NovelToon NovelToon
Cinta Dan Gairah

Cinta Dan Gairah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Model / Obsesi / CEO / Romantis
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Li Qiqiu

Hidup Angel yang semula tenang berubah menjadi menakutkan setelah melihat sesuatu yang tak seharusnya. Setiap malam, tidur nyenyaknya harus terganggu oleh mimpi-mimpi aneh yang membuatnya terbangun tengah malam. Anehnya, mimpi itu hilang setelah ia bertemu William, generasi ke-3 dari Xun Yi Group tempat ia bersekolah dan bekerja. Sebagai tokoh utama di mimpinya, apakah ini ada kaitannya dengan berakhirnya mimpi yang ia alami selama ini? Meskipun William tidak melakukan apapun terhadapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Li Qiqiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Seiring dengan dekatnya pemilihan model untuk fashion show merek pakaian Y dan beberapa brand lainnya, kesibukan Angel semakin padat ditambah dengan persiapan ujian masuk perguruan tinggi, seolah waktu 24 jam yang dimiliki kurang. Namun menurutnya apapun yang ia lakukan saat ini sepadan untuk masa depannya.

Meskipun saat ini hubungannya dengan William mengalami peningkatan tapi ia tak ingin memanfaatkan status William. Karena ia sendiri juga tak yakin jika di masa mendatang hubungannya akan bertahan. Setelah melihat berbagai kisah dari yang dibagikan netizen, satu hal yang ia yakini bahwa jodoh haruslah setara.

"Apakah aku harus meminta ibuku untuk lebih memperhatikanmu?" tanya William saat melihat Angel tengah bersiap-siap untuk pergi ke kantor. "Bukankah itu lebih mudah untukmu segera menjadi model terkenal?"

Kaki Angel yang jenjang dipadankan dengan celana high waist putih dengan atasan bodysuit hitam dan blazer oversize yang menutupi bentuk tubuhnya, memakai sneakers putih demi kenyamanan sebelum menggunkan heels berjam-jam nanti. "Aku tidak ingin merepotkan siapapun. Biarkan aku bekerja sebagaimana mestinya. Aku tidak ingin dianak emaskan. Kau tahu kan itu malah dapat mengundang fitnah yang lebih kejam?"

"Kau yakin? Aku tidak tega melihatmu berlatih berjam-jam hingga kakimu lecet." William bangkit dari duduknya, mendekati Angel dan memeluknya.

Angel membalas pelukan William, ia mendongak. "Itu bukti bahwa aku bekerja keras," yakin Angel pada William.

William menciumnya dalam. "Bolehkah aku mengantarmu?"

"Biarkan aku melakukan semuanya sendiri, Will." Mata William terbelalak, untuk pertama kalinya Angel memanggilnya tanpa 'pak' atau 'bapak'. "Lagipula aku sudah terbiasa sendiri."

Setelah mencerna keterkejutannya, William kembali menciumnya. Kali ini lebih dalam dan tergesa-gesa. Menuntut Angel segera membuka bibirnya dan menerobos masuk, mengabsen rentetan gigi-gigi Angel memaksanya untuk mengikuti ritme permainan.

Setengah tersenyum, Angel memukul-mukul dada bidang William mencoba menghentikannya. "Kita akan sama-sama terlambat jika tidak berhenti."

Terengah-engah William menjawab, "untuk pertama kalinya kau memanggilku hanya dengan namaku. Aku sangat bahagia."

"Aku pikir, seharusnya bisa menikmati kebersamaan kita selama masih memiliki waktu. Dan memanggilmu dengan nama adalah langkah awal untuk memulai semua dari awal."

***

Menemui Adrian Wijaya --cucu tertua keluarga Wijaya-- di kantornya, William berniat menceritakan keberhasilannya menaklukan Angel. Namun, yang dilihatnya adalah wajah suntuk Adrian di tengah tumpukan berkas-berkas.

"Melihat ekspresimu, siapapun yang tidak tahu akan mengira bahwa kau bekerja untukku." Adrian menatap sekilas William yang tengah berjalan memasuki kantornya tanpa mengetuk. "Ayolah Dri, bisakah kau sedikit tersenyum? Apakah selingkuhanmu mulai menuntut lebih padamu?"

"Diamlah jika tak ingin tinjuku melayang di wajahmu," ancam Adrian, tangannya tak berhenti membuka lembar demi lembar berkas kontrak di depannya. "Aku tekankan, bahwa aku tidak selingkuh."

William tertawa mendengar pembelaan Adrian. "Lalu apa sebutannya jika laki-laki dan perempuan selalu makan bersama, minum kopi bersama setiap hari, menghabiskan akhir pekan bersama, dan liburan bersama?" jeda sebentar, William menarik sudut bibirnya. "Ah, juga memesan kamar hotel bersama?"

"Kau mengancamku, Will?" Adrian menutup berkasnya, atensi sepenuhnya ia alihkan pada William. "Katakan, ada urusan apa kau mencariku?"

Melihat Adrian yang menyerah untuk mengabaikannya, William lagi-lagi tertawa. "Tidak ada. Aku hanya sedang... berbahagia."

"Kau sudah mendapatkan bocilmu?"

"Tutup mulutmu, Adrian. Dia bukan anak-anak, sebentar lagi usianya 18 tahun. Kami hanya berjarak 10 tahun. Dan setelah aku melihat dirinya secara utuh, sungguh dia bukan anak-anak lagi. Setidaknya dalam waktu dekat aku akan membuatnya terlihat lebih dewasa."

