Vittorio "The Grim Reaper" Genovese adalah puncak rantai makanan di dunia bawah Italia. Dingin, kejam, dan tak tersentuh—sampai sebuah pengkhianatan bom mobil mengakhiri hidupnya. Namun, maut ternyata punya selera humor yang aneh. Vittorio terbangun di tubuh Arjuna, mahasiswa beasiswa tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi "kesialan". Tubuh kurus, kacamata tebal yang pecah, dan hobi menjadi samsak tinju geng kampus.
Dendam Vittorio membara, tapi tantangan terbesarnya bukan membalas budi pada para pembully, melainkan menghadapi Karin, gadis "semprul" tetangga kostnya yang tidak punya urat takut. Karin adalah perpaduan antara kekacauan dan keceriaan yang sering membuat Vittorio—sang raja mafia yang biasanya hanya bicara lewat peluru—kehilangan kata-kata dan martabatnya karena tingkah konyol gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karin dan Teori Konspirasi Alien
Pagi itu, Vittorio Genovese—pria yang dulunya bisa menggerakkan pasar gelap Eropa hanya dengan satu jentikan jari—sedang mengalami krisis eksistensial. Bukan karena musuh yang datang dengan senapan mesin, bukan pula karena pengkhianatan dari dalam keluarga. Krisis ini datang dalam bentuk seorang gadis dengan daster merah jambu yang sedang duduk bersila di atas meja belajar sempitnya, memegang sebuah senter kecil yang sinarnya diarahkan tepat ke lubang telinga Vittorio.
"Diem dulu, Juna! Jangan gerak! Gue lagi nyari lubang chip-nya!" seru Karin dengan nada sangat serius.
Vittorio memejamkan mata, mencoba menahan keinginan untuk melempar tetangganya ini keluar melalui jendela. "Karin, untuk yang keseribu kalinya, tidak ada chip di telingaku. Turun dari mejaku sekarang sebelum aku kehilangan kesabaran."
"Halah, alasan klasik agen rahasia!" Karin meloncat turun dari meja dengan kelincahan seekor tupai. Ia kemudian mengeluarkan sebuah buku catatan kecil yang sampulnya penuh dengan stiker bintang-bintang yang bisa menyala dalam gelap. "Lu pikir gue buta? Gue liat semuanya kemarin. Lu yang biasanya jalan kayak zombi kurang vitamin, tiba-tiba bisa bantai dua puluh preman pake gaya kungfu yang nggak masuk akal? Terus lu nggak pake kacamata tapi bisa liat kotoran di kuku gue dari jarak lima meter?"
Karin mendekat, menyipitkan matanya hingga hanya tersisa garis tipis. "Lu bukan Arjuna. Lu adalah entitas dari galaksi Andromeda yang dikirim buat observasi manusia, tapi karena lu jatuh cinta sama kecantikan gue, lu mutusin buat jadi pahlawan kesiangan. Bener, kan?"
Vittorio menatap Karin dengan datar. Jika ini di Italia, wanita ini sudah akan dikirim ke rumah sakit jiwa atau dijadikan umpan ikan hiu karena terlalu banyak bicara. Tapi di sini, di kamar kost ukuran dua kali tiga meter ini, Karin adalah satu-satunya orang yang—secara ironis—nyaris mendekati kebenaran, meski dengan cara yang paling gila.
"Alien, Karin? Benarkah itu teori terbaikmu?" Vittorio bangkit, merapikan kemejanya yang baru saja ia cuci sendiri.
"Lah, kalau bukan alien, terus apa? Teori konspirasi kedua gue: Lu itu sebenernya subjek eksperimen pemerintah yang disuntik serum Super Soldier tapi gagal karena badannya tetep krempeng?" Karin mulai berjalan mondar-mandir di ruangan sempit itu, tangannya bergerak-gerak seperti profesor gila. "Coba pikir! Sejak kapan Arjuna bisa ngomong formal kayak pejabat korup? Sejak kapan Arjuna berani natap orang kayak mau nyabut nyawa? Jelas, ada sesuatu yang masuk ke badan lu lewat penculikan alien malam itu di gang!"
Vittorio menarik kursi kayu dan duduk, memandang Karin dengan sedikit rasa tertarik. "Dan jika aku memang alien, apa yang akan kau lakukan? Melaporkanku ke NASA?"
Karin berhenti mondar-mandir. Ia terdiam sejenak, lalu menyeringai lebar—sebuah seringai yang membuat Vittorio merasa lebih terancam daripada saat menghadapi sepuluh pria bersenjata.
"Enggak lah! Gue bakal jadi manajer lu! Kita bakal bikin konten: 'Keseharian Alien Cupu di Kostan Kumuh'. Bayangin berapa banyak subscriber yang bakal kita dapet! Kita bisa kaya raya, Juna! Kita bisa beli kostan ini, terus usir Mbak Yanti biar dia nggak ghibah mulu!"
