Di bawah langit Las Angeles, Scarlett Langford bertarung melawan kemiskinan dengan kecerdasan dan percaya diri.
Demi mempertahankan harga dirinya di High School, gadis yatim ini nekat menciptakan sebuah kebohongan besar sebagai kekasih rahasia Millian Vale-Knight—Pria yang tak pernah ia temui.
Namun, takdir gemar bercanda.
Saat bekerja paruh waktu sebagai pelayan pesta borjuis, Scarlett terlibat bentrokan sengit dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan bermata heterochromia.
Tanpa rasa takut, Scarlett memaki pria tersebut seraya berteriak bahwa ia hanya takut jika pria itu adalah Millian Vale-Knight .
Scarlett tidak pernah tahu bahwa pria 'brengsek' yang baru saja ia maki di depan mukanya justru adalah Millian yang sesungguhnya.
Ketika tameng kebohongan menabrak realitas, akankah kepalsuan ini berubah menjadi jerat cinta, atau justru menjadi awal dari kehancuran Scarlett?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#4
Kabut tipis khas pagi hari masih enggan beranjak dari langit San Marino saat roda-roda kehidupan di high school lokal itu mulai berputar.
Area parkir sekolah, yang biasanya hanya dipenuhi deretan sedan tua dan sepeda motor kelas menengah, pagi ini mendadak berubah menjadi pusat penyebaran energi kinetik yang meledak-ledak.
Di dekat salah satu sudut pagar besi, Belleza dan kelompok setianya sudah mengambil posisi strategis sejak bel pertama belum berbunyi.
Mereka berdiri melingkar, dengan wajah-wajah yang condong ke depan, saling melempar tatapan mata yang berbinar-binar oleh pasokan gosip dari jagat raya elite Los Angeles.
Pagi yang dingin itu mendadak terasa membara ketika salah satu teman dekat Belleza membuka mulutnya dengan nada suara yang sengaja ditinggikan, memancing perhatian beberapa siswa lain yang baru turun dari kendaraan mereka.
“Kalian semua harus dengar ini! Ini benar-benar gila!” seru gadis berambut ikal itu sembari mengguncang-guncang bahu temannya.
“Pagi ini seluruh akun gosip remaja kelas atas Bel Air sedang gempar. Pria idaman kita semua, si tampan Millian Vale-Knight, ternyata semalam terciduk sedang bersama kekasih rahasianya di sebuah pesta privat otomotif! Dan kalian tahu bagian apa yang paling romantis dari berita itu?”
Gadis-gadis di sekelilingnya menahan napas serentak, menanti kelanjutan kalimat dengan pasang mata yang melebar.
“Si gadis misterius itu menolak dengan mentah-mentah saat ingin diantar pulang oleh Millian menggunakan mobil sport mewahnya! Dia lebih memilih pergi begitu saja!!! Uuwhhh, demi Tuhan, aku iri banget! Bagaimana bisa ada wanita seberuntung sekaligus seangkuh itu di dunia ini?” hebohnya lagi, memegangi kedua pipinya yang mendadak bersemu merah hanya karena membayangkan skenario romantis tersebut.
Belleza, yang sedari tadi melipat tangan di depan dada dengan ekspresi masam, langsung mendengus keras memotong kehebohan teman-temannya.
Ia mengibaskan rambutnya yang tertata rapi dengan gerakan anggun yang kentara dipaksakan.
“Jadi, setelah mendengar berita ini, apa kalian masih memelihara kebodohan untuk percaya kalau gadis halusinasi seperti Scarlett itu adalah kekasih asli dari Millian?” ucap Belleza ketus, melemparkan pandangan meremehkan ke arah koridor utama.
“Pikirkan dengan logika sehat kalian. Semalam kejadian romantis itu terjadi di sebuah mansion mewah kawasan Bel Air, Los Angeles. Di tempat berkumpulnya para konglomerat, bukan di lubang cacing seperti San Marino ini. Mana mungkin gadis miskin seperti dia ada di sana?”
Ucapan ketus Belleza langsung disambut oleh koor tawa renyah yang sarat akan nada ejekan dari dayang-dayangnya.
“Ha-ha-ha, benar sekali, Belle! Itu benar-benar tidak masuk akal,” sahut gadis yang lain, sembari jemarinya sibuk menggeser layar ponsel pintarnya yang mahal.
“Aku sendiri sudah melihat foto yang diunggah akun anonim semalam. Walaupun wajah kekasih rahasianya tidak terlihat jelas karena gelap, Millian Sempurna. Pria itu benar-benar tampak seperti dewa.”
Tepat pada detik yang sama, di balik pilar beton yang membatasi area parkir dengan koridor kelas, dua pasang kaki melangkah dengan ritme yang konstan.
