NovelToon NovelToon
SAH TAPI TIDAK SELESAI

SAH TAPI TIDAK SELESAI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menikah Karena Anak
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

Empat hati terjebak dalam satu takdir yang kejam.

Satyaka dan Damira harus merelakan orang yang mereka cintai, Azzura dan Nayaka, terikat dalam pernikahan perjodohan. Sebagai pelipur lara, tercipta “Janji Satu Bulan”—sebuah kesepakatan untuk berpisah setelah satu bulan dan kembali pada cinta masing-masing.

Namun di balik pernikahan itu, luka justru semakin dalam. Nayaka yang dipenuhi rasa bersalah berubah dingin dan menyakiti Azzura, sementara Azzura diam-diam menghadapi kondisi aneh dalam tubuhnya. Tanpa mereka ketahui, keluarga mereka telah merancang rencana licik yang mengikat mereka lebih jauh dari sekadar janji.

Ketika rahasia mulai terungkap dan sebuah kehidupan baru tumbuh di antara kebohongan, “Janji Satu Bulan” tak lagi sesederhana yang mereka bayangkan.

Akankah mereka kembali pada cinta awal, atau justru terjebak selamanya dalam takdir yang dipaksakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENANGGALKAN MAHKOTA PALSU

Nayaka menunduk, bahunya bergetar hebat. Ia tidak berani menatap langsung ke mata Mira yang kini terasa begitu jauh.

"Aku berusaha, Mir... walau aku nggak kejar kamu kemarin," ucapnya dengan suara pecah. "Aku nggak lari ke luar karena aku harus selesaikan di dalam. Aku bicara sama Papa, aku lawan Mama setelah kamu pergi. Aku nggak diam saja setelah itu..."

Mira tersenyum getir, senyuman yang membuat hati Nayaka semakin perih.

"Berusaha itu saat kamu menggenggam tanganku di depan mereka, Nay. Bukan membiarkan aku keluar sendirian dengan hati hancur, baru kemudian kamu bicara setelah aku nggak ada," sahut Mira pelan. "Kamu berusaha setelah semuanya terlambat. Kamu berusaha saat aku sudah sampai di rumah dan Mas Danang sudah menutup pintu untukmu."

Nayaka melangkah satu langkah lagi, mencoba memangkas jarak. "Tolong, Mir... kasih aku waktu buat perbaiki ini semua. Aku janji bakal bawa orang tuaku ke rumahmu buat minta maaf secara resmi."

Mira menggeleng perlahan. Ia teringat wajah Ayahnya yang tenang namun tegas kemarin, dan sumpah tak terdengar dari keempat kakak laki-lakinya.

"Kamu tahu kan siapa yang kamu hadapi di rumahku? Ada Mas Darma, Mas Danu, Damar, dan Mas Danang yang sekarang nggak akan membiarkan kamu lewat pagar sedikit pun. Dan yang paling penting... ada Ayah."

Mira menarik napas panjang, mencoba menguatkan fondasi hatinya yang mulai retak lagi.

"Kamu bilang kamu berusaha, tapi bagiku, usaha itu sudah kadaluwarsa. Sepuluh tahun itu bukan waktu yang singkat untuk sekadar 'belajar berani'. Sekarang, tolong pulanglah. Jangan buat keributan di kantorku. Aku nggak mau Mas Danang datang ke sini dan melakukan hal yang bakal kita sesali."

Nayaka terdiam, tangannya yang menggantung di udara perlahan jatuh. Ia melihat Mira yang sekarang berbeda—Mira yang tidak lagi menatapnya dengan binar penuh harap, melainkan dengan kelelahan yang luar biasa.

"Jadi... benar-benar nggak ada celah lagi buat aku?" tanya Nayaka lirih.

Mira tidak menjawab. Ia hanya memutar tubuhnya, berjalan kembali masuk ke dalam kantor tanpa menoleh lagi. Di dalam hatinya, ia berbisik pelan, "Maaf, Nay. Aku lebih sayang pada diriku sendiri dan keluargaku yang sudah pasang badan buat aku."

Suasana di rumah mewah itu mendadak mencekam. Nayaka masuk dengan langkah gontai, wajahnya yang kusam dan kemeja yang masih sama dengan kemarin membuat ayahnya, yang sedang duduk di ruang tengah, mengernyitkan dahi.

"Kamu kenapa bolos kerja?" tanya ayahnya dengan nada dingin. "Kamu harus nabung buat nikah."

Nayaka berhenti melangkah. Kata "nikah" yang keluar dari mulut ayahnya terasa seperti duri yang menusuk telinganya. Selama ini ia selalu patuh, selalu diam, tapi hari ini, melihat bayangan Mira yang menolaknya di kantor tadi, sesuatu dalam dirinya pecah.

"Kenapa nggak Papa saja yang nabung?" sahut Nayaka, suaranya tenang tapi sarat akan keberanian yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Aku nggak suka gadis itu. Kalau Papa suka, kenapa nggak Papa saja yang nikahi dia?"

