NovelToon NovelToon
Cintai Aku Sekali Lagi

Cintai Aku Sekali Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu / Berbaikan
Popularitas:21.8k
Nilai: 5
Nama Author: moon

WARNING! Sebelum mulai membaca, tolong baca tagar dahulu. Karena di sini area bebas JULID, dilarang mengomel hanya karena keinginan Anda tak sejalan dengan pemikiran Author.



Cinta itu menuntun dirinya untuk membuat keputusan paling kejam, memilih satu diantara dua wanita. Di antara tangis dan perih dua wanita yang lain, ia tetap mempertahankan wanita yang ia cinta.


Setelah keinginan diraih, takdir kembali lancang menuliskan jalannya tanpa permisi. Sekali lagi ia kehilangan, tapi kali ini untuk selamanya.


Terombang ambing dalam amarah, serta sempat menjauh dari-Nya. Tapi sepasang tangan kecil tetap meraih dirinya penuh cinta, tulus tanpa berharap imbalan jasa.


Apakah tangan kecil itu mampu menuntun Firza kembali ke jalan-Nya?


Lantas bagaimana dengan dua wanita yang pernah disakiti olehnya?


Mampukah Firza memantapkan hatinya pada cinta yang selama ini terabai oleh keegoisannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#8

#8

Ba'da sholat subuh, Ersha keluar kamar dan mendapati suaminya tertidur di sofa dengan laptop masih menyala. Hembusan nafas Ersha pun terdengar berat, tapi tetap dengan lembut ia membangunkan sang suami. 

“Bang, sudah subuh, ayo sholat dulu.” Tangan Ersha mengguncang pelan bahu suaminya. 

Beberapa saat kemudian, kelopak mata Firza mula mengerjap. Suara lembut Ersha mampu mengembalikan kesadaran Firza. “Sudah jam lima, Bang. Ayo sholat dulu.” 

Meski berat, Firza akhirnya mengangguk, dan bangkit dari baringnya. Pinggang dan punggungnya sedikit pegal karena tidur di sofa semalaman. 

Pandangan matanya mengikuti pergerakan tubuh Ersha yang langsung bergerak menuju dapur guna memulai aktivitas pagi. Menyiapkan sarapan, serta membereskan pekerjaan rumah lainnya. 

Setelah peristiwa semalam, Firza merasa amat bersalah, bisa-bisanya dia terpikirkan wanita lain disaat raganya menyentuh sang istri. Semalam pula ia beristighfar, lalu mengalihkan  pikirannya pada pekerjaan, agar imajinasinya tidak merambah liar ke arah yang lain. 

Sebelum kembali ke kamar, Firza mendekati istrinya, tangannya melingkar memeluk pinggang Ersha. “Maaf, soal semalam. Aku—”

“Tidak apa-apa, Bang.” Ersha Buru-buru memotong ucapan Firza, takut bila prasangkanya menjadi nyata. Lebih baik ia berpikir positif, agar tidak melukai diri sendiri. 

Perlahan Ersha melepas pelukan suaminya, “Lekaslah sholat, Bang. Hari akan semakin siang.” 

“Hmm, baiklah,” jawab Firza pasrah.

Sambil menunggu nasi matang, Ersha memasukkan pakaian kotor ke mesin cuci. Sebenarnya ada hal lain lagi yang mengganggu pikirannya sejak kedatangan Firza dan Abizar kemarin, yaitu, bau parfum asing yang menempel di pakaian Abizar. 

Entah berapa banyak yang di pakai orang itu, hingga baunya masih menempel, padahal beberapa jam sudah berlalu. 

•••

Beberapa minggu kembali terlewati, Ersha selalu coba memaklumi setiap kali Firza mengulang kejadian yang sama seperti malam itu. 

Imbasnya keluarga kecil mereka kini terjebak dalam bayangan semu sebuah kebahagiaan, dingin, tanpa kehangatan seperti biasanya. Dari luar terlihat indah dan harmonis, terutama saat Abizar ada di antara mereka. Tawa dan canda terdengar natural tanpa dibuat-buat, tapi ketika suara Abizar tak lagi terdengar, rumah itu tak ubahnya seperti rumah kosong tanpa penghuni. 

