NovelToon NovelToon
ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Mutha

Raymond dikenal di seluruh kampus sebagai Pangeran Kampus. Wajahnya tampan dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak. Ia jarang berbicara, tetapi sekali bertindak, tak seorang pun berani membantah. Latar belakang keluarganya yang kaya dan berpengaruh membuat namanya selalu menjadi pusat perhatian. Namun, di balik sikapnya yang tenang dan dingin, Raymond memiliki sisi yang sangat posesif terhadap satu orang—istri rahasianya.
Angela adalah kebalikan dari Raymond. Gadis berusia delapan belas tahun itu berpenampilan tomboy, lebih nyaman mengenakan jaket dan sepatu kets daripada gaun. Rambut hitamnya selalu dikuncir satu sederhana, membuat wajah manisnya terlihat segar. Meski terlihat ceria dan mandiri, Angela tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah terikat dalam pernikahan rahasia dengan pria yang paling populer di kampus.

Di tengah halaman kampus yang dipenuhi sinar matahari dan pepohonan rindang, Raymond berdiri di belakang Angela. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 30

Sekitar tiga puluh menit kemudian. Mobil sedan hitam milik Raymond memasuki area parkir kampus. Suasana kampus yang biasanya ramai kini jauh lebih hidup dibandingkan pagi-pagi sebelumnya. Mahasiswa berlalu-lalang menuju gedung fakultas masing-masing. Beberapa terlihat membawa laptop, sebagian lagi sibuk mengobrol sambil menikmati kopi pagi.

Saat mobil Raymond melintas, tak sedikit mahasiswa yang tidak langsung menoleh. Mereka berjingkrak, saat melihat kedatangan mobil Raymond yang cukup lama tak muncul.

"Itu mobilnya Raymond, kan?"

"Iya! Akhirnya dia masuk juga."

"Serius? Bukannya hampir dua minggu nggak kelihatan?"

"Iya. Katanya ada urusan keluarga."

Bisik-bisik mulai terdengar dari berbagai arah.

Raymond memarkirkan mobilnya di tempat biasa.

Mesin mobilpun dimatikan, suasana di dalam mobil kembali hening. Raymond lebih dulu membuka sabuk pengamannya.

"Ayo."

Angela mengangguk pelan. Ia sudah merasakan firasat, jika dirinya pasti akan menjadi trending topik di kampusnya

"Iya."

Begitu keduanya turun dari mobil, suasana parkiran yang semula riuh mendadak sedikit hening. Puluhan pasang mata serempak tertuju kepada mereka. Angela yang baru saja menutup pintu mobil mulai merasa tidak nyaman. Matanya bergerak ke kanan dan kiri.

"Ray..."

"Hm?"

"Kayaknya..." Ia melirik ke sekeliling dengan gugup. "...mereka lagi ngelihatin kita."

Raymond memasukkan satu tangan ke saku celananya.

"Biasain."

"Gimana bisa biasa? Rasanya kayak lagi jadi artis." Raymond terkekeh tipis.

"Kamu berlebihan."

"Yang berlebihan itu popularitas lo." Belum sempat mereka melangkah jauh, terdengar suara seseorang memanggil dari kejauhan.

"RAYMOND!" seru Rio dari arah lain.

Seorang pria bertubuh atletis berlari sambil melambaikan tangan. Di belakangnya menyusul Kevin dan Arga.

"Woi!" seru Kevin sambil tertawa lebar. "Akhirnya nongol juga, Pangeran Kampus!"

Arga langsung memukul pelan bahu Raymond begitu mereka berhadapan.

"Kemana aja, Bro? Hampir dua minggu menghilang." tanya kevin. Rio mengangguk setuju.

"Gue kira lo pindah kampus." Raymond tersenyum tipis.

"Cuma lagi ada urusan." Kevin menyipitkan mata.

"Urusan?"

"Iya."

"Apa urusannya sampai dua minggu?"

Raymond menjawab singkat.

"Pribadi."

"Yah... jawaban lo nggak pernah berubah."

