NovelToon NovelToon
Pergi Sakit Bertahan Sulit

Pergi Sakit Bertahan Sulit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Rahayu

Cinta adalah anugerah... tapi bagaimana jika cinta harus kamu berikan pada orang lain?

Aletta syavira levania dan Dilan Wijaya Kusuma saling mencintai sejak SMA – cinta yang tumbuh perlahan seperti bunga di musim hujan. Namun ketika sahabatnya Tamara Amelia Siregar mengaku jatuh cinta pada Dilan untuk pertama kalinya, Aletta membuat keputusan berat, melepaskan orang yang dicintainya demi menyenangkan sahabatnya.

"Dia butuh kesempatan, aku mohon Dilan, aku jaminan kamu akan lebih bahagia sama dia." Ucapnya dengan nada yang memelas sampai Dilan pun tak tega untuk menolaknya

Untuk memenuhi janjinya, Aletta mencari cinta baru melalui media sosial dan bertemu Jonathan Adista sanjaya. Sementara itu, Dilan dengan berat hati menjalin hubungan dengan Tamara. Di depan orang lain, semuanya terlihat sempurna – dua pasangan yang harmonis dan bahagia. Namun di balik senyum dan candaan, setiap tatapan Aletta dan Dilan menyimpan rasa rindu yang tak bisa disembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Keesokan harinya, langit tampak mendung dan agak kelabu, seolah turut merasakan suasana hati Aletta yang sedang berat dan kacau.

Sejak kemarin sore, setelah kejadian di mana mereka berpisah, sama sekali tidak ada pesan, telepon, atau kabar apa pun yang datang dari Jonathan.

Biasanya, sedetik pun tak berlalu tanpa ada sapaan atau tanya kabar darinya, tapi kemarin rasanya dunia Aletta menjadi hening total. Rasa bingung, kecewa, dan sedikit khawatir perlahan merayap masuk ke dalam hatinya.

“Apa dia marah? Apa dia sakit? Atau dia sudah tidak peduli lagi?” Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya sepanjang malam, membuatnya sulit terlelap.

Pagi itu, saat Aletta baru saja melangkah keluar pagar rumah dengan langkah yang gontai, terdengar suara klakson motor yang memecah keheningan pagi.

Di sana, terlihat Diego yang selalu ramah dan perhatian, sedang duduk di atas motornya sambil melambaikan tangan.

“Aletta! Hei, mau berangkat ke puskesmas kan? Ayo naik, gue sekalian lewat sini,” seru Diego dengan nada ceria, berusaha mencairkan suasana.

Aletta tersenyum tipis, senyum yang tak sampai ke mata, lalu mengangguk pelan. Dia naik ke belakang motor Diego, dan seketika itu juga rasa sepi dan kosong di hatinya terasa semakin terasa.

Biasanya, tempat ini, perjalanan ini, selalu ditemani oleh Jonathan. Dan biasanya, obrolan mereka akan terdengar riuh dan penuh canda tawa. Tapi hari ini, hening.

Sepanjang jalan, Diego sepertinya bisa merasakan perubahan suasana hati Aletta. Dia mengendarai motornya dengan tenang, lalu perlahan membuka percakapan sambil sesekali menoleh ke belakang.

“Kok sendirian aja loh, Al? Mana Jonathan? Biasanya dia yang paling pertama ada di depan rumah nungguin loh, bahkan sebelum loh bangun tidur,” tanya Diego pelan, nada bicaranya penuh rasa ingin tahu namun hati-hati.

Tangan Aletta meremas pelan ujung baju Diego, menatap punggung teman itu dengan pandangan yang sayu.

“gue juga nggak tahu, Diego...” jawab Aletta lirih, suaranya terdengar berat dan penuh kebingungan.

“Sejak kemarin sore kita pisah, dia nggak ada kabar sama sekali. Nggak ada pesan, nggak ada telepon, nggak ada apa-apa. Padahal biasanya..." Ucapnya tertahan

"Biasanya Handphone gue bakal berisik banget dari pagi sampai malam gara-gara dia. Rasanya aneh banget hari ini, rasanya ada yang hilang gitu aja. Gue jadi bingung, dia kenapa ya? Apa ada hal buruk yang terjadi?”

Diego menghela napas panjang, lalu tersenyum lembut berusaha menenangkan gadis di belakangnya.

