NovelToon NovelToon
Transmigrasi Si Jagoan Silat: Maaf Bos, Gue Bukan Mesin Pembuat Anak!

Transmigrasi Si Jagoan Silat: Maaf Bos, Gue Bukan Mesin Pembuat Anak!

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Action / Wanita perkasa / Fantasi Wanita / Balas Dendam / Komedi / Tamat
Popularitas:82.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Siti Alesia, anak jawara silat yang tewas konyol, terbangun di tubuh Permaisuri Alessia—wanita lemah yang dijadikan "mesin pembuat anak" dan ditindas hingga mati oleh selir licik.
​Tapi mereka salah sasaran. Alesia bukan wanita yang bisa menangis! Dengan mulut pedas dan jurus Golok Seliwa, ia mengobrak-abrik aturan kolot istana. Selir yang meracuninya? Dibanting sampai encok! Ibu Suri yang galak? Dibuat kicep lewat diplomasi sambal terasi!
​Raja Magnus yang sedingin es dan sekaku kanebo kering pun dibuat meleyot. Sang penguasa kini sadar; istrinya bukan lagi pajangan, melainkan macan betina yang siap membelah siapa pun yang berani menyentuh harga dirinya.
​"Bang Magnus, jangan kaku-kaku amat! Mending latihan silat sama gue, biar otot lu kaga karatan!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: TEATER KEMATIAN DI GERBANG CAKRAWALA

​Udara malam itu terasa membeku, seolah alam sendiri menahan napas menantikan benturan dua kekuatan besar. Di ufuk timur, kerlip ribuan obor dari Koalisi Tiga Kerajaan mulai merayap seperti ular api yang hendak menelan Ibu Kota Orizon. Suara gemuruh meriam yang ditarik lembu-lembu besar terdengar seperti guntur yang tak kunjung usai.

​Di atas tembok gerbang utama, Alesia berdiri dengan tenang. Ia tidak memakai zirah perak seperti Magnus, melainkan jubah hitam panjang dengan tudung besar. Di tangannya, ia memegang sebuah terompet bambu panjang dan sebuah kantong berisi serbuk belerang yang sudah dimodifikasi.

​"Gusti... hamba sudah menyiapkan semuanya di bawah tebing," bisik Lily yang muncul dari kegelapan. Wajah Lily dirias dengan pewarna putih pucat, matanya diberi lingkaran hitam, membuatnya tampak seperti arwah yang baru bangkit dari kubur.

​"Bagus, Ly. Anak-anak Mawar udah di posisi?" tanya Alesia tanpa menoleh.

​"Sudah, Gusti. Mereka sudah bersiap dengan bambu suara dan kain-kain terbang di sepanjang jalur masuk utama."

​Alesia menyeringai. "Oke. Saatnya kita kasih mereka pertunjukan 'Horor Depok' kelas internasional."

​Magnus berdiri di barisan depan pasukan Batalyon Emas, tepat di balik gerbang utama yang masih tertutup rapat. Ia mendengar suara komando dari pasukan Koalisi yang mulai mendekat.

​"HENTIKAN PASUKAN!" teriak seorang Panglima dari Kerajaan Valerius yang memimpin koalisi.

​Pasukan besar itu berhenti tepat lima ratus meter di depan gerbang. Suasana mendadak menjadi sunyi senyap. Tidak ada panah yang meluncur, tidak ada teriakan perang dari pihak Orizon. Hanya kegelapan dan kabut yang mulai turun dengan tidak wajar.

​"Kenapa mereka diam saja?" tanya Raja Kerajaan Selatan yang ikut dalam koalisi. "Mana Raja Magnus? Mana si penyihir wanita itu?"

​Tiba-tiba, dari arah tembok benteng, terdengar suara tawa yang melengking tinggi—tawa yang sanggup membuat bulu kuduk berdiri.

​“Kalian datang mencari iblis... tapi apakah kalian sudah siap melihat neraka?”

​Suara itu adalah suara Alesia yang digemakan melalui corong bambu panjang. Sesaat kemudian, Alesia melemparkan bola-bola serbuk ke bawah tembok.

​BOOM! BOOM! BOOM!

​Ledakan kecil terjadi, tapi bukan ledakan yang menghancurkan, melainkan ledakan yang mengeluarkan asap tebal berwarna ungu dan hijau neon. Bau belerang yang menyengat langsung memenuhi udara.

