NovelToon NovelToon
Sistem Pilihan Takdir

Sistem Pilihan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Sistem
Popularitas:956
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Sinopsis
​Di Alam Fana, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Lin Chen, murid pelataran luar Sekte Pedang Awan, menyadari kenyataan pahit ini sejak hari pertama. Bakatnya pas-pasan, sumber dayanya selalu dirampas, dan nyawanya tak lebih berharga dari rumput liar. Saat maut hampir merenggutnya di ujung tebing, sebuah anomali tanpa asal-usul bangkit di dalam benaknya: Sistem Pilihan Takdir.
​Sistem ini menolak memberikan kekuatan instan. Setiap krisis hanya akan memunculkan tiga jalur pilihan di matanya, masing-masing membawa risiko dan hadiah yang berbeda. Hadiah tersebut bukanlah pil dewa yang langsung membuatnya kebal, melainkan teknik dasar, petunjuk tersembunyi, atau sekadar kesempatan bertahan hidup sesaat. Semuanya menuntut Lin Chen untuk memeras keringat, darah, dan akalnya sendiri. Dari kerasnya Alam Fana, merangkak naik menuju kemegahan Dunia Tengah para immortal hingga akhirnya mengincar keabadian sejati di alam dewa , Lin Chen mengukir jalannya selangkah demi selang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4 bayangan yang menolak mati

Alun-alun Pelataran Luar Sekte Pedang Awan bermandikan cahaya matahari pagi yang pucat. Kabut tipis masih menggerayangi lantai batu pualam kasar, menyisakan hawa dingin yang menggigit kulit. Di tempat inilah nasib ribuan murid luar ditentukan setiap awal bulan. Tugas bulanan bukan sekadar kewajiban; itu adalah sumber hidup. Mendapatkan tugas menjaga ladang roh berarti akses ke energi spiritual yang lebih padat, sedangkan dibuang ke tambang batu arang hampir setara dengan hukuman mati perlahan.

Suasana alun-alun dipenuhi dengungan percakapan pelan. Ribuan murid berpakaian abu-abu berbaris menanti giliran. Di atas panggung batu utama, berdiri seorang wanita muda yang memancarkan aura berbeda dari kerumunan di bawahnya.

Wanita itu adalah Su Mei, salah satu murid senior pelataran luar yang bertanggung jawab atas distribusi tugas. Berbalut jubah hijau muda yang melambangkan posisinya selangkah lebih dekat menuju pelataran dalam, Su Mei berdiri tegak dengan sebilah pedang ramping tersarung di pinggangnya. Wajahnya cantik secara dingin, nyaris memancarkan ketidakpedulian mutlak. Matanya yang tajam menyapu kerumunan seolah sedang menilai tumpukan barang dagangan. Berada di Tahap Kondensasi Qi tingkat keenam, Su Mei memiliki hak penuh untuk bersikap angkuh. Bagi para murid biasa, sosoknya adalah tembok raksasa yang tidak bisa dipanjat.

Jauh di sudut barisan paling belakang, seorang gadis bertubuh mungil tampak gemetar menahan dingin. Namanya Bai Xue. Pakaian abu-abunya kebesaran, ujung lengan bajunya menutupi sebagian besar telapak tangannya yang menggenggam erat sebuah token kayu bernomor undian. Wajahnya pucat, matanya terus melirik ke kiri dan ke kanan dengan cemas. Bai Xue dikenal sebagai salah satu murid terlemah, selalu menjadi sasaran empuk pemerasan para berandalan sekte. Dia memegang nomor urut awal hari ini, sebuah keberuntungan langka yang justru berubah menjadi kutukan karena dia tahu serigala-serigala lapar pasti akan merampas posisinya.

Lin Chen melangkah memasuki alun-alun dengan langkah terukur. Posturnya tegak lurus, tidak menyisakan jejak pemuda bungkuk yang terus-menerus menundukkan kepala akibat perundungan. Kotoran di wajahnya telah bersih. Bekas luka kecil di pelipisnya justru menambah kesan keras pada rahangnya yang tegas. Kehadirannya tidak langsung memicu keributan, ritme langkah kakinya yang stabil membuat beberapa murid secara refleks membuka jalan tanpa menyadarinya.

