NovelToon NovelToon
Tang Clan : Blood Poison Sovereign

Tang Clan : Blood Poison Sovereign

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:879
Nilai: 5
Nama Author: Chandra Arbara

Gu Cheol mati sebagai pengemis tanpa bisa meraih 3 Bunga Jianghu.

Dia bangkit sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, menempa tubuhnya dengan racun, untuk bertahan hidup, membalas dendam, dan akhirnya merasakan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32. Kelas Luka yang Tidak Terlihat

Dua bulan setelah Xinyue kembali dari Pegunungan Kabut Merah dengan mata yang masih kadang melayang ke kejauhan ketika ada bau dupa manis yang terlalu menyengat, Akademi Bunga Plum resmi membuka ruangan baru di sayap barat, sebuah ruangan yang tidak memiliki meja bedah, tidak memiliki rak botol racun, dan tidak memiliki boneka latihan untuk menusuk titik akupuntur, melainkan hanya memiliki karpet tebal, bantal rendah, dan teko teh yang selalu mengepul, karena ruangan itu adalah tempat untuk "Kelas Luka yang Tidak Terlihat", kelas pertama di seluruh negeri yang diajarkan oleh seorang Permaisuri yang pernah hampir kehilangan dirinya sendiri, dan yang sekarang berdiri di depan 60 murid dengan punggung tegak dan dengan suara yang pada awalnya gemetar tetapi lama-lama menjadi tenang karena dia tahu bahwa jika dia tidak jujur tentang lukanya, maka tidak ada murid yang akan berani jujur tentang luka pasien mereka.

Hari pertama kelas, Xinyue tidak membawa gulungan, tidak membawa buku, dia hanya membawa satu benda, yaitu pita merah yang dulu Tang Hyun genggam di dalam kabut merah Pegunungan Kabut Merah, pita yang sudah pudar tetapi masih berbau melati, dan dia meletakkannya di atas meja lalu berkata, "Ini adalah penawar," katanya pelan, "bukan karena pita ini punya khasiat, tapi karena orang yang memegangnya tidak pernah melepaskannya bahkan ketika seluruh dunia bilang dia gila."

Para murid saling pandang, karena mereka datang ke sini berharap belajar cara mendiagnosis depresi atau cara membuat obat penenang, tetapi yang mereka dapat adalah cerita, dan Xinyue melanjutkan, "Menjadi tabib bukan hanya tentang menyembuhkan tubuh. Kadang tubuh sembuh, tapi orangnya tetap sakit. Dan jika kita tidak melihat bagian itu, maka kita sama saja membiarkan mereka mati perlahan."

Tang Hyun duduk di baris paling belakang, dengan alat kulit di tangan kirinya, dan dia tidak ikut bicara, karena dia tahu ini adalah kelas istrinya, dan tugasnya hanya memastikan bahwa jika Xinyue lelah, ada teh, ada air, dan ada bahu untuk bersandar.

Tiga minggu pertama kelas berjalan dengan cara yang canggung, karena para murid terbiasa menghafal resep dan titik saraf, bukan mendengarkan, dan Xinyue juga masih belajar bagaimana menceritakan pengalamannya tanpa tenggelam di dalamnya, tetapi pada minggu keempat, datang pasien pertama yang dirujuk khusus ke kelas ini, seorang gadis berusia 17 tahun dari desa selatan bernama Lin Yue, yang tubuhnya sehat tetapi sudah tiga bulan tidak mau bicara setelah seluruh keluarganya mati dalam banjir, dan semua tabib di desanya bilang "tidak ada luka, tidak ada obat."

Lin Yue duduk di karpet, memeluk lutut, menatap lantai, dan tidak menjawab ketika Xinyue bertanya namanya, dan para murid yang menonton dari belakang mulai berbisik, "Ini buang-buang waktu. Dia tidak sakit."

Xinyue tidak marah, dia hanya menuang teh, meletakkan satu cangkir di depan Lin Yue, lalu duduk di karpet juga, sejajar, tidak lebih tinggi, "Aku tidak akan bertanya apa-apa," katanya pelan, "aku hanya akan duduk di sini. Sampai kau siap."

Satu jam berlalu, dua jam berlalu, dan Lin Yue tidak bergerak, dan beberapa murid mulai gelisah, tetapi Xinyue tetap duduk, dan Tang Hyun yang dari tadi mengamati dari belakang hanya mengirim pelayan untuk mengisi ulang teh tiga kali.

Di jam ketiga, Lin Yue tiba-tiba berbisik, "Airnya dingin."

"Karena sudah lama," jawab Xinyue, "aku bisa buatkan yang baru."

Lin Yue menggeleng, "Tidak. Dingin itu mengingatkanku. Waktu banjir. Airnya dingin sekali."