Ketiganya hanya bisa menggeleng. Pandangan Rio kemudian beralih kepada Angela.

"Wah, Angela juga akhirnya masuk."

Angela tersenyum ramah.

"Pagi."

"Pagi." Kevin memperhatikan wajah Angela beberapa detik.

"Lo juga ngilang hampir dua minggu."

"Iya."

"Sakit?" Angela mengangguk pelan.

"Ibu sempat dirawat di rumah sakit. Terus aku juga ada beberapa urusan."

"Oh... pantes." Arga mengangguk memahami.

"Syukurlah sekarang udah masuk lagi." Di tengah percakapan mereka, beberapa mahasiswi yang melintas mulai berbisik.

"Itu Angela, kan?"

"Iya."

"Kok datangnya bareng Raymond?"

"Mereka satu mobil?"

"Nggak mungkin..." Angela yang mendengar bisikan-bisikan itu langsung menundukkan kepala. Ia refleks mendekat satu langkah ke arah Raymond. Tanpa disadari, gerakan kecil itu justru semakin menarik perhatian orang-orang. Kevin yang melihatnya langsung menyeringai jahil.

"Wih..."

"Hm?" Raymond menoleh.

"Kalian sekarang berangkat bareng?" Angela buru-buru mengibaskan kedua tangannya.

"Nggak... bukan gitu..." Raymond justru menjawab lebih dulu.

"Iya." Angela langsung menoleh cepat.

"Raymond!" Kevin, Rio, dan Arga saling berpandangan.

"Waduh..." gumam Rio sambil menahan senyum.

"Jawaban lo singkat, tapi bikin salah paham," tambah Arga. Raymond hanya menatap mereka santai.

"Memangnya salah?" Angela memijat pelipisnya pelan.

"Bukan salah..."

"Lalu?" Angela berbisik lirih.

"Nanti gosipnya makin ke mana-mana."

Raymond menatap Angela sekilas.

"Biarkan saja."

"Lho?"

"Kita nggak mungkin bisa menghentikan orang bergosip." Angela langsung terdiam.

Kalimat Raymond memang masuk akal, tetapi entah kenapa mendengarnya langsung dari pria itu justru membuat wajahnya kembali memanas. Kevin menyenggol pelan lengan Rio.

"Gue yakin..."

"Apa?"

"Semester ini bakal seru." Rio terkekeh.

"Kenapa?"

"Pangeran Kampus akhirnya punya orang yang mau diajak ngobrol lebih dari lima kalimat." Arga langsung menimpali sambil tertawa.

"Itu kemajuan besar." Raymond melirik ketiga sahabatnya dengan tatapan datar.

"Kalian sudah selesai?" Kevin mengangkat kedua tangan, jika Raymond sudah memberikan peringatan.

"Oke, oke, kita diem." Namun, senyum jahil di wajah mereka bertiga sama sekali tidak menghilang. Mereka tahu betul sifat Raymond.

Kalau pria itu sampai rela mengantar seorang gadis ke kampus, membukakan pintu mobil, bahkan terlihat membiarkan Angela berada di sisinya tanpa sedikit pun merasa terganggu...

Maka hubungan keduanya jelas bukan lagi sekadar hubungan dua mahasiswa biasa.

Dan dari kejauhan, sepasang mata perempuan yang sejak tadi berdiri di balkon gedung fakultas memperhatikan semua itu dengan tatapan tajam. Kedua tangannya mengepal kuat hingga kuku buku tangannya memutih.

"Angela. Jadi... selama ini kamu yang membuat Raymond berubah?" gumamnya lirih. Sorot matanya dipenuhi rasa tidak suka, seolah benih kecemburuan mulai tumbuh sejak pagi itu.

Jam berdentang nyaring, menandakan aktivitas perkuliahan pagi akan segera dimulai. Mahasiswa yang masih berkumpul di area taman dan parkiran mulai bergegas menuju gedung fakultas masing-masing.

Raymond menatap ketiga sahabatnya.