​"Sihir! Itu sihir hitam!" teriak para prajurit koalisi yang mulai panik.

​Di tengah kabut warna-warni itu, Lily dan tim Mata-Mata Mawar mulai beraksi. Mereka menarik tali-tali tersembunyi yang menggerakkan kain-kain putih panjang di atas pohon-pohon rindang, membuatnya tampak seolah-olah ada puluhan arwah putih yang terbang melayang-layang di antara pasukan musuh.

​“Kembaliiiii... kembaliiiii sebelum tanah ini menelan kalian hidup-hidup...” suara Lily dan pelayan lainnya bersahut-sahutan dari balik semak-semak, menggunakan teknik gema yang diajarkan Alesia.

​"Tembak! Tembak ke arah suara itu!" perintah Panglima Valerius dengan suara bergetar.

​Pasukan koalisi melepaskan tembakan meriam dan panah secara membabi buta ke arah kabut. Namun, mereka tidak mengenai siapapun. Mereka hanya menembaki bayangan dan pepohonan. Peluru meriam mereka menghantam tanah kosong, menciptakan lubang-lubang besar yang justru membuat kuda-kuda mereka terperosok.

​Alesia melihat dari atas tembok, ia tersenyum puas. "Efek visual dapet, audio dapet. Sekarang tinggal bumbunya."

​Ia mengambil botol minyak yang mengandung zat kimia sederhana yang bisa menciptakan api berwarna hijau saat disulut. Ia melemparnya ke arah tumpukan kayu yang sudah disiapkan di bawah.

​WOOSH!

​Api hijau raksasa berkobar, membentuk bayangan siluet Alesia yang tampak sangat besar di dinding kabut.

​"Dewa-dewata... lihat ukuran iblis itu!" teriak seorang prajurit musuh sambil menjatuhkan pedangnya dan lari ke belakang.

​Mental pasukan koalisi runtuh seketika. Mereka yang dididik dengan taktik perang konvensional tidak siap menghadapi teror psikologis seperti ini. Bagi mereka, Orizon benar-benar telah menjadi sarang iblis.

​"SEKARANG, BANG!" teriak Alesia memberi aba-aba.

​Gerbang utama Orizon terbuka dengan dentuman keras. Magnus memacu kudanya keluar, diikuti oleh pasukan Batalyon Emas yang mengenakan topeng monster perunggu. Mereka tidak berteriak, mereka menyerang dalam kesunyian yang mematikan.

​"SERANG!" teriak Magnus, pedang emasnya berkilat membelah kabut ungu.

​Pasukan koalisi yang sudah ketakutan setengah mati tidak memberikan perlawanan berarti. Mereka berhamburan, saling injak, dan banyak yang langsung berlutut menyerah karena mengira sedang diserang oleh tentara kegelapan.

​Satu jam kemudian, pertempuran yang seharusnya menjadi pertumpahan darah paling mengerikan dalam sejarah Orizon berakhir dengan kemenangan mutlak bagi Magnus tanpa kehilangan satu pun nyawa prajuritnya.

​Ratusan bangsawan dan jenderal koalisi kini duduk bersimpuh di tanah, tangan mereka terikat, di depan kaki Magnus dan Alesia yang kini sudah melepas tudungnya.

​"Jadi..." Alesia melangkah maju, tangannya masih memegang corong bambu. "Mana yang mau liat iblis tadi? Sini maju, gue kasih tanda tangan di jidat pake golok."

​Panglima Valerius mendongak, matanya menatap Alesia dengan tidak percaya. "Kau... kau melakukan semua ini? Kabut itu, hantu-hantu itu... itu semua hanya tipuan?"

​Alesia tertawa renyah, tawa aslinya yang terdengar sangat manusiawi. "Itu namanya Special Effects, Pak Panglima. Di tempat asal gue, orang bayar mahal buat nonton ginian di bioskop. Kalian dapet gratis, malah mau ngerobohin rumah gue. Kagak sopan bener."

​Magnus melangkah maju, meletakkan tangannya di bahu Alesia. "Kalian datang ke sini atas perintah seorang wanita yang haus kekuasaan di biara Utara. Kalian membawa pasukan untuk membunuh rakyatku atas nama ramalan palsu. Sekarang, katakan padaku, siapa yang sebenarnya lebih mirip iblis? Aku yang melindungi rumahku, atau kalian yang datang menghancurkannya?"

