Aku menyelamatkannya dari kubangan lumpur, tapi dia justru menenggelamkanku ke dalam derita."
Anita hidup dalam kesempurnaan. Dia memiliki kehormatan, kekayaan, dan Randy suami tercinta yang telah ia temani berjuang dari nol hingga sukses menjadi pengusaha properti kaya raya.
Namun, menara kebahagiaan itu runtuh seketika saat takdir mempertemukannya kembali dengan Valeria, sahabat masa kecilnya yang telah terpisah selama 15 tahun.
Iba melihat nasib Valeria yang miskin dan terjerumus menjadi wanita malam, Anita dengan tulus mengulurkan tangan. Dia membawa Valeria masuk ke dalam kehidupannya dan memberikannya pekerjaan terhormat sebagai karyawan di kantor Randy.
Anita tidak pernah tahu bahwa malam pertama Valeria terjun ke dunia malam, pelanggan pertamanya adalah Randy. Dan sejak malam terkutuk itu, keduanya telah bermain api di belakangnya.
Valeria yang digerogoti rasa iri mendalam atas kemewahan Anita, mulai melancarkan aksi liciknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BI STORY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Singgasana Yang Direbut
Keesokan harinya. Melati melangkah masuk ke area kantor dengan kacamata hitam bertengger di kepalanya. Senyum kemenangan terukir di bibirnya. Dia sengaja datang agak siang, membayangkan Valeria pasti tumbang atau minimal izin sakit hari ini setelah seharian diteror panas dan hujan di Jonggol.
Namun, senyum Melati langsung luntur begitu melihat pemandangan di area kubikel pemasaran. Valeria sudah duduk manis di sana. Parahnya lagi, kaki kanan Valeria sengaja ditarik agak keluar, dibalut perban putih tebal yang sangat mencolok mata.
Beberapa karyawan wanita tampak mengerubunginya, memberikan tatapan simpati.
"Ya ampun, Val... lo kok bisa sampai kayak gini, sih?" tanya salah satu karyawan polos.
"Nggak apa-apa kok, Guys. Cuma lecet dan terkilir dikit aja karena hak sepatu gue patah pas nyari alamat kemarin. Salah gue juga kurang hati-hati," jawab Valeria dengan suara lemah yang dibuat selembut mungkin.
Melati yang melihat akting murahan itu langsung melangkah mendekat sambil bersedekap.
"Oh, udah masuk? Bagus deh. Kerjaan lo kemarin beres, kan? Jangan manja cuma karena kaki lecet dikit."
Belum sempat Valeria menjawab, pintu ruangan direktur terbuka dengan sentakan keras. Randy berdiri di sana dengan wajah yang menggelap, menatap Melati seolah-olah sekretarisnya itu adalah musuh masyarakat.
"Melati, Valeria, ikut saya ke ruangan sekarang!" perintah Randy dingin, lalu berbalik masuk tanpa menunggu jawaban.
Melati mendengus, sementara Valeria bangkit berdiri dengan ringisan dramatis, berpura-pura pincang parah saat berjalan di belakang Melati.
Begitu pintu ruangan tertutup, Randy langsung menggebrak meja kerjanya.
Brak!
"Melati! Apa-apaan kamu kemarin?! Kamu sengaja ngerjain Valeria sampai dia terlantar di Jonggol dalam kondisi hujan badai?!" bentak Randy langsung tanpa basa-basi.
Melati tersentak, tapi dia langsung membela diri.
"Lho, Pak, itu kan tugas lapangan biasa. Sebagai karyawan baru, dia emang harus tahu kondisi proyek kita—"
"Tugas lapangan biasa kamu bilang?!" potong Randy, nadanya meninggi.
"Biasanya ada kurir atau staf cowok yang ke sana, kenapa harus Valeria yang baru masuk sehari? Kamu sengaja menyalahgunakan wewenang kamu karena sentimen pribadi, kan?!"
Melati melirik Valeria yang sedang menunduk, pura-pura menyeka air mata buaya di sudut matanya. Kekesalan Melati langsung memuncak.
"Pak Randy, tolong ya jangan menutup mata! Bapak ngebela dia cuma karena dia titipan istri Bapak, atau... karena ada main di belakang?" sindir Melati tajam, mulai kehilangan kesabaran.
"Saya tahu ya, kemarin mobil Bapak nggak ada di basemen pas hujan lebat. Jangan bilang Bapak sendiri yang jemput dia?"
Mendengar sindiran Melati, kepanasan menjalar di wajah Randy. Rahasianya hampir saja dikuliti. Sebelum situasi makin runyam, Randy langsung menarik laci mejanya dan melempar sebuah map hitam ke hadapan Melati.
"Cukup, Melati! Kamu sudah keterlaluan dan menuduh saya yang enggak-enggak. Ini surat pemecatan kamu. Tanda tangani sekarang dan bereskan barang-barang kamu sebelum jam makan siang!" tegas Randy, suaranya bergetar menahan panik dan amarah.
