Alvaro Zaidan Alexander adalah anak ketiga dari empat bersaudara, ia adalah anak tengah yang hampir terlupakan oleh keluarganya sendiri semenjak sang mamah meninggal, keluarganya yang dulunya harmonis dan hangat sekaranh hanya keluarga dingin dan juga kaku.
Dan ada satu kejadian yang membuatnya berubah yaitu musuh bebuyutan sang Papah yang mengincarnya yang membuat sang Papah dan 3 saudaranya berubah seketika...
Apa yang di inginkan oleh musuh Papah kepada Alvaro?
Apakah mereka berhasil melindungi Alvaro atau tidak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patmandari Nugraheni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 27 Kepingan yang Mulai Menyatu
''Awhh.... sakit" ringis Alvaro pelan, ia pun hanya bisa menggigit bibir bawahnya saat ia merasakan obat yang di masukkan oleh perawat di dalam infusnya dan ia sudah merasakan obat itu masukkan kedalam tubuhnya dengan tanda nyeri dan kebas yang ia rasakan di tangannya.
"Sabar Al, tahan sebentar ya. Sebentar lagi gak sakit kok'' bisik Elvano yang berada di samping Alvaro dan dengan nada bergetar karena khawatir kepada Alvaro yang sedang menahan rasa sakit yang ia rasakan karena efek obat yang perawat masukkan kedalam infusnya.
Tengannya pun tidak sedikitpun beranjak maupun melepas dari genggaman kakak kembarnya itu, seolah-olah ia berusaha menyalurkan kekuatannya agar rasa sakit itu bisa di tahan bersama-sama.
Melihat saudara mereka yang sedang menahan rasa ngilu yang dia rasakan di tangannya, Arlan dan Erlan pun hanya bisa menatap Alvaro dengan rasa iba karena mereka berdua hanya bisa menatap dan memberikan kekuatan sekaligus doa untuk Alvaro.
Sang papah hanya bisa memalingkan mukanya sejenak dan sekaligus mengucapkan doa di dalam hatinya, dan ia hanya bisa melihat putra ketiganya menahan sakit seorang diri. Jika bisa ia ingin penyakit Alvaro berpindah di dirinya, ia berusaha akan menjaga Alvaro segenap jiwa dan raganya dari orang yang sedang mengicar Alvaro sekaligus membahagiakan Alvaro mulai sekarang. Karena dulu ia tidak sempat membahagiakan Alvaro saat kematian sang istri tercinta dan juga ia menyalahkannya karena kematian istri tercintanya.
“Sudah selesai dek, obat Pereda nyari dan antibiotiknya sudah masuk dan untuk kalua sudah habis bisa panggil perawat yang sedang berjaga, ya” ucap perawat tersebut dengan senyum ramah setelah selesai merapikan Kembali suntikan yang ia pakai tadi.
“Alhamdulilah, terimakasih banyak ya sus” balas Arlan kepada perawat tersebut untuk mewakili keluarganya.
Perawat itu pun hanya bisa mengangguk dengan sopan dan segera keluar dari ruang rawat Alvaro, keheningan pun sempat menyelimuti di dalam ruang rawat Alvaro setelah kepergian perawat tersebut.
Namun tak lama, kelopak mata Alvaro yang tadinya terpejam karena menahan rasa sakit efek dari obat yang tadi di suntikan oleh perawat tersebut akhirnya terbuka perlahan-lahan karena masih sedikit merasakan sakit di tangannya. Rasa sakit yang sempat mendera dirinya perlahan-lahan memudar berganti dengan rasa ngantuk yang ia rasakan.
“Tidurlah lagi Al, biar kamu bisa cepet sembuh dan kita cepat pulang kamu bosenkan di sini’’ ucap Erlan lembut sambil mengusap rambut Alvaro yang masih terasa panas di telapak tangannya.
Alvaro pun hanya bisa tersenyum lemah dan mengangguk pelan sebagai jawaban atas ucapan sang kakak kepada dirinya, ia pun memejamkan matanya dan membiarkan tubuhnya Kembali beristirahat. Suasana kamar pun berubah jauh lebih tenang dari pada beberapa waktu lalu.
Elvano pun masih setia duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang milik Alvaro, ia pun menatap wajah damai kembarannya yang terlihat masih begitu pucat. Sementara itu, Alaric sang papah melangkah mendekat kearah ranjang Alvaro dengan Langkah yang sedikit ragu.
“Varo… anak papah yang hebat.. cepat sembuh yaa” lirih sang papah dan secara tak terduga air matanya pun tak bisa ia bending lagi sehingga membasahi pipinya yang sudah terlihat sangat kekelahan.
