Seorang pria mati dengan penyesalan karena gagal menegakkan kebenaran.
Ia terlahir kembali sebagai pengacara magang yang diremehkan...dan mendapatkan Sistem Keadilan Absolut kemampuan untuk melihat kebohongan, mengungkap fakta tersembunyi, dan menentukan putusan paling adil.
Dari kasus kecil hingga konspirasi besar, ia mulai mengguncang dunia hukum yang korup.
Namun satu hal segera ia sadari...
Keadilan sejati tidak selalu sama dengan hukum.
Dan kali ini...dia yang akan menentukan mana yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Di dalam ruang tahanan penjara yang dingin dan sempit, Krisanto menatap Arga dengan pandangan yang sudah pasrah.
"Mas Arga, saya bersyukur sekali Anda mau datang dan membela saya. Tapi saya sadar, nyawa saya mungkin sudah tak tertolong lagi. Saya cuma punya satu permintaan terakhir... bisakah Anda tolong jaga istri dan anak saya? Mereka berdua tuna rungu, tidak bisa apa-apa. Kalau ada cara supaya masyarakat bisa bantu mereka, saya sudah tidak punya apa-apa lagi untuk membalas budi Anda. Kalau ada kehidupan setelah mati, saya rela melakukan apa saja demi Anda."
Krisanto sudah pasrah dengan nasibnya. Dia tidak paham soal istilah hukum seperti pembelaan diri. Baginya, aturannya sederhana: siapa yang membunuh, harus bayar dengan nyawa. Dia memang sudah mencabut nyawa orang, jadi menurutnya, siapa pun pengacaranya, hasilnya pasti sama: mati.
Arga menatapnya tajam. "Kamu menyesal?"
Krisanto mengertakkan gigi, matanya memancarkan kebencian yang masih tersisa. "Tidak! Saya sama sekali tidak menyesal. Kalau saya tidak membunuh dia, dia akan terus menyiksa keluarga saya seumur hidup. Kalau saya diam saja, mungkin saya yang mati duluan, dan istri serta anak saya akan menderita jauh lebih parah. Saya membunuh dia, satu nyawa ganti satu nyawa, menurut saya itu sepadan. Cuma... sekarang saya khawatir, tidak ada yang mau menjaga mereka berdua."
"Jadi kamu mau aku yang mengurus mereka? Mencari bantuan sosial buat mereka?" tanya Arga lagi.
Krisanto hanya diam. Dia sadar dia miskin, tidak punya harta, tidak punya kuasa. Dia cuma bisa mengucapkan terima kasih, tapi itu pun rasanya tidak berarti apa-apa. Dia berdiri dan membungkuk dalam-dalam pada Arga, tanda hormat terakhirnya.
"Cukup, tidak perlu berterima kasih berlebihan. Kamu mau aku menjaga istri dan anakmu? Maaf, aku tidak punya waktu," kata Arga tiba-tiba.
Wajah Krisanto sedikit terkulai, tapi dia mengangguk mengerti. Arga hanyalah orang asing, pengacara yang punya kehidupan sendiri. Tidak pantas rasanya menyuruh orang lain mengurus keluarganya seumur hidup.
"Tapi..." potong Arga, "Kalau kamu yang mau mengurus mereka, itu urusanmu sendiri."
Krisanto mengerutkan kening bingung. "???"
Dia terpidana mati, yang besok saja nyawanya belum tentu ada. Bagaimana mungkin dia bisa menjaga istri dan anaknya?
"Aku sudah meneliti berkas kasus ini sampai ke akar-akarnya," kata Arga pelan namun tegas. "Tindakanmu itu murni membela diri, bukan pembunuhan berencana. Jadi besok di pengadilan, ikuti saja semua instruksiku. Masih ada peluang besar buat mengubah hukumanmu jadi penjara, bahkan... bebas total."
Mata Krisanto terbelalak kaget. "Hah?!"
Dia tidak pernah bermimpi hukuman matanya bisa berubah jadi penjara! Selama nyawanya terselamatkan, selama dia tidak dieksekusi, suatu saat dia bisa bebas dan bertemu mereka lagi. Soal bebas total... itu hal yang terlalu indah buat dia bayangkan.
**
Satu hari lagi, sidang banding akan dimulai!
Seluruh penjuru internet kembali riuh rendah. Ini kesempatan lain buat melihat aksi Arga di pengadilan!
"Si Gila Hukum bakal beraksi lagi di pengadilan!!"
