Novel INDA dari episode 1-133 (Tamat)
Part selanjutnya Sequel dari Novel INDA.
-----
Ciuman tanpa disengaja menyebabkan wanita bernama Amrita Venisa harus menikah dengan pria bernama Aziz.
Amrita yang jaim kerap kali mengerjai suaminya. Dan Aziz yang baik hati dia tidak pernah marah akan tindakan konyol sang istri. Seiring berjalannya waktu, benih-benih cinta pun tumbuh dalam hati keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni J Kasim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
INDA. Episode 26
"Hahahahaha. Om, ampun Om... aku tidak janji tapi aku akan usahakan untuk tidak mengerjai Om lagi. Jika aku masih mengulanginya maka aku akan berjanji lagi..." seru Amrita sambil berlari mengelilingi sofa yang ada di ruang tamu.
"Aku tidak percaya padamu. Kamu gadis kecil yang tingginya tidak masuk dalam ukuran tapi nakalnya minta ampun..." balas Aziz mengejar istrinya.
"Om sudah tahu kalau aku tidak tinggi. Tapi Om masih bersikukuh untuk menikahiku!!" ledek Amrita
"Apa katamu! Eh, asal kamu tahu. Aku menikah denganmu karena kamu yang memintaku untuk menikahimu..." seru Aziz.
"Hahahahahaha. Sepertinya aku sedang amnesia. Itulah sebabnya aku tidak tahu jika pernikahanku berawal seperti itu" balas Amrita disertai tawa.
"Amnesia nenek mu!!" ketus Aziz sembari duduk di sofa.
"Om, ayo kita istrahat. Aku sangat lelah" kata Amrita mengatur napasnya dengan pelan.
Hampir lima menit mereka duduk di sofa tanpa saling bercerita. "Ayo kita ke kamar" ajak Aziz. Aziz dan Amrita beranjak dari sofa. Keduanya berjalan menaiki anak tangga. Saat di tangga, keduanya saling tatap lalu tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang membuat mereka akur dalam waktu sekejap.
Sesampainya di dalam kamar, Aziz membuka baju kemeja yang ia pakai lalu meletakannya di sofa. Sedangkan Amrita, ia asik memainkan ponselnya.
"Amrita, tolong siapakan air hangat untuk ku" titah Aziz.
Aziz terkekeh melihat istrinya yang sedang mengomel. "Itu balasan karena kamu berani menakutiku hingga berkeringat dingin" gumam Aziz pelan.
Aziz mendengar istrinya mengumpat di dalam kamar mandi. Ia pun tersenyum saat mendapatkan ide untuk menakuti istrinya.
"Amrita...! Jangan terlalu mengumpat. Apa kamu lupa pesan almarhum ibu mertuaku...! Ibu memintamu untuk hormat pada suamimu...!!" teriak Aziz dari balik pintu kamar mandi. Ia sengaja membesarkan suaranya agar istrinya mendengar apa yang ia katakan.
Amrita terkekeh mendengarnya. Setelah selesai menyiapkan air hangat, Amrita memilih ke luar. Ia membaca sabda rasul saat melewati suaminya yang tengah berdiri di depan pintu kamar mandi.
Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa bersabar atas perangai istrinya, maka Allah SWT akan memberikan pahala baginya seperti pahala yang diberikan kepada Nabi Ayyub AS.
"Sok tahu!!" ketus Aziz. Ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang bau akibat ulah istrinya.
20 menit kemudian, Aziz ke luar dari kamar mandi. Ia memakai celana pendek bunga-bunga dan baju kaos putih serta handuk yang ia letakan dibahunya. Rambutnya yang acak acakan membuat Amrita menggeleng kepala.
"Om, hair dryer lagi rusak" kata Amrita. Ia yakin, suaminya pasti akan meminta diambilkan hair dryer.
"Kamu istri yang sangat konek. Tanpa aku perintah pun kamu tahu apa yang akan aku katakan" kata Aziz.
"Anak kecil pun akan tahu jika setiap hari di suru ambil hair dryer" balas Amrita mencibir pelan.
"Ck ck ck... dia mulai mencari alasan agar janjinya aku lupakan" ujar Aziz menatap istrinya sejenak.
"Hahahahahaha. Om sangat pandai. Aku suka aku suka... balas Amrita tersenyum.
-----------
Di tempat lain. Tepatnya di depan Kampus Swasta yang ada di Kota Makassar. Sedang terjadi bentrok antara dua organisasi. Bentrok terjadi karena adanya salah paham antara dua organisasi tersebut.
