Kayla dan Arka terjebak dalam hubungan friends with benefits yang nggak pernah punya arah. Buat Arka, Kayla cuma tempat pulang saat lagi kesepian. Tapi buat Kayla, Arka adalah orang yang diam ia cintai selama bertahun tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahendra Andhika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11.
Kelas begitu sepi, hanya suara guru sibuk menjelaskan materi, beberapa murid fokus mencatat. Kayla yang dari tadi berusaha untuk tidak kembali memikirkan Arka memilih untuk tidur dikelas.
Dari belakang Naya mendengus kesal, bagaimana Kayla bisa tenang tidur sementara guru ada dikelas, pasti terjadi sesuatu pada sahabatnya ini pikir Naya.
Naya mulai mendorong mejanya semakin dekat dengan kursi Kayla lalu menendang kakinya ke kursi Kayla sedikit memberi goyangan agar Kayla bangun.
"Kay.. Kayla bangun." Suara Naya pelan ia sibuk menggerakkan kursi Kayla hingga botol minumnya berbahan stainless itu terjatuh dari meja saking grasak grusuknya Naya.
Takk..
Suara nyaring dari benda jatuh tersebut mengalihkan pandangan dari semua orang dikelas, Naya tersenyum canggung mengambil botol minumnya.
Sang guru pun tak luput melihat Naya.
"Naya Anjani, apa yang kamu lakukan?." Ucap guru yang mengajar fisika tersebut, sang guru lelaki dengan rambut cepaknya itu menatap tajam Naya.
"Dan kamu Kayla Anindya, kenapa tidur di jam pelajaran saya?!." Guru tersebut berjalan ke arah Kayla, tepat dihadapan Kayla sang guru menepukkan penggaris kayu ke meja Kayla membuat Kayla bangun tersentak.
"E-eh bapak, anu itu saya ngga sengaja jatuhin botol pak, mau minum tadi Pak." Naya langsung merinding takut melihat tatapan tajam sang guru, melihat ngeri ke arah Kayla yang bangun masih keadaan linglung, membuat Naya menepuk jidatnya.
"Eum, K-kenapa?." Kayla yang masih pusing karena bangun mendadak melihat aneh ke arah orang dikelas.
"Membuat kebisingan lalu tidur dijam pelajaran saya, bagus sekali kalian berdua."
Kringg
Baru saja hendak melanjutkan kalimatnya suara bel tanda jam istirahat telah tiba, membuat sang guru menghela napas.
"Huhh.. Kalian aman kali ini, sampai disini pelajaran kali ini, silahkan istirahat." Sang guru menuju mejanya langsung membereskan barangnya dan meninggalkan kelas.
...---...
"Kayla!! lo tuh kenapa tidur tau ngga? ngga biasanya lo tidur dikelas, dari tadi gue goyangin tuh kursi kebo banget!." Naya mengomel melihat Kayla tadi apalagi malu saat ketahuan guru dilihat orang sekelas lagi, untungnya tidak ada geng Arka, mereka tidak masuk kelas lagi kali ini, kalau ada pasti tambah malu lah Naya.
"Kayla! lo denger ga sih?! kenapa sih dari tadi pagi melamun mulu!!." Naya menjitak kepala Kayla kesal, pasalnya Kayla ini dari tadi dia ngoceh tidak sama sekali memperhatikan.
"Akh, sakit Nay, aku gapapa kok, cuma ngantuk aja ngga tidur malem tadi sibuk belajar hehe."
"Bentar lagi kan mau ulangan akhir Nay, mending aku belajar." Kayla sedikit berbohong namun tidak sepenuhnya berbohong kok, ujian akhir semester memang sebentar lagi akan dimulai. Berusaha meyakinkan Naya dengan nada memelasnya.
Naya mendengus kesal lalu menarik tangan Kayla cepat.
"Yuk ah, kita ke kantin nanti abis jam istirahatnya." Mereka berdua berjalan beriringan.
...---...
Naya yang dari tadi berceloteh mengenai pelajaran hari ini, namun Kayla tidak mendengarkannya, pikiran Kayla terlalu kosong, sakit hati, merasa diduakan menjadi satu, padahal harusnya ia terbiasa dengan seperti ini, harusnya. Namun seperti biasa Kayla akan menerimanya, ntah kapan Arka akan selesai dengan Clarissa.
"Kay, sumpah ya tadi tu fisika ngga masuk banget di otak gue, eh kay? Kayla?!." Naya menoleh ke arah Kayla, mereka tetap berjalan. Naya tak tahan ia kepo apa yang sebenarnya membuat Kayla linglung dari tadi pagi.
