Apa jadinya kalau mantan preman pasar yang paling ditakuti justru berakhir jadi pengawal pribadi seorang CEO cantik yang super dingin? Alih-alih merasa aman, sang CEO malah dibuat naik darah sekaligus baper tiap hari karena tingkah bodyguard-nya yang sengklek dan nggak masuk akal. Ikuti kisah komedi romantis penuh aksi antara si garang dan si cantik!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Balapan Maut Motor "Besi Tua"
.. Suara mesin motor Astrea butut milik Cak Gentho meraung-raung di tengah kesunyian malam. Asap putih mengepul tebal dari knalpotnya, menciptakan tabir asap alami yang sedikit menutupi pandangan mobil SUV di belakang mereka.
.. "Genta! Mereka semakin dekat! Ayo lebih cepat lagi!" teriak Clarissa sambil memeluk pinggang Genta dengan sangat erat. Dasternya yang kedodoran berkibar-kibar ditiup angin, membuatnya lebih mirip hantu daster daripada seorang CEO.
.. Genta Arjuna mengertakkan gigi, tangannya memutar gas motor sampai mentok. "Sabar, Mbak Bos! Ini motor tua, bukan motor balap MotoGP! Kalau dipaksa terus, jantung motor ini bisa copot lewat knalpot!"
.. Dari kaca spion yang sudah agak buram, Genta melihat mobil SUV hitam itu mulai melakukan manuver berbahaya. Mobil itu mencoba memepet motor mereka ke pinggir trotoar jalanan pinggiran Sidoarjo yang sepi.
.. "Genta, itu Pak Baskoro! Kenapa dia menatap kita seperti itu? Aku masih tidak percaya dia pengkhianatnya!" suara Clarissa bergetar, antara takut dan kecewa.
.. "Simpan tangisanmu untuk nanti, Mbak Bos! Sekarang, pegangan yang sangat kuat! Kita akan masuk ke gang sempit di depan itu!" seru Genta.
.. Tepat sebelum mobil SUV itu menabrak bagian belakang motor, Genta melakukan pengereman mendadak lalu membanting stang motor ke arah kiri, masuk ke dalam sebuah gang sempit yang lebarnya hanya pas untuk satu motor.
.. Ciiiittttt! Brak! Mobil SUV itu terpaksa mengerem mendadak agar tidak menabrak tembok gang. Para pria berjas hitam langsung turun dari mobil dan mengejar mereka dengan berlari.
.. "Hahaha! Rasakan itu! Mobil mahal kalian nggak bisa masuk sini, kan?!" Genta tertawa mengejek sambil sesekali menoleh ke belakang.
.. Namun, tawa Genta terhenti saat ia melihat Pak Baskoro mengeluarkan sebuah alat komunikasi. "Semua unit, kepung pintu keluar Gang Macan. Jangan biarkan si bodyguard sengklek itu lolos!"
.. "Genta, di depan ada portal!" pekik Clarissa melihat palang besi yang menutup jalan keluar gang.
.. Genta melihat sekeliling dengan cepat. Di samping portal itu ada tumpukan kayu bekas konstruksi yang miring membentuk tanjakan. Ide gila langsung muncul di kepala "Sengklek"-nya.
.. "Mbak Bos, kamu suka nonton film Fast & Furious kan?" tanya Genta dengan senyum nakal yang muncul di balik coretan arangnya.
.. "Genta! Jangan bilang kamu mau... TIDAK! GENTA, JANGAN!!!" Clarissa berteriak histeris saat Genta justru menambah kecepatan motornya menuju tumpukan kayu tersebut.
.. Wuzzzzz! Motor Astrea butut itu meluncur naik ke atas tumpukan kayu dan terbang melompati portal besi setinggi dua meter. Clarissa memejamkan mata rapat-rapat sambil berteriak sekencang-kencangnya.
.. Brak! Motor itu mendarat dengan kasar di seberang portal. Genta berhasil menjaga keseimbangan meskipun knalpot motornya langsung terlepas dan jatuh ke aspal dengan suara berdenting.
