NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Sama Gue

Jangan Jatuh Cinta Sama Gue

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:817
Nilai: 5
Nama Author: Iskak M

Bram bekerja sebagai marketing di perusahaan retail di Jakarta. Hidupnya hanya kerja, gym, dan cari wanita lewat app atau club. Dia ahli di ranjang tapi takut komitmen. Cerita mengikuti perjalanan Bram yang terus berganti pasangan, menghadapi konflik dari mantan, keluarga, kantor, dan masalah kesehatan. Dia ingin tetap bebas, tapi tekanan semakin besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iskak M, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Ternyata...

Gue baru aja duduk di meja gue pas HRD manggil. “Mas, dipanggil Bu Sita ke ruangannya sekarang.”

Gue udah tahu ini bakal ribet. Angga emang nggak main-main. Begitu gue masuk, Bu Sita duduk di kursi kebesarannya dengan muka dingin. Di sebelahnya ada print-out CCTV yang jelas banget nunjukin gue sama Ria di ruang meeting waktu itu.

“Jadi gini ceritanya?” tanya Bu Sita tegas sambil nunjuk kertas. “Angga udah lapor resmi. CCTV nggak bohong. Lu nggak bisa bantah apa-apa kan?”

Gue cuma bisa diam. Nggak ada gunanya juga ngeles. Semuanya keliatan jelas di rekaman.

Bu Sita menghela napas panjang. “Ini surat peringatan pertama dan terakhir. Lu dimaafkan kali ini karena prestasi lu di Yogya bagus. Tapi mulai sekarang, jauhi Ria. Jangan deket-deket lagi. Masih banyak cewek lain di kantor ini yang lebih… pantas.”

Dia natap gue tajam, lalu tambahin dengan nada yang agak beda, “Ada gue, ada Dian, ada Marita. Kenapa harus Ria?”

Gue nggak berani jawab. Cuma ngangguk pelan.

Belum selesai, Bu Sita bangun. “Ikut gue ke ruangan Pak Krismono.”

Di ruangan Pak Krismono, suasananya lebih santai. Memang beda kenyamanan dan kemewahan ruangan bos perusahaan ini. Bos besar itu lagi duduk sambil mainin pulpen. Di sebelahnya duduk seorang cewek cantik yang langsung bikin gue melotot. Itu pasti Rinda. Rambut pendek hitam lurus sebahu, wajahnya imut dengan senyum tipis, mata agak sipit yang manis, kulit putih bersih. Tubuhnya proporsional, dada cukup berisi, pinggang ramping, dan kakinya jenjang. Hari itu dia pake kemeja putih rapi sama rok pensil selutut yang nunjukin lekuk tubuhnya dengan jelas.

“Kenalin, ini Rinda. Sekretaris sekaligus asisten pribadi gue,” kata Pak Krismono sambil nyengir. “Rinda, ini yang gue ceritain. Calon kepala cabang Yogya yang lagi diuji coba.”

Rinda nyapa gue sopan, tapi matanya ada kilat nakal. “Senang kenal, Mas.”

Pak Krismono langsung ke intinya. Dia kasih selembar kertas kecil berisi nomor WA. “Ini nomor Rinda. Coba dekatin dia. Kalau lu berhasil bawa dia… rumah di Bekasi siap gue kasih buat lu. Cash. Lu pilih sendiri unitnya.”

Gue terkejut. “Beneran, Pak?”

“Gue nggak main-main soal ini,” katanya sambil ketawa kecil. “Rinda cewek baik. Tapi dia juga butuh yang tegas kayak lu.”

Setelah keluar dari ruangan Pak Krismono, Bu Sita langsung nyamperin gue di koridor. “Malam ini lu ke rumah gue. Ada yang mau gue bicarain pribadi.”

Malemnya gue dateng ke alamat yang Bu Sita kasih. Rumahnya besar banget di daerah elite Jakarta Selatan. Gerbang otomatis terbuka. Begitu masuk, sepi banget. Nggak ada orang lain.

“Anak-anak lagi di Magelang sama neneknya. Suami gue lagi di luar negeri,” jelas Bu Sita sambil nutup pintu.

Dia pake blouse putih ketat sama rok pendek hitam yang bikin kakinya keliatan panjang. Gue langsung ngerasa panas.

“Masuk dulu,” katanya.

