NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Pernahkah kamu salah memilih pasangan hingga berujung maut?

Shanaya tewas setelah dipaksa menelan racun. Suaminya, Alvian, dan sepupunya, Anastasia, merampas perusahaannya. Mereka berdua bahkan membunuh ibu Shanaya demi uang.

Mati ternyata bukan akhir bagi Shanaya. Dia terbangun tujuh tahun di masa lalu, tepat tiga hari sebelum acara tunangannya dengan Alvian.

Shanaya menolak mati konyol untuk kedua kalinya. Dia menyusun siasat untuk membalas dendam. Targetnya adalah menghancurkan Alvian dan Anastasia.

Untuk itu Shanaya butuh panggung besar. Dia mengincar Steven Aditya, bos media televisi. Dulu Steven ikut andil dalam kehancurannya. Kali ini, Shanaya akan memaksa pria itu tunduk dan bekerja sama.

Satu kejutan menanti Shanaya. Bukan cuma dia yang kembali ke masa lalu. Ada satu orang lagi yang juga hidup kembali dan mengulang waktu. Siapa orang ini? Apakah dia sekutu yang akan membantu Shanaya, atau musuh yang jauh lebih mematikan?

Baca cerita ini dan temani Shanaya menagih balasa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Pertama

Shanaya mematikan mesin mobilnya di area parkir VIP Menara Aditya. Tangannya masih mencengkeram kemudi. Ujung jarinya memutih. Lalu lintas Jakarta yang padat pagi ini tidak terekam dalam ingatannya.

Untuk pertama kalinya setelah kematiannya, pikirannya lebih berisik daripada strategi bisnisnya.

Sejak kapan Steven Aditya menjadi orang pertama yang ia cari setelah dunia mencoba menghancurkannya lagi?

Pertanyaan itu terus berputar. Tidak ada jawaban logis. Shanaya keluar dari mobil. Ia merapikan lipatan jas kerjanya. Mode perangnya kembali menyala.

Lantai marmer hitam di lobi utama memantulkan bayangannya. Udara pendingin ruangan terasa dingin. Resepsionis di lantai eksekutif refleks berdiri saat melihat Shanaya melangkah masuk tanpa jadwal. Tangannya terangkat panik, mencoba menahan laju tubuh perempuan itu.

"Maaf, Ibu Shanaya. Pak Steven sedang rapat internal. Beliau tidak menerima tamu tanpa—"

Shanaya tidak berhenti. Langkahnya stabil. Dagunya terangkat.

Dua petugas keamanan berseragam gelap melangkah maju dari arah lorong. Postur mereka tegap, siap mengadang. Shanaya memelankan langkah. Ia menatap kedua pria itu tepat di mata. Dingin. Tanpa kompromi.

Salah satu petugas itu membeku. Matanya baru saja melirik layar televisi raksasa di sudut lobi yang sedang menyiarkan berita kilat Kanal Satu. Judul merah menyala mendominasi layar. Fakta Terbalik: Restu Group Di Ambang Bangkrut.

Wajah Shanaya menguasai semua portal berita sejak satu jam lalu. Petugas itu menelan ludah. Ia saling pandang dengan rekannya. Pria itu menunduk pelan, lalu mundur satu langkah. Ia memberi jalan.

Tidak ada orang waras yang berani menyentuh perempuan yang sedang menguasai narasi seluruh media ibu kota.

Shanaya berjalan melewati mereka tanpa menoleh. Ia menekan tombol angka lima puluh di dalam lift eksekutif. Pintu baja perlahan menutup. Kotak besi itu melesat naik. Angka digital di atas pintu terus berganti. Shanaya menatap pantulan dirinya di dinding metal. Wajahnya tenang, tapi jantungnya berdetak tidak beraturan.

Pintu kayu mahoni di lantai paling atas terbuka. Ruang kerja Steven selalu sama. Luas, sunyi, dan minim ornamen. Pria itu duduk di balik meja kerja besarnya. Ia sedang membaca laporan di tablet. Sinar matahari pagi menembus kaca jendela di belakangnya, menyorot siluet bahunya yang tegap.

