NovelToon NovelToon
Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

​Darren hanyalah sampah di mata dunia. Sebagai penagih pinjol ilegal, hidupnya habis untuk dihina debitur sombong, disiksa bos yang brengsek, hingga akhirnya dicampakkan anak-istri di titik terendah.
​Beruntung maut di sebuah gudang tua itu justru menjadi awal dari segalanya. Saat nyaris mati dikeroyok, sebuah notifikasi muncul di hadapannya:
​[Sistem Penagih Utang Akhirat Diaktifkan]
Kemudian dunia berubah menjadi deretan angka. Darren kini mampu melihat Utang Keberuntungan dan Utang Umur setiap orang. Dari pengusaha korup hingga pejabat sombong, semua memiliki utang rahasia yang tak bisa lunas dengan uang. Sedangkan Darren adalah algojo yang berhak menarik paksa semuanya.
​Dari pecundang yang dipandang sebelah mata, menjadi penguasa finansial dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Bad Mood

Darren benar-benar kelewat sibuk. Terlihat jelas bagaimana kamarnya yang luas kini telah bertransformasi menjadi semacam pusat komando darurat. Berbagai jenis dokumen berserakan di atas meja kerja yang biasanya tertata rapi berdampingan dengan laptopnya yang menampilkan puluhan tab peramban yang terbuka secara bersamaan. Belum cukup, dua layar monitor PC tambahan menyala di sisi kiri dan kanan, menampilkan grafik pergerakan saham, data keuangan yang rumit, serta profil lengkap dari beberapa perusahaan raksasa.

Darren terus berupaya menghubungkan setiap kepingan informasi berharga yang didapatnya dari Wonyoung mengenai latar belakang William Kusuma lantaran ada satu hal spesifik yang berhasil menarik perhatiannya, yakni kebiasaan unik dari ayah William yang sangat gemar berjudi. Ayah William dikenal luas sebagai manusia paling beruntung di kalangan pengusaha elit karena dikabarkan belum pernah merasakan kekalahan sekalipun dalam dunia perjudian selama puluhan tahun.

Darren sampai menyipitkan mata sembari menatap layar monitor setelah menyadari bahwa tidak ada yang namanya keberuntungan terus-menerus tanpa adanya bantuan tertentu di balik layar. Pasti ada sesuatu yang tidak wajar di balik rentetan kemenangan itu.

Sembari jari-jarinya terus bergerak di atas keyboard, Darren menjepit ponsel di antara telinga dan bahunya. Panggilan telepon dengan ibunya sudah berlangsung cukup lama. Ibu Lastri sebenarnya sudah keluar dari rumah sakit sejak beberapa waktu yang lalu, dan Darren sudah menjenguknya saat itu. Namun, sang ibu tetap terlihat sangat bersemangat menceritakan rutinitas kegiatan sehatnya di rumah.

“Kamu sudah sukses sekarang, Nak. Ibu benar-benar bangga melihatmu,” kata Lastri dengan haru.

Tak ada yang lebih baik untuk dilakukan Darren selain menyunggingkan senyuman tulus. “Ibu jangan terlalu lelah melakukan pekerjaan rumah. Nanti aku akan kirim lebih banyak uang lagi supaya Ibu bisa beli banyak makanan enak.”

“Jangan kirim terlalu banyak, Nak. Nanti malah jadi kebanyakan uang di sini,” kata Lastri.

“Tidak ada istilah uang kebanyakan kalau itu untuk Ibu,” balas Darren dengan senyum yang lebih lebar.

Lastri kemudian bercerita mengenai kondisi bibi Ayu atau adiknya yang tinggal di rumah yang sama bersama anak-anaknya. Ada sebuah kejadian lucu yang baru saja terjadi setelah salah satu sepupu Darren yang masih kecil sempat menyembunyikan menyembunyikan gigi palsu kakeknya karena anak itu mengira itu adalah harta karun dari acara TV yang sering dia tonton.

Sementara Darren tertawa kecil membayangkan kekacauan di rumah ibunya. “Apakah Bibi masih sering marah-marah seperti dulu?”

“Sering, Nak. Tapi kamu tahu sendiri, dia marah-marah begitu karena memang sayang pada kami semua,” jawab Lastri, lalu mengutarakan harapannya agar Darren bisa meluangkan sedikit waktu untuk pulang. “Sudah lama sekali kita semua tidak berkumpul lengkap di meja makan.”

Saat Darren hendak menanggapi permintaan itu, tiba-tiba terdengar suara gaduh dari sambungan telepon. Bunyi guyuran air yang sangat deras terdengar menghantam permukaan, mirip seperti suara hujan lebat yang mengguyur genting rumah.

“Bu, apakah di sana sedang turun hujan deras?” tanya Darren dengan ekspresi yang berubah cemas.

