NovelToon NovelToon
Suamiku,Suami Sahabatku

Suamiku,Suami Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nirna Juanda

Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Rumah, Satu Hati yang Terbelah

Setelah pernikahan itu terjadi, ritme kehidupan Fatan berjalan seperti dua dunia yang saling bertabrakan namun ia paksakan tetap seimbang.

Pagi hingga sore, ia adalah Fatan yang pulang ke rumah Kanaya.

Rumah yang dulu terasa asing… kini perlahan berubah.

Kanaya menyambutnya dengan cara yang sama seperti dulu—tenang, sederhana, tanpa tuntutan. Namun entah mengapa, kini semua itu terasa berbeda di mata Fatan.

Ada kehangatan di meja makan.

Ada ketenangan dalam diam.

Ada rasa pulang… yang dulu tidak pernah ia sadari.

“Sudah makan?” tanya Kanaya suatu sore, seperti biasa.

Fatan hanya mengangguk, lalu duduk. Namun kali ini, ia tidak langsung masuk ke ruang kerja atau menjauh.

Ia tinggal.

Menatap Kanaya yang sibuk menyiapkan makanan.

Gerakannya pelan.

Teratur.

Dan… tulus.

Tanpa sadar, Fatan mulai memperhatikan hal-hal kecil yang dulu tak pernah ia lihat.

Cara Kanaya menyesuaikan rasa makanan sesuai kesukaannya.

Cara ia diam ketika suasana terasa canggung.

Cara ia tetap tersenyum… bahkan ketika tidak benar-benar bahagia.

Dan untuk pertama kalinya, Fatan tidak merasa terjebak.

Ia merasa… diterima.

Namun malam hari, dunia itu berubah.

Ia pergi.

Menuju kehidupan lain.

Menuju Amira.

Di sana, ia menjadi Adrian pria yang Amira cintai tanpa ragu.

Rumah Amira berbeda.

Hangat, tapi dengan cara yang lain.

Ada tawa.

Ada sentuhan.

Ada gairah kehidupan yang tidak ia temukan di rumah Kanaya.

Amira menyambutnya dengan pelukan.

“Kamu lama sekali…” keluhnya manja.

Fatan atau Adrian akan tersenyum, memeluknya kembali, mencoba menenggelamkan dirinya dalam kehadiran wanita itu.

Di sana, ia merasa hidup.

Namun bukan dalam arti yang sama.

Jika di rumah Kanaya ia merasa tenang

Di sisi Amira, ia merasa… bebas.

Bebas dari peran.

Bebas dari beban.

Bebas dari kenyataan yang mengikatnya.

Namun waktu tidak pernah membiarkan kebohongan berjalan tanpa konsekuensi.

Perlahan, sesuatu mulai berubah.

Amira mulai merasa kehilangan.

“Dulu kamu tidak seperti ini,” ucapnya suatu malam.

Fatan terdiam.

“Sekarang kamu sering hilang… sering tidak bisa dihubungi… bahkan saat bersamaku pun, pikiranmu seperti di tempat lain.”

Nada suara Amira tidak marah.

Tapi ada luka di dalamnya.

“Aku cuma sibuk,” jawab Fatan singkat.

Alasan yang sama.

Yang terus ia ulang.

Amira menggeleng pelan.

“Aku tidak butuh kamu selalu ada,” katanya. “Tapi aku butuh kamu benar-benar hadir… saat kamu di sini.”

Kalimat itu membuat Fatan tidak bisa menjawab.

Karena ia tahu…

Ia memang tidak benar-benar hadir.

Sebagian dirinya tertinggal

Di rumah lain.

Bersama seseorang yang tidak pernah menuntutnya seperti ini.

Hari demi hari, perbedaan itu semakin jelas.

Kanaya tidak pernah bertanya ke mana ia pergi.

Tidak pernah menuntut waktu lebih.

Tidak pernah mempersoalkan jarak yang dulu ia ciptakan.

Ia hanya… menerima.

Dengan cara yang kadang terasa menyakitkan.

Karena penerimaan itu terlalu tulus.

Terlalu luas.

Seolah Kanaya siap menerima apa pun

Termasuk kenyataan bahwa ia tidak pernah benar-benar dipilih.