Steven mendongak. Tidak ada kerutan terkejut di dahinya. Tangannya meletakkan perangkat itu ke atas meja. Gerakannya sangat teratur.

"Aku tidak ingat menyuruhmu datang." Suara bariton Steven memecah kesunyian.

Shanaya melangkah mendekat. Hak sepatunya beradu dengan lantai kayu. Bunyinya mengisi jarak di antara mereka. Ia berhenti tepat di depan meja. Kedua tangannya bertumpu pada tepian kaca.

"Aku nggak butuh undangan cuma buat bilang terima kasih."

Steven bersandar di kursinya. Matanya gelap, menolak terbaca. "Terima kasih untuk apa? Artikel Kanal Satu murni keputusan bisnis."

"Jangan bodoh, Steven." Shanaya mencondongkan tubuhnya ke depan. "Dokumen perbankan keluarga Restu itu rahasia tingkat tinggi. Kamu membocorkan data itu mentah-mentah ke publik. Tanpa sensor sama sekali. Kamu mempertaruhkan tuntutan hukum miliaran rupiah dari Surya Restu."

Shanaya menarik napas pendek. "Itu bukan sekadar bisnis. Kamu membakar jembatanmu sendiri hari ini."

Steven berdiri perlahan. Ia berjalan mengitari meja kerjanya. Langkahnya pelan tapi pasti. Pria itu berhenti tepat di depan Shanaya. Jarak mereka menyempit drastis. Aroma kopi hitam dan wangi kayu dari kemeja pria itu tercium jelas.

"Kamu terlalu percaya diri." Steven memasukkan satu tangan ke saku celana panjangnya. Ia menatap lurus ke mata Shanaya. "Saya merilis dokumen itu karena rencana kamu ceroboh. Kamu berniat menyebar rekaman ilegal dan masuk penjara. Saya tidak mau rekan bisnis saya memakai baju tahanan minggu depan. Jadwal peluncuran kita bisa hancur."

Shanaya mendongak. Jantungnya memukul tulang rusuknya lebih keras. Pria ini sangat ahli mengelak. Ia selalu punya tameng logis untuk membenarkan tindakan impulsifnya.

"Kamu bisa aja memakai jurnalis bayanganmu untuk merilis opini anonim," balas Shanaya. Ia tidak mundur satu langkah pun. Ujung kukunya menekan telapak tangannya sendiri untuk menjaga kesadaran. "Tapi kamu memakai nama Kanal Satu secara terang-terangan. Kamu pasang badan."

Shanaya menantang tatapan itu. "Berhenti sembunyi di balik kata bisnis. Kamu peduli. Kamu nggak tahan membiarkan Anastasia menghancurkanku lagi."

Steven diam. Sangat lama.

Sorot matanya terpaku pada wajah Shanaya. Otot rahang pria itu bergerak samar. Hening yang turun di antara mereka terasa tebal.

Diamnya Steven itu saja sudah cukup menjadi jawaban.

Pria itu akhirnya menarik napas pelan. "Kalau kamu jatuh sekarang, semua orang yang pernah meremehkanmu akan merasa mereka benar."

Steven menatapnya tajam. Suaranya berubah serak. "Dan saya tidak suka melihat orang bodoh menang."

Untuk sesaat, tidak ada yang bicara. Jarak di antara mereka terlalu dekat. Shanaya tiba-tiba merasa sulit bernapas normal. Tatapan Steven tertuju padanya. Mata pria itu turun ke bibir Shanaya selama satu detik, sebelum kembali naik. Ada sesuatu yang sangat berbahaya di sana. Sesuatu yang selama ini selalu ditutupi oleh sikap rasional dan profesional.

Shanaya benci menyadari ini. Ia benci fakta bahwa pria ini masih sanggup menembus kewaspadaannya. Setelah semua pertahanan yang ia bangun dari abu kehidupannya yang hancur, kehadiran Steven membuat segalanya menjadi rumit.

Ponsel Shanaya bergetar di dalam tas tangannya. Suara dengungannya sangat keras di tengah kesunyian. Layarnya menyala terang, memaksa Shanaya menarik pandangannya dari Steven.

Fokus Shanaya terpecah. Ia melangkah mundur untuk mengambil jarak, lalu meraih ponselnya. Matanya menangkap pratinjau pesan masuk.