“Tenang aja ya, Al. Mungkin dia lagi ada urusan mendadak, atau ada hal penting yang harus diselesaikan sampai lupa waktu. Loh kan tahu sendiri, Jonathan itu orangnya kalau lagi fokus sama sesuatu, kadang dia lupa sama dunia luar. Nanti juga dia datang kok, pasti ada alasan jelas kenapa dia menghilang. Loh jangan terlalu dipikirin ya, nanti loh sakit sendiri.”

Kata-kata Diego memang menenangkan, tapi di lubuk hati yang paling dalam, rasa cemas itu tetap ada, menumpuk dan tumbuh semakin besar.

Waktu berlalu begitu lambat di puskesmas hari itu. Aletta berusaha sekuat tenaga untuk fokus pada pekerjaannya, memeriksa pasien, mencatat data, dan memberikan pelayanan terbaik seperti biasa.

Namun, setiap kali ada jeda waktu, setiap kali dia memegang ponselnya, rasa kecewa itu kembali datang menyapa.

Jam dinding di ruangan sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Waktunya istirahat. Biasanya, jam-jam ini adalah saat yang paling ramai di ponsel Aletta. Notifikasi demi notifikasi akan muncul terus-menerus, semuanya dari satu nama Jonathan.

Mulai dari pesan sederhana seperti “Kamu udah makan belum?”, “Jangan lupa minum air ya”, sampai pesan-pesan candaan yang lucu atau sekadar “Aku kangen”. Handphone Aletta biasanya akan berbunyi terus sampai dia merasa terganggu tapi bahagia.

Tapi hari ini... hening. Sama sekali tidak ada bunyi, tidak ada cahaya layar yang menyala, tidak ada pesan masuk. Layar ponselnya hanya gelap, sunyi senyap.

Aletta duduk sendirian di bangku panjang teras belakang puskesmas, memegang ponselnya erat-erat di tangan. Matanya menatap layar yang mati itu lekat-lekat, seolah berharap dengan tatapan itu pesan dari Jonathan akan tiba tiba muncul. Dadanya terasa sesak dan perih.

“Biasanya dia bakal marah kalau gue telat balas pesan, tapi sekarang dia yang hilang tanpa kabar,” batin Aletta, menahan rasa sakit yang mulai menjalar.

“Apa dia beneran marah kemarin? Apa dia beneran nggak peduli lagi sama aku? Rasanya sakit banget kalau harus kehilangan perhatiannya kayak gini...”

Dia mencoba menelepon berkali-kali, namun panggilannya selalu masuk ke pesan suara. Dia mengirim pesan, tapi tak ada balasan. Rasa kecewa perlahan berubah menjadi rasa takut yang besar.

Aletta mulai berpikir yang tidak-tidak, khawatir kalau ada hal buruk yang menimpa Jonathan, atau kalau hubungan mereka yang selama ini hangat tiba-tiba berubah menjadi dingin begitu saja. Hari itu terasa menjadi hari terpanjang dan terberat yang pernah dia lalui.

Jam kerja pun akhirnya selesai. Aletta berjalan keluar gerbang puskesmas dengan langkah yang sangat pelan, bahunya terasa berat sekali.

Dia berniat berjalan pulang saja, rasanya tak ada semangat untuk menunggu atau menumpang kendaraan siapa pun.

Namun, begitu dia menoleh ke samping, matanya langsung menangkap sosok yang selama ini dia cari dan dia tunggu-tunggu seharian.

Di sana, Jonathan berdiri bersandar pada motornya. Wajahnya terlihat sangat kacau, pucat, dan lelah yang luar biasa.

Matanya terlihat sayu, lingkaran hitam di bawah matanya terlihat jelas, rambutnya berantakan, dan bajunya sedikit kusut. Begitu melihat Aletta, wajah Jonathan langsung berubah, campuran rasa lega, bersalah, dan sedih bercampur jadi satu.

Dia langsung berjalan cepat menghampiri Aletta, tangannya gemetar saat ingin menyentuh lengan gadis itu.

“Al... Aletta... maafin aku...” suara Jonathan keluar serak dan berat, hampir tak terdengar. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak berani menatap mata Aletta.

“Maafin aku ya... aku minta maaf banget udah bikin kamu nunggu, udah bikin kamu khawatir, udah hilang tanpa kabar seharian ini. Aku tahu aku salah banget, aku tahu kamu pasti marah dan kecewa sama aku. Maafin aku ya...”

Aletta menatap wajah lelah Jonathan, rasa marah dan kecewanya perlahan hilang berganti rasa khawatir melihat kondisi pria itu. Dia menghela napas panjang, lalu bertanya dengan suara pelan namun masih menyimpan sisa kekecewaan.