"Jujur saja, kali ini puncaknya berat banget. Fakta dia membunuh itu nyata. Membunuh itu pasti mati. Bisakah Mas Arga mengubah hukuman mati jadi seumur hidup saja?"
"Kalau cuma jadi penjara seumur hidup, itu sudah luar biasa hebat. Yanto itu korban juga, dia laki-laki tangguh yang sabar bertahun-tahun. Rasanya sayang kalau dia mati, tapi kasusnya memang mati banget. Entah Mas Arga sanggup atau tidak."
"Betul, dan lawannya bukan kaleng-kaleng. Rasman, pengacara elit. Mas Arga nggak punya keuntungan apa-apa di sini. Susah banget rasanya."
"Krisanto memang hebat, tapi rasanya hukuman mati tak terelakkan."
"Kasihan banget Yunita... disiksa hidup-hidup, terus suaminya mati, harus besarin anak sendirian. Dia kan bisu tuli, gimana caranya bertahan hidup?"
"Memohon banget sama Mas Arga, tolong ubah hukumannya jadi seumur hidup saja ya..."
Sementara itu, banyak ahli hukum dan pengacara ternama mulai memberikan analisis profesional mereka.
Salah satunya adalah Pengacara Farhan abbas yang punya jutaan pengikut di media sosial. Dia membuat video panjang membahas kasus ini.
"Semua orang lagi fokus sama kasus Krisanto ini ya. Di sidang pertama dia divonis mati, dan sekarang Arga jadi pembelanya di sidang kedua. Izinkan saya memberikan pandangan profesional saya... sebenarnya jawabannya simpel saja," kata Farhan dengan nada yakin.
"Bukti kalau Krisanto membunuh itu melimpah ruah. Sekalipun terbukti Surya memang sering menganiaya keluarga itu, secara hukum tindakan Krisanto itu dianggap melampaui batas pertahanan diri, tetap dikategorikan pembunuhan berencana. Syarat pembelaan diri itu sangat ketat, kasus ini tidak memenuhinya. Jadi kecuali ada bukti baru yang mengejutkan yang belum diketahui siapa pun, vonis mati itu sulit dibatalkan."
Farhan melanjutkan, "Kalau kalian berharap hukuman mati diubah jadi seumur hidup, itu nyaris mustahil. Sekalipun Krisanto menyerahkan diri duluan, niat membunuhnya dianggap kuat. Satu-satunya jalan mungkin minta pengampunan dari keluarga korban, itu pun biasanya harus tebusan uang yang sangat besar, dan belum tentu dikabulkan. Jadi harapan buat dapat hukuman seumur hidup saja pun sebenarnya tidak realistis."
Pendapat Farhan sangat berbobot dan mempengaruhi opini publik. Pengacara-pengacara lain pun sependapat.
"Mengubah mati jadi seumur hidup? Itu tantangan gila. Siapa pun yang menangani pasti pusing. Hukum tetaplah hukum. Paling banter kita bisa berargumen niat membunuhnya tidak kuat, tapi keputusan tetap di hakim. Peluangnya kecil sekali."
"Arga menang kasus kemarin karena kliennya benar-benar tidak bersalah. Kali ini dia membela orang yang memang membunuh. Hasilnya bakal hampir sama saja siapa pun pembelanya."
"Tidak ada jalan lain. Membunuh itu pasti mati. Arga ambil kasus ini sebenarnya berat sekali. Kalau saya jadi dia, saya bingung mulai dari mana, paling cuma bisa berjuang sekuat tenaga tanpa harapan besar."
Suara-suara ini makin menguatkan anggapan umum: hukuman mati tidak terelakkan, tinggal menunggu waktu eksekusi saja.
"Besok akhirnya dimulai. Kita lihat saja nanti hasilnya. Meski begitu, aku tetap dukung Krisanto, dia laki-laki sejati!"
"Tapi keluarga di Desa Bukit Indah itu benar-benar menjijikkan ya. Mulutnya jahat banget menfitnah Yunita. Nggak tahu malu."
"Ya sudahlah, Surya kan sudah mati. Kita cuma bisa bersedih buat nasib Yunita dan Dinda. Gimana nasib mereka ke depan ya?"
"Kasihan Mas Arga juga, posisinya serba salah. Semoga aja dia bisa kasih kejutan, setidaknya jadi seumur hidup saja..."
"Kalau Mas Arga berhasil ubah hukuman mati jadi seumur hidup, aku janji bakal rayain gede-gedean dan dukung dia seumur hidup!"
semangat author/Determined/
tapi kali ini, saya akan lawan💪
semoga endingnya nggak mengecewakan🤭