"Kelas pertama gue di Gedung A."

Rio mengangguk.

"Sama. Yuk."

Namun, sebelum melangkah, Raymond menoleh kepada Angela.

"Kelas Lo di Gedung C, kan?"

"Iya."

"Masih kuat jalan?" Angela tersenyum kecil.

"Tenang aja. Gue bukan anak kecil."

Raymond menatapnya beberapa detik, seolah memastikan kondisi Angela benar-benar baik.

"Kalau sakit lagi..."

Angela langsung menyambung ucapannya sambil tersenyum jahil.

"...telepon lo." Raymond mengangguk singkat.

"Ok."

Melihat interaksi singkat itu, Kevin sampai menganga. Rio menyenggol lengannya pelan.

"Tutup mulut lo. Nanti masuk lalat." Kevin buru-buru menutup mulutnya.

"Anjir..."

"Apa?"

"Gue baru pertama kali lihat Raymond ngingetin orang kayak gitu." Arga ikut mengangguk.

"Bahkan ke kita aja paling cuma bilang, 'Cepat.'" Rio terkekeh.

"Iya. Sekarang beda." Angela yang mendengar itu langsung tersipu.

"Udah ah, kalian jangan mulai lagi."

Kevin mengangkat kedua tangan sambil tertawa.

"Oke... damai." Raymond melirik Angela sekali lagi.

"Masuk kelas."

"Iya." Angela mengangguk, lalu berbalik menuju Gedung C. Namun baru beberapa langkah berjalan...

"Angela!" Sebuah suara perempuan memanggil dari arah belakang. Angela langsung berhenti dan menoleh.

Maya berlari kecil menghampirinya. Tas selempang di pundaknya bergoyang mengikuti langkahnya yang tergesa.

"Ya ampun!" Maya langsung memeluk Angela erat.

"Kemana aja, sih? Gue kangen banget!"

Angela tertawa kecil sambil membalas pelukan sahabatnya.

"Maaf... banyak banget yang terjadi."

Maya melepaskan pelukannya, lalu memegang kedua bahu Angela.

"Gue sampai chat berkali-kali nggak dibales."

"Ibu gue sakit. Jadi fokus gue ke rumah sakit."

Wajah Maya langsung berubah sendu.

"Oh iya ya, gue lupa, Tante sekarang gimana?"

"Alhamdulillah udah sembuh."

"Syukurlah." Maya mengembuskan napas lega.

"Jujur, gue khawatir banget." Angela tersenyum hangat.

"Makasih ya." Belum sempat percakapan mereka berlanjut, Maya tiba-tiba menyipitkan mata.

"Hmm..." Angela mengernyit.

"Kenapa?" Maya melirik ke arah Raymond yang masih berdiri bersama Rio, Kevin, dan Arga. Lalu kembali menatap Angela.

"Kok lo datang bareng Raymond?" Angela langsung salah tingkah.

"Eh..."

"Terus tadi..." Maya menunjuk ke arah parkiran. "...gue lihat kalian turun dari mobil yang sama." Angela mengusap tengkuknya.

"Itu..." Belum selesai ia mencari alasan, Kevin yang masih berada tidak jauh dari sana berseru dengan suara cukup keras.

"Karena Raymond yang nganter!"

"KEVIN!" seru Angela spontan. Matanya melotot sebagai peringatan. Kevin langsung menutup mulutnya sendiri.

"Waduh... keceplosan." Rio dan Arga langsung tertawa. Maya menoleh perlahan ke arah Angela.

Senyumnya mulai melebar.

"Ooooh..."

"Bukan 'oooh' yang lo pikirin."

"Serius?"

"Iya."

"Lalu kenapa diantar?" Angela menggaruk pipinya yang mulai memanas.

"Soalnya..." Raymond yang sejak tadi diam akhirnya berjalan mendekat.

"Karena rumah kami searah." Jawabannya singkat dan datar, namun cukup membuat Maya menaikkan kedua alisnya.

"Oh..." Angela langsung mengangguk cepat.

