NovelToon NovelToon
Bukan Menantu Pilihan Umi

Bukan Menantu Pilihan Umi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Perjodohan
Popularitas:455
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

Apakah selembar kain jilbab cukup untuk menghapus masa lalu yang dianggap cacat?
Bagi Hana, pernikahan adalah gerbang lembaran suci. Namun, kenyataan menamparnya begitu menginjakkan kaki di kediaman suami. Sebagai wanita modern, ia dinilai miskin ilmu agama dan tidak bernasab terhormat. Sang Umi pun menganggapnya sebagai perusak masa depan putra kesayangan.
Kini, Hana harus menghadapi penolakan dingin dan upaya mertua mengembalikan kekasih lama suaminya. Ia hanya ingin bertahan demi membuktikan keikhlasan berbenah diri.
Jika gagal, Hana akan kehilangan pria tercinta sekaligus merelakan kesehatan jiwanya hancur. Di tengah jepitan konflik, sang suami dipaksa memilih antara bakti orang tua atau melindungi belahan jiwanya.
Akankah ketulusan Hana melunakkan kerasnya hati sang Umi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Tamu Istimewa Yang Sengaja Diundang Umi

Tamu istimewa yang sengaja diundang umi berdiri anggun di tengah serambi utama rumah tua, tepat ketika Azzam baru saja menginjakkan kakinya kembali ke kompleks pesantren setelah pengejaran yang sia sia ke kota. Jantung sang ustaz muda mencelos sewaktu melihat sosok wanita paruh baya berwajah angkuh yang duduk berdampingan dengan ibunya, ditemani oleh Sarah yang sibuk menuangkan air hangat ke dalam cangkir porselen. Atmosfer di dalam ruangan besar itu mendadak berubah menjadi sangat pekat, laksana sebuah jebakan psikologis yang memang telah dirancang secara matang untuk menyambut kepulangannya yang hampa. Di atas meja jati yang melingkar, selembar map dokumen berwarna merah marun tampak sengaja diletakkan terbuka, memamerkan deretan tulisan hukum yang membuat pandangan mata Azzam seketika mengabur.

"Duduklah dahulu, Azzam, karena ibu kandung Sarah sengaja datang jauh dari kabupaten sebelah untuk meluruskan kekacauan yang sudah istrimu timbulkan," titah Umi Kalsum dengan intonasi suara yang begitu menekan kalbu.

Azzam menghela napas panjang seraya mengepalkan jemari tangannya di balik lipatan jubah putih, berusaha mengumpulkan sisa sisa ketegasan yang sempat membuncah. "Umi, urusan rumah tanggaku dengan Hana adalah privasi yang tidak seharusnya melibatkan pihak luar, apalagi keluarga Sarah yang tidak memiliki sangkut paut secara syariat."

"Urusan ini menjadi urusan kami juga ketika nama baik putriku dicemarkan oleh menantu kotamu yang tidak beradab itu, Ustaz Azzam," sambar ibu Sarah dengan tatapan mata yang menyalang tajam.

Tuduhan sepihak yang meluncur dari bibir wanita paruh baya itu seketika memicu detak jantung Azzam berpacu jauh lebih cepat dari biasanya. Ia memandangi Sarah yang langsung menundukkan kepala dalam dalam, mengusap sudut matanya dengan sapu tangan putih seolah dirinya adalah korban paling menderita dalam badai domestik ini. Sandiwara moralitas yang tersaji di depan matanya terasa begitu memuakkan, menghancurkan sisa rasa hormat yang sempat tersisa untuk lingkungan asrama yang dahulu ia puji sebagai oasis kesucian. Azzam menyadari bahwa bungkam dalam situasi penuh kelicikan seperti ini adalah sebuah bentuk kejahatan baru yang akan semakin menjauhkan dirinya dari keadilan langit.

Sementara itu, di sebuah sudut kamar rumah orang tuanya di kota, Hana sedang duduk bersila memandangi selembar sajadah yang terhampar pasrah di atas ubin. Gawai miliknya yang diletakkan di atas kasur terus bergetar tanpa henti, memancarkan sinyal panggilan darurat dari beberapa nomor santri senior yang mengabarkan situasi terkini di kompleks surau. Kabar mengenai kedatangan tamu kehormatan yang diatur oleh mertuanya telah sampai ke telinga wanita kota itu, melahirkan seulas senyum getir di bibir pucatnya. Luka batin yang diakibatkan oleh pengusiran mental sepekan lalu kini terasa mulai mengeras, menjelma menjadi tembok pertahanan diri yang teramat kukuh dan dingin.

"Mereka boleh menyusun skenario apa saja untuk menyudutkan posisiku, namun aku tidak akan pernah lagi menyerahkan harga diriku untuk diinjak oleh ego manusia," bisik Hana lirih sembari merapikan pakaian rumahan miliknya.

Rasa sepi yang menyelimuti kamar masa kecilnya kini dirasa jauh lebih bersahabat ketimbang riuhnya ruang makan pesantren yang penuh dengan sekat kemunafikan. Hana bangkit berdiri, melangkah menuju jendela besar yang menghadap langsung ke arah jalan raya kota yang mulai dipadati oleh kendaraan sore. Ia tahu bahwa badai yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan dirinya harus menyiapkan mental yang jauh lebih tegar untuk menghadapi serangan hukum atau sosial yang mungkin dilayangkan oleh dinasti asrama. Pikirannya kini terfokus sepenuhnya pada rencana masa depan yang lebih mandiri, terbebas dari jeratan status menantu yang tidak pernah diinginkan oleh seorang ibu mertua.