"Kayla, lo dengerin gue ga sih??! lo kalo ada masalah bilang ke gue ya Kay, dari pagi tadi loh lo kayak gini." Suara Naya sangat terdengar peduli.
"E-ehh iya Nay, sorry ya.." Akhirnya mereka kembali berjalan tanpa sadar keasikan ngobrol salah satu dari mereka menabrak seseorang.
Bruk
"Akh." Kayla hampir terjatuh namun tubuhnya langsung ditahan oleh seorang cowok dengan paras tak kalah tampan dari Arka.
"S-sorryy.." Kayla sedikit gugup ditatap seperti itu, ia sedikit menjauhkan badannya namun tangannya masih ditahan sama cowok itu.
"Gue yang salah." Suara cowok itu berat, Kayla melihat nama di seragam cowok itu Dimas Sadewa, Kayla tak pernah mendengar nama cowok ini.
"Lo gapapa?." Dimas berdiri dihadapannya, tingginya sedikit diatas Kayla membuatnya menunduk sedikit, wajahnya tenang namun khawatir juga, matanya fokus ke Kayla memastikan bahwa perempuan didepannya ini baik baik aja.
Dimas mulai memeriksa Kayla, padahal hanya menabrak tidak sampai jatuh, namun ia mengecek dari tangan Kayla sampai wajah Kayla, lalu membawa kedua tangannya ke pipi Kayla membuat pipi Kayla mengembung seketika.
"Iyaa, aku gapapa kok." Kayla mengangguk cepat
"Dimas, Dimas Sadewa." Cowok itu mengulurkan tangan ke arah Kayla, seperti kode ingin berkenalan dan menjabat tangan.
"Kayla, Kayla Anindya." Kayla sempat ragu seperkian detik, lalu membalas dengan malu tangan Dimas.
Setelah mereka menjabat tangan cukup lama belum lepas juga, bukan ngga mau lepas tapi Dimas yang terus nahan tangan lembut Kayla, senyum Dimas keluar begitu tenang, Kayla melihat senyuman manis terpesona mungkin.
Hingga tiba tiba seseorang memisahkan mereka, Naya memisahkan jabatan mereka, dan menjulurkan tangannya ke Dimas tanpa malu.
"Naya, Naya Anjani." Ucap Naya sambil tersenyum lebar, sementara Dimas memandangnya aneh.
"Dimas." Balas Dimas singkat sambil memutar malas kedua bola matanya.
"W-what?! gitu doang jir." Naya cemberut menarik Kayla kembali, tujuan mereka ke kantin jangan sampai terlupakan, sepertinya akan ada couple baru abis ini.
Baru aja beberapa langkah jalan, pergerakkan mereka terhenti, Dimas memegang tangan Kayla menahannya.
"Mau kemana?." Dimas mengikuti mereka
"Ke WC, mau ngintip lo?!." Balas Naya ketus sambil sok sok an menatap tajam.
"Boleh." Balas Dimas tenang.
Naya shock mendengar jawaban dari Dimas, ia paling tidak suka sama cowok mesum. Lantas Naya siap siap akan meninju Dimas namun ditahan oleh Kayla.
"Mesuuummm!!!!!, ngapain sih jauh jauh sana!!!.." Naya memekik kesal.
"Berisik Nay." Kayla menghela napas.
"Kita mau ke kantin, mau ikut." Kayla menatap Dimas, membenarkan ucapan Naya tadi.
"Oke, gue bareng ya." Akhirnya mereka bertiga berjalan bareng.
"Gue murid baru disini, tadi nyari ruang kepala sekolah ga nemu, eh malah ketemunya cewek cantik kayak lo." Dimas membuka obrolan, ia murid pindahan dari sini jadi belum hapal lingkungan sekolah.
"Pindahan dari mana?." Balas Kayla, mereka berdua mengobrol melupakan satu makhluk juga ada disana, Naya menghela napas kesal, jadi nyamuk gini amat.
"Dari Bandung, ngikut papa pindah kerja kesini." Dimas menjawab, tangannya memegang tangan Kayla, Kayla yang tak sadar hanya membalas membuat mereka akhirnya bergandengan tangan.
"Bandung?!, serius? aku juga dari sana tau." Kayla tersenyum ceria, ada orang satu kota dengannya disini.
Langkah mereka akhirnya tiba dikantin, suara ramai dan bising dari anak anak terdengar, mencari tempat yang sepi akhirnya ketemu. Mereka duduk, dengan posisi Kayla duduk bersebelahan sama Naya, sementara Dimas duduk disebrang.
...---...
TO BE CONTINUE