Berawal dari niatan membantu sang kekasih mencari uang tambahan melamar, Alina justru harus kehilangan kehormatannya.
Ya, gadis itu terlalu mencintai kekasihnya. Sampai-sampai ia rela ikut menanggung beban yang harusnya bukan menjadi tanggung jawabnya. Sebuah pengorbanan untuk pria yang salah, yang atas kuasa Tuhan justru membawanya menemukan cinta yang benar.
Apa yang terjadi padanya?
Baca selengkapnya hingga selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aldiantt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Larangan Lagi!
"Ehhmm...ada apa ini?"
Suara itu berhasil membuat Alina dan Yuda menoleh. Dilihatnya di sana, Vincent sudah berdiri di belakang Yuda dengan dua botol air mineral di tangannya. Wajahnya nampak datar menjurus sombong. Tak ada senyuman. Yang ada hanya tatapan mematikan yang ia tujukan pada pria berjaket ojol itu.
Alina mematung. Yuda menoleh ke arah Vincent dan Alina secara bergantian.
"Siapa?" tanya Yuda nyaris tak terdengar pada Alina. Alina hanya memberi kode, membuat Yuda langsung paham maksud wanita itu.
"Oh, Tuan. Maaf, saya Yuda, temannya Alina," ucap Yuda seraya mengulurkan tangannya. Alih-alih menyambut uluran tangan itu dengan ramah, pria itu hanya diam memberikan tatapan mematikan untuk laki-laki asing itu. Seolah ia ingin menunjukkan bahwa ia tak menyukai keberadaan Yuda di sana.
"Emm...Mas Yuda," ucap Alina ragu-ragu namun berhasil membuat pandangan kedua pria itu tertuju padanya.
"Makasih... tisue nya," ucap gadis itu lagi. Yuda mengangkat dagunya. Ia paham. Sepertinya majikan Alina adalah tipe majikan yang posesif. Yang tidak suka jika pembantunya banyak ngobrol dengan orang-orang asing lantaran takut mengganggu kerjanya.
"Ya, sama-sama," jawab laki-laki itu. Suasananya terasa kaku. Kedatangan Vincent membuat Yuda jadi tak nyaman ngobrol dengan Alina. Padahal sebenarnya ia masih ingin ngobrol banyak dengan wanita cantik ini. Ingin mengenal lebih jauh.
Tapi ya sudahlah. Mungkin lain waktu masih bisa. Lebih baik sekarang ia pergi. Kasihan Alina kalau sampai kena marah bosnya, pikir Yuda.
"Em, ya udah. Kalau begitu aku duluan," ucap Yuda. Alina hanya mengangguk. Laki-laki itu lantas pergi meninggalkan tempat tersebut. Sedangkan Vincent masih menatap tajam punggung laki-laki itu bahkan hingga ia melesat pergi bersama motornya.
"Ternyata kau pandai bergaul juga. Baru seminggu disini sudah punya kenalan laki-laki," sindir pria itu sambil mendudukkan tubuhnya dan membuka botol minum di tangannya dan menenggak isinya.
"Bukan. Dia cuma kurir pizza yang kemarin mengantar pizza ke apartemen," jelas Alina.
"Alasan!" Ucap Vincent tak begitu keras. Ia berucap tanpa menatap wajah Alina. Wanita itu nampak mengernyitkan dahinya. Vincent kenapa, sih?
"Satu hal yang harus kau tahu, Alina. Aku membatasi pergaulanmu selain untuk memastikan kau dan bayiku aman, aku juga ingin memastikan kau tidak bertemu dengan orang-orang asing yang tidak jelas asal usulnya seperti itu!" Ucap Vincent dengan mimik wajah yang serius. Ia tidak suka melihat Alina dekat-dekat dengan orang asing.
"Kami nggak sengaja ketemu. Cuma ngobrol pun nggak ada lima menit..."
"Apapun itu!" Vincent menyela ucapan Alina dengan tegas.
"Kau berada di sini karena aku. Karena aku punya niat baik bertanggung jawab atas kesalahanku. Aku harap kau sadar itu dan tetap menurut padaku seperti kesepakatan kita. Atau semua perjanjian diantara kita batal!"
Alina menunduk. Seketika itu juga moodnya jadi jelek. Ya, ia sadar ia hanya numpang. Ia sadar ia masih bisa makan, tidur, istirahat nyenyak karena kemurahan hati Vincent. Ia sadar semua karena laki-laki itu. Meskipun di awal sebenarnya Alina tidak pernah mengharapkan semua ini. Tapi sebagai manusia yang punya rasa sungkan dan tak enak hati, kemurahan hati Vincent ini seolah berhasil mengikatnya. Membuatnya menjadi tak enak hati jika berbuat hal-hal yang Vincent tak sukai.
Sebagai seorang wanita yang ditolong, mungkin menurut Vincent laki-laki itu berhak mengatur setiap gerak geriknya. Alina harus menurut jika tidak mau terusir dari apartemennya.
Hmmh...itulah kenapa sebagai manusia seharusnya kita tidak bergantung pada orang lain. Orang yang paling merdeka adalah mereka yang mampu hidup di atas kaki sendiri.
Vincent bangkit dari duduknya.
"Ini sudah siang. Ayo, pulang! Aku harus segera ke kantor," ucap laki-laki itu yang kemudian melangkah pergi meninggalkan Alina. Wanita hamil itu hanya menghela nafas panjang. Ia kemudian bangkit dari posisi duduknya lalu berjalan mengikuti Vincent di belakang.
Wah, tanpa mama Theressa sadari, Vincent udah memberi dia cucu loh.. Di perutnya Alina.. 😜
Semangat yah Kak ngurus toddler nya /Determined/