"Fakri, bagaimana ini?" tanya Hanin. Ia tidak berani lewat. Bagaimana tidak, ia melihat orang-orang sedang saling kejar mengejar.
Berhubung Fakri sedang boncengan dengan Kak Farid maka Fakri meminta Kak Farid untuk mengendarai motor yang Hanin kendarai. Kak Farid pun mengangguk. Saat mendapatkan respon, Fakri menepikan motornya dipinggiran jalan, begitu pun dengan Hanin. Kak Farid mengendarai motor milik Hanin sedangkan Hanin, ia naik di atas motor milik Fakri. Mereka melaju dengan kecepatan sedang. Membuat Hanin menutup mata.
"Woe...!! Berhenti...!!" teriak seorang pria sambil memegang alat tajam.
Kak Farid menoleh, ia melihat seorang wanita sedang terluka. Wanita itu tak sengaja lewat, ia tidak tahu jika ada rusuh di depan kampus. Ia berlari sekuat tenaga, langkahnya terhenti saat kakinya menginjak pecahan botol.
"Ya Allah lindungi aku" batin Farid. Farid memutar balik, ia melawan arus lalu lintas untuk membawa wanita tersebut ke rumah sakit.
"Tolong bawa wanita ini ke rumah sakit. Aku akan ke sana untuk membayar biaya rumah sakitnya" kata pria yang tadinya berteriak.
"Baik Bang" balas Kak Farid.
Terdengar suara yang begitu nyaring. Dan ternyata, seorang pria sedang melempar bom malotov.
Dari kejauhan, Fakri sedang meminta Hanin untuk turun. "Kamu tetap di sini, jika ada sesuatu yang terjadi pada kami. Kamu harus cepat-cepat menghubungi senior yang sedang aktif di group" kata Fakri. Ia menghidupkan motornya untuk menghampiri kak Farid.
Hanin sudah mengetik sesuatu untuk di kirim ke group. Ia menghentikan jarinya mengetik saat ia melihat Fakri dan Kak Farid sedang ke arahnya. Dibelakang Kak Farid, ada seorang wanita yang terluka.
"Hanin, cepat naik" titah Fakri. Hanin pun naik ke atas motor. Fakri melajukan motornya mengejar Kak Farid.
"Kenapa wanita itu bisa terluka? Bukankah wanita tidak boleh dipukul atau dilukai?" tanya Hanin.
"Aku juga tidak tahu. Nanti kita tanyakan langsung padanya" balas Fakri.
Rumah Sakit Wahidin
Di ruang UGD. Seorang dokter sedang mengobati luka di kaki wanita yang dibonceng oleh Kak Farid. Wanita itu begitu cantik. Rambut lurus, hidung mancung, pokonya masuk dalam kriteria wanita ideal.
"Jangan dulu melakukan aktivitas. Usahakan rutin mengganti perbannya secara berkala" kata dokter.
"Baik, dok" balas wanita tersebut. Namanya Naumi Iskandar, seorang mahasiswi jurusan Sastra Inggris di kampus ternama di Kota Makassar.
"Jaga teman kalian dengan baik" kata Dokter pada Hanin, Fakri dan Kak Farid.
"Baik, Dok" balas mereka bertiga bersamaan.
Dokter pun pergi melanjutkan pekerjaannya yang lain. Hanin menatap Naumi. "Nama kakak siapa dan kenapa bisa kakak terluka?" tanya Hanin.
"Aku tidak sengaja lewat di sana. Saat aku lari, kakiku menginjam pecahan botol kaca yang berserakahan di jalan" jelas Naumi.
Perumahan Hertasning
Aziz tersenyum saat melihat istrinya memejamkan mata. Sedangkan Amrita, ia nampak gugup. Ia sudah berjanji untuk melayani suaminya sepulang dari ia mendaki. Dan kini, Aziz menagih janji istrinya.
Aziz mencium istrinya. Sedangkan Amrita, ia hanya diam tanpa membalas ciuman suaminya. Aziz tersenyum, ia yakin, istrinya tidak tahu cara berciuman. Tangan Aziz menjelajah di dalam baju istrinya, Amrita melenguh saat ia merasa dirinya mulai terbuai dengan ulah suaminya.
"Tunggu Om...!" teriak Amrita saat tangan suaminya hendak turun ke bawah.
"Kenapa?" tanya Aziz menghentikan aktivitasnya.
"Hehehehe. Sepertinya tamuku sedang datang" balas Amrita. Ia tersenyum memperlihatkan sejejeran giginya yang putih dan rapih.
Aziz mendengus kesal, ia berlari masuk ke dalam kamar mandi. Menuntaskan hasratnya yang sudah diujung tanduk.