​Para raja tetangga tertunduk malu. Mereka menyadari betapa bodohnya mereka telah terprovokasi oleh surat Ibu Suri.

​"Kami... kami memohon pengampunan, Raja Magnus," ucap Raja Selatan. "Kami akan memutus semua aliansi dengan Ibu Suri dan membayar upeti sebagai tanda damai."

​Magnus melirik Alesia. Alesia hanya mengangguk pelan.

​"Baik," ucap Magnus. "Tapi ada satu syarat tambahan. Kalian harus membangun sebuah prasasti di perbatasan masing-masing kerajaan yang menyatakan bahwa Permaisuri Orizon adalah Pelindung Kedamaian, dan siapapun yang berani memfitnahnya lagi akan berhadapan dengan murka seluruh koalisi."

​Menjelang subuh, suasana istana kembali tenang. Alesia duduk di bangku taman paviliun, kakinya terasa seperti mau copot setelah seharian berlari di atas tembok benteng.

​Lily datang membawakan nampan berisi wedang jahe hangat. "Gusti Permaisuri, hamba masih gemetar. Tadi hamba hampir saja tertawa saat melihat panglima itu lari terbirit-birit melihat kain terbang hamba."

​"Lu aktingnya keren, Ly. Ntar kalau gue balik ke Depok, gue ajakin main film horor lu," tawa Alesia.

​Lily tersenyum lebar. "Hamba lebih suka di sini saja, Gusti. Menjadi bagian dari Mata-Mata Mawar Anda jauh lebih seru daripada sekadar mencuci gaun."

​Magnus masuk ke taman, ia tampak lelah namun wajahnya bersinar penuh kemenangan. Ia langsung duduk di samping Alesia dan meminum sisa wedang jahenya.

​"Taktik 'Teater Kematian' mu akan tercatat dalam buku sejarah Orizon selama seribu tahun kedepan, Siti," ucap Magnus sambil menarik napas panjang.

​"Yang penting mereka kaga berani macem-macem lagi, Bang," sahut Alesia. "Eh, tapi Bang... soal Ibu Suri gimana? Dia dalang dari semua ini. Dia kaga bakal diem meskipun koalisinya udah bubar."

​Magnus menatap langit yang mulai membiru. "Aku sudah mengirim Kael ke Biara Utara. Kali ini, tidak ada lagi pengasingan yang nyaman. Dia akan dipindahkan ke sebuah pulau terpencil yang dijaga ketat. Dia tidak akan pernah bisa mengirim surat lagi."

​Alesia terdiam sejenak. Meskipun Ibu Suri jahat, ia tetaplah ibu Magnus. "Lu... lu kaga sedih, Bang?"

​Magnus menggenggam tangan Alesia, mengecup punggung tangannya dengan lembut. "Aku sudah kehilangan ibuku sejak lama, saat dia lebih mencintai takhta daripada anaknya sendiri. Tapi sekarang, aku sudah menemukan keluargaku yang sebenarnya."

​Alesia tersenyum manis, ia menyandarkan kepalanya di pundak Magnus. "Bang, kemenangan udah dapet, keamanan udah dapet. Janji liburan kita jangan lupa ya?"

​Magnus tertawa kecil. "Besok. Kita akan pergi ke pantai selatan. Hanya kita berdua, Lily, dan beberapa pengawal rahasia. Tanpa mahkota, tanpa protokol."

​"Asik! Gue mau bawa bekel nasi liwet, Bang! Lu harus cobain!"

​"Apapun yang kau masak, aku akan memakannya, Permaisuriku."

