengan vote, like & komen ya....
I love U all...😘