"Iya, bener. Kebetulan aja." Maya melirik Raymond, lalu kembali menatap Angela.

Entah kenapa, Instingnya mengatakan ada sesuatu yang belum diceritakan sahabatnya itu. Namun ia memilih tidak membahasnya sekarang.

"Ya udah." Maya merangkul lengan Angela.

"Yuk, masuk kelas. Dosen Pak Bayu nggak suka ada mahasiswa telat." Angela mengangguk.

"Iya." Sebelum pergi, ia sempat menoleh ke arah Raymond.

"Ray..."

"Hm?"

"Makasih ya." Raymond membalas dengan anggukan kecil.

"Hati-hati." Angela tersenyum.

"Iya." Setelah Angela dan Maya berjalan memasuki Gedung C, Kevin langsung menyilangkan kedua tangannya sambil menatap Raymond dengan senyum jahil.

"Gue boleh nanya satu hal?"

"Nggak." jawab cepat Raymond.

"Lah, gue aja belum nanya." Raymond mulai melangkah menuju Gedung A. Rio, Kevin, dan Arga mengikuti di belakangnya.

Kevin tetap tidak menyerah.

"Lo suka sama Angela, ya?" Raymond tetap berjalan tanpa menjawab.

Arga terkekeh.

"Diam berarti iya." Raymond akhirnya menghentikan langkahnya. Ketiga sahabatnya ikut berhenti. Ia menoleh perlahan ke arah mereka.

"Apa urusan kalian?" Kevin langsung nyengir.

"Nggak ada." Rio menepuk pundak Raymond sambil tertawa.

"Tenang aja. Kalau nanti jadi nikah, jangan lupa undang kita." Raymond hanya menghela napas panjang.

"Khayalan kalian terlalu jauh."

"Nggak apa-apa kita berkhayal jauh. Gue kan cuma ancang-ancang aja."

"Jangan sampai, nanti ujungnya malah nyesal," imbuh Arga.

"Nyesal gimana?" balas Raymond.

"Biarpun Angela terlihat biasa aja, tapi saya tariknya kuat. Banyak cowo yang kagum secara diam-diam loh." Meski begitu,

Saat kembali melangkah menuju gedung fakultas, tanpa sadar pandangannya sempat mencari sosok Angela yang kini mulai menghilang di balik koridor Gedung C.

Senyum tipis kembali terukir di wajahnya.

Senyum yang hanya muncul ketika gadis itu berada di dekatnya.

Sementara itu, gedung C Fakultas Desain Komunikasi Visual mulai dipenuhi mahasiswa yang baru datang setelah hampir dua minggu libur dari rutinitas kuliah. Maya dan Angela berjalan berdampingan menyusuri koridor.

Di sepanjang jalan, cukup banyak mahasiswa yang menyapa Angela, termasuk para cowok yang sudah lama mengagumi Angela secara diam-diam.

"Eh, Angela! Akhirnya masuk juga!" ucap Raka, salah satu mahasiswa yang menjadi penggemar rahasianya.

"Gimana kabar ibumu? Udah sehat?" tanya Raka , Angela membalas sapaan Raka dengan senyum ramah.

"Alhamdulillah, udah jauh lebih baik. Makasih, ya." Maya menyenggol pelan lengan sahabatnya.

"Tuh, banyak yang nyariin lo." Angela terkekeh kecil.

"Kirain gue udah dilupain."

"Mana mungkin. Lo itu terkenal."

"Terkenal apanya?"

"Terkenal suka ngelawan senior yang sok-sokan." Angela langsung terkekeh.

"Itu mah mereka aja yang cari gara-gara."

Tak lama kemudian, dosen belum juga datang. Angela berdiri dari bangkunya.

"Maya."

"Hm?"

"Gue ke toilet bentar."

"Oke." Angela berjalan keluar kelas seorang diri. Koridor pagi itu cukup lengang. Ia memasukkan kedua tangannya ke saku hoodie sambil bersenandung pelan.