.. "Gila! Kita selamat?!" Clarissa membuka matanya perlahan, wajahnya pucat pasi seputih kapas.
.. "Belum, Mbak Bos. Lihat di depan!" Genta menunjuk ke arah jalan raya. Tiga mobil SUV serupa sudah menunggu mereka di sana, membentuk barisan blokade.
.. Genta menghentikan motornya. Ia turun perlahan, lalu melepaskan helm tuanya. Ia menatap ke arah kerumunan pria bersenjata itu dengan mata yang kini berkilat tajam, kehilangan seluruh unsur komedinya.
.. "Mbak Bos, tetap di atas motor. Jangan turun apapun yang terjadi," bisik Genta dengan suara yang sangat dingin.
.. "Genta, kamu mau apa? Mereka banyak sekali!"
.. Genta meremas jemari tangannya hingga berbunyi krek-krek. "Sudah saatnya saya menunjukkan pada mereka, kenapa dulu saya dipanggil 'Macan Sidoarjo' sebelum jadi pengawal pribadimu."
.. Genta melangkah maju, melepaskan jaket kulitnya yang sudah robek dan menyampirkannya di stang motor. Di depannya, sepuluh pria berjas hitam dengan wajah sangar mulai mengepung, tangan mereka menggenggam tongkat besi dan alat penyetrum.
.. "Wah, wah... sambutannya meriah sekali ya? Pak Baskoro ini memang pengertian, tahu saja kalau saya lagi butuh olahraga malam," ucap Genta sambil melakukan peregangan leher hingga berbunyi krek.
.. Pak Baskoro keluar dari mobil paling depan, wajahnya tetap dingin tanpa ekspresi. "Genta, menyerahlah. Serahkan Nona Clarissa secara baik-baik, dan aku akan memastikan kematianmu tidak akan terlalu menyakitkan."
.. Clarissa yang masih gemetar di atas motor berteriak, "Pak Baskoro! Kenapa Ayahku begitu mempercayaimu?! Apa salah kami?!"
.. Pak Baskoro hanya diam, namun salah satu anak buahnya yang paling besar maju mendahului. "Halah, jangan banyak bicara! Pengawal konyol ini biar aku yang urus!"
.. Pria raksasa itu mengayunkan tongkat besinya ke arah kepala Genta. Tapi Genta justru diam mematung, seolah-olah sedang melamun memikirkan cicilan motor Cak Gentho.
.. Wusss! Saat tongkat itu hanya berjarak beberapa senti dari telinganya, Genta sedikit memiringkan badannya dengan gerakan yang sangat halus. Ia kemudian menangkap pergelangan tangan pria itu dan memutarnya dengan sekali sentakan.
.. Krak! Pria raksasa itu mengerang kesakitan, tapi Genta belum selesai. Ia menarik kepala pria itu dan membenturkannya ke jok motor Astrea yang kerasnya minta ampun. "Aduh Mas! Jangan keras-keras, nanti jok motornya Cak Gentho lecet, saya yang ganti!"
.. Tiga pria lainnya maju bersamaan dari arah samping. Genta melompat, melakukan tendangan memutar yang sangat cepat. Dua orang langsung tersungkur mencium aspal, sementara orang ketiga berhasil ditangkap lehernya oleh Genta.
.. "Kamu mau nyetrum saya ya?" tanya Genta sambil menatap alat penyetrum yang masih menyala di tangan pria itu. "Sini, biar saya bantu nambah daya baterainya!"
.. Genta mengarahkan tangan pria itu ke bagian mesin motor yang masih panas. Crattt! Pria itu justru tersengat alatnya sendiri dan pingsan dengan gaya yang sangat estetik—tubuhnya bergetar seperti sedang melakukan breakdance.
.. "Genta! Di belakangmu!" teriak Clarissa histeris.
