Di selamatkan oleh iblis saat nyaris di lecehkan oleh para bandit, seorang gadis kini harus menghadapi kenyataan kelam. ia bebas dari ancaman manusia, namun kini takdirnya terikat pada penghuni neraka. kontrak telah di tandatangani, dan meski iblis itu menjadi pelindungnya, harga yang harus di bayar jauh lebih besar dari sekedar nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DewaC1nta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Iblis
"Tolong, tolong, tolong !"
Terdengar suara teriakan minta tolong di sebuah jalan setapak. Suaranya terdengar serak dan hampir kehabisan tenaga.
Entah sudah berapa lama wanita muda itu terus berlari menjauhi gerombolan pria bertampang bengis yang mengejarnya.
Usahanya untuk terlepas dari para gerombolan itu hampir mustahil, sebab mana mungkin di tengah hutan yang hanya terdapat binatang buas dan tumbuhan-tumbuhan liar itu bisa bertemu dengan orang-orang yang berkeliaran. Hanya ada suara kicauan burung dan hembusan angin di sela-sela dedaunan yang mengisi hutan itu.
"Hahahaaa..mau lari kemana lagi kamu nona, lebih baik serahkan tubuh indahmu untuk kami nikmati." ucap salah satu pria bertampang jelek di antara gerombolan itu.
Dalam keputusasaan dan ketakutan yang menyelimutinya, wanita itu terus berjuang keras untuk menyelamatkan dirinya dari kejaran para bandit. Meski peluang untuk bisa lolos dari mereka hampir mustahil, dia masih berjuang dengan sekuat tenaga.
Pelarian itu berakhir di depan sebuah rumah kuno yang tampak tua. Tubuhnya tak lagi mampu menopang beban ketakutan, dia jatuh tersungkur dan kehilangan kesadaran. Di sana, di ambang pintu yang asing, dia tergeletak tanpa daya, menyerahkan nasibnya pada apa pun yang akan datang selanjutnya.
"Hahaha! Jangan takut, Manis. Ini tidak akan sakit," seringai salah satu dari mereka. Suara tawa itu bergema di dinding rumah kuno, terdengar lapar dan penuh kemenangan.
"Ja—jangan... to—tolong jangan lakukan," ucap gadis itu dengan sisa tenaga yang nyaris habis. Kalimat itu menjadi kata terakhir yang mampu ia ucapkan. pandangannya menggelap, dan dia pun kehilangan kesadarannya.
Sementara itu di balik jendela rumah kuno yang gelap, sesosok bayangan berdiri diam. Dia menyaksikan segalanya. Tak ada yang tahu siapa dia, atau apa niatnya—apakah dia akan mengulurkan tangan, atau justru membiarkan bencana itu terjadi.
Tanpa membuang waktu, salah satu pria dengan seringai menjijikkan itu mulai membungkuk. Tangannya yang kasar terulur, siap merenggut paksa pakaian gadis yang sudah terbujur kaku tak sadarkan diri tersebut. Di tengah kesunyian hutan, hanya suara napas serakah mereka yang terdengar.
Namun, belum sempat baju gadis itu tersingkap, pria itu menjerit kesakitan. Sebuah benda tajam melesat dari kegelapan dan menancap tepat di punggung tangannya. Darah segar menciprat ke tanah. Rekan-rekannya tersentak, mata mereka liar mencari sumber serangan, sementara dari balik bayang-bayang rumah kuno, sebuah langkah kaki yang berat mulai terdengar mendekat.
"Siapa itu !"
"Kalian manusia-manusia kotor beraninya menodai tempat terlarang ini !" jawab sosok itu. Dia melangkah keluar dari bayang-bayang. Sinar matahari senja menyapu wajahnya, menampakkan paras tampan yang terlihat sebaya dengan gadis yang terkapar itu. Meski terkepung bahaya, tak ada setitik pun keraguan di matanya. Sebaliknya, dia memancarkan aura ketenangan yang dingin, seolah gerombolan penjahat di depannya hanyalah kerikil kecil yang mengganggu jalan.
"Hehehe... Ternyata hanya bocah ingusan. Baiklah, sekalian saja kau kuhabisi!" geram salah satu penjahat itu. Ia melangkah maju, memamerkan sebilah pedang yang berkilat kemerahan tertimpa cahaya senja. Hawa membunuh terpancar kuat dari tatapannya yang bengis, seolah-olah nasib pemuda asing itu sudah digariskan untuk berakhir tragis di pedangnya.
Pemuda di hadapannya sedikitpun tak gentar, apalagi bergeser dari pijakannya. Ia justru mengulas senyum tipis sebuah senyum yang tampak meremehkan maut. Dengan gerakan tenang, dia menjentikkan jarinya.
Seketika, dunia di sekitar pria jahat itu luruh. Langit senja yang kemerahan berganti menjadi kegelapan pekat yang mencekam. Ia tak lagi berdiri di depan rumah kuno, melainkan di sebuah dimensi asing yang memancarkan aura busuk dan kobaran api yang menjilat-jilat udara. Seolah-olah neraka baru saja terbuka dan siap menelan jiwanya bulat-bulat.
Rekan-rekannya yang masih berdiri di belakang masih terpaku, sama sekali tidak memahami apa yang sedang terjadi. Di mata mereka, pria itu mendadak bertingkah aneh, mengayunkan pedang secara membabi-buta ke udara kosong dan menjerit-jerit ketakutan seolah sedang di kuliti hidup-hidup. Ia memukul-mukul tanah dan tubuhnya sendiri dengan histeris, seakan tengah berupaya memadamkan api tak kasat mata yang membakar kulitnya.
Rekan-rekannya saling pandang, terjebak di antara keraguan dan ketakutan. Tak ada satupun dari mereka yang berani memulai serangan. Nyali mereka seolah terkunci oleh pemandangan yang menimpa mereka.
"hehehehe...apakah kalian tidak ingin mencobanya?" tanya pemuda itu. Senyum kecilnya tetap menghiasi wajah tampannya. Memberikan kesan bahwa ia sangat menikmati ketakutan yang terpancar dari mata mereka.
Namun, penjahat sejati mana mungkin akan kehilangan muka dan harga diri di hadapan bocah yang umurnya jauh di bawah mereka. dengan bermodal harga diri dan rasa malu yang berubah menjadi amarah, mereka serempak melakukan serangan kepada pemuda itu dengan membabi-buta.
"Serang dia !!"
"bunuh dia!!"
Sekali lagi jentikkan jari pemuda itu membungkam serangan para bandit itu dalam sekejap. Nasib mereka tak berbeda dengan yang di alami rekan mereka sebelumnya.
Gerombolan yang tadinya beringas kini berubah menjadi kumpulan orang yang kehilangan akal sehat. Mereka menjerit histeris, mencakar udara, seolah-olah tubuh mereka di lalap api neraka yang tak terlihat.
"Cuih, orang-orang tak berguna." ucap pemuda itu lalu berbalik lagi masuk kedalam rumah kuno dengan santai meninggalkan para gerombolan yang masih mengerang dalam kegilaan serta gadis malang yang tetap tergeletak tak berdaya di atas tanah yang dingin.
...****************...