Vittorio menghela napas panjang. Ia meraih jaket kulit pemberian Karin kemarin dan memakainya. "Aku harus ke kampus. Berhenti berkhayal atau otakmu akan benar-benar menguap."
"Eh, mau ke mana lu?! Gue belum selesai wawancara!" Karin menyambar tas punggungnya dan mengikuti Vittorio keluar kamar.
Perjalanan menuju kampus pagi itu menjadi perjalanan paling panjang dalam sejarah hidup Vittorio. Karin tidak berhenti berceloteh tentang bukti-bukti keberadaan alien. Dari bentuk piramida di Mesir sampai tanda lahir di punggung Arjuna yang katanya mirip konstelasi bintang Orion.
"Juna, liat deh langitnya. Biru banget, kan? Itu pasti karena satelit alien lagi mancarin radiasi biar kita semua jadi nurut," kata Karin sambil menunjuk ke langit dengan sebatang gorengan bakwan yang baru ia beli di depan gerbang kost.
"Itu karena atmosfer bumi menghamburkan cahaya matahari, Karin. Itu fisika dasar," jawab Vittorio tanpa menoleh.
"Dih, sok pinter! Tuh kan, lu pinter banget! Arjuna yang asli dapet nilai fisika cuma C minus! Fix, lu alien!"
Mereka sampai di area kampus. Suasana terasa berbeda hari ini. Setiap mahasiswa yang mereka lewati mendadak diam. Bisik-bisik mulai terdengar. Berita tentang tumbangnya Rico dan geng 'The Vultures' telah menyebar seperti api di atas bensin. Arjuna, yang dulu dianggap sampah, kini dipandang dengan campuran rasa takut dan penasaran.
Vittorio berjalan dengan kepala tegak. Ia tidak peduli pada tatapan mereka. Namun, ia menyadari sesuatu. Di sudut kantin, ada sekelompok pria dengan pakaian yang terlalu rapi untuk ukuran mahasiswa. Mereka tidak memperhatikan makanan mereka; mata mereka tertuju pada Vittorio.
Bukan preman kemarin, batin Vittorio. Ini profesional.
"Juna, kok lu diem? Liat apa sih?" Karin mengikuti arah pandang Vittorio. "Ooh, itu mahasiswa fakultas ekonomi ya? Ganteng-ganteng banget, beda banget sama lu yang mukanya kayak antagonis film kartun."
"Karin, masuklah ke kelasmu sekarang," ucap Vittorio, suaranya berubah menjadi sangat serius.
"Loh, kenapa? Kelas gue masih satu jam lagi. Gue mau nemenin lu nyari bukti piring terbang di atas gedung rektorat," Karin mencoba bercanda, tapi ia berhenti saat melihat wajah Vittorio.
Vittorio menatap Karin langsung ke matanya. "Jangan membantah. Pergilah ke area yang ramai, jangan sendirian. Dan jika kau melihat pria berbaju safari cokelat mendekat, berteriaklah sekencang mungkin."
Karin menelan ludah. "Juna... lu nggak lagi bercanda tentang alien yang mau jemput lu, kan?"
"Bukan alien, Karin. Musuh yang jauh lebih nyata," bisik Vittorio. Ia mendorong bahu Karin perlahan agar menjauh. "Pergi sekarang."
Karin, yang biasanya keras kepala, kali ini menurut. Ia bisa merasakan aura bahaya yang nyata memancar dari Vittorio. Ia berlari kecil menuju gedung fakultasnya, sesekali menoleh ke belakang dengan wajah khawatir.
Vittorio menarik napas dalam. Ia berjalan menuju area taman yang lebih sepi di belakang perpustakaan. Benar saja, tiga pria berpakaian safari itu mengikutinya dari jarak aman. Vittorio berhenti di bawah pohon beringin besar, membelakangi mereka.
"Kalian tidak sepintar yang kalian kira dalam hal membuntuti seseorang," ucap Vittorio tanpa berbalik.
Ketiga pria itu maju, mengepung Vittorio. Salah satu dari mereka, pria dengan bekas luka bakar di lehernya, melangkah maju. "Kau Arjuna? Kami tidak ingin keributan di sini. Tuan besar ingin kau datang bersamanya untuk menjelaskan apa yang terjadi pada putranya."
"Tuan besarmu harus belajar cara mengundang tamu dengan lebih sopan," Vittorio berbalik, menatap mereka dengan dingin. "Dan beri tahu Pak Broto, jika dia mengirim orang lagi ke kampus ini, aku tidak akan hanya mengirim orang-orangnya ke rumah sakit, tapi aku akan memastikan dia kehilangan seluruh asetnya dalam semalam."
Pria itu tertawa dingin. "Kau pikir kau siapa, bocah? Kau hanya mahasiswa miskin yang kebetulan tahu cara memukul. Kami adalah profesional."