Sementara Amira…

Mulai bertanya.

Mulai menuntut.

Mulai ingin lebih.

“Kita ini apa sebenarnya?” tanyanya suatu hari.

“Kita suami istri,” jawab Fatan.

“Tapi kenapa rasanya seperti aku harus berbagi kamu dengan sesuatu yang tidak aku mengerti?” lanjut Amira.

Fatan terdiam.

Ia tidak bisa menjelaskan.

Karena jika ia jujur

Semuanya akan hancur.

Dan di titik itulah…

Perbandingan itu mulai tumbuh.

Tanpa ia sadari.

Tanpa ia inginkan.

Namun semakin nyata.

Kanaya…

Tidak pernah membuatnya merasa bersalah.

Bahkan ketika ia pantas disalahkan.

Kanaya…

Tidak pernah menuntut cinta.

Namun justru memberikan ketenangan yang tidak bisa ia temukan di tempat lain.

Sedangkan Amira…

Memberinya cinta yang penuh.

Namun juga harapan.

Harapan yang menuntut kehadiran utuh.

Kejujuran.

Komitmen.

Hal-hal yang semakin sulit ia berikan.

Suatu malam, Fatan pulang ke rumah Kanaya lebih awal.

Rumah itu sunyi.

Lampu ruang tamu menyala redup.

Kanaya tertidur di sofa, masih dengan buku di tangannya.

Seperti menunggu.

Namun akhirnya kalah oleh lelah.

Fatan berdiri beberapa saat.

Menatap wanita itu.

Dadanya terasa… berat.

Ia mendekat perlahan, mengambil buku dari tangan Kanaya, lalu menyelimutinya dengan hati-hati.

Kanaya sedikit bergerak, matanya terbuka perlahan.

“Fatan… kamu sudah pulang?” suaranya masih setengah sadar.

“Iya,” jawabnya pelan.

“Kamu sudah makan?” tanya Kanaya refleks.

Pertanyaan sederhana.

Yang selalu sama.

Namun kini terasa berbeda.

“Iya,” jawabnya, meski ia belum.

Kanaya mengangguk kecil, lalu tersenyum.

“Syukurlah…”

Ia kembali memejamkan mata.

Tidak bertanya lagi.

Tidak menahan.

Tidak meminta.

Dan justru itu…

Yang membuat Fatan merasa semakin terhimpit.

Di malam yang sama, ponselnya bergetar.

Nama Amira muncul di layar.

Ia menatapnya lama.

Tidak langsung menjawab.

Untuk pertama kalinya

Ia ragu.

Bukan karena tidak peduli.

Tapi karena ia mulai sadar…

Dua dunia ini tidak bisa terus berjalan bersamaan.

Dan di antara keduanya

Ia mulai merasakan sesuatu yang tidak pernah ia duga sebelumnya:

Ia mulai membandingkan.

Bukan lagi tentang cinta yang menggebu.

Bukan lagi tentang kebebasan.

Tapi tentang…

Di mana ia merasa paling menjadi manusia.

Dan jawaban itu…

Mulai berubah.

Sore itu, langkah Fatan terasa lebih berat dari biasanya saat ia memasuki halaman rumah ibu Kanaya. Ia datang dengan satu tujuan sederhana menjemput istrinya pulang, setelah Kanaya ijin menginap di rumah ibunya namun bagi Fatan, waktu itu terasa seperti cermin memantulkan kembali segala hal yang selama ini ia hindari.

Ia menarik napas, berusaha menenangkan pikirannya.

Namun langkahnya terhenti bahkan sebelum ia benar-benar masuk.

Dari dalam rumah, suara tawa terdengar.

Ringan.

Hangat.

Dan… terlalu familiar.

Fatan membeku.

Ia mengenali suara itu tanpa perlu melihat.

Amira.

Jantungnya seakan berhenti.

Tanpa sadar, ia melangkah lebih dekat ke ambang pintu. Pandangannya menembus ke dalam ruang tamu

Dan di sanalah semuanya runtuh.

Kanaya duduk di sofa, wajahnya lebih segar dari beberapa hari lalu. Di sampingnya, Amira tertawa kecil, bahunya bersandar ringan pada Kanaya.