“Kamu ke mana aja sih, Jo? Kenapa nggak ngabari sama sekali? Kamu tahu nggak rasanya gimana nungguin kabar dari orang yang biasanya ada terus di samping kita? Rasanya kayak ada yang kurang, rasanya bikin takut banget. Kamu ada masalah apa? Kenapa wajahmu kayak gini?”

Jonathan mengangkat wajahnya perlahan, matanya berkaca-kaca menatap Aletta dengan rasa bersalah yang mendalam.

“Aku sibuk cari donor darah, Al... buat Papah... buat Papahku,” jawab Jonathan pelan, suaranya bergetar saat menyebut nama papahnya.

“Tadi pagi Papah tiba-tiba kambuh sakitnya, harus segera ditangani dan butuh transfusi darah. Golongan darahnya AB, Al... dan pas aku cek ke rumah sakit, stok darah golongan AB kosong sama sekali. Nol. Aku panik banget, aku bingung harus ke mana lagi."

"Aku langsung lari ke PMI, berharap di sana ada stok cadangan. Tapi sialnya... pas aku sampai sana, jam operasionalnya udah habis, kantornya udah tutup karena jam istirahat. Aku keliling dari rumah sakit ke PMI, dari PMI balik lagi ke rumah sakit, telepon sana-sini minta tolong cari donor... aku sibuk banget sampai aku beneran lupa sama Handphone aku, lupa sama kewajiban aku ngabarin kamu. Aku beneran nggak bermaksud nyakitin atau bikin kamu khawatir, Al... aku cuma takut kalau ada apa-apa sama Papah...”

Mendengar penjelasan itu, hati Aletta seketika luluh. Semua rasa kecewa yang tersisa lenyap begitu saja digantikan rasa iba dan empati yang besar. Dia bisa melihat betapa berat beban yang dipikul Meldi sendirian hari ini.

“Ya Allah... Jo... kamu nggak bilang-bilang dari tadi,” ucap Aletta lembut, tangannya terangkat menyentuh pipi pucat Jonathan.

“Kamu pasti capek banget ya? Pasti panik dan bingung banget sendirian? Maafin aku ya kalau aku sempat marah, aku nggak tahu situasinya segawat itu. Ayo... sekarang ajak aku ke rumah sakit, Jo. Aku punya golongan darah AB juga, kan? Aku mau donor buat Papah kamu.”

Mata Jonathan terbelalak kaget, lalu seketika itu juga air matanya jatuh membasahi pipinya. Dia menggenggam tangan Aletta dengan erat, seolah menemukan penyelamat di tengah keputusasaannya.

“Beneran, Al? Kamu mau? Kamu mau bantuin Papah? Terima kasih... makasih banget Aletta... kamu beneran malaikat buat aku...”

Mereka pun segera bergegas ke rumah sakit tempat Yuda dirawat. Di ruang inap yang bersih namun sederhana, terbaring seorang pria paruh baya yang tampak sangat lemah dan kurus.

Itu adalah Yuda, ayah Jonathan. Napasnya terlihat berat dan tidak beraturan, wajahnya pucat pasi, menunjukkan betapa tubuhnya sedang berjuang melawan penyakit yang dideritanya bertahun-tahun lamanya.

Dengan tenang dan penuh ketulusan, Aletta menjalani prosedur donor darah. Dia berbaring di kursi periksa, membiarkan darahnya mengalir masuk ke dalam tubuh Yuda.

Selama proses itu, Jonathan duduk di sampingnya, tak pernah melepaskan genggaman tangannya. Matanya menatap Aletta lekat-lekat, penuh rasa syukur, haru, dan rasa bahagia yang tak terlukiskan.

Bagi Jonathan, apa yang dilakukan Aletta saat ini bukan sekadar mendonorkan darah, tapi dia sedang mendonorkan harapan, nyawa, dan kebahagiaan baginya.

Setelah selesai dan dokter menyatakan bahwa kondisi Yuda perlahan mulai membaik dan stabil, Jonathan membawa Aletta duduk di kursi tunggu lorong rumah sakit.

Dia menatap Aletta dalam-dalam, lalu perlahan memegang kedua bahu gadis itu dengan kedua tangannya.

“Al... aku nggak tahu lagi harus ngomong apa sama kamu,” ucap Jonathan dengan suara bergetar namun penuh rasa bahagia yang meluap. Matanya berbinar indah.

“Kalau nggak ada kamu hari ini, aku nggak tahu harus gimana. Aku beneran udah buntu, udah nggak tahu harus cari ke mana lagi. Tuhan kirim kamu ke sini, kirim kamu buat bantuin aku, buat bantuin Papah aku."

