Laras demi membahagiakan ibunya yang menginginkan cucu, rela menerima suami temannya yang dijadikan barang jaminan agar bisa mendapatkan uang yang banyak.
Seiring berjalannya Waktu, Laras benar-benar jatuh cinta pada suami jaminannya yang bernama Rayyan. Demikian pula Rayyan yang ternyata amnesia karena kecelakaan dan ditemukan oleh istri pertamanya( Naya) ia jatuh cinta pada Laras.
Mengetahui suaminya ternyata kaya raya, Naya ingin kembali pada suaminya dan melakukan berbagai usaha untuk memisahkan Rayyan dan Laras.
Akankah Laras bahagia dengan Rayyan? Siapakah yang akan dipilih Rayyan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aryani Ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 15
Bab. 12.
Butik Laras banjir orderan dari baju pengantin hingga baju pesta. Laras tersenyum bahagia, tidak menyangka jika hasilnya akan menakjubkan di luar ekspektasinya.
"Mas ... Makasih, Ya. Orderan baju pengantin luar biasa banyaknya. Semua ini berkat bantuan mas Rayyan. Mulai sekarang mas tidak usah jualan siomai lagi. Mas bantu Laras membesarkan butik ini!" ucap Laras menatap jumlah orderan baju pengantin yang masuk.
"Memang mbak Laras tidak malu punya suami seperti Rayyan? Rayyan kan tidak seperti lelaki itu," ucap Rayyan menunjuk lelaki yang berdiri dengan seorang wanita cantik melihat -lihat baju pengantin yang dipajang di etalase.
Laras menoleh ke arah tangan Rayyan menunjuk, detik berikutnya Laras pun tertawa terkekeh.
"Mas ... Laras itu suka mas Rayyan apa adanya. Dengan mas di butik ini, Laras bisa menemani mas Rayyan jadi gak kesepian lagi. Laras tidak peduli mau dibilang apa, yang penting mas ada di dekat Laras aja, Laras sudah bahagia. Apalagi mas banyak membantu Laras. Pekerjaan Laras menjadi dua kali lebih cepat selesai," jawab Laras dengan senyum tulusnya.
Memang Laras akui jika Rayyan sangatlah membantunya. Selama ini Laras selalu sendiri dan terlalu fokus pada pekerjaannya sehingga tidak sempat untuk memikirkan hal yang lain lagi. Termasuk pernikahannya, Laras tidak ada pandangan untuk bisa membangun keluarga bersama lelaki yang akan ia cintai seumur hidup.
Rayyan tersenyum, walaupun usianya terpaut bulan saja dengan Laras, akan tetapi Rayyan sangat menyukai kepribadian Laras yang lembut dan dewasa itu. Sebagai lelaki yang ditinggal ibu kandungnya semenjak kecil, Rayyan menjadi lebih menghormati wanita.
"Mbak Laras memang manis dn baik, Rayyan jadi suka! Kita pulang yuk Mbak, dah malam. Nanti mbak sakit kalau mbak kerja terus. Lagian Rayyan sudah mengantuk, Mbak!" ucap Rayyan menunjukkan wajah lelahnya.
Laras melihat jam tangannya, saat ini jarum pendek sudah menunjukkan angka sembilan dan jarum panjang menunjukkan angka satu yang artinya sudah jam sembilan malam lebih lima menit.
"Baiklah, Mas. Ayo kita pulang. Laras juga sudah capek, hari ini banyak sekali orderan yang masuk, kita lanjutkan besok saja."
Laras bangkit dari duduknya, mengemasi semua barang yang akan dia bawa pulang. Rayyan pun ikut membantu agar cepat selesai.
"Laras, Rayyan lapar. Kita cari makan yuk! Kata orang makan malam di luar membuat suami istri akan semakin dekat. Rayyan ingin dekat dengan Laras. Biar emak Harti bahagia!" ucap Rayyan memakai nama Mak Harti agar bisa membuat Laras mengikuti apa yang ia mau.
Rayyan tahu kelemahan Laras adalah ibunya. Laras sangat menyayangi ibunya dan merupakan anak yang paling berbakti pada orang tua.
"Mas mau makan malam di mana?" tanya Laras menyetujui permintaan Rayyan. Selain untuk memenuhi permintaan Rayyan yang membawa nama Mak Harti, Laras juga merasa lapar.
"Rayyan mau makan di restoran mewah, Rayyan belum pernah makan di situ! Nanti duitnya Rayyan ganti. Rayyan akan berkerja keras agar bisa membahagiakan Laras!" jawab Rayyan dengan ekspresi wajah manjanya seperti anak kecil.
"Sudahlah, Mas. Kalau masalah duit tidak usah dipikirkan. Selama Laras bisa, Laras akan memenuhi semua kebutuhan kita berdua. Tapi jika mas mau bekerja, asal tidak keliling, Laras izinkan. Nanti kita akan berjuang bersama untuk mewujudkan impian kita. Mas bisa jadi suami yang dibanggakan oleh mbak Naya dan tentunya Laras," ucap Laras agak terasa sesak saat menyebut nama Laras.