Dan begitu, ceritanya keluar, pelan, tersendat, tentang bagaimana dia memanjat atap, tentang bagaimana dia melihat adiknya hanyut, tentang bagaimana dia berteriak tetapi tidak ada yang datang, dan ketika dia selesai, dia menangis untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, bukan tangis keras, melainkan tangis yang sudah lama ditahan.

Xinyue tidak memeluknya, tidak menyentuhnya, dia hanya mengulurkan pita merah itu, "Pegang ini. Ini milik suamiku. Dia memberikannya padaku waktu aku tersesat. Sekarang aku pinjamkan padamu. Sampai kau punya pita milikmu sendiri."

Lin Yue menggenggam pita itu, dan hari itu dia pulang dengan berjalan sendiri, dan seminggu kemudian dia kembali, bukan sebagai pasien, melainkan sebagai murid magang, karena dia berkata, "Aku ingin belajar cara duduk dengan orang lain seperti Yang Mulia duduk dengan saya."

Para murid yang menyaksikan itu terdiam, dan salah satu dari mereka, seorang pemuda bernama Chen, mengangkat tangan dan bertanya, "Yang Mulia, bagaimana Yang Mulia tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam?"

Xinyue tersenyum tipis, "Aku tidak tahu. Aku hanya ingat bagaimana rasanya ketika seseorang terus bertanya 'kau baik-baik saja?' padahal aku tidak baik-baik saja. Jadi aku memilih untuk tidak bertanya. Aku memilih untuk ada."

Malam itu, Tang Hyun membantu Xinyue melepas jepit rambutnya, "Hari ini berat?" tanyanya.

"Berat," jawab Xinyue, "tapi ringan. Karena aku merasa berguna lagi."

"Kau selalu berguna," kata Tang Hyun, "hanya saja sekarang caramu berbeda."

Sebulan kemudian, "Kelas Luka yang Tidak Terlihat" menjadi kelas yang paling penuh di akademi, bukan karena mudah, melainkan karena sulit, dan para murid mulai dipanggil ke desa-desa untuk menangani kasus yang bukan tentang demam atau patah tulang, melainkan tentang duka, tentang trauma perang, tentang anak yang berhenti makan setelah orang tuanya bertengkar, dan setiap kali mereka kembali, mereka akan menulis laporan bukan tentang obat apa yang diberikan, melainkan tentang apa yang dikatakan pasien, berapa lama mereka diam, dan apa yang membuat mereka akhirnya mau minum air.

Tang Ming yang mendengar laporan itu dari ibunya berkata di sidang istana, "Mungkin ini lebih penting daripada seribu pedang. Karena pedang bisa melindungi tubuh. Tapi kelas ini melindungi hati."

Xinyue menggeleng, "Bukan aku. Ini semua murid. Dan ini semua orang yang pernah tersesat dan memilih kembali."

Suatu hari, datang seorang pria tua ke paviliun, dia adalah salah satu dari "Tangan Pembalas Desa Ling" yang dulu menculik Tang Yue, dan sekarang dia bekerja di klinik perbatasan, dan dia berlutut di depan Xinyue, "Yang Mulia, saya dengar kelas Yang Mulia. Saya... saya juga punya mimpi buruk. Setiap malam saya melihat wajah anak-anak yang kami lukai. Apakah... apakah saya bisa ikut kelas itu?"

Xinyue menatapnya lama, lalu dia mengangguk, "Bisa. Kelas ini tidak menanyakan kau siapa dulu. Kelas ini hanya bertanya kau mau jadi siapa sekarang."

Pria itu menangis, dan Tang Hyun yang melihat dari jauh hanya mengangguk, karena dia tahu bahwa pengampunan dimulai dari keberanian untuk duduk di karpet dan berkata "aku sakit".

Tiga bulan berlalu, dan Lin Yue, gadis yang dulu tidak bicara, sekarang berdiri di depan kelas sebagai asisten Xinyue, dan dia yang memimpin sesi dengan pasien baru, seorang veteran perang yang kehilangan seluruh pasukannya, dan ketika veteran itu mulai berteriak, Lin Yue tidak mundur, dia hanya duduk, menuang teh, dan berkata, "Saya juga pernah berteriak. Tidak ada yang mendengar. Hari ini saya mendengar Bapak."

Sore itu, setelah kelas selesai, Xinyue pulang dengan langkah lelah tetapi dengan mata yang terang, dan dia berkata pada Tang Hyun, "Aku pikir aku tidak akan pernah berguna lagi setelah kejadian di kabut itu."

"Kau lebih berguna sekarang," jawab Tang Hyun, "karena dulu kau menyembuhkan tubuh. Sekarang kau menyembuhkan alasan orang ingin tetap hidup."

Xinyue bersandar di bahu suaminya, "Terima kasih karena tidak pernah bilang 'cepat sembuh'. Kau hanya bilang 'aku di sini'."