"Aku bahagia banget, Al... bahagia banget rasanya lihat Papah sekarang udah agak lebih segar, udah lebih tenang napasnya. Dan semua itu gara-gara kamu. Aku bersyukur banget... bersyukur banget bisa kenal kamu, bisa ada kamu di hidup aku. Kamu udah kayak penyelamat buat aku dan Papah.”

Aletta tersenyum lembut, mengusap pelan tangan Jonathan yang masih bergetar karena emosi.

“Udah lah, Jo... nggak usah ngomong gitu. Kita kan dekat, kita kan saling peduli. Kalau aku ada di posisi kamu, kamu pasti bakal lakuin hal yang sama buat aku kan?."

"Papah Yuda adalah orang baik, Jonathan. Dia pasti bakal sembuh dan kuat terus. Aku senang banget bisa bantu, aku senang banget lihat kamu senyum lagi. Jangan dipikirin berat-berat ya, kita hadapi bareng-bareng apa pun yang terjadi.”

Di saat itu, di lorong rumah sakit yang sepi itu, ikatan hati mereka terasa semakin kuat dan dalam.

Saat suasana mulai tenang, Jonathan mengajak Aletta duduk kembali di dekat Yuda yang sudah tertidur pulas. Dia menatap wajah ayahnya yang tua dan penuh kerutan itu dengan pandangan yang penuh kasih sayang namun juga penuh kepedihan. Perlahan, dia mulai membuka cerita tentang keluarganya, sesuatu yang jarang sekali ia ceritakan pada siapa pun.

“Al... kamu tahu nggak? Papah itu satu-satunya duniaku,” ucap Jonathan pelan, suaranya rendah namun penuh makna.

“Keluarga aku... sebenarnya nggak utuh dan nggak bahagia kayak keluarga orang lain. Kamu tahu kan Mamahku, Dia itu model, sering banget ada di majalah-majalah, sering syuting ke mana-mana, terkenal dan cantik. Tapi... kesibukan itu bikin dia lupa sama rumah, lupa sama suami, lupa sama anaknya.”

Jonathan menghela napas panjang, menahan rasa sakit saat mengingat hal itu.

“Sejak aku kecil, aku jarang banget rasain kasih sayang seorang ibu. Mamah sibuk terus. Sibuk syuting, sibuk jalan-jalan, sibuk sama dunianya sendiri. Kalau di rumah, dia sama Papah sering banget beda pendapat, sering dingin, jarang ngobrol. Rasanya rumah ini sering banget sepi dan dingin. Mamah lebih sering pergi berbulan-bulan daripada di rumah. Dulu aku sering banget nangis diam-diam, heran kenapa mamah aku sendiri nggak pernah punya waktu buat aku.”

Aletta mendengarkan dengan saksama, hatinya terasa teriris mendengar kisah pahit itu. Dia menyandarkan kepalanya ke bahu Meldi pelan, memberi kekuatan.

“Cuma Papah... cuma Papah yang ada buat aku, Al,” lanjut Jonathan, air matanya kembali menetes jatuh.

“Papah meskipun sakit-sakitan, meskipun tubuhnya lemah, meskipun dia nggak punya harta banyak... tapi dia orang yang paling baik, paling sabar, dan paling penyayang sedunia."

"Dulu waktu aku kecil, pas Mamah pergi lagi, Papah yang bangunin aku pagi-pagi, Papah yang siapin makanan, Papah yang duduk di sebelah aku pas aku sakit, Papah yang dengerin semua curhatan aku."

"Dia yang ngasih aku semua kasih sayang yang kurang dari Mamah. Dia yang berdiri sendiri ngurus aku, ngurus rumah, meskipun dia sendiri juga lagi berjuang lawan penyakitnya.”

Jonathan menatap Aletta dengan pandangan yang dalam dan tulus.

“Makanya, Al... Papah itu segalanya buat aku. Dia satu-satunya keluarga lengkap yang aku punya. Kalau ada apa-apa sama Papah, rasanya dunia aku bakal runtuh habis."

"Makanya aku panik banget tadi. Aku nggak mau kehilangan dia. Aku cuma punya dia. Dan sekarang... ada kamu juga. Kamu sama kayak Papah, kamu orang yang paling berharga dan paling tulus yang pernah aku kenal. Makasih ya, udah mau jadi bagian dari hidup aku, dan mau juga sayang sama Papah kayak papah kamu sendiri.”

~be to continuous~

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!