“Sikapmu sekarang sama seperti wanita murahan.”
“Kau yang membuatku terlihat seperti itu, jadi jangan salahkan aku.”
•••
Giselle Uchiyama tak pernah tahu apa arti sebenarnya dari kebahagiaan sebelum ia bertemu dengan seorang pria yang anehnya dapat membuat Giselle bertingkah gila hanya untuk mendapat perhatian.
Namun…
Bagi Jio Pratama, Giselle hanyalah iblis berparas bidadari yang siap menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vienbluu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
•••
"Sekarang kita mau pergi ke mana?" Tanya Giselle sesaat setelah duduk di kursi penumpang di samping kursi kemudi yang Jio tempati.
Belum sempat menginjak pedal gas, ponsel di saku kanan Jio bergetar. Jio membuka ponsel dan melihat ada pesan di salah satu aplikasi chatting yang digunakannya.
"Aku antar kau pulang."
Giselle menoleh. Menatap Jio tak percaya.
"Pulang? Kita bahkan belum jalan-jalan, ini juga masih sore!"
"Aku ada urusan."
"Agh... kau mengacaukan kencan kita. Memangnya kau ada urusan apa, kau mau bertanding di underground lagi?"
"Bagaimana kau tahu?"
"Kalau begitu aku ikut.”
”Tidak boleh menolak! Kau tahu foto yang kuambil saat kau bertarung ada di draf SNS universitas kita dengan pengirim anonim, tinggal menekan tombol kirim lalu keesokan harinya kau akan dikeluarkan oleh komite kampus."
Jio geram, "Kau sangat pandai memanfaatkan seseorang."
Giselle tersenyum bangga, "Itu keahlianku."
"Kau boleh ikut, tapi sebaiknya tutup mulutmu bahkan saat ada yang mengajakmu bicara. Mengerti?"
Giselle mengangguk paham.
“Sebelum ke sana kita beli makan dulu ya, aku lapar... ku mohon..." Lanjutnya dengan wajah yang sengaja memelas tersebut.
"Kau banyak maunya dan berhenti memasang ekspresi seperti itu, menjijikkan."
Jio melajukan mobilnya.
"Kenapa kau kasar sekali padaku, bersikaplah baik seperti yang kau lakukan pada adikmu tadi."
"Aku tidak bersikap baik pada gadis gila sepertimu."
"Ish... sialan."
Giselle memang mengumpat, tapi dia juga tak bisa menahan tawanya.
•••
Suasana pengap dan gelap menyambut keduanya ketika memasuki pintu dengan palang kayu bangunan kosong itu. Penerangan temaram berasal dari lampu yang terpasang pada beberapa sudut ruangan.
Jio mengangguk pada dua pria bertubuh besar yang menjaga pintu masuk menuju ruang boxing untuk memberi akses masuk, karena tak biasanya Jio datang dengan seorang gadis di sampingnya.
Giselle memperhatikan sekelilingnya, Jio membawanya melewati arena boxing tadi kesebuah ruangan.
Di dalamnya terdapat seorang pria dengan tinggi yang sedikit lebih dari Jio juga badan dengan otot kekar— terlihat tengah menunggu keduanya.
Lebih tepatnya menunggu Jio.
"Tumben kau lama, aku sudah takut kau tak datang."
"Aku selalu menepati ucapanku, kak."
"Bagus.”
Bagas melirik ke arah belakang bahu Jio, "Kau bawa seorang gadis? Kekasihmu?"
"Bukan."
"Lalu kenapa membawanya ke sini? Dia yang Yoshi ceritakan bukan?" Ucap Bagas menggoda Jio.
Jio mendengus.
'Yoshi tak bisa menahan mulutnya itu.'
"Berapa menit lagi sebelum pertandingan?"
"Tck, anak ini bisa saja mengelak.”
Giselle tersenyum mendengarnya.
“Sekitar sepuluh menit lagi."
"Berapa?"
"Seperti biasa."
"Aku mau 70 kali ini."
Terlihat berpikir kemudian Bagas menganggukkan kepala menyetujui, "Baik, kalahkan dia dalam lima menit."
"Setuju."
"Aku benar-benar beruntung memiliki teman sekaligus petarung sepertimu."
Setelah menepuk pundak Jio, Bagas berlalu meninggalkan ruangan.
