Kanaya Tabitha adalah definisi wanita sempurna. Cantik, pintar, dan mandiri, dia sukses membangun bisnisnya dari nol. Di balik keanggunannya, Kanaya adalah sosok wanita tangguh yang menguasai seni bela diri tingkat tinggi, dan jangan harap ada pria yang bisa mendekatinya dan mengusik hidup tenang nya, hubungan dan cinta tidak ada di dalam daftar hidup nya.
Namun, dunia indahnya runtuh saat sebuah rahasia besar mendadak memutarbalikkan hidupnya. Tubuhnya mengalami perubahan aneh yang tak masuk akal. Bagaimana bisa dia hamil tanpa pernah disentuh pria mana pun?
Kanaya tidak tahu bahwa setiap malam, rahimnya telah diklaim oleh Alexander Giorge, Raja Vampir yang posesif dan berbahaya di balik kegelapan.
"Kamu milik ku, Kanaya. Berlari lah sejauh apa pun, darah daging ku akan selalu membimbingku kembali ke tempat tidurmu. Jika ada pria lain yang berani menyentuhmu, ku pastikan namanya tinggal sejarah."_ Alexander Giorge.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CIUMAN VAMPIR
Fanya yang bingung melihat perubahan drastis sikap James langsung mengernyit kesal.
"Loh, kenapa tiba-tiba mengusir? Aku kan masih mau nanya-"
"Saya bilang masuk sekarang, Fanya!" potong James tegas, setengah mendorong tubuh Fanya agar segera membuka pintu mobilnya.
"Kunci pintunya dari dalam, dan jangan pernah keluar atau membuka kaca jendela apa pun yang Anda dengar di luar. Mengerti?!" ucap James, penuh penekanan.
Melihat tatapan mata James yang begitu mengintimidasi dan tarikan napas pria itu yang mendadak memberat, Fanya entah kenapa langsung menurut tanpa protes lagi.
Dia segera masuk ke dalam kursi kemudi dan mengunci seluruh pintu mobilnya rapat-rapat.
Fanya mencengkeram setir mobilnya dengan erat, matanya tidak lepas dari punggung James.
Jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena kesal, melainkan karena rasa takut yang mendadak menyerang melihat situasi di luar sana.
Di luar mobil, suasana basemen yang remang-remang itu terasa makin membeku.
James tetap berdiri kokoh, matanya berkilat merah tajam menembus kegelapan di sudut parkiran.
Dari balik kegelapan muncul dua sesosok pria dengan pakaian compang-camping.
Mereka adalah bagian dari sisa-sisa vampir pemberontak yang berhasil lolos dari wilayah pinggiran dan mencium aroma Naya yang sempat menempel pada pakaian Fanya.
"Bau darah murni, di mana wanita itu?!" desis salah satu vampir liar dengan suara parau, taringnya yang panjang tampak meneteskan air liur yang berbau busuk.
James tidak menjawab, dii hanya mendengus meremehkan, lalu melonggarkan kerah jaket hitamnya dengan santai menggunakan satu tangan.
"Kalian ini benar-benar tidak punya otak ya? Sudah tahu wilayah ini terlarang, masih saja nekat datang untuk mengantarkan nyawa," ucap James dengan nada suara yang sangat dingin dan meremehkan.
"Jangan banyak bicara! Minggir atau kami robek tubuhmu!" ancam vampir kedua yang langsung melesat maju, kuku-kukunya yang tajam mengarah lurus ke leher James.
James tidak bergerak sedikit pun dari posisinya hingga makhluk itu tinggal beberapa jengkal darinya.
Dengan gerakan secepat kilat yang bahkan tidak bisa ditangkap oleh mata Fanya dari dalam mobil, James memiringkan tubuhnya sedikit, lalu tangan kanannya mencengkeram pergelangan tangan vampir itu dan memelintirnya dengan kuat.
KRAAAK
"AAAAKKKKHHH!"
Jeritan kesakitan makhluk itu tertahan saat James langsung menghantamkan sikutnya ke dada vampir tersebut hingga terdengar suara tulang rusuk yang patah.
Tanpa memberi kesempatan untuk membalas, James melepaskan energi kegelapannya dari telapak tangannya.
WUSSSSS
Seketika, api hitam berkobar membakar tubuh vampir liar itu, mengubahnya menjadi tumpukan debu dalam hitungan detik sebelum sempat menyentuh lantai basemen.
Vampir yang satu lagi langsung menghentikan langkahnya, matanya melotot horor menyaksikan rekannya lenyap begitu saja tanpa sisa.
"K-Kau... Tangan Kanan Raja Alexander!" bisik vampir itu dengan lutut yang mulai lemas, menyadari kasta kekuatan mereka yang terlampau jauh berbeda.