Sesampainya di toilet wanita, Angela mencuci wajahnya dengan air dingin agar tubuhnya terasa lebih segar.

"Ah..." Ia mengembuskan napas pelan. "Udah lumayan segar nih. ."

Baru saja hendak keluar, langkahnya mendadak terhenti. Empat orang mahasiswi berdiri tepat di depan pintu toilet, seolah sengaja menunggu kedatangannya.

Di tengah mereka berdiri seorang perempuan berambut panjang bergelombang dengan riasan tipis dan seragam kampus yang tampak sangat rapi. Tatapannya tajam, menilai Angela dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Lo Angela?" tanya Clara sambil melipat kedua tangan di depan dada. Dagunya terangkat angkuh, seolah sedang menginterogasi seseorang.

Angela yang baru keluar dari toilet memasukkan kedua tangannya ke saku hoodie. Tatapannya tetap datar.

"Iya."

"Gue Clara."

Angela mengangguk singkat.

"Oh."

Jawaban sesingkat itu membuat alis Clara langsung bertaut.

"Lo tahu gue siapa?" tanyanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih tinggi, seolah tak percaya namanya tak dikenali.

Angela menggeleng pelan.

"Nggak."

Salah satu mahasiswi yang berdiri di belakang Clara langsung mendengus sinis.

"Berani banget dia."

"Ih, masa nggak kenal Kak Clara?"

"Itu Kak Clara, mahasiswi semester akhir. Banyak yang segan sama dia."

Angela hanya melirik sekilas ke arah mereka, lalu kembali menatap Clara.

"Terus?"

Satu kata itu membuat senyum tipis di wajah Clara perlahan menghilang.

Rahangnya mengeras.

"Gue cuma mau ngasih peringatan."

Angela menyandarkan bahunya ke dinding koridor. Wajahnya tetap santai, seolah tak menganggap situasi itu penting.

"Peringatan apa?"

"Jauhi Raymond."

Kalimat itu meluncur tegas.

Suasana koridor mendadak sunyi.

Beberapa mahasiswi yang baru keluar dari toilet saling pandang.

"Eh... itu ngomongin Kak Raymond, ya?"

"Kayaknya bakal seru, deh."

Angela menatap Clara selama beberapa detik tanpa berkedip.

Lalu ia bertanya dengan nada benar-benar penasaran.

"Kenapa?"

"Karena Raymond bukan laki-laki yang pantas buat perempuan seperti lo."

Angela terkekeh pelan sambil menggeleng.

"Perempuan seperti gue?"

"Iya."

Clara melangkah setapak lebih dekat.

"Lo cuma mahasiswi biasa."

Ia sengaja memberi jeda sebelum melanjutkan.

"Sedangkan Raymond adalah pewaris keluarga Wijaya."

Angela sama sekali tidak mundur.

"Terus?"

"Kalian beda dunia."

Angela mengangguk pelan.

"Oh..."

Melihat respons itu, Clara mengira lawan bicaranya mulai ciut.

Namun sedetik kemudian...

Angela justru tersenyum tipis.

"Gue kira lo mau ngomong apa."

Keempat mahasiswi di belakang Clara saling berpandangan.

"Loh... kok dia santai banget?"

"Nggak takut sama sekali?"

Angela kembali menatap Clara.

"Kalau cuma buat bilang begitu, selesai?"

Clara menyipitkan mata.

"Lo nggak paham maksud gue?"

"Paham."

"Lalu?"

Angela mengangkat bahu santai.

"Ya nggak ada urusannya sama lo."

Ucapan itu membuat wajah Clara memerah.

"Gue cuma nggak mau Raymond dimanfaatin perempuan yang cuma numpang kaya."

Angela malah tertawa kecil.

"Lucu."

"Apa yang lucu?" bentak Clara.

Angela menatapnya sambil tersenyum tipis.

"Gue baru tahu peduli sama orang sekarang pakainya cara nyegat orang di depan toilet."

Beberapa mahasiswi yang menonton mulai berbisik.

"Hahaha... ada benarnya juga."