Ketika Jio berbalik ke arah Giselle, gadis itu nampak ingin mengatakan sesuatu namun tertahan oleh telunjuk Jio di depan bibirnya.
Gadis itu mencebik cemberut.
"Aku bilang kau tak boleh bicara.”
“Aku ganti baju dulu. Tunggu di sini, jangan kemana-mana, dan jangan melakukan hal-hal aneh. Mengerti?"
Giselle mengangguk, melihat sekitarnya tempat ini seperti kamar kosong tanpa benda apapun selain brankar dan kursi besi lipat di sisi ruangan.
Melihat raut kebingungan Giselle, Jio menyuruhnya duduk lalu meletakan bungkusan makanan yang dipegang di atas brankar tepat di depan gadis tersebut.
Mengeluarkan sandwich dan segelas minuman bersoda dengan ukuran besar dari plastik.
"Makan."
Giselle menatap Jio dengan tersenyum. Dia mengangguk lalu mulai menggigit sandwich-nya.
Jio memperhatikan Giselle sesaat.
Gadis itu terlihat senang hanya karena makanan biasa seperti sandwich.
Sejujurnya Jio jadi sedikit penasaran akan kehidupan Giselle. Gadis itu selalu mengirim pesan pada Jio yang menceritakan tentang kesehariannya, lebih seringnya mengatakan bahwa dirinya tengah lapar.
Dengan siapa gadis itu tinggal sehingga makanan saja tidak bisa ia dapatkan dan kenapa gadis itu selalu mengeluh lapar padanya.
Padahal jika melihat apartemen tempatnya tinggal saja itu bukan apartemen kalangan biasa, pun dengan penampilannya yang selalu terlihat fashionable.
Giselle sudah pasti sangat berkecukupan.
Sadar saat Bagas kembali memanggilnya, Jio bergegas pergi ke arena pertandingan.
•••
Lelaki dengan tubuh besar bertato itu kembali terbanting di atas ring, menimbulkan bunyi tulang yang patah jika saja suasana sekitar hening. Karena kejadian tadi, orang-orang di sana semakin riuh bersorak mulai menghitung mundur.
Namun lelaki bertato yang sebagian wajahnya berlumuran darah tersebut rupanya belum ingin menyerah, laki-laki itu bangun dengan susah payah. Tampak masih ingin melawan yang dengan mudahnya Jio kalahkan karena dia tak memberi kesempatan.
Sebuah pukulan pada rahang bawah memberi robekan lebih dalam pada bibir lelaki bertato itu, membuatnya kembali tersungkur.
Sontak seluruh penonton bersorak, memberi tepuk tangan juga teriakan untuk Jio.
Tak luput Giselle yang baru saja ikut bergabung setelah menyelesaikan makannya, mata gadis itu seakan tak bisa berkedip menyaksikan hal tersebut.
Bersamaan dengan wasit yang mulai menghitung mundur, netra Giselle dipertemukan dengan sorot tajam mata Jio.
Setelah membungkuk tanda pertandingan berakhir, Jio turun dari arena boxing. Bagas sempat merangkul Jio dengan bangga, menyombongkannya pada orang-orang di sana.
Jio perlahan menjauh dari kerumunan, menghampiri Giselle.
Pria itu melepas sarung tangan tinjunya dan menarik Giselle pergi dari kerumunan orang yang hampir semuanya terdiri dari laki-laki.
Sedang Giselle hanya menatap Jio dengan berbagai macam pertanyaan yang muncul di kepalanya.
Tentang siapa Jio sebenarnya, seperti apa kehidupannya, dia tak terlihat kekurangan uang sehingga menjadi petarung bayaran, yang paling mengejutkan bagaimana mungkin pria yang terlihat sangat menyayangi adik perempuannya itu bisa menghajar seseorang dengan sangat brutal di atas ring boxing tanpa ampun.
Dan kenapa dia masih bisa berbaik hati membelikannya makanan setelah semua sikap serta masalah yang ia timbulkan untuknya.
Ingatkan Giselle jika Jio Pratama ini adalah pria yang harus dia taklukkan, bukan pria yang membuatnya merasa penasaran akan dirinya sehingga membuat jantung Giselle berdegup aneh begini.
'Apakah ini hanya karena adrenalin di sini atau hal lain?'
•••Vienbluu (annavienbluu)