Sebuah surel resmi dari perwakilan Maison de Blanc. Merek busana mewah asal Prancis itu adalah target utama Shanaya. Ia sudah mendekati mereka untuk mendongkrak status Kesuma Mode ke pasar global. Kesepakatan itu hampir final.

Subjek surel itu memukul matanya: Konfirmasi Kolaborasi Eksklusif - Anastasia Lim.

Urat leher Shanaya menegang. Darahnya terasa membeku.

Anastasia lagi. Sepupunya itu tahu persis kapan harus menusuk. Anastasia memanfaatkan kekacauan media pagi ini untuk menyodorkan namanya ke pihak Prancis. Ia menikung kesepakatan internasional Kesuma dari belakang. Tepat di saat Shanaya sibuk mengurus serangan viral, Anastasia mencuri aset paling berharga miliknya.

Perubahan drastis langsung terlihat di postur Shanaya. Bahunya tegak kaku. Tatapan matanya berubah kosong dan penuh perhitungan. Dinding esnya kembali naik setinggi langit, menutup rapat celah kerentanan yang sempat terbuka tadi. Mode perangnya menyala otomatis.

Steven berdiri diam mengamati transisi itu. Ia melihat kilat es kembali menguasai mata Shanaya. Beban baru baru saja dijatuhkan ke pundak perempuan di depannya ini.

"Kalau kamu mau bilang terima kasih, kamu tidak perlu," kata Steven pelan. Sorot matanya tidak lepas dari wajah Shanaya. "Tapi kalau kamu mau cerita apa yang sebenarnya terjadi, I'm all ears."

Shanaya mematikan layar ponselnya. Ia membuang muka.

"Aku bisa mengurus urusanku sendiri."

Shanaya meraih tasnya. Ia berbalik memunggungi Steven tanpa mengucapkan kalimat perpisahan. Hak sepatunya beradu cepat dengan lantai kayu. Ia berjalan menjauh, keluar menuju pintu.

Pintu kayu mahoni itu tertutup rapat dengan bunyi klik pelan di belakang punggung Shanaya.

Lorong panjang berkarpet tebal di depannya terasa sangat sepi. Langkah kakinya stabil. Ia berjalan seperti seorang jenderal yang kembali memakai baju zirahnya.

Shanaya berhenti di depan pintu lift. Angka indikator turun perlahan, berkedip merah menyala. Udara pendingin ruangan menerpa kulit lehernya.

Ia menekan tombol ke bawah. Giginya menekan bagian dalam pipi hingga terasa perih.

Shanaya tidak bisa lagi memastikan mana yang lebih mengganggunya.

Pengkhianatan Anastasia... atau tatapan mata Steven tadi.

1
gina altira
Rasakannn
gina altira
Gila, ini duo monster
gina altira
Bikin emosi ni Anastasia
sukensri hardiati
dari shanaya pindah ke sabrina...trus ke shanaya lagi....makasiiih....
sukensri hardiati: Sami2 👍💪🙏
total 2 replies
sukensri hardiati
tambah rameee....
sukensri hardiati
waduuuuh....
sukensri hardiati
bodoh banget yg mau kerja sama ama anastasia....dah ketahuan dua kali jadi plagiator
gina altira
Konflik nya makin seruu, 👍
gina altira
Shanaya kuat
tutiana
luar biasa
sukensri hardiati
cepet up ya....pingin tahu cara steven keluar dr jeratan masalahnya
sukensri hardiati
ayah shanaya dah meninggal ya...
sukensri hardiati
lama juga tunangannya...tujuh tahun..
sukensri hardiati: 🙏💪👍 ok....dah klir
total 3 replies
gina altira
Steven perhatian juga
Titi Liana
suka
tutiana
sm seperti bab sebelumnya Thor ?
INeeTha: Makasih kak🙏🙏
total 4 replies
gina altira
greget bgt sama Alvian
INeeTha
Makasih buat semua yang sudah mampir, semoga suka dan baca sampai tamat lagi ya 🙏🙏🙏
tutiana
hadirr Thor
gina altira
Semangat terus Thor
INeeTha: makasih kaka🙏🙏🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!