Adrian berdecih mendengar perkataan konyol William. "Hentikan pikiran kotormu itu, Will. Sebaiknya kau jangan merusaknya. Jangan lupa siapa dia sebenarnya. Atau kau akan menyesal seumur hidupmu."

"Seharusnya itu yang kukatakan padamu, Dri. Anna begitu baik, tidak seharusnya kau memperlakukannya sebegitu jahatnya. Dia bukan orang yang mudah memaafkan kesalahan orang lain, seharusnya kau tahu itu." Tak terima dinasehati oleh orang yang berbuat lebih buruk daripadanya, William mengingatkan Adrian untuk berhenti bermain api. Ia bangkit dan meninggalkan Adrian yang terpekur.

***

Waktu terus berjalan, persaingan semakin panas, coach semakin ketat dalam melatih. Tak terhitung jumlahnya berapa kali para model berjalan di atas runway. Untuk pertama kalinya, Angel mengikuti pelatihan se-ekstrim ini. Mungkin inilah alasan beberapa model di agensinya menjadi begitu terkenal bahkan hingga kancah internasional.

Latihan intensif kali ini difokuskan pada model-model junior yang sudah memiliki dasar namun belum kuat. Sehingga sesi latihannya bisa mencapai 2 sampai 4 jam per sesi. Tak hanya berjalan di atas runway, tapi juga diselingi dengan koreksi postur, latihan ekspresi, cara berputar (pivoting), serta penyelarasan tempo langkah dengan musik.

Akhirnya Angel bisa duduk dan meneguk air setelah 4 jam nonstop berdiri dan berjalan di atas runway dengan heels. Ia mengedarkan pandangannya, keadaan model yang lain pun sama dengannya. Beberapa model duduk berkelompok, namun tak banyak juga yang sepertinya, duduk menyendiri. Sejujurnya dia juga tidak terlalu akrab dengan model yang lain. Selain itu, sejak kejadian fotonya yang disebarkan, Angel semakin membatasi pergaulannya dengan model yang lain. Ia khawatir, kejadian itu terulang lagi.

"Kau tidak bergabung bersama mereka?" tanya seseorang membuyarkan lamunannya. "Zia... " Gadis itu mengulurkan tangan memperkenalkan dirinya. "Angel kan?"

Angel tersenyum menyambut uluran tangan, mengangguk mengiyakan. "Kau tahu namaku?"

"Semua orang di sini tahu siapa kamu." Angel mengerutkan dahinya tak mengerti, menunggu penjelasan lebih lanjut. "Skandal yang di hotel beberapa bulan yang lalu. Bukankah itu kamu?"

Angel tersenyum canggung, bingung bagaimana hendak menyangkal ketika berita tersebut benar adanya meskipun tidak seratus persen benar. "Hemmm, mereka terlalu membesar-besarkan, faktanya tidak demikian."

Zia semakin mendekat, tertarik dengan topik yang sebenarnya Angel hindari. "Jadi, itu bukan fotomu?" Angel bungkam, tidak membenarkan atau menyangkal. "Atau itu memang dirimu?"

"Hemmm, sejujurnya aku sedikit tidak nyaman membahas ini. Bisakah kita bicara hal lainnya?"

"Jadi itu benar kamu?!" teriak Zia yang seketika dihentikan Angel. Sontak membuat seisi ruangan menatap mereka. "Tidak ada hal yang lebih menarik daripada William Wijaya. Kau sungguh beruntung Angel. Asal kau tahu saja, setiap gadis di ruangan ini berharap bisa bersanding dengan William Wijaya. Mereka bahkan rela membuka baju untuknya."

"Benarkah?" Zia mengangguk mantap. "Termasuk dirimu?"

Zia tersenyum, menunjukan rentetan giginya yang rapi. "Bisa jadi, jika aku belum memiliki pacar." Zia membenarkan duduknya, menghadap Angel. "Apa kau tidak penasaran mengapa tidak ada satupun dari mereka yang mau berteman denganmu?"

"Mereka tidak mau berteman denganku?" Mata Angel menyipit, dahinya berkerut. Apakah ia pernah menyinggung masing-masing dari mereka?

"Mereka tidak menyukaimu karena skandalmu dengan William Wijaya. Mereka merasa kamu tidak sebanding dengan mereka. Tapi, mengapa malah kamu yang sudah tidur dengan William?"

"Aku tidak tidur dengan William," sahut Angel spontan. "Lagipula, aku tidak peduli apakah mereka menyukaiku atau tidak. Aku hanya ingin berfokus untuk casting nanti."

"Pemikiran yang bagus. Aku suka gayamu. BTW, bagaimana William di ranjang?"

"Bukankah sudah kukatan bahwa aku tidak tidur dengan William."

"Kalau begitu, bagaimana ciumannya?"

Sontak wajah Angel yang putih berubah warna kemerah-merahan, pikirannya langsung membawanya pada ingatan semalam. Meskipun pada akhirnya ia dan William tidak melakukannya, namun ciuman panas mereka sudah lebih dari cukup. Sebab ia belum pernah merasakan sebelumnya. Ia yakin, bersama William akan ada sensasi dan pengalaman baru yang lebih menantang dan bergairah.

"Kami.... tidak berciuman." Angel menjawab ragu.

Zia berdecih, raut muka Angel telah menjawab pertanyaannya. "Kau yakin?'

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!