Malam ini Firza kembali mencoba mendatangi istrinya, setelah begitu banyak percobaan yang gagal. Bukan tak berselera, bahkan mungkin syahwatnya sudah diujung pelepasan. Tapi Firza tak mau menodai ibadah penuh pahala mereka, dengan setitik pikiran yang bisa meruntuhkan segalanya. 

Pria itu masih duduk di tepi pembaringan dengan nafas tak karuan, ia menjambak rambutnya, bahkan beberapa kali memukul kepalanya sendiri. “Maaf, maafkan aku.” 

“Kenapa minta maaf, Bang? Bukankah lebih baik Abang bercerita. Ayo kita cari solusinya sama-sama.” Masih dengan suara lembut, Ersha mencoba terus melakukan pendekatan. 

Wanita itu merapikan pakaiannya, lalu ikut duduk di sisi suaminya. Perlahan tangannya menurunkan tangan Firza yang masih menjambak rambutnya sendiri. “Tatap kedua mataku, Bang? Apa diri ini tak lagi menarik dalam pandanganmu?” 

Firza menurut, menatap kedua mata bening yang selalu memancarkan ketulusan. Tak ada kebohongan, yang ada hanyalah tatapan penuh cinta. Kulit wajah Ersha kuning langsat alami, garis rahangnya sedikit mengerucut, hingga menampilkan bentuk dagu yang runcing, serta bentuk wajahnya pun mungil. bibirnya merah natural, lengkap dengan bulu mata panjang meski tidak lentik secara alami. 

Tubuhnya semampai dengan tinggi proporsional, tidak gemuk, dan tidak pula kurus. Tapi cukup ranum menggoda bila tidak tertutup sehelai benang pun. Tertutup sempurna sejak masa akil baligh Ersha di mulai. Dan semua itu milik Firza, halal disentuh dan dinikmatinya kapanpun. 

Namun, sayang sekali itu semua belum cukup menyentuh hati Firza, hingga tiga tahun hampir berlalu, tak satu kali pun kata cinta meluncur dari bibirnya untuk sang istri. Meski rasa sayangnya pada istri serta putranya tak perlu diragukan. 

Firza menggeleng, namun, tak bersuara. 

“Lantas, apakah ada yang salah denganku? Adakah yang kurang dari pelayananku? Atau haruskah aku yang memulai?” Ersha menawarkan diri, bila Firza tak bisa melakukannya, maka dengan senang hati ia akan memulai, demi keharmonisan rumah tangga mereka. 

“Masalahnya bukan ada padamu, tapi padaku.” 

Akhirnya ucapan itu meluncur juga, meski Firza sedikit gemetar saat mengatakannya. 

Batin Ersha kembali dihinggapi rasa takut, tapi berusaha tetap menggenggam lembut tangan suaminya. Sakit, tapi Ersha mulai paham, sepertinya hanya itu penyebabnya, tak mungkin yang lain. 

“Sudah berapa lama, Bang?” 

Firza menoleh cepat, pertanyaan itu seperti tombak yang menghujam kebohongannya. “B-berapa lama apa— maksudmu?” 

“Apalah dia datang jauh sebelum Abang mengenalku?” 

Suaranya begitu tegar, padahal pilar di hatinya mulai berserakan. Ini bukan sabar seluas samudera, tapi amarah yang siap memuntahkan laharnya. 

“Apa yang kamu katakan? Abang tak paham, Er?” Firza bertanya, lebih tepatnya mencoba mengelak. 

Ersha melepaskan genggaman tangannya, air mata yang sudah menggenang, sambil berjalan ia menepis air mata itu menggunakan telapak tangannya. Tujuannya adalah laci meja kerja Firza, tempat pria itu kerja jika kebetulan lembur di rumah. 

Tumpukan amplop coklat yang sebagian besar masih tersegel rapat itu Ersha bawa ke hadapan Firza. “I-ini—” 

“Bukalah, Abang akan tahu isinya. Sepertinya itu adalah memori lama yang coba wanita itu hadirkan kembali di kepala Abang.” 