"Karena itu yang kau lakukan untukku waktu tanganku rusak," jawab Tang Hyun, "jadi ini adil."

Malam itu, mereka menulis bersama di jurnal akademi, Xinyue menulis tentang pentingnya diam, Tang Hyun menulis tentang pentingnya hadir, dan di halaman terakhir, mereka menulis bersama, "Luka yang tidak terlihat adalah luka yang paling dalam. Tapi cinta yang terlihat adalah obat yang paling nyata."

Enam bulan kemudian, Kaisar Tang Ming mengeluarkan dekrit bahwa setiap provinsi harus memiliki setidaknya satu "Ruangan Karpet" di setiap klinik, ruangan yang tidak untuk operasi, melainkan untuk duduk, dan bahwa setiap tabib harus mengikuti "Kelas Luka yang Tidak Terlihat" minimal satu musim, sebuah keputusan yang awalnya ditentang banyak menteri tua tetapi kemudian didukung setelah laporan menunjukkan bahwa jumlah bunuh diri di desa-desa turun setengahnya dalam setahun.

Pada hari peresmian "Ruangan Karpet" pertama di Chang'an, Xinyue dipanggil untuk berpidato, dan dia berdiri di depan ratusan orang, dengan pita merah di pergelangan tangannya, dan dia berkata, "Dulu aku pikir menjadi kuat adalah tentang tidak jatuh. Sekarang aku tahu, menjadi kuat adalah tentang jatuh, dan tetap memilih untuk bangun, dan mengulurkan tangan pada orang lain yang juga jatuh."

Kerumunan hening, lalu tepuk tangan, dan Tang Hyun yang berdiri di samping panggung dengan Tang Yue dan Tang Lei, merasa dadanya penuh, bukan karena bangga pada jabatan, melainkan karena bangga pada wanita yang dulu hampir dia kehilangan.

Setelah acara, mereka bertiga berjalan pulang melewati taman, dan Tang Yue tiba-tiba berkata, "Ibu, aku mau ikut kelas Ibu."

"Kenapa?" tanya Xinyue.

"Karena aku ingin belajar cara menyelamatkan orang seperti Ayah menyelamatkanku. Bukan dengan racun. Dengan duduk."

Xinyue memeluk putrinya, "Baiklah. Tapi kelas Ibu berat."

"Aku tahu," jawab Tang Yue, "karena menyelamatkan orang memang berat."

Malam itu, di paviliun, Xinyue duduk menulis catatan untuk kelas minggu depan, dan Tang Hyun duduk di sampingnya, memperbaiki alat di tangannya, dan mereka bekerja dalam diam, tetapi diam yang nyaman, diam dari dua orang yang tahu bahwa mereka sudah melewati badai bersama.

Sebelum tidur, Xinyue berkata pelan, "Hyun, kalau suatu hari aku tersesat lagi, janji jemput aku ya."

Tang Hyun menatap istrinya, "Aku janji. Dan kalau aku yang tersesat, kau juga harus janji yang sama."

"Aku janji," kata Xinyue, "karena kita punya dua pita merah sekarang. Satu di tanganku. Satu di hatimu."

Mereka tertawa kecil, lalu tidur, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tidak ada mimpi buruk, tidak ada kabut, hanya ada mimpi tentang ruangan penuh karpet, penuh orang yang duduk bersama, dan penuh teh yang tidak pernah dingin.

Dan di dalam hati Xinyue, dia tahu bahwa luka itu tidak akan pernah hilang sepenuhnya, tetapi sekarang luka itu punya nama, punya tempat, dan punya orang yang mau duduk di sampingnya, dan itu sudah cukup untuk membuatnya terus berjalan.

Karena "Kelas Luka yang Tidak Terlihat" mengajarkan satu hal yang tidak ada di buku manapun, yaitu bahwa penyembuhan sejati dimulai ketika seseorang berkata, "Aku melihat lukamu. Dan aku tidak akan pergi."

1
Oppojaya
😍😍
Oppojaya
mantappppp....👍👍👍
Oppojaya
👍👍👍
Oppojaya
Mengesankan... 🤗
Oppojaya
👍👍👍👍
Arni Arlinawati Pratiwi💃
punya banyak dendam thor.. mc nya di bikin kesiksa dulu, lanjutan nya balas dendam.. kebiasaan author urban nih, sekali kali ada cinta cinta an nya thor kasian mc nya taku metong gak ngerasaain mencintai seseorang.. kan sian. /Facepalm/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
baru aja masuk thor.. tiba tiba nyesek, /Facepalm/
Chandra Arbara
seorang pemuda yang terlehir kembali, untuk menjadi seseorang yang layak berdiri didunia murim
the virtuso
saling support thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!