.. Seorang pria sudah bersiap memukul Genta dengan balok kayu. Tanpa menoleh, Genta melakukan tendangan ke belakang (backkick) tepat mengenai ulu hati pria itu. Balok kayu itu terlepas, dan dengan tangkas Genta menangkapnya di udara.
.. "Nah, ini baru alat yang pas buat main kasti!" Genta memutar-mutar balok kayu itu seperti seorang ahli bela diri tingkat tinggi. "Siapa lagi yang mau saya 'home run' kepalanya?!"
.. Pak Baskoro mulai terlihat kesal melihat anak buah pilihannya berjatuhan hanya dalam hitungan menit oleh seorang bodyguard yang wajahnya penuh arang dan memakai celana jins robek. "Dasar tidak berguna! Gunakan senjata kalian, cepat!"
.. Mendengar perintah itu, dua orang pria menarik pistol dari balik jas mereka. Suasana mendadak menjadi sangat sunyi dan mencekam. Clarissa menutup mulutnya, tak sanggup berteriak.
.. Genta berhenti bergerak. Ia berdiri tegak di depan motor, menutupi tubuh Clarissa sepenuhnya dari sasaran peluru. Tatapan matanya yang tadi penuh canda, kini berubah menjadi sangat gelap dan mematikan.
.. "Pak Baskoro, saya peringatkan satu kali saja... jangan pernah arahkan benda itu ke arah Mbak Bos kalau sampeyan masih pengen melihat matahari terbit besok pagi," bisik Genta dengan suara yang begitu rendah hingga membuat bulu kuduk semua orang di sana merinding
. Dua pria berjas hitam itu mulai menarik pelatuk pistol mereka, moncong senjata api itu tepat mengarah ke jantung Genta yang berdiri tanpa pelindung apa pun.
. "Genta, lari! Jangan pedulikan aku!" Clarissa berteriak histeris, air matanya tumpah melihat nyawa bodyguard konyolnya itu benar-benar di ujung maut.
. Namun, Genta justru melakukan sesuatu yang tidak masuk akal. Bukannya lari atau berlindung, ia malah mengambil selembar sarung lusuh milik Cak Gentho yang tadi ia pakai sebagai syal, lalu memutarnya di udara.
. "Mbak Bos, tutup telingamu! Saya mau pamer sulap sedikit!" teriak Genta sambil melakukan gerakan memutar sarung itu dengan kecepatan yang sangat luar biasa.
. Dor! Dor! Dua tembakan meletus memecah keheningan malam di pinggiran Sidoarjo. Clarissa memejamkan mata, hatinya hancur membayangkan Genta tersungkur bersimbah darah.
. Tapi yang terdengar justru suara dentingan logam yang jatuh ke aspal. Ting! Ting!
. Clarissa membuka mata dan terbelalak. Genta masih berdiri tegak, dan di ujung sarungnya yang terpilin keras seperti baja, tersangkut dua butir proyektil peluru yang entah bagaimana bisa ia tangkap atau tangkis dengan kain sarung tersebut.
. "Apa?! Bagaimana mungkin sarung butut bisa menahan peluru?!" teriak Pak Baskoro yang mulai kehilangan ketenangannya.
. Genta menyeringai, memperlihatkan kumis arangnya yang miring. "Ini bukan sembarang sarung, Pak Baskoro. Ini sarung legendaris yang sudah ribuan kali dipakai buat ronda dan mengusir maling jemuran. Kekuatannya melebihi rompi anti peluru mana pun!"
. Sebelum para preman itu sempat mengisi peluru lagi, Genta sudah melesat maju secepat kilat. Ia menyabetkan ujung sarungnya yang berat ke arah tangan pemegang pistol.
. Plakk! Pistol-pistol itu terpental jauh ke dalam semak-semak. Genta kemudian melakukan tendangan ganda yang membuat dua pria bersenjata itu langsung tak sadarkan diri di tempat.