Pria itu maju untuk mencengkeram bahu Vittorio. Namun, Vittorio bergerak lebih dulu. Dengan kecepatan yang jauh melampaui kemampuan manusia biasa (atau setidaknya, kemampuan Arjuna yang lama), Vittorio menangkap pergelangan tangan pria itu dan memutarnya hingga terdengar suara krek yang tajam.
Dua pria lainnya mencoba menyerang secara bersamaan. Vittorio menggunakan tubuh pria pertama sebagai perisai, menendang lutut pria kedua, dan menggunakan sikutnya untuk menghantam ulu hati pria ketiga.
Gerakannya sangat efisien, bersih, dan mematikan. Dalam hitungan detik, ketiga "profesional" itu terkapar di tanah.
"Pulanglah," ucap Vittorio sambil merapikan jaketnya yang sedikit berdebu. "Dan katakan pada Pak Broto: pesanku tidak berubah."
Vittorio berjalan pergi, namun langkahnya terhenti saat ia melihat Karin mengintip dari balik pilar gedung perpustakaan. Gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya membelalak lebar.
"Juna... lu... lu beneran bisa terbang ya?" tanya Karin dengan suara gemetar.
Vittorio menghela napas. Ia mendekati Karin yang masih gemetar. "Sudah kubilang untuk masuk ke kelas, bukan?"
"Gue... gue khawatir sama lu! Gue kira lu bakal diculik beneran!" Karin tiba-tiba memukul dada Vittorio dengan tinju kecilnya. "Lu jahat! Lu bikin gue jantungan! Lu alien macam apa sih yang hobi berantem di belakang perpus?!"
Vittorio terdiam. Ia melihat air mata kecil menggantung di sudut mata Karin. Gadis semprul ini benar-benar takut kehilangannya. Di dunia lamanya, tidak ada yang pernah menangis untuknya kecuali karena takut atau kehilangan sumber uang. Tapi Karin... dia menangis karena dia peduli.
"Maafkan aku," ucap Vittorio pelan. Ia mengulurkan tangannya dan mengusap air mata di pipi Karin. "Aku bukan alien. Dan aku tidak akan pergi ke mana-mana."
Karin sesenggukan, mencoba kembali ke mode biasanya. "Bohong! Lu pasti alien! Tadi lu geraknya cepet banget, kayak karakter di game Mobile Legends yang lagi pake flicker!"
"Terserah kau saja, Karin," Vittorio tersenyum tipis. "Sekarang ayo, aku akan mengantarmu sampai depan kelas. Aku tidak ingin ada 'agen rahasia' lain yang mengganggumu."
"Nah, gitu dong! Ini baru manajer yang baik!" Karin langsung menggandeng lengan Vittorio dengan erat, seolah takut pria itu akan terbang ke angkasa jika ia lepaskan. "Oya, Juna. Kalau nanti lu mau balik ke planet asal, bawa gue ya? Gue mau jualan seblak di Mars. Pasti laku keras!"
Vittorio menggelengkan kepala. "Di Mars tidak ada air, Karin. Bagaimana kau mau masak seblak?"
"Halah, alien mah bebas! Pasti ada teknologi buat bikin air dari debu!"
Mereka berjalan menyusuri koridor kampus, sepasang manusia paling aneh yang pernah dilihat oleh penghuni Universitas Global. Sang Raja Mafia yang bertransmigrasi dan Gadis Semprul yang percaya teori konspirasi. Di tengah bayang-bayang dendam dan ancaman dari Pak Broto, Vittorio menyadari bahwa hidup di bumi ini—bersama Karin—ternyata jauh lebih menarik daripada kekuasaan mutlak di Italia.
"Juna, nanti malem kita nonton film tentang alien ya? Buat referensi strategi perang lu!"
"Tidak, Karin."
"Ayolah! Gue yang beli popcorn-nya!"
"Tetap tidak."
"Dih, pelit! Dasar alien sombong!"
Vittorio hanya bisa pasrah. Mungkin transmigrasi ini bukan hukuman, melainkan sebuah ujian kesabaran yang sangat berat. Tapi di balik semua itu, ia tahu satu hal pasti: selama ada Karin di sampingnya, musuh-musuhnya tidak akan pernah bisa menebak langkahnya. Karena bahkan dia sendiri pun tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan gadis semprul itu selanjutnya.
aq ngakak 😄🤣😄🤣😄🤭
lucu bnget cemburu ny si vittrio🤣😄🤣😄🤭 lanjut kk👍
kocak bnget,,,,👍
laen x cukup sederhana tp berkesan saja🤭
karin udh gak malu lg yaa peluk2 vittrio depan orng🤭
mna manja lg
🤣😄🤭
dri pda karin pke daster kuning bikin syilau mata mu😄🤣😄🤣🤭
tp gak ap lah, klu vittrio penguasa italia, aq penguasa komen d cerita kk ini🤭👍