Melati membeku. Dia menatap surat itu, lalu beralih menatap Valeria. Di balik tundukannya, Valeria sengaja menaikkan sedikit wajahnya, memperlihatkan senyum ejekan yang sangat licik kepada Melati.
Melati menarik napas dalam-dalam, mengambil tasnya tanpa menandatangani surat itu.
"Oke, fine. Gue cabut. Tapi ingat ya, Randy... lo udah nuker sekretaris profesional kayak gue demi perempuan gatel kayak dia. Dan buat lo, Valeria... roda itu berputar. Kita lihat seberapa lama lo bisa bertahan di atas penderitaan orang lain!"
Brak!
Melati keluar dan membanting pintu dengan keras.
Suasana ruangan mendadak hening. Valeria langsung menghampiri Randy, mengelus lengan pria itu untuk meredakan kemarahannya.
"Mas... maaf ya, gara-gara aku, kamu jadi ribut sama Melati. Aku jadi ngerasa bersalah banget..."
Randy mengembuskan napas berat, menggenggam tangan Valeria.
"Bukan salah kamu, Val. Melati emang udah keterlaluan. Mulai hari ini, kamu gantiin posisi dia jadi sekretaris pribadi aku. Biar kamu selalu ada di dekat aku."
"Serius, Mas? Makasih banyak ya..." Valeria tersenyum manja, menyandarkan kepalanya di dada Randy, tangannya mulai nakal meraba dasi pria itu.
Tok! Tok! Tok!
Pintu ruangan tiba-tiba diketuk dari luar, disusul suara yang sangat familiar.
"Mas Randy? Ini aku, Anita!"
Jantung Randy nyaris copot. Dia langsung mendorong Valeria menjauh hingga wanita itu hampir terjatuh. Pintu terbuka, dan Anita melangkah masuk dengan senyum ceria, membawa sebuah tas bekal berukuran besar.
"Lho, Valeria? Kamu di sini juga? Kebetulan banget, aku bawain makan siang banyak buat kalian berdua!" seru Anita riang, sama sekali tidak menyadari atmosfer tegang di ruangan itu.
Valeria dengan sangat cepat menguasai keadaan. Dia langsung memasang wajah sedih dan memeluk Anita.
"Nita...untung ada kamu."
Anita bingung, mengelus punggung Valeria.
"Eh, kenapa, Val? Kok nangis? Ada masalah kerjaan?"
Valeria melepaskan pelukannya, menatap Anita dengan mata berkaca-kaca.
"Itu, Nit... Mbak Melati sekretarisnya Pak Randy baru aja dipecat. Ternyata selama ini dia sering manipulasi data kantor, dan pas ketahuan tadi, dia malah ngamuk dan hampir nolak keluar. Aku takut banget tadi, Nit..."
Randy yang mendengar alibi instan dari Valeria langsung mengangguk cepat.
"Ah, iya, Sayang. Bener kata Valeria. Makanya tadi agak tegang di sini. Dan karena posisi sekretaris kosong, aku terpaksa minta Valeria buat gantiin sementara, biar dia nggak capek juga di divisi pemasaran."
Anita menutup mulutnya dengan tangan, tampak terkejut.
"Ya ampun, kok bisa ya? Tapi... ya ampun, hikmahnya malah kamu yang naik jabatan ya, Val! Aku seneng banget dengernya. Mas Randy, tolong ajarin Valeria baik-baik, ya!"
"Iya, pasti aku ajarin kok, Sayang," jawab Randy, tersenyum kaku.
"Nah, sekarang mending kita makan siang bareng. Ayo, Val, duduk!" ajak Anita tulus, mulai menata kotak makanan di atas meja kopi sofa kerja Randy.
Mereka bertiga akhirnya duduk bersama. Anita sibuk mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya dengan penuh kasih sayang.
"Ini kesukaan kamu, Mas. Dimakan yang banyak, ya," ucap Anita manis.
"Makasih ya, Sayang," balas Randy, mencoba bersikap senormal mungkin.
Di seberang mereka, Valeria menikmati makanannya dengan santai. Namun, di bawah meja kopi yang tertutup, Valeria sengaja melepas flat shoes-nya. Dengan perlahan dan berani, jemari kaki Valeria mulai mengelus betis hingga paha Randy secara sensual.
Randy tersentak, hampir saja tersedak suapan nasinya. Wajahnya memerah, matanya melotot menatap Valeria yang sedang mengunyah makanan dengan wajah tanpa dosa.
"Mas? Kamu kenapa? Kok mukanya merah gitu? Kepedesan, ya?" tanya Anita panik, langsung menyodorkan segelas air putih untuk suaminya.
"N-nggak apa-apa, Sayang. Cuma keselek dikit," jawab Randy terbata-bata, buru-buru meminum airnya sambil menahan gejolak di bawah meja.
Valeria tersenyum sangat tipis, menatap Anita dengan pandangan mengejek yang tersembunyi.
"Makan aja yang kenyang, Anita. Suami lo, posisi lo, sebentar lagi semuanya bakal jadi milik gue." batin Valeria.
Bersambung