Bu Sita pamit ke dapur ambil minum. Gue nggak sabar. Langsung nyusul dari belakang. Gue peluk dia erat, tangan gue langsung naik ke dadanya yang besar dan kencang.

“Eh… tunggu…” protesnya pelan, tapi nggak ada usaha buat lepas.

Gue remas dada Bu Sita kuat-kuat dari belakang sambil cium lehernya. Bau parfumnya mahal bikin gue makin nafsu. Satu per satu kancing blousenya gue buka. Bra hitamnya keliatan, dadanya hampir tumpah. Rok pendeknya gue tarik ke bawah sampe jatuh ke lantai. Sekarang Bu Sita cuma pake bra sama celana dalam.

Gue puter badannya, dorong dia ke meja dapur, lalu berlutut di depannya. Gue tarik celana dalamnya ke bawah. Gue cium dan jilat celahnya lama banget. Lidah gue mainin klitorisnya dengan gerakan yang bikin Bu Sita gemeteran. Dia pegang kepala gue, pinggulnya maju mundur.

“Iya… di situ… lebih dalam,” desahnya.

Gue hadapin dia ke arah CCTV rumah yang ada di pojok dapur. Bu Sita sadar, tapi malah tambah excited. Dia jambak rambut gue, dorong wajah gue lebih dalam ke sensitif nya. Gue jilat lebih cepet, dua jari gue masuk ke dalam sambil gue sibak.

Bu Sita mendesah keras, badannya kejang. “Aaaah… gue keluar…!”

Dia keluarin banyak banget. Wajah gue basah kuyup karena cairan. Bu Sita napasnya ngos-ngosan, tapi matanya masih lapar.

Dia tarik gue berdiri, lalu bawa gue ke kamar utama. Di situ Bu Sita berubah total. Dia dorong gue ke kasur, naik ke atas badan gue kayak ratu. “Malam ini lu budak gue,” katanya dengan suara berat.

Bu Sita naik turun di atas gue dengan ganas. Payudaranya yang besar bergoyang-goyang liar. Dia gerak cepet, dalam, dan kuat. Mungkin karena udah lama banget nggak dijamah laki-laki, energinya gila. Gue cuma bisa pasrah, pegang pinggulnya yang lebar sambil dia ngendaliin semuanya.

Kami ganti posisi berkali-kali. Dari belakang di pinggir kasur, posisi lain sambil kakinya di pundak gue, sampe dia naik lagi di atas. Bu Sita klimaks berkali-kali, jeritannya memenuhi kamar besar itu. Gue akhirnya nggak tahan dan keluar di dalam yang panas dan berdenyut.

Kami berdua ambruk di kasur, badan penuh keringat.

Setelah puas, Bu Sita suruh gue pulang. “Besok kantor biasa aja. Jangan ada yang tahu.”

Gue mandi cepet, lalu pas mau keluar kamar tamu buat ambil barang, gue liat ada foto di dinding. Foto suami Bu Sita. Wajahnya… mirip banget sama Pak Krismono.

Gue balik ke Bu Sita yang masih telanjang di kasur. “Bu… itu suami Bu Sita? Kok mirip banget sama Pak Krismono?”

Bu Sita ketawa kecil sambil bangun. “Bukan. Itu suami gue yang di Jepang. Mereka kembar. Kakak beradik. Suami gue yang lebih tua, ngurus restoran di sana. Jarang banget pulang. Makanya gue pingin… begini.”

Gue cuma geleng-geleng kepala. Rahasia kantor ini makin gila.

Malam itu gue pulang ke apartemen dengan badan pegel tapi puas. Marita udah nunggu, tapi gue bilang capek banget dari gym. Padahal pikiran gue penuh sama Rinda yang baru, tawaran rumah di Bekasi, sama Bu Sita yang ternyata istri kembaran bos besar.

Nomor WA Rinda udah gue simpen. Dan entah kenapa, gue udah mulai mikirin cara buat “dapetin” dia.

Hidup gue di kantor ini emang nggak pernah sepi dari drama dan godaan. Tapi gue nikmatin setiap detiknya.

1
Iskak
terima kasih , boleh tukeran baca
S.Moonlight
hi, penulis baru.. ceritamu seru kok. semangat ya 💪

btw, sy juga baru mula menulis novel. kalau ada masa terluang bole lah singgah profile saya. terima kasih 😄😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!