Karin seorang wanita karir, dia mendoktrin dirinya sendiri agar harus berkerja keras, tidak perlu memikirkan yang namanya pernikahan.
Dan ya, di umurnya yang sudah 30 tahun, dia masih jomblo alias belum menikah. Sedangkan teman-temannya yang seumuran sudah memiliki anak dua.
Karin merasa, menikah dan punya anak akan mengganggu pekerjaannya. Sehingga dihari cutinya, dia hanya tinggal di dalam kamar membaca novel.
"Ck. Makanya jangan menikah jika belum siap mengurus anak!" tegur Karin sambil melempar Tabnya ke atas kasur.
Dia sedang membaca novel online, yang berjudul ( Pembalasan Tiga Penjahat )
Karin tertidur setelah mambaca novel itu sampai tamat. Tapi saat membuka mata, dia sudah berada di tempat yang berbeda.
"Sial!"
Penasaran kan? Ayo ikuti perjalanan Karin yang menjelajahi dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Tidak mendapatkan Ide
Keesokan harinya, Nan Wei sudah bangun di pagi buta. Itu sudah rutinitas nya setiap hari sebelum dirinya masuk ke dunia Novel.
Nan Wei duduk di dapur sambil terdiam, dia sedang memikirkan bagaimana cara mendapatkan uang agar dirinya bisa belanja di toko Sistem.
Tapi setelah dia berpikir lama, dia belum mendapat ide sama sekali. "Astaga, kenapa otakku jadi buntu seperti ini.?" gumamnya dengan kesal.
"Haahh,, sebenarnya ada banyak peluang untuk berbisnis, tapi modal yang tidak ada. Setiap Novel yang aku baca tentang dunia paralel, mereka pasti menjalankan bisnis kuliner atau pengobatan. Tapi aku tidak tau Keduanya!" keluh Nan Wei.
Dia hanya bisa masak makanan yang simpel, seperti mie goreng, masak mie instan dan goreng telur. Tapi dia sangat ahli di bidang Dessert atau makanan manis.
"Mungkin orang-orang di zaman ini tidak terlalu suka manis!" tebak Nan Wei.
"Sudahlah, itu bisa dipikirkan nanti. Yang paling penting sekarang, mencari sesuatu yang bisa dimakan untuk sarapan!"
Nan Wei mengingat kembali ingatan pemilik tubuh. Yang setiap harinya bermalas-malasan di rumah, semua kebutuhan disiapkan oleh ketiga Anaknya.
Jika makanan sudah habis, dia akan pergi ke rumah orang tuanya untuk meminta makanan atau uang.
Nan Wei mengancam orang tuanya, jika tidak diberi makan setiap kali dia datang, dia tidak akan lagi mengakui ketiga Anaknya, atau dia akan mengancam akan menjualnya.
"Bangsat...!" umpat Nan Wei sambil mengusap tangannya sampai ke leher, dia merinding saking muaknya dengan tingkah pemilik tubuh.
Nan Wei beranjak, dan melihat sekeliling dapur. Tapi benar-benar sudah tidak ada yang bisa dimakan lagi.
"Ibu!" terdengar panggilan dari arah belakang.
Nan Wei berbalik dan dia melihat Zhao Xu dan Zhao Xi sedang berdiri dengan wajah bantalnya. Mereka sangat terkejut melihat sang Ibu sudah bangun.
"Ibu! Maafkan kami bangun terlambat!" kata Zhao Xu dengan wajah takut. Karena Nan Wei akan marah jika dirinya yang lebih dulu bangun daripada mereka.
Sedangkan Zhao Xi memandang Nan Wei dengan datar, dia seperti tidak peduli dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, seolah-olah dia sudah pasrah dengan keadaan.
Tapi orang yang banyak diamlah yang sangat berbahaya. Karena semua kemarahan dan kekecewaan akan menjadi satu jika waktunya sudah tiba untuk meledak.
Di dalam alur cerita, Zhao Xi yang menyiksa Nan Wei sampai dia memohon untuk dibunuh. Tapi Zhao Xi membuatnya jadi mainan, dan setelah tidak bernyawa Zhao Xi memotong tubuh Nan Wei jadi beberapa bagian, dan membuangnya begitu saja di kuburan massal.
"Hmm pergi cuci muka!" pinta Nan Wei.
Kedua anak itu menurut, mereka segera membasuh muka dan menggosok gigi menggunakan ranting pohon willow.
"Duduk sini!" tunjuk Nan Wei pada bangku panjang di seberangnya.
Keduanya duduk dengan patuh, mereka tidak berani bertanya. Karena saat ini mereka belum mengetahui apa yang direncanakan Nan Wei dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah.
"Katakan! Apa yang Paman kalian tanam di sawah milik kita?" tanya Nan Wei. Dia hanya tahu jika mereka memliki beberapa petak sawah yang diurus oleh keluarganya.
"Paman menanam Ubi dan kentang. Mulai hari ini kita akan penen. Setelah panen, Paman akan menanam padi." jelas Zhao Xu.