Tidak ada jarak.

Tidak ada kecurigaan.

Hanya keakraban yang tulus.

Dua sahabat.

Dua perempuan yang sama-sama ia khianati

Dalam satu ruang yang sama.

Fatan mundur satu langkah.

Dadanya sesak.

Tangannya mulai gemetar.

Takdir tidak lagi bermain halus.

Takdir sedang menyeretnya ke ujung.

Ia tidak masuk.

Tidak menyapa.

Tidak berani.

Tanpa suara, ia berbalik dan berjalan menjauh, seolah setiap langkah adalah usaha putus asa untuk menunda sesuatu yang tak bisa lagi ditunda.

Di dalam mobil, Fatan menyalakan mesin dengan tangan yang masih bergetar.

Ponselnya bergetar.

Nama Kanaya muncul di layar.

Ia menatapnya lama.

Sangat lama.

Namun jarinya tidak bergerak.

Ia tidak mengangkat.

Beberapa menit kemudian, pesan masuk.

“Fatan, kamu sudah sampai?”

Dadanya semakin sesak.

Ia mengetik.

Menghapus.

Mengetik lagi.

Akhirnya

“Maaf, aku tidak jadi menjemputmu hari ini. Ada urusan mendadak. Besok aku jemput.”

Pesan terkirim.

Dan bersama itu

Satu lagi kebohongan lahir.

Fatan menjatuhkan ponselnya ke kursi sebelah.

Ia menutup mata.

“Aku belum siap…” bisiknya lirih.

“Aku belum siap semuanya berakhir.”

Sementara itu

Di dalam rumah, dapur dipenuhi aroma bawang tumis dan tawa yang hangat.

Kanaya berdiri di depan kompor, menggulung lengan bajunya dengan gerakan rapi. Di sampingnya, Amira sibuk mengiris sayuran, sesekali berhenti hanya untuk tersenyum lebar.

“Terakhir kali kita masak bareng seperti ini kapan?” tanya Amira sambil pura-pura berpikir.

Kanaya tersenyum kecil.

“Sebelum kamu sibuk terbang ke sana kemari dan meninggalkanku dengan segala kesepian.”

Amira terkekeh.

“Jahat. Aku bekerja demi masa depan.”

“Dan aku berusaha bekerja demi kewarasan,” balas Kanaya ringan.

Tawa pecah.

Hangat.

Hidup.

Seolah dunia tidak pernah retak.

Amira mencicipi masakan, lalu mengernyit.

“Kurang garam.”

Kanaya menambahkan sedikit, lalu mengaduk.

“Sekarang?”

Amira mencicipi lagi, lalu mengangguk puas.

“Pas. Seperti hidup—tidak boleh berlebihan.”

Kanaya meliriknya.

“Sejak kapan kamu bijak?”

Amira tersenyum, lalu menjawab tanpa berpikir

“Sejak jatuh cinta.”

Kanaya terdiam.

Bukan karena terkejut

Tapi karena ia melihat kebahagiaan yang nyata di wajah sahabatnya.

“Kamu bahagia?” tanyanya pelan.

Amira mengangguk mantap.

“Sangat.”

Dan di sanalah

Sesuatu dalam diri Kanaya bergetar pelan.

Ia tersenyum.

Namun matanya berkaca-kaca.

Amira menyadarinya.

“Kanaya… kamu kenapa?”

Kanaya menggeleng.

“Tidak apa-apa. Aku hanya… senang kamu di sini.”

Amira memeluknya erat.

“Aku juga. Aku merindukanmu. Selalu.”

Pelukan itu sederhana.

Namun penuh arti.

Dua hati yang saling menjaga

Tanpa tahu bahwa mereka terikat pada luka yang sama.

Di luar

Fatan sudah jauh dari rumah itu.

Namun bayangan itu tidak pergi.

Kanaya.

Amira.

Tertawa bersama.

Dekat.

Tanpa curiga.

Ia memukul setir pelan.

Frustrasi.

Terjebak.

“Kenapa harus sekarang…” gumamnya.

Untuk pertama kalinya

Ia benar-benar takut.

Bukan pada ayahnya.

Bukan pada ibunya.

Bukan pada dunia.

Tapi pada kebenaran.