Mata Lin Chen memindai kerumunan, mengabaikan tatapan beberapa orang, lalu langsung mengunci satu sosok yang berdiri arogan di dekat panggung utama.

Zhao Feng.

Pria itu sedang tertawa keras bersama dua orang kaki tangannya, memutar-mutar sebuah token kayu bernomor cantik di tangannya. Token itu jelas hasil rampasan. Zhao Feng mengenakan jubah abu-abu bersih tanpa setitik debu pun, kontras dengan pedang besinya yang masih menyimpan noda darah kering Lin Chen dari kejadian dua malam lalu.

Lin Chen tidak terburu-buru mendekat. Dia memilih berdiri diam bersandar pada salah satu pilar batu di pinggir alun-alun, mengatur pernapasannya dengan ritme *Napas Karang Esensi*. Dia menekan fluktuasi Qi di dalam Dantiannya, menyembunyikan fakta bahwa dia telah menembus Tahap Kondensasi Qi tingkat kedua. Di mata orang lain, dia masih terlihat seperti murid tingkat pertama yang menyedihkan.

Tidak butuh waktu lama bagi takdir untuk mempertemukan pandangan mereka.

Zhao Feng secara kebetulan menoleh ke arah pilar batu saat hendak mencari target pemerasan baru. Tawanya terhenti seketika. Matanya membelalak lebar, menatap lurus ke arah Lin Chen. Urat-urat di leher Zhao Feng menegang. Dia mengucek matanya dengan kasar, mengira kabut pagi sedang mempermainkan penglihatannya.

Orang yang dia lempar ke dalam Jurang Penyesalan, tempat di mana tidak ada makhluk hidup pernah kembali, kini berdiri di sana dengan tenang.

"Itu... tidak mungkin," gumam Zhao Feng, wajahnya memucat sesaat sebelum berubah merah karena amarah dan rasa malu yang tidak bisa dijelaskan. Kaki tangannya ikut menoleh, menampilkan raut wajah terkejut yang sama.

Zhao Feng merasa harga dirinya diinjak-injak. Membiarkan seorang sampah lolos dari maut adalah penghinaan bagi kekuatannya. Tanpa memedulikan aturan menjaga ketenangan di sekitar panggung utama, dia melangkah lebar menghampiri Lin Chen. Kaki tangannya mengikuti dari belakang layaknya anjing pelacak.

Pergerakan agresif Zhao Feng memancing perhatian puluhan murid di sekitarnya. Kerumunan sontak membentuk lingkaran, menyisakan ruang kosong untuk pertunjukan yang akan segera terjadi. Bahkan Su Mei, yang sedari tadi sibuk mencatat di atas meja batu, menghentikan goresan kuasnya sejenak. Mata dingin wanita berjubah hijau itu melirik ke arah keributan dengan sebelah alis terangkat.

"Kau beruntung nyawamu lebih keras dari kecoa, Lin Chen," desis Zhao Feng, suaranya dipenuhi niat membunuh yang tertahan. Jarak mereka kini hanya terpaut dua langkah. "Kupikir kau sudah membusuk menjadi kotoran anjing di dasar jurang."

Lin Chen menatap lurus ke mata Zhao Feng tanpa sedikit pun kilatan gentar. "Jurang itu terlalu dingin. Aku memutuskan untuk kembali dan menagih hutang darah."

Kalimat datar tersebut memicu keterkejutan di kalangan penonton. Bai Xue, gadis mungil yang berdiri tidak jauh dari mereka, menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dia kenal Lin Chen sebagai sesama murid yang sering ditindas. Keberanian pemuda itu menantang Zhao Feng secara terbuka dianggap sebagai tindakan bunuh diri konyol.