"Baru sadar, hmm? Sayangnya sudah terlambat," ucap James dingin, mendadak sudah berdiri tepat di depan vampir tersebut sebelum makhluk itu sempat berbalik untuk melarikan diri.
Grep
James mencengkeram rahang vampir itu dengan sangat kuat, memaksanya untuk menatap mata merah menyalanya yang mengintimidasi mutlak.
"Katakan pada teman-teman bodoh mu di neraka, jangan pernah berani mengusik ketenangan kota ini lagi," bisik James kejam.
Dengan satu gerakan sentakan James mematahkan leher makhluk tersebut.
KRAKKKK
WUSSSS
Api hitam kembali muncul, membakar tubuh kedua hingga menjadi abu yang langsung terbang tertiup angin basemen yang dingin.
James mengibaskan kedua tangannya, membersihkan sisa-sisa debu hitam yang menempel di jaketnya dengan raut wajah kesal.
"Sialan, tempat ini jadi kotor lagi," gerutu James pelan, menarik napas dalam-dalam, menstabilkan kembali energinya hingga sepasang matanya kembali berubah menjadi hitam kelam seperti manusia biasa.
James berbalik dan berjalan mendekati mobil Fanya. Dia mengetuk kaca jendela mobil di samping kemudi dengan pelan.
Tok
Tok
Tok
Fanya yang sejak tadi menonton seluruh kejadian itu dari dalam mobil dengan mulut terbuka lebar dan tubuh gemetaran, hampir saja melompat dari kursinya saat mendengar ketukan itu.
Pikirannya benar-benar kosong. Apa yang baru saja dia lihat? Orang terbakar jadi abu?
Dengan tangan yang gemetar hebat, Fanya menurunkan kaca mobilnya hanya beberapa sentimeter, menatap James dengan tatapan yang penuh dengan rasa ngeri yang luar biasa.
"K-Kamu... kamu makhluk apa? Tadi itu... tadi itu apa?!" tanya Fanya dengan suara yang bergetar hebat, air matanya hampir menetes karena syok yang teramat sangat.
James menatap Fanya dengan pandangan yang melembut, ada sedikit rasa bersalah di hatinya karena terpaksa memperlihatkan sisi kejamnya di depan dokter wanita ini.
"Saya sudah bilang pada Anda untuk tidak melihat, Dokter Fanya," ucap James pelan, suaranya terdengar sangat tenang, mencoba meredam ketakutan Fanya.
"Bagaimana bisa aku gak lihat?!" ucap Fanya, suaranya meninggi karena panik yang campur aduk di dalam dadanya.
James menghela napas pendek, lalu menyandarkan satu tangannya di atas pintu mobil Fanya, memangkas jarak di antara mereka agar Fanya bisa mendengar suaranya dengan jelas.
"Dunia ini tidak sesederhana yang Anda pelajari Fanya. Ada hal-hal yang sebaiknya tetap menjadi rahasia demi keselamatan Anda sendiri," jawab James, menatap lurus ke dalam manik mata Fanya dengan serius.
Fanya menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba mencerna semuanya, dia beringsut mundur dengan air mata yang mengalir di pipi nya.
"K-kamu jangan mendekat..." ucap Fanya, takut.
Setelah ratusan tahun lebih James hidup, baru kali ini dia merasa hatinya berdenyut sakit, melihat seseorang yang diam-diam namanya ada di hati nya, kini terlihat ketakutan karena dirinya.
"Jangan takut, aku tidak akan menyakiti mu," ucap James, parau.
James mendekat ke arah Fanya, menangkup wajah dokter itu yang sudah di banjiri oleh air mata.
"Lihat aku Fanya, aku tidak akan menyakiti mu," ucap James, mengelus lembut pipi Fanya.
"A-aku-"
Cup
Ciuman itu singkat, namun terasa begitu dalam dan hangat, seolah James ingin menyalurkan ketenangan ke dalam jiwa Fanya yang sedang terguncang hebat.
Fanya terkesiap, matanya terbelalak lebar, namun entah mengapa tubuhnya justru membeku, tidak ada niatan untuk mendorong pria di depannya itu menjauh.
Setelah beberapa detik, James melepaskan tautan bibir mereka, menatap lekat-lekat mata Fanya yang masih basah oleh air mata, napas pria itu terdengar berat, seolah baru saja menahan gejolak emosi yang sangat besar.
"Kenapa kamu melakukan itu?" bisik Fanya, suaranya parau, tangannya yang tadi mencengkeram setir kini perlahan turun, meski dadanya masih naik turun karena keterkejutan.
James tidak langsung menjawab, menarik napas dalam-dalam, menatap Fanya dengan tatapan yang jauh lebih lembut dari biasanya.
"Karena aku tidak tahan melihatmu ketakutan karena ku," jawab James pelan.