Scarlett Langford dan Brianna berjalan beriringan, menangkap dengan sangat baik setiap untai gosip hangat yang sedang digoreng oleh kelompok Belleza pagi itu.
Namun, berbeda dengan hari-hari biasanya di mana Scarlett akan langsung membalas dengan senyuman angkuh yang mematikan, langkah kaki gadis semampai itu kali ini sedikit tertahan.
Ada riak gelisah yang mendadak merayap naik dan meremas ulu hati Scarlett, membuat jemarinya yang mendekap buku sastra tebal bergetar halus.
Fikiran di dalam kepalanya mendadak berputar kusut seperti benang kusut.
*Rumah mewah di Bel Air? Tempat berkumpulnya mobil sport mewah*? batin Scarlett, detak jantungnya mendadak berpacu tidak keruan.
*Itu... bukankah itu adalah tempat di mana aku bekerja paruh waktu semalam? Pesta gila yang dipenuhi raungan mesin mobil sport berkekuatan besar*?
Sebuah realitas yang mengerikan perlahan mulai mengetuk pintu kesadaran Scarlett.
Jika pesta semalam adalah tempat yang dimaksud oleh Belleza dan teman-teman nya, itu berarti Millian Vale-Knight yang asli berada di sekitar sana. Jiwa Scarlett mendadak diayun oleh rasa penasaran yang membumbung tinggi.
*Ah, seperti apa sebenarnya rupa wajah Millian yang asli itu? Seandainya saja aku sempat melihatnya semalam di antara kerumunan anak-anak kaya itu*, pikirnya dengan penyesalan yang mendalam.
Lalu, sebuah ingatan tentang insiden di dekat area parkir belakang mansion semalam mendadak melintas, memunculkan bayangan wajah pria sombong bermata ganjil yang sempat ia lempari kue tar mini.
Scarlett mendengus pelan dalam hati. *Dan yang paling menyebalkan, Millian yang asli pasti ada di sekitar area itu saat aku sedang sibuk memaki pria songong bernama Yang itu—pria kaya yang berani-beraninya mengaku bernama Millian di depanku hanya untuk menakut-nakuti seorang pelayan*.
Demi Tuhan, jika boleh jujur, Scarlett Langford yang selama ini menyandang status sebagai "Kekasih Millian Vale-Knight" di sekolahnya, sebenarnya belum pernah sekalipun melihat foto rupa asli dari sang pangeran Bel Air.
Alasan di balik kekonyolan itu sebenarnya sangat klise: Scarlett selalu saja lupa untuk mencari fotonya di majalah atau media sosial. Setiap kali ia berniat untuk meluangkan waktu mencari tahu, otaknya selalu sibuk oleh tumpukan kesibukan yang tiada habisnya.
Jadwal belajarnya yang padat demi mempertahankan beasiswa, ditambah jam kerja paruh waktunya di toko buku dan kedai kopi untuk menyambung hidup, membuat urusan visual sang pacar imajiner selalu tergeser ke urutan paling belakang.
Ia selalu lupa, dan tidak sempat lagi.
Bagi Scarlett, yang terpenting adalah ia tahu reputasi pria itu: seorang *bad boy* legendaris yang berkuasa, gemar menolak puluhan wanita demi menjaga kesetiaan pada satu kekasih misteriusnya, dan memiliki pesona mutlak.
Reputasi dingin yang menyakitkan itulah yang justru sangat sesuai dengan kriteria pria idaman Scarlett—tipe pria dengan label '*Tolong sakiti aku*' yang entah mengapa selalu berhasil menarik perhatian emosionalnya dari jauh.
Melihat perubahan air muka sahabatnya yang mendadak miring dan melamun dalam, Brianna segera menyenggol lengan Scarlett dengan siku tangannya.
Ia berbisik dengan nada suara yang dipenuhi kecemasan nyata setelah memastikan mereka sudah agak jauh dari jangkauan kuping Belleza.
“Lett, kau dengar apa yang mereka katakan tadi? Apa semalam Millian benar-benar bertemu dengan kekasih rahasianya?” tanya Brianna, matanya bergerak panik.
“Aku benar-benar khawatir jika kabar ini terus membesar, kebohongan soal dirimu yang menjadi kekasihnya selama satu tahun ini akan terbongkar habis di depan Belleza!”
Scarlett menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu kelas mereka yang tampak sepi.
Ia menoleh ke arah Brianna, lalu menjawab dengan volume suara yang sangat rendah namun sarat akan ketegasan yang lugas.
“Aku bekerja di mansion itu semalam, Bri. Sebagai pelayan tambahan bersama tim Ibu,” jawab Scarlett cepat.
“What!!!???”
Brianna memekik tertahan, buru-buru membekap mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangan agar suaranya tidak mengguncang koridor.