. Pak Baskoro yang melihat anak buahnya habis tak bersisa, langsung masuk kembali ke dalam mobil SUV-nya dan memerintahkan sopirnya untuk segera tancap gas meninggalkan lokasi.
. "Jangan kabur, Pak Tua! Bayar dulu ganti rugi knalpot motor Cak Gentho yang copot!" teriak Genta, namun mobil itu sudah melesat jauh menghilang di kegelapan jalan raya.
. Genta menarik napas panjang, lalu berbalik ke arah Clarissa. Ia kembali ke mode "Sengklek"-nya, membetulkan capingnya yang miring sambil memijat pinggangnya yang terasa encok.
. "Aduh, Mbak Bos... tulang tua saya rasanya mau rontok semua. Ternyata gaya sok jagoan itu butuh biaya pijat yang mahal ya?" keluh Genta sambil nyengir lebar.
. Clarissa tidak menjawab. Ia langsung turun dari motor dan memeluk Genta dengan sangat erat, mengabaikan daster batiknya yang berlumuran oli dan tepung. "Genta... terima kasih. Aku tidak tahu harus bagaimana kalau kamu tadi benar-benar tertembak."
. Genta tertegun sejenak, tangannya yang penuh arang ragu untuk membalas pelukan CEO cantik itu. "Anu, Mbak Bos... pelukannya jangan erat-erat, nanti bau terasi di baju saya nular ke parfum mahalnya Mbak Bos, lho."
. Clarissa tertawa di sela isak tangisnya. Ia menyadari satu hal: meskipun Genta sangat konyol dan tidak tahu aturan, pria inilah satu-satunya orang di dunia yang bisa ia percayai saat ini.
. "Ayo pergi dari sini, Genta. Kita harus ke tempat yang benar-benar aman sebelum mereka kembali membawa pasukan lebih banyak," ajak Clarissa sambil kembali naik ke atas motor butut itu.
. Genta mencoba menyalakan motornya, tapi kali ini mesinnya benar-benar diam. Ngik... ngik... prek! "Waduh, Mbak Bos... sepertinya jimat motor ini sudah habis masa berlakunya. Kita harus mendorong motor ini sampai ke pom bensin depan!"
. "Genta! Kamu beneran mau nyuruh aku nuntun motor butut ini sampai pom bensin?!" Clarissa melotot, menatap sandal jepitnya yang sudah hampir putus sebelah. "Aku ini CEO, Genta! Kalau ada wartawan lewat terus motret aku lagi nuntun motor pakai daster, saham perusahaanku bisa anjlok dalam satu detik!"
. Genta malah asyik mengelap keringat di dahinya pakai ujung sarung sakti tadi. "Halah, Mbak Bos ini kakehan gengsi. Anggap saja ini olahraga malam biar lemak-lemak stres di perut Mbak Bos itu lari semua. Lagian, wartawan mana yang mau kelayapan di pinggiran Sidoarjo jam segini? Adanya paling kuntilanak lagi cari tumpangan!"
. Clarissa merinding, ia langsung memepet ke arah Genta sambil terus mendorong bagian belakang motor. "Genta! Jangan menakut-nakuti! Kamu kan bodyguard, harusnya kamu yang dorong sendiri, aku tinggal duduk manis!"
. "Wah, Mbak Bos ini nggak adil! Saya ini baru saja menangkis peluru pakai sarung, energi saya sudah habis terkuras buat gaya sok keren tadi. Sekarang giliran Mbak Bos yang kontribusi. Kerja sama tim itu penting, Mbak!" sahut Genta sambil terus ngos-ngosan mendorong stang motor.
. "Tapi motor ini berat banget, Genta! Isinya apa sih? Batu bata?!" keluh Clarissa. Napasnya mulai tersengal-sengal, keringat mengalir di leher jenjangnya yang biasanya hanya tersentuh AC kantor.
. Genta tertawa kecil. "Isinya ya sejarah, Mbak. Motor ini sudah melewati tiga zaman: zaman susah, zaman sangat susah, sama zaman mogok total kayak sekarang ini. Makanya, dorongnya harus pakai perasaan, jangan pakai emosi."
