Oma frustasi memikirkan di dunia yang sudah berusia 33 tahun, mapan dalam pekerjaan tetapi tidak kunjung menikah. Melihat sekretaris Emir yang memiliki kepribadian yang baik membuat Oma kepikiran untuk menjodohkan mereka.
Sudah pasti Emir menolak, Oma melakukan berbagai hal sampai akhirnya Emir dengan Ayana pilihan Oma bersatu dalam jeratan pernikahan.
Bagaimana keduanya menjalani pernikahan dan hubungan pekerjaan yang cukup dekat?
Apakah pada akhirnya keduanya sama-sama memiliki perasaan atau justru pernikahan mereka tidak ada bedanya dan hanya sebatas pekerjaan saja.
Mari untuk membaca Novel Saya dari bab 1 sampai akhir, dan terus ikuti jawabannya di setiap bab.
Terimakasih....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13 Hari Pertama Justru Sakit.
Ayana saat ini berada di kamar mandi masih menggunakan pakaian yang dia bawa dari desa yang menempel di tubuhnya. Ayana memeluk tubuhnya di bawah aliran air shower.
Ayana memejamkan mata dan masih mengingat bagaimana kejadian buruk terjadi padanya. Ayah tirinya berniat untuk melecehkannya dan lebih parah lagi ibunya tidak percaya dan justru menyalahkannya.
Ayana butuh ketenangan dan apalagi dia baru saja menikah dengan Emir, tetapi ketenangan itu justru tidak dia dapatkan. Ayana harus menerima nasib atas apa yang terjadi.
Tidak lama akhirnya Ayana keluar dari kamar mandi, menggunakan jubah mandi berwarna putih dengan rambutnya yang masih basah, tetesan air tersebut jatuh kelantai.
Emir ternyata sudah berada di dalam kamar dengan keduanya sama-sama kaget, tetapi Emir dengan cepat berbalik badan. Ayana juga panik karena baru menyadari bahwa dia tidak menggunakan hijab, mencari-cari sesuatu yang bisa ditutup di kepalanya.
"Kamu bisa tidur di kamar ini!" Ayana menghentikan mencari barang-barang tersebut dan mendengarkan Emir yang berbicara tetap dengan berbalik tubuh.
"Saya sudah terlanjur mengatakan kepada Nenek bahwa kita sudah menikah. Saya tidak ingin ribet dengan pertanyaan Nenek ketika kita tidak tidur satu kamar. Jadi kamu akan tidur satu kamar bersama dengan saya,"
"Kamar ini milik saya dan semua peraturan tetap ada pada saya. Kamu bisa tidur di ranjang saya, saya akan tidur di sofa, kamu gunakan lemari sudut sebagai tempat pakaian kamu, jangan menyentuh apapun yang ada di kamar ini tanpa seizin saya dan Saya tidak harus menjelaskan kepada kamu tentang bagaimana sifat dan tabiat saya di kantor maka tetap sama di rumah dan di kamar!" ucap Emir berbicara terdengar datar.
"Kamu mendengar saya?" tanya Emir ketika tidak mendapat respon apapun Ayana.
"I_ iya Pak," jawabnya dengan terbata.
"Kalau begitu istirahatlah, jika membutuhkan sesuatu kamu bisa tanya pada asisten rumah tangga dan kamu tidak perlu menjelaskan apapun kepada Oma," ucap Emir
"Baik. Pak," sahut Ayana.
Emir tidak mengatakan apapun, kemudian langsung pergi keluar dari pintu kamar membuat Ayana menghela nafas.
"Ternyata aku masih diberikan tempat yang layak, tidak terlantar. Tetapi apa maksud pak Emir kami akan tetap menjalani pernikahan ini? beliau sudah membawaku ke rumahnya, bahkan tadi sudah mengatakan kepada Oma jika kami terikat dalam pernikahan, lalu itu artinya kami memang menjalankan pernikahan," batin Ayana sebenarnya dipenuhi dengan kebingungan tidak mengerti keputusan yang diambil Emir.
Apa yang dilakukan Emir sebenarnya menggantung Ayana, Emir tidak mengatakan akan melanjutkan pernikahan tersebut dan jika tidak menceraikan Ayana. Ayana tidak bisa protes yang terpenting saat ini dia mendapatkan tempat tinggal yang layak dan terlebih lagi jauh dari ayah tirinya.
Ibunya juga tidak terlalu mempersulit saat dibawa paksa pergi oleh Emir dari rumah tersebut. Ayana bisa mengikut karena pria itu memang adalah suaminya dan lain cerita jika Emir belum menjadi suaminya.
Malam pertama Ayana dan Emir hanya penuh keheningan di dalam kamar Emir. Ayana tidur di atas tempat tidur dengan ditutupi selimut berbaring miring menghadap lemari dan sementara Emir jika berada di sofa terlihat berbaring lurus dengan satu tangannya di bawah kepalanya menatap langit-langit kamar.
Emir perlahan memejamkan mata dan ternyata mengingat bagaimana pernikahan terjadi antara dia dan Ayana. Tidak ada yang bisa disesalkan karena semua sudah terjadi. Pada akhirnya Emir harus menerima takdir pernikahannya dengan Ayana.