Zhao Feng tertawa sinis, memamerkan giginya. "Menagih hutang? Dengan kekuatan sampah tingkat satumu itu? Kau sungguh telah kehilangan akal sehat setelah kepalamu terbentur batu tebing."

Tepat saat tangan kanan Zhao Feng bergerak meraih gagang pedang di pinggangnya, layar biru transparan menyala di depan retina Lin Chen.

**[Situasi Konflik Publik Terdeteksi.]**

**[Musuh: Zhao Feng (Tahap Kondensasi Qi Tingkat Tiga Awal). Kelemahan: Terlalu mengandalkan kekuatan fisik ayunan pedang, kuda-kuda bawah sangat tidak stabil.]**

**[Silakan tentukan tindakan Anda:]**

**[Pilihan 1: Melarikan diri dari alun-alun, memancing Zhao Feng untuk melanggar aturan sekte dengan mengejar Anda.

Hadiah: Anda selamat hari ini. Menjadi bahan tertawaan seluruh pelataran luar selamanya.]**

**[Pilihan 2: Menggunakan senjata tersembunyi beracun (Empedu Ular sisa) untuk membutakan matanya.

Hadiah: Kematian mutlak. Su Mei dan Penegak Hukum Sekte akan mengeksekusi Anda di tempat karena menggunakan racun secara licik pada sesama murid.]**

**[Pilihan 3: Menerima provokasi. Bertarung tangan kosong melawan pedangnya. Gunakan fondasi 'Napas Karang Esensi' untuk menghancurkan lengan kanannya.

Hadiah: Membangun reputasi. 1 Batu Roh Tingkat Rendah, Fragmen Panduan Tinju Pemecah Batu.]**

Lin Chen membaca opsi tersebut dalam sekejap mata. Sistem ini tidak pernah memberikan celah untuk bermain curang secara murahan di depan otoritas. Pilihan ketiga adalah jalan yang keras, menuntutnya mempertaruhkan nyawa berhadapan dengan pedang tajam. Itulah satu-satunya jalan pembuka bagi masa depannya.

Layar menghilang. Waktu kembali berjalan normal.

Zhao Feng tidak mencabut pedangnya secara penuh. Aturan sekte secara eksplisit melarang pembunuhan terbuka di alun-alun. Sebagai gantinya, dia membiarkan pedangnya tersarung, menggunakan sarung pedang kayu besi itu sebagai tongkat pemukul. Dia mengayunkan sarung pedang tersebut langsung ke arah pelipis Lin Chen dengan kecepatan penuh. Udara berdesir tajam. Serangan ini membawa kekuatan penuh dari praktisi tingkat tiga, cukup untuk membuat tengkorak orang biasa retak.

Sebagian besar murid menutup mata, tidak tega melihat darah tumpah di pagi hari. Bai Xue membuang muka sambil gemetar.

Sebuah dentuman keras bergema, tidak diikuti oleh jeritan kesakitan.

Semua mata terbuka dengan cepat. Pemandangan di depan mereka membekukan aliran darah penonton.

Lin Chen tidak menghindar. Dia mengangkat tangan kirinya, menangkap ujung sarung pedang kayu besi itu secara presisi hanya dengan sebelah telapak tangan. Benturan tersebut menghancurkan batu pualam di bawah kaki Lin Chen hingga retak menyebar. Kaki Lin Chen bahkan tidak mundur setengah inci pun.

Keterkejutan absolut melanda wajah Zhao Feng. Dia merasa seolah pukulannya menghantam pilar besi solid, bukan lengan manusia. Telapak tangan Lin Chen, yang dilapisi selubung tipis energi berwarna kemerahan dari *Napas Karang Esensi*, mencengkeram sarung pedang itu bagai penjepit baja.

"Tingkat tiga... apakah hanya sebatas ini?" suara Lin Chen terdengar tenang, menusuk tepat ke pusat ego Zhao Feng.

Berkat penderitaan saat mengonsumsi Bubur Penguat Otot semalam, kepadatan otot dan tulang Lin Chen jauh melampaui praktisi tingkat dua biasa. Fisiknya secara harfiah telah ditempa ulang.