BUG!

Satu pukulan keras mendarat di pipi Nayaka. Tubuhnya terjerembap ke samping, menghantam sudut meja. Sudut bibirnya pecah, mengeluarkan darah segar.

"Mas! Apa-apaan kamu!" teriak ibunya yang baru saja keluar dari kamar, histeris melihat putra satu-satunya dipukul oleh suaminya sendiri. Ibu Nayaka langsung menghambur memeluk anaknya, tapi Nayaka justru bangkit berdiri dengan perlahan, mengabaikan rasa perih di wajahnya.

Ia menyeka darah di bibirnya dengan punggung tangan, lalu menatap lurus ke mata ayahnya yang masih berkilat amarah.

"Pukul lagi, Pa. Pukul saja kalau itu bisa membuat rasa bersalahku ke Damira hilang," ucap Nayaka, suaranya kini lebih lantang. "Papa dan Mama sudah mengatur hidupku sampai aku kehilangan satu-satunya perempuan yang mau menungguku selama sepuluh tahun tanpa kepastian. Aku nggak butuh Azzura. Aku nggak butuh harta Papa."

"Nayaka! Jaga bicaramu!" bentak ayahnya.

"Aku mau sama Damira. Apapun itu," tegas Nayaka. "Mau Papa usir, mau Papa coret dari keluarga ini, aku tetap mau Damira. Dan kalau aku harus merangkak ke rumahnya untuk meminta maaf pada Danang dan ayahnya, akan aku lakukan."

Untuk pertama kalinya dalam sejarah keluarga itu, Nayaka tidak menunduk. Ia memutar tubuhnya dan berjalan menuju pintu luar, meninggalkan orang tuanya yang terpaku. Ia tidak tahu bagaimana caranya menembus benteng empat kakak laki-laki Mira, tapi ia tahu, jika ia tidak bertindak sekarang, ia akan benar-benar kehilangan dunianya selamanya.

Nayaka merasakan pelukan ibunya begitu erat, namun alih-alih merasa terlindungi, ia justru merasa tercekik. Kata-kata ibunya yang memintanya untuk terus menurut seolah menjadi rantai yang sudah mengikatnya selama sepuluh tahun terakhir.

"Turuti saja Papamu, Nay... Ini demi kebaikanmu juga," bisik ibunya dengan suara bergetar, masih berusaha menahan lengan putranya agar tidak pergi.

Nayaka melepaskan pelukan itu dengan perlahan namun pasti. Ia menatap ibunya dengan tatapan kosong. "Demi kebaikanku? Atau demi gengsi Mama di depan teman-teman Mama? Selama ini aku selalu jadi anak penurut, Ma. Hasilnya apa? Aku kehilangan harga diriku di depan wanita yang aku cintai."

Ayahnya berdiri berkacak pinggang, napasnya masih memburu setelah melayangkan pukulan tadi. Sorot matanya tajam, mencoba mengintimidasi Nayaka seperti yang biasa ia lakukan.

"Jangan harap kamu bisa keluar dari rumah ini dan menikahi gadis itu!" bentak ayahnya. "Satu langkah kamu keluar dari pintu ini tanpa persetujuan Papa, kamu kehilangan segalanya. Fasilitas, jabatan di kantor, semuanya akan Papa cabut!"

Nayaka tertawa getir. Tawa yang terdengar sangat menyakitkan bagi siapa pun yang mendengarnya. Ia merasa ironis, karena ancaman itu tidak lagi memiliki taring di hadapan rasa kehilangannya terhadap Mira.

"Ambil semuanya, Pa," ucap Nayaka sambil mengeluarkan kunci mobil dan dompetnya, lalu meletakkannya di atas meja dengan suara denting yang nyaring. "Ambil kantor itu, ambil mobil itu. Aku lebih baik tidak punya apa-apa tapi bisa menatap mata Mira lagi dengan jujur, daripada punya segalanya tapi hidup sebagai pengecut seumur hidup."

"Nayaka! Kamu jangan gila!" teriak ibunya histeris, tidak menyangka putra yang selama ini selalu patuh bisa bertindak senekat ini.

"Aku sudah gila karena terlalu lama diam, Ma," sahut Nayaka dingin.

Ia berbalik menuju pintu besar rumahnya. Langkahnya tegap, meski pipinya mulai membiru dan sudut bibirnya masih berdarah. Ia tidak tahu akan pergi ke mana, ia bahkan tidak punya uang sepeser pun di sakunya sekarang. Namun, ia tahu satu hal: ia harus menemui keluarga Damira.

Bahkan jika ia harus berlutut di depan Mas Danang, atau menerima pukulan dari keempat kakak laki-laki Mira sebagai penebusan dosanya, ia akan melakukannya. Kali ini, ia tidak akan membiarkan orang lain menentukan siapa yang harus ia cintai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!