****
Mentari pagi sudah tiba, sejak Emir bangun dan melaksanakan sholat shubuh kewajibannya, sampai melakukan aktivitas pagi hari, mandi dan sekarang sudah hampir selesai memakai pakaiannya.
Ayana tidak bergerak dari tempat tidurnya, Emir sejak tadi beberapa kali terus memperhatikan ke arah tempat tidur dan tetap saja posisi wanita yang baru saja dia nikahi itu tetap sama.
"Jam berapa jam bangunnya?" tanya Emir terus memperhatikan.
"Pantas saja kantor dengan buru-buru, bangun tidur saja begitu lama," oceh Emir tiba-tiba saja mengoceh.
Emir tidak tahan jika tidak membangunkan Ayana membuat Emir mengetuk nakas.
"Ayana," suara beratnya terdengar membuat Ayana ternyata mampu membuka matanya.
"Kamu sadarnya sudah jam berapa?" tanya Emir.
Ayana berbalik badan, melihat bagaimana rasanya itu saudara, sementara matanya sangat sulit sekali terbuka.
"Hmmmm...." Ayana hanya meraung.
"Kamu kenapa?" tanya Emir menaikkan sebelah alisnya.
Ayana tidak menjawab dan hanya terdengar suara nafasnya yang berat.
"Kamu sakit?" tebak Emir bisa melihat ciri-ciri Ayana sepertinya tidak baik-baik saja.
"Hmmmm, saya merasa pusing," jawabnya dengan suara serak.
Emir dengan spontan meletakkan punggung tangannya di dahi Ayana. Ayana cukup bagi dengan sentuhan fisik yang dilakukan atasannya itu tetap harus menyadari bahwa dia sudah menikah.
"Tubuh kamu panas," ucap Emir bisa merasakan hawa panas dari tubuh Ayana.
"Kalau begitu tidak perlu ke kantor, saya akan suruh Bibi untuk mengantarkan makanan dan jika kamu hubungi dokter untuk memeriksa kondisi kamu," ucap Emir tidak banyak wacana dan langsung bertindak.
"Tapi bagaimana....."
"Tanpa kehadiran kamu di kantor semua pekerjaan tetap akan berjalan, bukan berarti tidak ada kamu dan maka akan terhambat, tidak ada bedanya jadi istirahatlah!" tegas Emir.
Ayana hanya mengangguk pelan, bagaimanapun dia harus menuruti keinginan Emir yang memintanya untuk istirahat daripada harus ke kantor.
Setelah bersiap-siap akhirnya Emir keluar dari kamar Ayana kembali beristirahat. Emir menuruni anak tangga menghampiri Oma seperti biasa sudah sarapan.
"Mana istri kamu?" tanya Oma melihat Emir menarik kursi dan duduk.
"Dia sedang sakit dan tidak akan ikut ke kantor," jawab Emir datar sembari mengambil setangkap roti.
"Kok bisa sakit, kamu apai dia? Kamu mungkin terlalu ganas atau tidak membiarkan dia istirahat," celetuk Oma membuat Emir menatap Omanya serius.
"Wajar saja Oma menyalahkan kamu, kebanyakan pengantin baru itu wanitanya akan sakit setelah menikah dan itu sudah pasti kadang keegoisan prianya yang ingin ingin terus, seperti tidak ada hari esok saja," sahut Oma dengan celetukannya.
"Oma bisa tidak jangan berpikiran negatif, saya dengan Ayana tidak melakukan apa-apa dan tidak ada yang membuat dia sakit karena hubungan fisik!" tegas Emir.
"Iya-iya deh," sahut Oma.
"Ya sudah kamu ke kantor saja dan nanti biar Oma yang mengurus Ayana," sahut Oma.
"Oma tidak perlu mempertanyakan ini dan itu kepadanya, jangan ikut campur dengan urusan pernikahan kami dan jangan memerintahkannya untuk melakukan ini dan kita," tegas Emir.
"Iya-iya, siapa juga yang ingin ikut campur dengan pernikahan kalian. Kalian sudah menikah saja itu sudah hal yang tidak bisa diucapkan lagi bagi Oma, jadi sisanya urusan pernikahan itu adalah urusan kalian berdua dan Oma berharap secepatnya kamu mendaftarkan pernikahan kalian ke pengadilan," ucap Oma.
"Dari mana Oma tahu, jika kami menikah hanya secara agama?" tanya Emir.
"Ya_ ya, kamu tiba-tiba saja membawanya pulang ke rumah dan mana mungkin kalian merencanakan menikah sebelumnya dan sementara kalian tidak memiliki hubungan apa-apa. Oma juga menyuruh kamu untuk menikah dengannya dan kamu juga menolak, jadi bisa ditebak kalian memang hanya terikat pernikahan secara agama!" tegas Oma memberikan alasannya
Emir Tidak berkomentar dan melanjutkan sarapannya.
"Emir, kamu adalah pria beruntung mendapatkan istri seperti Ayana, percaya pada Oma," ucap Oma. Emir tidak menanggapi.
Bersambung.....