“Iya, Nak. Hujannya sudah turun dari sore tadi. Karena deras sekali, beberapa bagian genting kita bocor. Sekarang Ibu harus menyiapkan ember di tiga titik berbeda,” jelas Lastri.

Karena itulah Darren terdiam, pikirannya melayang membayangkan kondisi rumah tua ibunya dan menyadari bahwa dirinya sangat membutuhkan rumah baru yang lebih layak untuk sang ibu, bibi, dan sepupu-sepupunya. Bagaimana mungkin dia bisa melupakan hal yang sangat mendasar seperti itu?

“Bodohnya aku. Dengan uang miliaran di tangan, aku masih membiarkan Ibu tinggal di rumah yang bocor setiap kali hujan turun,” batin Darren sembari merutuki kelalaiannya sendiri.

Dia menggelengkan kepala sebelum kembali berbicara pada Lastri. “Bu, nanti aku telepon lagi ya. Ibu sebaiknya segera istirahat saja.”

“Iya, Nak. Jaga kesehatanmu baik-baik di sana. Ibu selalu mendoakan yang terbaik untukmu,” kata Lastri menutup pembicaraan.

“Ibu juga harus sehat. Aku tidak mau melihat Ibu kembali ke rumah sakit lagi.”

Panggilan itu pun berakhir.

Darren meletakkan ponselnya di atas meja sedangkan tatapannya beralih ke jendela kamar yang besar. Bagaimana di luar sana, lampu-lampu kota Jakarta terlihat indah. Kota ini memang seolah tidak pernah tidur. Layar transparan sistem pun muncul di hadapannya tanpa diminta. Darren sudah mulai terbiasa dengan kemunculan mendadak ini.

Level 2. Batas tagihan 10 persen. Radius deteksi 1 kilometer. Saldo Debit Kolektor 245 DK. Saldo Rekening Sistem Rp7,93 miliar.

Darren tersenyum melihat angka saldo itu. Jumlahnya terus bertambah secara konsisten karena setiap hari selalu ada target baru dan aliran uang yang masuk ke rekening sistemnya. Namun seketika itu juga, pintu kamarnya diketuk dari luar dan Darren segera berbalik. Biasanya hanya Seo yeon yang berani mengetuk pintu kamarnya pada jam selarut ini.

Setelah pintu dibuka, ternyata bukan Seo yeon yang berdiri di sana, melainkan Shinta dengan sikap yang sedikit gugup sembari mengenakan seragam pelayannya yang tertata sangat rapi.

Shinta terlihat sedikit takut untuk memberikan penjelasan. Tangannya bergerak dengan sangat cepat, melakukan serangkaian gerakan bahasa isyarat yang sama sekali tidak Darren mengerti. Beberapa detik berlalu dengan kebingungan, lalu Shinta menundukkan kepalanya lagi, tampak merasa sangat malu karena tidak bisa berkomunikasi dengan lancar.

Darren menghela napas pendek. “Maaf Shinta, aku benar-benar belum paham dengan isyarat tanganmu itu.”

Shinta memberikan anggukan kecil. Dia segera mengeluarkan ponsel dari saku seragamnya, mengetikkan barisan kalimat dengan tempo yang cepat, lalu menunjukkan layarnya kepada Darren.

“Saya membuatkan camilan untuk Mas Darren. Ada pisang goreng dan teh jahe hangat. Semoga Mas menyukai masakan saya,” tulis Shinta di layar ponselnya.

Darren melirik nampan kecil yang dibawa oleh Shinta. Beberapa potong pisang goreng masih terlihat sangat hangat dengan asap tipis yang mengepul dari permukaannya. Teh jahe di dalam gelas kaca itu juga memiliki warna kecokelatan yang pekat. Hal ini sebenarnya sudah menjadi semacam rutinitas baru. Setiap malam, Shinta selalu mengantarkan camilan ke kamar Darren. Karena sejak gadis itu mulai bekerja di penthouse, dia merasa memiliki kewajiban untuk melakukan sesuatu sebagai bentuk permintaan maaf atas keterlibatannya dalam rencana Herman dahulu.

Padahal, Darren sendiri sudah memaafkannya sejak lama dan bahkan sudah melupakan kejadian pahit tersebut. Namun, Shinta seolah terus memaksakan dirinya untuk melayani Darren, dan gadis itu terlihat sangat bahagia jika Darren menyukai masakannya. Alhasil, Darren mengambil sepotong pisang goreng dan segera menggigitnya. Rasanya sangat renyah, manis, dan hangat di tenggorokan.

“Enak sekali, Shinta. Rasanya jauh lebih enak dibandingkan yang kemarin,” puji Darren dengan tulus.

Shinta menyunggingkan sebuah senyuman paling lebar yang pernah Darren lihat muncul dari wajah gadis itu. Akan tetapi suara langkah kaki terdengar mendekat dari arah koridor. Seo yeon muncul sembari memegang gelas kosong, jelas sekali dia baru saja selesai mengambil air dari area dapur.