Mata Nan Wei berbinar, dia tiba-tiba mendapat ide berlian untuk menghasilkan uang. Tapi, wajahnya langsung kusut saat mengingat tidak ada bahan-bahan yang bisa digunakan.
"Oh baiklah, bagaimana dengan halaman belakang?" Nan Wei belum sempat melihat halaman belakang rumahnya.
Zhao Xu menatap Nan Wei dengan bingung, bukankah Ibunya sudah sering melihat halaman belakang? Tapi dia tetap menjawab. "Di halaman belakang, ada beberapa sayuran yang tanam Nenek!"
Nan Wei tersadar jika dirinya telah membuat kesalahan. "Maksudku, masih ada sayuran yang bisa dipetik?" Dia segera meralat ucapannya.
Wajah Zhao Xu dan Zhao Xi jadi murung, karena tidak banyak yang tersisa. Mereka pernah menanamnya kembali, tapi tidak tumbuh karena kekurangan air.
"Masih ada sekali petik!" jawab Zhao Xu. Makanya dia dan adiknya pergi mencari sayur liar di hutan.
Selang beberapa menit, terdengar ketukan pintu. Zhao Xu segera beranjak untuk membuka pintu, karena dia sudah tahu siapa yang datang.
Siapa lagi kalau bukan Neneknya, yang datang membawa sarapan untuk Ibunya. Jika tidak ada, si pemilik tubuh akan pergi ke rumah orang tuanya untuk mengamuk dan menghancurkan barang-barang.
Tapi Nenek dan anggota keluarga lainnya hanya bisa diam. Mereka tidak bisa marah, karena mereka semua memiliki utang Budi kepada Nan Wei.
"Ehh Nan Wei kamu sudah bangun?" tanyanya dengan raut wajah tak percaya. Karena biasanya dia akan bangun sekitar jam 10 pagi.
Nan Wei menatap wanita tua itu, wajahnya penuh kerutan, terlihat sangat lelah dan banyak pikiran, dan rambutnya hampir semua memutih.
"Ya kenapa kamu datang?" tanya Nan Wei sedikit canggung.
Wanita tua itu menatap Nan Wei dengan heran, karena Nan Wei tidak pernah berbicara dengan sopan kepadanya.
"Oh ini, Ibu bawakan pisang rebus buat kalian sarapan.!" katanya sambil meletakkan keranjang kecil di atas meja.
"Nenek terima kasih!" kata Zhao Xu.
"Ya makanlah! Nenek tidak lama, Nenek dan para Pamanmu harus ke sawah sebelum matahari terbit!"
"Nenek kami ingin ikut ke sawah untuk bantu panen!" kata Zhao Xi dengan cepat.
"Baiklah, tapi kalian sarapan dulu. Nenek akan menunggumu!" kata Nenek Xia tanpa ragu.
Dia lebih memilih untuk mengajak semua cucunya ke ladang, daripada harus tinggal di rumah bersama dengan Nan Wei yang sering menghukum mereka.
Setelah Nenek Xia pergi, Zhao Xu dan Zhao Xi segera membangunkan Zhao Yu. Dan mereka semua segera bersiap untuk pergi ke ladang.
"Ibu kami ke ladang dulu, bantu Nenek dan Paman!" kata Zhao Xu lalu mengajak kedua adiknya keluar rumah.
"Tunggu..!" teriak Nan Wei yang melihat mereka pergi begitu saja.
Ketiganya berhenti dan berbalik, mereka menatap Nan Wei dengan takut. Karena mereka berpikir, Nan Wei akan menghukum mereka setelah seharian tidak mendapat hukuman.
"Ibu ada apa?" tanya Zhao Xu.
"Duduk dan makan pisang rebus itu sebelum pergi. Nenek kalian sudah membawanya, jadi kalian harus menghargainya!" kata Nan Wei.
"Ibu tidak makan?" tanya Zhao Yu dengan polos.
"Nenek kalian kasih satu orang satu!" jelas Nan Wei dengan menghela nafas berat. Pasti saat ini kondisi ekonomi orang tuanya juga sangat sulit.
"Nanti ibu tidak cukup!" kata Zhao Yu yang masih mengingat jelas kata-kata Nan Wei setiap hari 'Ini untuk ibu, jika dibagi untuk kalian nanti tidak akan cukup'
"Benar, Ibu bisa makan semuanya!" kata Zhao Xu.
Sedangkan Zhao Xi hanya diam, tapi tatapannya begitu dingin. Dia sudah tidak pernah berharap lagi dengan Ibunya.
Nan Wei memejamkan mata dan meminta untuk sabar pada dirinya sendiri. Dia menarik Zhao Yu duduk di sampingnya, "ini makan! Kamu tidak perlu takut, karena Ibu hanya menghukum kalian jika membuat kesalahan!"
Mata Zhao Yu berbinar, dia menatap Nan Wei dengan senyum polosnya. Dia mengambil pisang yang sudah dikupas Nan Wei.
"Terima kasih Ibu!"
"Ya. Kalian berdua juga makan!"
.
.
.