Matanya nyaris melompat keluar dari kelopaknya.
“Kau berada di Bel Air semalam? Di tempat yang sama dengan seorang Millian Vale-Knight? Uhhh, aku benar-benar iri setengah mati padamu, Lett!” bisik Brianna dengan nada gemas yang tertahan di tenggorokan.
“Seandainya saja kita berdua memiliki akses atau uang yang cukup untuk sekadar membeli majalah elite agar bisa melihat foto wajahnya dengan jelas.”
Brianna menghela napas panjang, menyandarkan tubuhnya pada kusen pintu kelas dengan binar mata yang mendadak berubah menjadi murung.
“Apa aku boleh berharap sesuatu, Lett? Sebagai sahabatmu, sekaligus sebagai gadis miskin yang baik hati, aku benar-benar berharap suatu hari nanti dirimu benar-benar berpacaran dengan Millian yang asli. Walaupun mungkin hal itu hanya bisa terjadi di dalam alam mimpi kita yang paling liar. Setidaknya, jika kau benar-benar bersamanya, aku tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun hanya untuk menatap foto atau wajah tampannya secara langsung.”
Scarlett terdiam mendengar untaian kalimat polos dari sahabat satu-satunya itu.
Sebuah senyuman tipis yang sarat akan makna tersembunyi terbit di sudut bibirnya yang merah alami.
Ia menepuk bahu Brianna dengan gerakan menenangkan.
“Bermimpi itu gratis, Bri,” sahut Scarlett dengan nada suara yang kembali dipenuhi oleh rasa percaya diri yang mutlak.
“Dan perlu kau ingat, pesona yang dimiliki oleh sahabatmu ini tidak akan pernah bisa ditolak oleh seorang pria sekelas Millian Vale-Knight sekalipun. Jadi, jangan pernah hentikan kehaluan indah ini.”
“Hahaha! Kau benar-benar tidak ada duanya, Scarlett!” tawa Brianna meledak kecil, mengikis habis seluruh ketegangan yang sempat menggantung di antara mereka.
Namun, suasana santai itu tidak bertahan lama.
Baru saja Scarlett dan Brianna melangkah masuk dan menduduki bangku mereka di dekat jendela, dua orang siswi yang merupakan teman sekelas sekaligus bagian dari lingkaran sosial Belleza tiba-tiba berlari masuk ke dalam kelas dengan napas yang memburu.
Mereka langsung menggebrak meja kayu Scarlett dengan raut wajah yang dipenuhi histeria massa.
“Scarlett! Demi Tuhan, kau harus menjelaskan ini pada kami!” seru salah satu dari mereka dengan mata yang berbinar-binar penuh pemujaan baru.
“Kami baru saja mencocokkan latar belakang foto yang kau unggah di akun pribadimu semalam saat kau berkata sedang menemani kekasih mu! Pagar besi dan arsitektur taman itu... itu adalah sudut dari mansion mewah yang sama dengan tempat pesta Millian Vale-Knight di Bel Air! Demi Tuhan yang menguasai Los Angeles, sekarang aku seratus persen percaya kalau kau adalah kekasih rahasia Millian yang selama ini disembunyikan dari publik!”
Mendengar tembakan pertanyaan yang sangat tiba-tiba itu, Brianna dan Scarlett secara refleks saling melempar pandangan mata selama satu detik penuh.
Otak brilian Scarlett langsung bekerja secepat kilat, membaca arah angin dan memanfaatkan momentum emas yang tidak terduga ini untuk memperkokoh tameng ilusinya.
Sebuah senyuman anggun dan penuh misteri langsung terbit di wajah menawan Scarlett. Ia memperbaiki posisi duduknya, menatap kedua gadis di hadapannya dengan ketenangan seorang ratu.
“Oh, foto semalam?” ucap Scarlett lambat, sengaja menggantung kalimatnya agar memicu rasa penasaran yang lebih dalam.
“Iya! Foto itu!” desak kedua gadis itu serempak, mengangguk dengan cepat hingga rambut mereka bergoyang.
Di dalam hatinya, Scarlett tahu benar bahwa keberadaan dirinya di mansion mewah semalam murni karena faktor keberuntungan dan kerja kerasnya sebagai seorang pelayan paruh waktu demi mencari upah tambahan.
Namun, selaras dengan gosip hangat yang ia dengar di area parkir pagi ini—tentang kekasih Millian yang menolak diantar pulang—Scarlett langsung merajut sebuah kebohongan baru yang luar biasa rapi.
“Kalian benar,” ucap Scarlett dengan nada suara yang dibuat seolah-olah ia sedang membagikan sebuah rahasia besar yang berat.