Uncle Sam yang berdiri di belakangnya hanya bisa menepuk pundak sang sahabat, untuk memberikan kekuatan dan juga dukungan kepada dirinya. Elvano pun menoleh kearah sang papah dengan tatapan mata yang menyirat kesedihan di dalam tatapan tersebut.
“Papah jangan nangis, Al pasti sembuh kok” ucap Elvano kepada sang papah dengan nada yang sedikit parau.
Alaric pun hanya bisa mengangguk pelan untuk menanggapi ucapan dari anak bungsunya itu, ia menatap lekat wajah tidur Alvaro sama persis seperti wajah mendiang sang istri tetapi versi laki-lakinya. Ia pun berjanji di dalam hatinya untuk menembus semua kesalahannya dan sekaligus menjaga putra ketiganya itu layaknya permata yang paling berharga.
Malam itu, di dalam ruang rawat yang hamper semuanya bernuansa putih itu, dinding ego dan sekaligus kesalah pahaman pun sudah runtuh sepenuhnya dan di gantikan oleh kehangatan keluarga yang Kembali utuh meskipun itu tidak sepenuhnya Kembali seperti sedia kala.
Dan di luar dugaan, jari-jari Alvaro bergerak merespons sentuhan dari sang papah. Kelopak matanya yang tadi sempat tertutup rapat sekarang kembali terbuka secara perlahan-lahan, memperlihatkan manik mata dengan tatapan yang cukup sayu namun memancarkan kelegaan di dalam tatapan mat aitu.
Alvaro menatap sang papah dengan tatapan yang tidak lagi di warnai kegugupan maupun kecanggungan di dalam tatapan itu. Bibirnya yang masih pucat itu mengembang menjadi sebuah senyum tipis yang sangat tulus, seolah-olah ia mengatakan ia baik-baik saja dan sudah memaafkan sang papah sudah dari lama.
Momen emosional itu tak ayal membuat dada Elvano, Arlan dan juga Erlan bergemuruh dan penuh karena kehangatan. Elvano yang ada di sisi Alvaro dengan sigap menggenggam tangan sang kakak kembar yaitu Alvaro semakin kuat dari pada sebelumnya, sementara Arlan dan juga menghela napas karena rasa syukur yang mereka rasakan sekarang.
Uncle Sam, yang sejak tadi menjadi saksi bisu keadaan dari keluarga yang sempat hamper runtuh tersebut dan ia hanya bisa tersenyum hangat melihat pemandangan di depannya itu. Baginya, melihat sahabatnya bisa berdamai dengan masa lalunya itu dan menjalani hidup dengan ikhlas dan dengan lapang dada bersama dengan keempat anaknya meskipun belahan jiwanya telah tiada itu Adalah keajaiban paling mulia untuk keluarga mereka.
“Alaric, kau berhasil mengikhlaskan masa lalumu dan menjadikan itu pembelajaran untuk dirimu dan juga untuk mereka” ujar uncle Sam dengan tenang.
Dan sang papah yang mendengar ucapan dari sang sahabat sekaligus tangan kanannya itu hanya bisa mengangguk dengan pelan dan tidak lupa dengan senyum simpulnya, ia pun menoleh kearah Alvaro dan ketiga anaknya yang lainnya dengan tatapan penuh arti.
“Arlan, Erlan dan kamu juga Elvano… terima kasih ya sudah mau bertahan dan berjuang meskipun dulu kalian saling membenci tp sekarang kalian memiliki ikatan yang sangat kuat sekarang dari pada dulu” ucap sang papah kepada mereka bertiga.
“Tentu saja pah, kami juga mau membalas kesalahan kita kepada Alvaro dengan kasih sayang yang dulu belum sempat kami berikan sepenuhnya, papah. Karena dulu kami juga membenci Alvaro padahal itu bukan kesalahan dirinya kami mau meminta maaf dan juga berterima kasih kepada Alvaro kerna sudah bertahan” jawab Arlan kepada sang papah untu mewakili kembarannya dan juga adik bungsunya.
Kamar rawat yang hampir seluruhnya yang hampir putih itu menjadi saksi bisu keluarga yang dulunya dingindan juga kaku sekarang secara perlahan-lahan menjadi hangat seperti sedia kala.
Kepingan-kepingan yang dulu sempat hancur, meskipun membutuhkan proses untuk kembali utuh seperti sedia kala membutuhkan waktu dan kesabaran yang sangat luas, suasana perlahan-lahan Kembali sunyi tapi tetap hangat di saat Alvaro Kembali terlelap untuk menyelam kealam mimpinya dan juga napasnya kini jauh lebih teratur.
Malam itu menjadi saksi bisu bahwa cinta dab maaf memiliki kekuatan yang sangat kuat untuk menyatukan Kembali sebuah keluarga yang hampir hancur oleh badai masa lalu yang sangat kuat bagi mereka semua.