"Mbak Laras! Mbak jangan menyebut nama Naya lagi kalau kita sedang berdua. Sampai kapanpun Rayyan hanya akan menjadi milik mbak Laras!" seru Rayyan dengan nada ketus karena tidak suka menyebut nama Naya.
"Iya ... Iya, Maaf. Untuk saat ini Rayyan hanya untuk Laras. Ingat, Rayyan Untuk Laras!" canda Laras menghibur hati lelaki yang walau bagaimanapun juga milik wanita lain. Laras sendirilah yang meminta untuk menjadi bagian dari rumah tangga Rayyan dan Naya. Mau tidak mau, suka tidak suka, Laras harus menerima kenyataan bahwa saat kontrak habis dia harus siap untuk ditinggalkan.
"Ayo, Laras. Rayyan sudah lapar!" Rayyan menarik tangan Laras karena tidak mau mendengar lagi kata Naya di telinganya. Rayyan sudah memutuskan untuk melepas Naya jika nanti kontrak mereka selesai.
"Eh ... Ayo, tapi jangan keras-keras nariknya, Mas!" sahut Laras setengah berlari karena langkah lebar Rayyan tidak mampu ia imbangi.
"Ya sudah, kalau begitu ...."
Hup.
Rayyan menggendong Laras hingga sampai di parkiran mobil. Semua mata yang ada di parkiran deretan komplek ruko lantai tiga itu tersenyum melihat dua insan pengantin baru itu.
"Mas ... Lepasin! Malu dilihat orang sekomplek!" Laras berusaha meronta meminta pada Rayyan untuk menurunkan dirinya.
"Tidak, Laras. Biarkan saja, selama Rayyan kuat menggendong Laras, maka Rayyan akan terus menggendong istri Rayyan ini. Biar dunia tahu kalau Rayyan ini milik mbak Laras!" jawab Rayyan menatap lurus ke arah mobil Laras.
Blush ....
Pipi Laras kembali merona, andai saja waktu bisa diputar dan takdir berpihak padanya. Laras ingin bertemu Rayyan lebih awal dan menjadi satu-satunya wanita yang ada di dalam hidup Rayyan.
"Kita mau ke mana, Mas?" tanya Laras di belakang kemudi. Dia yang mengemudikan mobilnya karena merasa Rayyan tidak bisa mengemudikan mobil miliknya.
"Terserah Laras mau ke mana, Rayyan ikut aja. Yang penting Rayyan makan enak bersama istri Rayyan kayak di televisi tadi pagi! Yeee ... Rayyan makan enak!" ujar Rayyan bersorak gembira, membuat Laras menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.
"Okey, Kita ke restoran termahal di kota ini. Sesekali boleh dong memanjakan diri sendiri! Pegangan mas, kita akan mengebut! Perut Laras juga sudah lapar!" jawab Laras mulai menyalakan mesin mobilnya dan menginjak pedal lalu meluncur menuju ke restoran mahal yang biasa dijadikan tempat pertemuan para kolega bisnis Laras.
"Horeee ... Wuuuu ...." Rayyan berteriak kencang saat udara malam menyapa wajahnya dan rambutnya yang cepak itu.
Sepanjang jalan Rayyan heboh sendiri, dia sangat senang menikmati kebebasannya. Bebas dari masalah perusahaan dan bisnis yang harus ia pimpin menggantikan sang ayah.
"Wuuuu ... Yeeeei ... Selamat datang duniaaa ...." Rayyan terus berteriak, mobil Laras yang memiliki sunroof lebar ia buka agar Rayyan bisa menikmati udara malam.
"Mas ... Kita sudah sampai, ayo turun," ujar Laras menghentikan mobilnya tepat di area parkir restoran mahal yang ia tuju.
"Oke, Laras. Rayyan akan turun!" ujar Rayyan dengan senyum manisnya.
Keduanya berjalan menuju ke pintu masuk restoran itu.
Bruk!
"Maaf, Nyonya. Maafkan saya," seorang pelayan wanita dengan rambut dikuncir belakang tidak sengaja menabrak Laras.
"Tidak apa-apa, Nona. Lain kali hati-hati ya," jawab Laras lembut, sama sekali tidak memperlihatkan kemarahan walaupun karena pelayan itu, kemejanya jadi kotor. Jika itu bukan Laras jelas sudah marah-marah pada pelayan wanita itu.
"Terima kasih, Nyonya," jawab gadis itu sembari melirik ke arah Rayyan lalu berkedip.
"Hmm ... Veo, kau kira akak tidak mengenali mu, hmm ...!" bisik Rayyan di dekat telinga gadis yang menjadi pelayan wanita itu.
Laras menarik tangan Rayyan, dia ingin membawa Rayyan ke tempat duduk yang ia pilih.
"Kita duduk di sini, Mas. Lihat pemandangannya bagus kan?" ujar Laras yang melihat Rayyan sedikit termenung setelah bertemu dengan gadis yang menjadi pelayan restoran tadi.
"Mas ... Kok melamun sih! Ada apa dengan mu, Mas? Mas sakit kepala lagi? Atau mas kecapekan?" Laras memberondong Rayyan dengan pertanyaan.