Kembali ke serambi utama pesantren, ketegangan antara ibu dan anak kandung itu kian meruncing hingga memicu keheningan mencekam di antara para santri ronda yang menguping dari balik pilar bangunan. Umi Kalsum menggebrak permukaan meja jati dengan pelan namun bertenaga, menunjukkan otoritas tertingginya sebagai penguasa mutlak yayasan asrama putri.

"Azzam, hari ini juga kamu harus menandatangani surat kesepakatan keluarga ini jika kamu masih ingin dianggap sebagai putra kandungku yang saleh," tegas Umi Kalsum seraya menyodorkan map merah marun tersebut.

Azzam melangkah maju satu tapak, memandangi lembaran berkas berklausul pernikahan pengganti yang isinya secara halus memaksa dirinya untuk segera menceraikan Hana dan menikahi Sarah. "Aku tidak akan pernah menandatangani lembaran penuh kezaliman ini, bahkan jika aku harus kehilangan seluruh gelar ustaz yang melekat pada namaku."

"Apakah kamu sudah hilang akal sehat demi membela wanita kota yang bahkan sudah berani mengabaikan panggilan suaminya sejak fajar tadi?" bentak Umi Kalsum dengan wajah yang memerah padam.

Sarah perlahan bangkit dari kursinya, melangkah mendekati posisi Azzam dengan gerakan yang teramat lembut seolah ingin meredakan amarah sang lelaki pujaan. "Ustaz Azzam, tolong pikirkan kembali kesehatan Umi, jangan biarkan urusan wanita luar menghancurkan institusi suci yang sudah dibangun oleh almarhum kiai selama puluhan tahun."

"Jangan pernah menggunakan nama almarhum ayahku untuk melegitimasi ambisi pribadimu, Sarah, karena beliau tidak pernah mengajarkan cara merebut kebahagiaan rumah tangga orang lain," tukas Azzam dengan intonasi suara yang begitu dingin mematikan.

Kata kata tegas yang meluncur dari bibir sang ustaz muda seketika membuat wajah Sarah mendadak pucat pasi laksana kehilangan seluruh pasokan darahnya. Ibu Sarah yang tidak terima putrinya dipermalukan secara langsung di depan umum langsung berdiri dari duduknya, menunjuk wajah Azzam dengan jemari yang bergetar hebat menahan emosi. Umi Kalsum pun tampak terperanjat memegangi dadanya yang kembali terasa sesak, terpukul oleh kenyataan bahwa putra kesayangannya kini telah menjelma menjadi sosok pemberontak yang sukar dikendalikan. Ruang serambi utama itu menjelma menjadi medan pertempuran ego yang sangat panas, memutus segala jembatan kompromi kekeluargaan yang sempat diupayakan.

Matahari sore mulai tenggelam di balik cakrawala surau, meninggalkan semburat warna jingga yang kian mempertegas kesan suram di atas atap kompleks bangunan tua tersebut. Azzam membalikkan badannya dengan cepat, mengabaikan segala bentuk sumpah serapah dan tangisan histeris yang mulai pecah di dalam ruangan serambi utama yang mewah itu. Ia melangkah lebar menuju halaman luar, menghampiri kendaraan roda duanya dengan tekad bulat untuk segera meninggalkan tanah pesantren yang kini dirasanya telah kehilangan berkah kesucian. Fokus utamanya sekarang adalah kembali ke kota besar, mencari keberadaan Hana untuk memohon maaf secara langsung di bawah kaki sang istri sah tanpa mempedulikan lagi restu ibunya.

Perjalanan malam menyusuri jalur lintas provinsi ditempuh Azzam dengan kecepatan yang sangat membahayakan keselamatan dirinya sendiri di tengah kegelapan jalan raya. Angin malam yang berembus kencang menembus jaket tebalnya tidak mampu mendinginkan gejolak penyesalan yang kian membakar dinding dadanya yang terasa kian sempit. Setiap jengkal kenangan bersama Hana saat wanita itu berjuang menyesuaikan diri di lingkungan dapur umum pesantren kini berputar kembali dalam benaknya laksana memutar rekaman film berdarah. Sang ustaz muda menyadari bahwa dirinya telah menjadi pelaku kejahatan emosional terbesar karena telah membiarkan permata yang berharga disia siakan oleh keangkuhan silsilah keluarganya sendiri.

Sesampainya di depan pagar besi bercat putih rumah orang tua Hana saat waktu menunjukkan sepertiga malam, Azzam mendapati suasana sekitar sudah teramat sepi dari aktivitas warga. Ia mematikan mesin kendaraannya perlahan, melangkah dengan lutut yang terasa lemas menghampiri pintu kayu jati yang beberapa jam lalu sempat tertutup rapat untuk dirinya. Dengan sisa sisa keberanian spiritual yang masih tersisa, lelaki itu bersimpuh di atas lantai teras yang dingin, melipat kedua belah tangannya di atas pangkuan seraya menundukkan kepala sedalam dalamnya. Ia bertekad tidak akan bangkit dari posisinya sebelum pintu gerbang maaf dari wanita kota itu terbuka lebar untuk menyembuhkan luka lama yang menganga.

Ketika jarum jam dinding di dalam ruang tamu rumah Hana berdentang sebanyak empat kali menandakan waktu subuh telah mendekat, sebuah siluet bayangan tubuh tebal tampak bergerak dari arah dalam menuju pintu depan. Pegangan kunci pintu kayu jati itu perlahan bergerak memutar dari dalam, memecah keheningan malam yang panjang dengan suara gesekan besi yang teramat jelas terdengar oleh telinga Azzam yang sedang terjaga. Jantung sang ustaz muda berdegup sangat kencang, menanti dengan penuh kecemasan sosok siapakah yang akan muncul di ambang pintu untuk menyambut penyesalannya yang terlambat ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!