“Sebenarnya, akulah yang melarang Millian untuk mengunggah foto bersama kami semalam. Aku tidak ingin hubungan kami diganggu oleh sorot kamera publik. Dan soal berita yang menyebutkan bahwa kekasihnya menolak diantar pulang...”
Scarlett menjeda kalimatnya sejenak. Saat ia mengucapkan kata-kata tersebut, entah mengapa memori otaknya justru secara otomatis memunculkan bayangan wajah menyebalkan milik pria sombong bernama Yang yang semalam ia maki dan ia lempari kue.
Scarlett menahan kedutan di bibirnya sebelum melanjutkan dengan gaya yang sangat meyakinkan.
“...Ya, aku memang menolak untuk pulang bersama dengannya semalam. Aku lebih memilih mencari tumpanganku sendiri karena aku sedang tidak ingin berdebat dengan sifat manja orang kayanya,” pungkas Scarlett dengan raut wajah yang dibuat sedikit kesal, seolah-olah menolak menaiki mobil *sport* mewah adalah hal biasa yang sering ia lakukan sehari-hari.
Kedua gadis yang mendengarnya langsung menarik napas dalam-dalam, menangkupkan kedua tangan di depan dada mereka dengan ekspresi wajah yang hampir menangis karena tingkat keromantisan yang mereka anggap terlalu nyata.
Mereka segera memberikan instruksi secret dengan menyilangkan jari telunjuk di depan bibir masing-masing, memberi tanda bahwa mereka akan menutup mulut rapat-rapat, walaupun Scarlett tahu persis bahwa dalam waktu lima menit, berita ini akan menyebar ke seluruh penjuru sekolah.
“Kami berjanji tidak akan membocorkannya pada Belleza! Kau benar-benar keren, Scarlett!” bisik mereka heboh, sebelum akhirnya berlari keluar kelas untuk membagikan temuan luar biasa itu kepada yang lain.
Begitu ambang pintu kembali sepi, Brianna yang sedari tadi menahan napas langsung mengeluarkan suara desisan geli yang tertahan.
“Pfhhhh!”
Tawa Brianna akhirnya pecah, ia memukul meja dengan pelan.
“Aku benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana jalan pikiran mereka, Scarlett! Bagaimana bisa mereka begitu mudah percaya pada setiap untai kalimat yang keluar dari bibirmu? Hahaha!”
“Tentu saja mereka percaya,” jawab Scarlett dengan tingkat kepercayaan diri yang kembali melonjak ke level maksimal.
Ia mengedipkan sebelah matanya ke arah Brianna. “Karena aku adalah aktris terbaik yang pernah dilahirkan di kota San Marino ini, Bri.”
“Kau memang luar biasa, Scarlett. Benar-benar tidak ada tandingannya,” balas Brianna dengan binar mata yang mendadak berubah menjadi penuh rasa bangga, namun sekaligus menyiratkan rasa haru yang tipis.
Ia menatap wajah sahabatnya dengan lekat. “Nanti, saat kau sudah lulus dari sini dan melanjutkan kuliah di Los Angeles Pusat, kau tidak boleh melupakan aku, ya? Janji?”
Scarlett tertegun sejenak mendengarnya. Riak keangkuhan di wajahnya melunak seketika, digantikan oleh ketulusan yang mendalam. Ia menggeser duduknya, lalu mengulurkan kedua lengannya untuk memeluk tubuh Brianna dengan erat—sebuah pelukan hangat yang menyiratkan ikatan emosional yang kokoh.
Brianna adalah satu-satunya sahabat sejati yang ia miliki sejak mereka masih duduk di bangku *junior school*.
Berbeda dengan Scarlett yang memiliki ambisi akademik setinggi langit, Brianna sudah memutuskan bahwa setelah lulus dari *high school*, ia tidak akan melanjutkan studinya ke bangku kuliah karena keterbatasan ekonomi keluarga dan memilih untuk langsung mencari pekerjaan kasar demi membantu orang tuanya.
Scarlett bersumpah di dalam hatinya bahwa ia tidak akan pernah melupakan satu-satunya orang yang sudi berdiri di sampingnya saat semua orang memandangnya rendah.
Dan ia juga tahu, kesempatan besar yang ia miliki untuk bisa melangkah menuju perguruan tinggi di pusat kota Los Angeles kelak, bukanlah sebuah hadiah gratis dari langit, melainkan buah dari tetesan keringat dan kerja keras tak kenal lelah dari Cristine, ibu tiri berhati emas yang selalu mendukung setiap langkah hidupnya.
Tameng ini harus tetap tegak, pikir Scarlett, demi masa depan yang sedang ia pertaruhkan.
apa bisa up yg banyak biar aku semakin mager
pleaseeee
tinggal ketahap talking stage 🤣🤣🤣