"Kalau emang peduli, kenapa harus kayak preman begitu?"

Salah satu teman Clara langsung maju selangkah.

"Hei! Jaga omongan lo!"

Angela menoleh santai.

"Kenapa?"

"Lo nggak takut?"

Angela kembali memasukkan kedua tangannya ke saku hoodie.

"Takut sama apa?"

"Sama kami."

Angela memiringkan kepala sedikit.

"Harusnya?"

Jawaban itu membuat suasana semakin panas.

Beberapa mahasiswa yang melintas bahkan mulai berhenti.

"Woy, ada apa tuh?"

"Kayaknya Kak Clara lagi ribut."

"Cepat lihat!"

Clara menatap Angela penuh kekesalan.

"Pokoknya mulai hari ini, jangan pernah lagi terlihat dekat sama Raymond."

Angela menggeleng pelan.

"Maaf."

Clara langsung tersenyum puas, mengira ancamannya berhasil.

Namun senyum itu membeku saat Angela melanjutkan ucapannya.

"Gue nggak pernah suka diatur orang yang bahkan bukan siapa-siapa buat gue."

"Lo!"

"Terus satu lagi." Angela melangkah maju perlahan, jarak mereka kini tinggal beberapa puluh sentimeter. Tatapannya berubah jauh lebih tajam.

"Kalau lo emang suka sama Raymond..."

Angela mengangkat telunjuknya pelan, menunjuk dada Clara."...ya bilang sendiri sama orangnya."

"Bukan malah datang ke gue." Clara langsung terdiam. Bibirnya terbuka, tetapi tak satu kata pun keluar. Mahasiswi yang menonton mulai saling berbisik.

"Kena mental..."

"Buset... dibalikin semua omongannya."

Angela tersenyum tipis.

"Kalau Raymond memang suka sama lo, tanpa perlu lo nyuruh pun gue bakal menjauh."

Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap.

"Tapi kalau dia nggak suka..." Angela mengangkat kedua bahunya santai.

"...mau lo ancam gue seratus kali juga hasilnya tetap sama." Teman-teman Clara mulai gelisah. Mereka tak menyangka Angela sama sekali tidak gentar. Clara mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.

"Lo memang cari masalah." Angela menggeleng pelan.

"Bukan gue yang cari masalah."

Tatapannya menyapu satu per satu wajah mereka.

"Kalian yang nyegat gue." Koridor kembali hening. Beberapa mahasiswi yang hendak masuk toilet berhenti di kejauhan. Bahkan ada yang diam-diam mengeluarkan ponsel.

"Eh, jangan direkam, nanti ketahuan."

"Ssst... lanjut dulu." Angela mengembuskan napas pelan.

"Gue kasih saran, ya." Clara mendengus sinis.

"Daripada buang waktu buat ngurusin siapa yang dekat sama Raymond..."

Angela tersenyum penuh percaya diri. "...mending lo bikin Raymond tertarik sama lo, Itu jauh lebih elegan daripada bertindak kayak gini." Wajah Clara berubah pucat.

Malu.

Kesal. Dan harga dirinya seperti baru saja diinjak-injak. Beberapa mahasiswi tak lagi mampu menahan tawa.

"Astaga... telak banget."

"Gue aja yang denger ikut malu." Angela tak menanggapi reaksi mereka. Ia melangkah melewati Clara begitu saja. Saat bahunya hampir bersentuhan, Angela berhenti sejenak.

"Oh, iya." Clara menoleh dengan tatapan tajam.

"Apa lagi?" Angela menatapnya lurus.

"Gue paling nggak suka diancam." Nada suaranya tetap tenang. Namun justru ketenangan itu terasa jauh lebih menekan.

"Jadi kalau masih ada yang nyegat gue lagi..."

Tatapannya bergantian menyapu Clara dan teman-temannya. "...lain kali jangan cuma bawa mulut."

