[Bukan Novel Terjemahan] [Original Karya Penulis]
Seorang mahasiswa melakukan penelitian di hutan, saat dia merasuk lebih dalam ke jantung hutan, dia menemukan sebuah lubang hitam besar. Karena rasa penasaran dia mendekat ke arahnya. Namun, siapa sangka dia akan terseret ke dalam.
Seorang gadis yang dianggap terkenal lemah berencana bunuh diri saat tau akan menggantikan kakak tirinya untuk dinikahkan dengan pangeran yang terkenal gila di seluruh kekaisaran.
***
Bagaimana jika mahasiswa itu menggantikan sang gadis untuk menikah? Akankah mereka berdua bekerja sama untuk balas dendam karena kemiripan wajah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27 : Huanran
Matahari pagi baru saja mengintip di balik cakrawala ibu kota, membiaskan cahaya keemasan di atas atap-atap genteng megah Istana Pusat Dinasti Tang. Namun, kemegahan istana tersebut berbanding terbalik dengan suasana di dalam aula utama pemeriksaan, tempat di mana ketegangan pekat menyelimuti udara.
Luo Huanran terduduk lemas di atas lantai batu marmer yang dingin. Kedua tangan gadis itu terikat longgar menggunakan tali rami kasar, sementara seragam pelayan istana barat yang ia kenakan tampak kotor oleh debu. Di sekelilingnya, belasan pengawal istana berzirik lengkap berdiri siaga dengan tombak terhunus.
Di singgasana pemeriksaan, duduklah sosok wanita paruh baya dengan pakaian permaisuri berbordir benang emas yang menjuntai anggun. Wajahnya cantik namun memancarkan aura kejam yang tak terbantahkan. Di sisi kanannya, Kasim Lu berdiri membungkuk hormat sambil tersenyum sinis, memandang rendah gadis yang sedang berlutut di hadapan mereka.
"Jadi... kau adalah gadis bayaran yang dikirim oleh keluarga Jenderal Luo untuk mendampingi si pangeran gila itu?" suara Permaisuri menggelegar dingin, memecah keheningan aula. "Keluarga Jenderal benar-benar bernyali besar, mengirim seorang pelayan rendahan untuk menyamar sebagai pengantin bangsawan demi menipu pihak kekaisaran."
Luo Huanran mendongakkan kepalanya perlahan, bibirnya bergetar hebat menahan rasa takut. "A-Aku bukan mata-mata... aku hanya..."
"Cukup!" bentak Kasim Lu tajam, melangkah maju beberapa langkah. Ia menatap Luo Huanran dengan tatapan penuh selidik, lalu melambaikan tangan ke arah meja di sebelah singgasana. Di atas meja itu tergeletak perkamen kuno tentang sejarah racun cold-fire yang sempat ditemukan di paviliun timur. "Dokumen rahasia arsip kekaisaran ini ditemukan di dekat tempat persembunyianmu. Katakan, siapa yang menyuruhmu mencurinya? Apakah Pangeran Kelima yang merencanakan pemberontakan ini?!"
Luo Huanran menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Air matanya sudah tumpah membasahi pipi. Ia tidak tahu apa-apa tentang perkamen itu; ia menemukannya secara tidak sengaja di balik tumpukan buku tua saat membersihkan ruangan.
Melihat tahanan itu terus membisu, senyuman sinis di bibir Kasim Lu semakin melebar. Ia membungkuk hormat kepada Permaisuri. "Yang Mulia, gadis ini tidak akan mengaku jika tidak diberi sedikit tekanan. Biar hamba yang menginterogasinya agar rahasia busuk Pangeran Kelima segera terbongkar."
Permaisuri menyipitkan mata, lalu mengangguk kecil memberikan izin.
Kasim Lu tersenyum kejam. Ia memberi isyarat kepada dua pengawal istana untuk mendekat dan mencambuk gadis tersebut.
Namun, sebelum cambuk di tangan pengawal itu sempat terayun, sebuah suara ledakan keras tiba-tiba menggema dari arah luar gerbang utama Istana Pusat.
Blargh!
Seluruh isi aula bergeming kaget. Lantai marmer di bawah kaki mereka terasa bergetar hebat, disusul oleh suara reruntuhan tembok batu dan jeritan panik para prajurit penjaga dari halaman luar.
"Ada apa di luar?!" seru Permaisuri murka, berdiri dari singgasananya dengan wajah pucat.
Sebelum ada pengawal yang sempat berlari masuk memberikan laporan, pintu besar aula utama didobrak paksa dari luar dengan hantaman yang sangat dahsyat.
Brak!
Debu mengepul tebal menutupi pintu masuk. Dari balik kepulan asap tersebut, sosok bertongkat kuda dengan jubah hitam berkibar perlahan melangkah masuk. Di belakangnya, puluhan pengawal setia Istana Barat berdiri rapat, sementara di samping pria itu, seorang gadis berkerudung gelap menatap tajam penuh amarah ke arah singgasananya.
Wang Yiche telah datang. Dan ia membawa badai kehancuran ke jantung istana pusat.
***
Happy Reading 🥰
Mohon dukungan untuk Like, Komen, dan Ikuti Penulis yah, terimakasih ❤️