“Kalau begini ceritanya, rasanya jadi tidak enak juga pada Shinta yang sebenarnya tidak tahu apa-apa soal situasi di kantor,” gumam Darren dalam hati.

Seo yeon mengamati Shinta dengan saksama, lalu pandangannya beralih pada nampan camilan yang masih dipegang Darren. Alisnya terangkat sedikit, memberikan tatapan curiga.

“Sudah larut malam, tapi kamu masih saja menyantap pisang goreng,” kata Seo yeon dengan datarnya seperti biasa. “Gorengan seperti itu mengandung banyak lemak jenuh yang sama sekali tidak baik untuk metabolisme tubuh jika dikonsumsi di atas pukul sembilan malam. Belum lagi teh jahe yang ditambahkan gula itu. Hal itu bisa menyebabkan gangguan pada sistem pencernaan dan meningkatkan risiko diabetes jika dikonsumsi secara rutin dalam jangka panjang.”

Karena penjelasan dadakan itu, Shinta seketika menundukkan kepala dalam-dalam karena tidak memiliki keberanian untuk membantah ucapan sang majikan.

“Belum lagi masalah kolesterol,” lanjut Seo yeon tanpa henti. “Pisang goreng itu digoreng dengan minyak yang kemungkinan besar sudah digunakan berulang kali. Belum lagi efek buruknya terhadap kualitas istirahatmu. Makan terlalu dekat dengan jam tidur akan membuat sistem pencernaan dipaksa bekerja lebih keras saat seharusnya tubuh beristirahat.”

Shinta membungkukkan badannya dengan patuh. Dia segera meraih kembali nampan dari tangan Darren, bersiap untuk segera pergi dari sana.

“Tunggu sebentar,” perintah Seo yeon dengan tegas. “Kupaskan satu buah apel untukku sekarang. Bawa ke ruang tengah dan ingat, jangan sampai menyisakan kulitnya sedikitpun.”

Shinta memberikan anggukan cepat, lalu segera melangkah menuju dapur dengan gerakan yang terburu-buru. Seo yeon kemudian mengalihkan tatapan tajamnya kepada Darren dan pria itu hanya bisa membisu, memang dia sudah sangat terbiasa dengan gaya bicara bosnya yang selalu merasa superior dalam segala hal.

“Sekarang mari kita bicara serius mengenai perkembangan William Kusuma,” ujar Seo yeon. “Bagaimana hasil pengamatanmu terhadapnya sejauh ini?”

Darren menarik napas panjang. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menceritakan soal transaksi ilegal yang dilihatnya di pelabuhan demi menjaga kesepakatannya dengan Wonyoung.

“Sejauh pengamatanku, dia orang yang cukup baik dan sangat profesional dalam urusan bisnis, Nona,” jawab Darren sebisanya.

“Apakah menurutmu dia terlibat dalam bisnis ilegal atau jaringan gelap tertentu?” tanya Seo yeon lagi.

“Setahu saya, sejauh ini profilnya masih terlihat bersih,” kata Darren dengan tenang.

Seo yeon sempat menatap Darren dengan sangat tajam, seolah sedang berusaha menembus isi kepalanya. “Lalu kenapa aku mendapatkan laporan bahwa kamu pergi menuju kawasan pelabuhan kemarin sore? Aku yakin kunjunganmu itu bukan untuk urusan proyek properti yang kita jalankan, bukan?”

Darren sedikit kaget karena merasa terpojok. “Aku hanya sedang melakukan survei lokasi tambahan untuk mencari peluang proyek baru di masa depan.”

“Setahuku, kita sama sekali tidak memiliki rencana proyek baru di kawasan pelabuhan tersebut,” balas Seo yeon dengan cepat.

Lantas Darren telah benar-benar kehabisan kata-kata untuk membela diri. Sementara Seo yeon terus menghujaninya dengan tatapan curiga yang mengintimidasi.

“Baiklah, satu pertanyaan lagi yang jauh lebih penting. Apa yang sebenarnya kamu lakukan saat berduaan dengan adikku di dalam ruangannya kemarin? Wonyoung dikenal sebagai orang yang sangat berhati-hati jika harus bertemu dengan pria secara pribadi,” cecar Seo yeon dengan tatapan yang menusuk. “Apa yang sebenarnya sedang terjadi di antara kalian?”

Bagai tersambar guntur paling mematikan, Darren merasa sangat kikuk dan suasana pun mendadak canggung baginya. Dia benar-benar tidak tahu harus memberikan jawaban seperti apa sementara suasana hati Seo yeon tampak sedang berada di titik terendahnya. Salah berucap sedikit saja, Darren sadar bahwa konsekuensinya bisa berakibat sangat fatal bagi posisinya.

1
Bg Gofar
mantap gan
DanaBrekker: terima kasih 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!