"Mati kau!" raung Zhao Feng kehilang kendali. Dia melepaskan gagang pedang dari sarungnya, berniat mencabut bilah bajanya yang haus darah.

Sebelum pedang itu sempat ditarik keluar, Lin Chen bergerak lebih cepat. Menyadari kuda-kuda bawah musuhnya berantakan seperti peringatan Sistem, Lin Chen menurunkan bahunya. Dia melepaskan cengkeramannya pada sarung pedang, melangkah maju masuk ke zona pertahanan Zhao Feng, lalu melontarkan sikunya tepat ke arah dada pria itu.

*BAM!*

Sikunya menghantam ulu hati Zhao Feng dengan kekuatan ledakan. Udara di paru-paru Zhao Feng terkuras seketika. Pria itu terbatuk darah, matanya menonjol keluar.

Serangan belum selesai. Lin Chen menggunakan tangan kanannya untuk meraih pergelangan tangan kanan Zhao Feng yang sedang memegang gagang pedang. Memusatkan seluruh aliran Qi tingkat duanya ke lengan kanan, Lin Chen memelintir pergelangan tangan Zhao Feng dengan gerakan memutar yang sangat brutal ke arah luar.

*KRAK!*

Suara patah tulang bergema jelas di tengah alun-alun yang mendadak sunyi senyap.

Zhao Feng menjerit histeris. Jeritannya lebih mirip lolongan binatang buas yang disembelih. Pedang besinya terlepas jatuh bergemerincing ke lantai batu. Tubuhnya ambruk berlutut sambil memegangi lengan kanannya yang kini bengkok ke arah yang tidak wajar. Tulang pergelangannya patah total, menonjol mengerikan dari balik kulit jubah abu-abunya.

Dua kaki tangan Zhao Feng membeku di tempat, kaki mereka bergetar hebat. Orang yang baru saja menghancurkan bos mereka dalam dua gerakan singkat ini sama sekali tidak terlihat seperti Lin Chen yang mereka kenal.

Lin Chen berdiri menjulang di atas Zhao Feng yang merintih kesakitan. Dia menundukkan pandangannya, matanya sedingin lautan es. Tidak ada senyum kepuasan, tidak ada ejekan kemenangan. Hanya ketenangan mematikan.

"Hutang darah... telah lunas," ucap Lin Chen pelan, memastikan hanya Zhao Feng yang mendengarnya.

Tiba-tiba, sebuah tekanan energi yang sangat besar turun dari arah panggung utama, menindih bahu Lin Chen seperti bongkahan batu gunung. Aliran Qi di dalam tubuhnya langsung melambat drastis.

"Cukup."

Satu kata yang diucapkan dengan nada datar menggema membelah alun-alun. Su Mei telah melesat dari panggung dan mendarat ringan tepat di samping mereka. Jubah hijau mudanya berkibar anggun tertiup angin. Tangan kanan wanita itu bersandar santai di gagang pedangnya.

Tekanan yang dia pancarkan merupakan aura murni dari Tahap Kondensasi Qi tingkat keenam. Perbedaan kekuatan ini mendemonstrasikan jarak absolut antara pelataran luar dan kandidat pelataran dalam.

Su Mei menatap Zhao Feng yang bergulingan di tanah, lalu mengalihkan pandangannya pada Lin Chen yang berdiri kokoh menahan tekanan auranya. Ada kilatan kejutan kecil di balik mata dingin wanita itu. Sangat jarang ada murid tingkat rendah yang mampu berdiri tegak di bawah tekanannya tanpa gemetar.

"Aturan sekte melarang melumpuhkan sesama murid secara permanen di alun-alun," ucap Su Mei dingin, suaranya mengandung otoritas yang tidak terbantahkan. "Apakah kau sengaja mencari masalah, Murid Pelataran Luar?"