. Tiba-tiba, suara krosak-krosak terdengar dari semak-semak di pinggir jalan raya yang gelap. Clarissa langsung melonjak kaget dan melompat naik ke atas jok motor yang mogok itu. "Genta! Ada suara! Mereka kembali lagi?!"
. Genta langsung memasang kuda-kuda siaga, namun sedetik kemudian ia malah tepuk jidat. Yang keluar dari semak-semak ternyata hanya seekor kambing bandot yang lepas dari kandangnya. Kambing itu menatap mereka dengan tatapan polos sambil mengunyah rumput.
. "Mbak Bos... itu kambing. Bukan preman bertato," ucap Genta datar sambil menahan tawa. "Ternyata nyali CEO Wijaya Group itu cuma sebesar biji kedelai ya?"
. "Diam kamu! Kambing itu matanya merah, siapa tahu itu kambing jadi-jadian!" bela Clarissa dengan wajah memerah menahan malu. Ia tetap tidak mau turun dari jok motor, memaksa Genta mendorong motor plus beban tubuhnya sendiri.
. "Waduh, Mbak Bos! Ini namanya penindasan terhadap rakyat kecil! Saya dorong motor saja sudah berat, sekarang ditambah beban bos yang makannya mewah terus ini. Bisa-bisa besok saya jalan kayang gara-gara pinggang kecetit!" gerutu Genta, meskipun ia tetap mendorong motor itu dengan penuh tanggung jawab.
. Sambil berjalan pelan, Clarissa menatap punggung Genta yang lebar. Di balik candaan konyolnya, ia tahu Genta sedang mencoba mencairkan suasana agar ia tidak terlalu trauma setelah melihat pistol tadi. "Genta... kenapa kamu mau melakukan ini semua? Maksudku, kamu bisa saja lari dan meninggalkan aku sendirian tadi."
. Genta berhenti sejenak, ia menoleh sedikit ke arah Clarissa dengan senyum tipis yang jarang ia perlihatkan. "Karena bagi saya, Mbak Bos bukan cuma sekadar majikan yang suka marah-marah. Tapi Mbak Bos itu amanah dari Bapak saya di kampung. 'Arjuna nggak boleh ninggalin Srikandi-nya pas lagi dikepung musuh', begitu kata Bapak saya dulu."
. Clarissa terdiam, hatinya tersentuh. "Ayahmu bilang begitu? Ternyata keluarga kalian romantis juga ya."
. "Romantis apanya, Mbak? Bapak saya bilang begitu sambil ngejar saya pakai gagang sapu gara-gara saya lari pas disuruh jaga adik saya yang lagi nangis!" jawab Genta yang langsung merusak suasana romantis tadi.
. Clarissa mendengus kesal, lalu tertawa kecil. "Dasar bodyguard sengklek! Ayo cepat dorongnya, aku sudah lapar banget. Aku mau makan bakso pinggir jalan kalau kita ketemu nanti."
. "Siap, Mbak Bos! Bakso urat satu porsi, cabenya sepuluh, biar Mbak Bos makin pedas kayak omongan tetangga!" teriak Genta semangat sambil kembali mendorong motor butut itu menuju cahaya lampu pom bensin yang mulai terlihat di kejauhan.
. Tanpa mereka sadari, di atas sebuah gedung tua tak jauh dari sana, sepasang mata merah sedang mengawasi mereka melalui teropong jarak jauh. Seseorang sedang melaporkan posisi mereka lewat radio panggil. "Target masih hidup. Persiapkan jebakan kedua di perbatasan Sidoarjo. Jangan sampai gagal lagi."
Iki lur, Bab 26 spesial nggo sampeyan kabeh sing wis nunggu Genta Arjuna atraksi sarung sakti! Ojo lali Like, Komen, lan Share yo ben Genta ndang iso tuku knalpot anyar!"
.
BERSAMBUNG