1
Zaskia 🐼
Ini ngobrolnya pakai bahas Indonesia ala betawi atau bahasa inggris?
Memyr 67
𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝗎𝗇𝗈 𝗌𝗈𝗄 𝗍𝖺𝗎, 𝗆𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 𝗒𝗀 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗇𝗀𝖾𝗋𝗍𝗂, 𝗅𝖺𝗇𝗀𝗌𝗎𝗇𝗀 𝗇𝗎𝖽𝗎𝗁 𝗌𝖾𝖾𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺
Memyr 67
𝗅𝖺? 𝗄𝖾𝗇𝖺𝗉𝖺 𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗌𝗂𝗍𝗂 𝖿𝖺𝗍𝗂𝗆𝖺𝗁 𝗇𝖺𝗆𝖺𝗇𝗒𝖺? 🤣🤣🤣🤣
Memyr 67
𝗃𝖾𝗇𝖽𝗋𝖺𝗅 𝗄𝖺𝖾𝗅? 𝗂𝗍𝗎 𝗄𝖺𝗇 𝗄𝖺𝗄𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺 𝗆𝖻𝖺𝗄 𝗋𝗈𝗌𝖾 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝖺𝗌𝗂𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇? 𝗄𝗈𝗄 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗃𝖺𝖽𝗂 𝖺𝗃𝗎𝖽𝖺𝗇 𝗄𝖾𝗉𝖾𝗋𝖼𝖺𝗒𝖺𝖺𝗇 𝗋𝖺𝗃𝖺?
Ariska Kamisa: sudah tobat kak, dan jadi mengabdi sama raja dan ratu
total 1 replies
Memyr 67
𝗇𝗒𝖾𝗌𝖾𝗄 𝗄𝖺𝗇, 𝗂𝖻𝗎 𝗍𝗂𝗋𝗂 𝖽𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗅𝗂𝗋 𝗆𝖺𝗇𝗃𝖺? 𝖺𝗉𝖺 𝗂𝖻𝗎 𝗍𝗂𝗋𝗂 𝗆𝖺𝗀𝗇𝗎𝗌 𝗂𝗇𝗂 𝖺𝖽𝗂𝗄𝗇𝗒𝖺 𝖻𝖺𝗉𝖺𝗄 𝗌𝗂 𝗋𝗈𝗌𝖾?
Memyr 67
𝖺𝖽𝖺 𝖺𝗉𝖺 𝗂𝗇𝗂? 𝗂𝖻𝗎 𝗌𝗎𝗋𝗂 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝗌𝖾𝗀𝗂𝗍𝗎 𝖻𝖾𝗇𝖼𝗂𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝖺𝗅𝖾𝗌𝗁𝗂𝖺 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗆𝖻𝗂𝗌𝗂 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗆𝖾𝗇𝗒𝗂𝗇𝗀𝗄𝗂𝗋𝗄𝖺𝗇 𝖺𝗅𝖾𝗌𝗁𝗂𝖺.
Memyr 67
𝖺𝗐𝖺𝗅 𝗒𝗀 𝗆𝖾𝗇𝖺𝗋𝗂𝗄. 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝖻𝖾𝗋𝗂𝗄𝗎𝗍𝗇𝗒𝖺 𝗍𝗒𝗉𝗈 𝖻𝖾𝗍𝖾𝖻𝖺𝗋𝖺𝗇 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗇𝗀𝗈𝗍𝖺𝗄, 𝖺𝗄𝗎 𝗅𝖺𝗇𝗀𝗌𝗎𝗇𝗀 𝖻𝖺𝖻𝖺𝗒.
Ariska Kamisa: terimakasih kak 🙏🙏🙏
total 1 replies
S.E.L.A.M
Nyanyian putri duyung ?
S.E.L.A.M
Lah kok ketemu org betawi lain 🤣
Ariska Kamisa: itu lah kejutannya kak 🤭🤣
total 1 replies
S.E.L.A.M
Kacian, jasa lily & mita dilupakan 🤭
S.E.L.A.M
Lalu ketemu sama si doel & mandra 🤣
S.E.L.A.M
Rempela / ampela maksudmu thor ?
Ariska Kamisa: eh... terimakasih kak atas kejelianmu, kayanya aku ngeblank saat itu🤭🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Neng Alifa
Et dahh 🤭
S.E.L.A.M
Lucu puolll
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏
total 1 replies
S.E.L.A.M
Siluman kuda lumping 🤭
S.E.L.A.M
Plesetan dari kameha meha ya 🤣
Ariska Kamisa: iya... 🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
S.E.L.A.M
Krupuk kalo masuk angin mah melempem bkn kaku namanya 🤭
S.E.L.A.M
Untung namanya ga diganti jadi MAKNYUS 🤣
Kan jadi mantep puol 👍
Ariska Kamisa: waah... iya ya.. itu lucu parah ..🤣🤣🤣
total 1 replies
Erick Erx
ibu suri udah dong ,,, insyaf😄
Dede Bleher
mpok siti banyak tugas juga ya 🤣
Ariska Kamisa: memang kak, mpok siti pengen ngubah dunia disitu lebih modern 🤭🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!