Karena kebenaran itu

Sudah berdiri tepat di depan pintu.

Dan ia yang memilih pergi.

Malamnya

Rumah terasa sunyi saat Fatan kembali.

Tidak ada suara Kanaya.

Tidak ada kehangatan yang biasanya diam-diam ia cari.

Ia duduk di sofa, menunduk, meremas rambutnya sendiri.

Bayangan itu kembali lagi.

Kanaya tersenyum.

Amira tertawa.

Dua dunia yang ia jaga mati-matian

Kini sudah bersentuhan.

Tanpa ia sadari.

Tanpa ia kendalikan.

“Aku tidak hanya menunda penjemputan…” bisiknya pelan.

“Aku menunda kehancuran.”

Dadanya naik turun.

Pikirannya kacau.

Ia sadar

Ini bukan lagi tentang memilih.

Ini tentang berani menghadapi akibat.

Dan untuk pertama kalinya

Fatan merasa benar-benar sendirian.

Karena dalam semua kebohongan yang ia ciptakan

Tidak ada satu pun tempat tersisa

Yang benar-benar bisa ia sebut rumah.

Di sisi lain kota

Kanaya tertidur dengan tenang setelah hari yang hangat.

Dan Amira tersenyum dalam tidurnya

Memikirkan pria yang ia cintai.

Tanpa tahu

Pria itu adalah suami dari sahabatnya sendiri.

Dan takdir,Sedang menghitung waktu

Menuju saat di mana semuanya

Tak lagi bisa disembunyikan.

1
Asih
akhirnya saya puas liat kesombongan srorang lelaki terpuruk
Nirna: Kadang kesombongan memang perlu dijatuhkan dulu supaya seseorang sadar 😊 Terima kasih kak sudah mengikuti ceritanya sampai ikut puas dengan alurnya 🤗❤️
total 1 replies
Asih
lanjutt
Nirna: Terima kasih banyak sudah membaca 😊 Lanjutannya segera aku update ya kak
total 1 replies
Kereng Pangi
bahasanya kbnyak retorika
Nirna: Terima kasih atas masukannya 🙏. Ke depannya akan saya perbaiki supaya bahasanya lebih nyaman dibaca.
total 1 replies
Asih
lanjut semakin seruuu
Nirna: Terima kasih banyak 🙏 Senang banget kakak menikmati ceritanya. Ditunggu terus ya kelanjutannya 😊
total 1 replies
Asih
padahal kalau mau bicara dari hati ke hati dn terus terang.sama kanaya
Nirna: Iya benar juga 😊 Terima kasih sudah ikut memberikan sudut pandang. Nanti akan ada perkembangan cerita yang lebih dalam lagi, ditunggu ya 🙏
total 1 replies
Asih
lanjut dong
Nirna: Siap 😊 Terima kasih sudah menunggu. , jangan bosan mengikuti ceritanya ya 🙏
total 1 replies
rina saragih
waw waw... fatan kapok kamuuu
Nirna: Hehe, iya nih kak 😄 Fatan lagi diuji banget kesabarannya. Kira-kira dia bakal kuat sampai kapan ya? Terima kasih sudah baca dan dukung ceritanya 💖
total 1 replies
rina saragih
kenapa susah sekali menicintai yg halal?
hati memang penuh misteri
Nirna: MasyaAllah, terima kasih sudah mampir dan berkomentar. Semoga ceritanya bisa menyentuh dan menemani 😊Terima kasih banyak sudah membaca dan berbagi pendapat 😊 Memang hati itu penuh misteri, semoga cerita ini bisa sedikit menggambarkan perasaan itu ya🙏
total 1 replies
rina saragih
fatan oh adrian
Nirna: Nah loh, mulai ketahuan ya benang merahnya 😄 Stay tune terus ya kakak🙏
total 1 replies
rina saragih
awal yang bagus
aku berharap akan seru seterusnya
Nirna: Terima kasih banyak 😊 Senang sekali kakak suka di awalnya, semoga bab selanjutnya bisa lebih seru lagi ya
total 1 replies
Angel 💖
karya yang bagus
. tapi kenapa sepi ya?
Nirna: terimakasih banyak kakak sudah berkomentar,iya nih masih sepi🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!