Lin Chen menundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat, memutus kontak mata secara sopan. "Melapor pada Senior Su Mei. Murid ini sama sekali tidak memulai keributan. Dia menyerang kepalaku dengan sarung pedangnya. Jika murid ini tidak membela diri, tengkorakku akan retak. Tindakanku murni bentuk pertahanan diri instingtual, tidak ada niat untuk melumpuhkan secara permanen. Tulangnya sangat rapuh untuk ukuran praktisi tingkat tiga."

Mendengar penjelasan tersebut, wajah Su Mei nyaris menunjukkan senyum tipis, buru-buru dia sembunyikan. Dia adalah kultivator berpengalaman; matanya jelas melihat bagaimana Lin Chen dengan sengaja mematahkan tulang tersebut. Argumentasi pemuda itu sangat rapi, menyalahkan kelemahan fisik lawan sambil berlindung di balik hukum pertahanan diri sekte.

Su Mei melirik para penonton, yang serempak mengangguk tanpa sadar membenarkan bahwa Zhao Feng-lah yang menyerang lebih dulu.

"Bawa sampah ini ke Balai Pengobatan. Jangan kotori alun-alun," perintah Su Mei pada kedua kaki tangan Zhao Feng. Mereka bergegas memapah bos mereka yang setengah pingsan, kabur secepat kilat meninggalkan area tersebut.

Su Mei kembali menatap Lin Chen, kali ini dengan penilaian yang lebih mendalam. "Pondasi fisikmu cukup kuat, menutupi aliran Qi-mu yang sedikit berantakan. Siapa namamu?"

"Lin Chen, Senior."

"Simpan nama itu baik-baik. Jangan sampai bulan depan aku mendengar kau tewas konyol karena terlalu sombong." Su Mei berbalik, ujung jubahnya menyapu udara. Dia kembali berjalan menuju panggung utama seolah tidak terjadi apa-apa. Otoritas telah ditegakkan, urusan dianggap selesai.

Kerumunan mulai membubarkan diri secara perlahan, masih berbisik-bisik mengenai kejadian luar biasa tadi. Mulai hari ini, reputasi Lin Chen tidak akan lagi disamakan dengan kata 'mangsa'.

**[Pilihan 3 diselesaikan.]**

**[Hadiah didistribusikan: 1 Batu Roh Tingkat Rendah muncul di dalam kantong Anda. Fragmen Panduan 'Tinju Pemecah Batu' masuk ke dalam lautan spiritual.]**

Lin Chen merasakan beban kecil bertambah di sakunya, diikuti oleh ledakan informasi singkat di benaknya. *Tinju Pemecah Batu* adalah seni bela diri tingkat fana kelas menengah. Memiliki fragmen ini berarti dia akhirnya mempunyai teknik serangan aktif, tidak lagi sekadar mengandalkan kekuatan pukulan mentah.

Saat dia bersiap melangkah kembali ke barisan untuk mengambil tugas, sebuah tangan kecil menarik ujung lengan bajunya dengan sangat pelan.

Lin Chen menoleh, mendapati Bai Xue berdiri di sampingnya. Gadis mungil itu masih gemetar, tangannya menyodorkan sebuah token kayu ke arah Lin Chen.

"K-Kakak Senior Lin," cicit Bai Xue ketakutan, matanya melirik ke bawah menghindari kontak mata. "Ini... token undian nomorku. Ini nomor awal... bisa digunakan untuk mendaftar tugas menjaga kebun herbal."

Lin Chen menatap gadis itu. Di masa lalu, ketika Lin Chen dipukuli, Bai Xue tidak pernah membantu—tidak ada yang berani membantu. Lin Chen tidak menyimpannya sebagai dendam. Menyalahkan pihak yang lemah karena tidak menolong pihak lemah lainnya adalah kemunafikan.

Melihat Lin Chen diam, Bai Xue mengira pemuda itu marah. Gadis itu menunduk semakin dalam, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "M-maaf. Jika Kakak Senior tidak mau, tidak apa-apa. Aku hanya berpikir... Kakak Senior Lin lebih pantas mendapatkan tempat yang baik setelah apa yang terjadi."