“Jangan ngelantur, apa yang kamu bicarakan?” 

Akhirnya Firza membuka semua foto yang ada di dalam amplop tersebut. Ada juga foto yang sengaja diambil dari arah belakang, tapi kedua sejoli itu duduk di atas alas piknik, sementara tangan mereka bergenggaman dibelakang. “Er—” 

“Dan, ini juga, Bang—” Foto terakhir Ersha berikan, foto yang memperlihatkan kemesraan mereka secara nyata. Meski itu hanya masa lalu, tapi itu terlalu menyakiti hatinya. 

Tangan Firza gemetar, “Maaf—” lagi-lagi hanya kata itu yang terucap. 

“Apakah dia sudah kembali?” 

Firza mengangguk. 

“Abang— masih cinta dia?” 

“Entahlah.” 

“Pikirkan baik-baik, Bang. Kita putuskan setelah Abang yakin akan dibawa kemana rumah tangga kita.” Ersha kembali berdiri, di antara pahit serta hancurnya perasaan, wanita itu mencoba tetap tegar karena masih ada Abizar yang membutuhkan kehadirannya. 

“Jangan begitu, Er. Ada Abi diantara kita.” 

“Aku tidak bicara perpisahan, Bang. Tapi tolong pikirkan aku. Ada nama dan bayangan wanita itu diantara kita. Bahkan kini menyentuhku saja Abang tak sanggup, menurut Abang, apakah perahu kita akan sanggup dipertahankan?”

Pertengkaran itu begitu sunyi, tak ada teriakan, tak ada saling tuding. Tapi justru itulah bagian yang paling mengerikan, karena ada bara yang sudah menyala sejak lama. Siap menghanguskan apa saja.

Firza menunduk, sejak awal ia hanya berusaha menjadi anak berbakti, menikahi wanita yang diinginkan Mamak Karmila. Meski sudah bertekad kuat melupakan, agaknya kebodohan itu masih berkerak di hatinya, perlahan mulai mengikis tekadnya. 

1
Patrick Khan
semoga niat jahat resa keduluan end tamat modar😂😂😂ahh jahatnya q😂🔪
Inarrr Ulfah
jagn mati dulu ya sa,,pengen liat aja kamu kejang2 liat er dapt yg lebih dari si Firza,dan semoga Firza gila talak...
Anonim
balikan????? gak seru ah
Hasanah Purwokerto
Aku ketularan bang Ahtar,,senyum senyum sendiri...😄😄😄😄😄
Hasanah Purwokerto
Tuh bang Ahtar...ada jalan buat pe de ka te,,,manfaatkan...🤣🤣🤣🤣🤣
Hasanah Purwokerto
/Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
Hasanah Purwokerto
Cieeeee..yg lagi modus...😄😄😄😄
Hasanah Purwokerto
Busuk hati bgt si Resha
Hasanah Purwokerto
Ersha bukan kamu ya,,yg hobinya merusak rumah tangga orang,,kamu tuh yg sukanya sm suami orang...😡👊👊👊
Hasanah Purwokerto
Maaf cuma dimulut saja
Hasanah Purwokerto
Ga akan bahagia kalian..
Hasanah Purwokerto
Setan berwujud manusia itu Er..
Hasanah Purwokerto
Cih....sundel bolong....pake pura pura
Hasanah Purwokerto
Maafmu ga ada guna Fir..
Hasanah Purwokerto
Biarin Firza sendirian..ga usah diajak ngobrol..
Hasanah Purwokerto
Preeeetttt laaaahhhj
Hasanah Purwokerto
Ersha ga melarang,,tp kamu yakin,,? Resha akan membiarkanmu pergi menemui Abizar..?
Hasanah Purwokerto
Tetap semamgat ya Rs...masa depanmu msh panjang,,semoga lebih cerah dr sblmnya...
Hasanah Purwokerto
Smg Ersha berjodoh dg Atar..
toh sama" single
Hasanah Purwokerto
Resha culas,,bermuka dua...😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!