Angela berbalik dan berjalan meninggalkan koridor tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Suara langkahnya perlahan menghilang. Sementara Clara dan teman-temannya hanya bisa berdiri mematung dengan wajah memerah menahan malu. Beberapa mahasiswa yang sejak tadi menonton mulai berkomentar pelan.

"Baru kali ini ada yang berani balas Kak Clara."

"Cewek hoodie itu keren juga."

"Fix... besok gosip ini nyebar satu kampus."

"Kayaknya perang mereka baru mulai."

Ucapan Angela yang terakhir membuat kesabaran Clara benar-benar habis.

"Lo...!" Dengan wajah memerah karena malu dan amarah, Clara tiba-tiba melangkah cepat.

Telapak tangannya melayang, berniat menampar pipi Angela. Beberapa mahasiswi langsung menjerit kaget.

"Angela, awas!"

Namun, bukannya mengenai sasaran, tangan Clara justru berhenti di udara. Angela menangkap pergelangan tangan Clara dengan satu tangan. Genggamannya kuat, tatapannya tetap tenang.

Clara mencoba menarik tangannya, tetapi tidak bergerak sedikit pun.

"Apa...?" Wajah Clara berubah terkejut. "Kok kuat banget?" Bisik-bisik penonton mulai terdengar.

"Dia... dia ngehadang tangan Clara?"

"Cepat banget gerakannya."

"Nggak mungkin..." Angela menatap Clara tanpa sedikit pun mengubah ekspresi.

"Gue udah bilang." Nada suaranya rendah.

"Gue paling nggak suka diancam."

Ia melepaskan tangan Clara perlahan.

Semua orang mengira masalah sudah selesai.

Namun harga diri Clara yang sudah terlanjur hancur membuatnya kehilangan akal.

"Brengsek!" Kali ini Clara mendorong bahu Angela dengan kedua tangan.

Berniat menjatuhkannya. Sayangnya, Angela hanya bergeser setengah langkah.

Tubuhnya tetap tegak. Sebaliknya, karena kehilangan keseimbangan, Clara justru sedikit terhuyung ke depan.

Angela menghela napas pelan sambil memutar bola matanya malas.

"Masih mau lanjut?"

"Biar gue ajarin lo sopan santun!" Clara kembali menerjang. Tinju kanannya meluncur lurus ke arah wajah Angela. Beberapa mahasiswi refleks menutup mata.

"Astaga!"

"Berantem beneran!" Namun Angela bergerak jauh lebih cepat. Ia memiringkan kepalanya menghindari pukulan itu. Dalam satu gerakan yang halus, Angela meraih pergelangan tangan Clara, memutar tubuhnya,

1
Lyvia
suwun thor crazy upnya
Rizky Mutha: sama-sama kak
total 1 replies
Miasell Tea
bagus banget menghibur para pem baca,,,
kalau bisa up nya di tambahin
Miasell Tea
lah kapan nikah nya thor,,,harus ada penjelasan nya ini mah, makin penasaran aj,, 💪💪💪
Rizky Mutha: aduh.. typo
total 1 replies
Lenny Utami
so sweet banget..
Lenny Utami
ihhh bisa ae ahh
Lenny Utami
ahhh masaa...
Lenny Utami
lucu bangett
Lyvia
thor km bikinQ senyum2 sendiri, jadi ingat masa2 sekolah dulu, suwun thor upnya, ttp semangat 💪💪💪😄
yaya
lucuu ih...😍
Lenny Utami
kode sekeras itu masa enggak ngeh sih Anggela
Lenny Utami
gemes🤭
Lenny Utami
Reymond kyk piyik ngintilin Angela Mulu...😌
Lenny Utami
kalo aku kabur. GK pede di liatin GT...😭
Lenny Utami
so sweettt nya.... bikin aku senyum² sendiri
Miasell Tea
di tunggu lanjutan nya
awal yang seru😍
Miasell Tea
manis banget,,,,,
padahal seru kenapa sepi komen nan y
Miasell Tea: oh pantesan,,, sama2 ka jangan lama2 y up ny penasaran di tunggu lanjutan ny
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!