Lin Chen menghela napas tanpa suara. Berjalan di jalur kultivasi bukan berarti mematikan kemanusiaan. Kekejamannya hanya diperuntukkan bagi mereka yang menghalangi jalannya.

"Simpan token itu untuk dirimu sendiri, Bai Xue," balas Lin Chen dengan nada netral. "Jika seseorang berani merampas tugas kebun herbal milikmu hari ini, sebutkan namaku pada mereka. Katakan pada mereka untuk mencariku jika mereka keberatan."

Bai Xue mengangkat kepalanya perlahan, menatap wajah Lin Chen dengan mata membulat tak percaya. Air mata yang sempat menggenang kini tertahan oleh rasa haru dan kekaguman. Bagi gadis sepertinya, mendapatkan perlindungan verbal dari seseorang yang baru saja meremukkan lengan Zhao Feng adalah anugerah terbesar yang menyelamatkan hidupnya bulan ini.

"T-terima kasih, Kakak Senior! Terima kasih banyak!" Bai Xue membungkuk berkali-kali sebelum akhirnya berlari kecil menuju meja pendaftaran dengan wajah cerah.

Lin Chen melangkah maju, kembali menyatu dalam antrean. Keberadaan sistem memberikan pilihan, eksekusi membuahkan hasil, sikap menentukan sekutu atau musuh. Dunia kultivasi adalah papan catur tanpa ujung, dia telah menggerakkan bidak pertamanya dari garis belakang.

Satu jam kemudian, Lin Chen berdiri di depan meja batu pendaftaran. Su Mei memegang gulungan bambu berisi daftar tugas tersisa.

"Murid Lin Chen," ujar Su Mei, suaranya tetap profesional dan dingin. Matanya melirik sisa-sisa gulungan tersebut. "Sebagian besar tugas menguntungkan sudah diambil. Tersisa pemeliharaan binatang roh tingkat rendah, penambangan batu dasar di Gua Angin Hitam, dan... Penjaga Area Perbatasan Hutan Pinus Berbisik sektor Utara."

Lin Chen memindai opsi tersebut. Menjaga batas Hutan Pinus Berbisik dikenal sangat berbahaya karena area itu sering dimasuki binatang iblis nyasar dari pegunungan. Tugas ini jarang diminati.

Bagi Lin Chen, bahaya identik dengan peluang berburu dan melatih teknik barunya. Di sana dia tidak akan diawasi secara ketat, memungkinkannya bereksperimen dengan metode *Napas Karang Esensi* dan *Tinju Pemecah Batu* secara leluasa.

"Aku mengambil tugas Penjaga Perbatasan Hutan Pinus sektor Utara, Senior," jawab Lin Chen mantap.

Su Mei menorehkan tinta merah pada gulungan bambu tersebut. Dia melemparkan sebuah medali kayu perunggu kepada Lin Chen. "Tugasmu dimulai besok. Kuota setoran bulananmu adalah lima tanduk Serigala Angin, atau energi roh yang setara nilainya. Jika kau gagal memenuhinya, jatah makanan dan sumber dayamu akan dipotong habis bulan depan."

"Dimengerti." Lin Chen menangkap medali itu. Benda dingin tersebut adalah kunci kebebasannya untuk berlatih di luar sekte secara resmi.

Menutup hari yang panjang itu, Lin Chen berbalik meninggalkan alun-alun. Matahari telah naik tinggi, menghangatkan tubuhnya. Masih banyak misteri tentang Sistem Pilihan Takdir ini yang belum dia gali, lautan kekuatan di Dunia Tengah dan Alam Dewa masih sangat jauh dari pandangan.

Penderitaan semalam telah memberinya kekuatan hari ini. Menghadapi Hutan Pinus yang berbahaya, Lin Chen tidak merasakan ketakutan. Darahnya justru mendidih antusias. Dia mengepalkan tangan kanannya yang menyimpan fragmen teknik beladiri baru, bersiap mengubah malam yang gelap menjadi panggung pembantaian bagi hewan iblis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!