Alya Maheswari, gadis sederhana dengan masa lalu kelam, dipaksa menikah dengan Arkan Virello, seorang mafia dingin dan kejam yang tak percaya cinta.
Pernikahan mereka bukan tentang cinta, melainkan perjanjian darah. Namun di balik sikap dingin Arkan, tersembunyi obsesi berbahaya. Dan di balik kepasrahan Alya, tersimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta mulai tumbuh di antara ancaman, pengkhianatan, dan dendam lama, satu pertanyaan muncul:
Apakah mereka akan saling menyelamatkan, atau justru saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu Alya
Hujan turun perlahan, Alya berdiri di depan kaca besar di kamarnya. Pantulan dirinya terlihat asing dengan balutan gaun mahal, yang melekat di tubuhnya. Ruangan luas, kehidupan yang seharusnya tampak sempurna.
Sorot matanya tampak kosong, dan menyimpan sesuatu yang tidak pernah benar-benar pergi. Tangannya perlahan terangkat, menyentuh bekas luka tipis di pergelangan tangan kirinya.
Luka itu hampir tak terlihat, jika tidak diperhatikan. Namun baginya, itu seperti ukiran yang terus berbisik. Luka tentang masa lalu, yang sudah ia kubur dalam-dalam.
"Aku pikir, kamu tidak suka hujan."
Alya tidak menoleh, karena ia sudah tahu suara siapa. "Aku tidak suka, tapi hujan selalu datang, bahkan saat kita tidak menginginkannya."
Langkah kaki Arkan mendekat, ia berhenti tepat di belakan Alya. Cukup dekat hingga kehadirannya terasa menekan.
"Aneh," ucap Arkan. "Kamu bicara seperti seseorang yang pernah kehilangan sesuatu."
Alya tersenyum tipis, "Semua orang pernah kehilangan sesuatu, Tuan Virello."
Arkan langsung menatap pantulan Alya di cermin, tatapannya tajam, seperti mencoba mencari tahu tentang hal yang tersembunyi.
"Tapi tidak semua orang, bisa menyembunyikannya sebaik kamu."
Seketika suasana menjadi hening, untuk sesaat hanya ada suara hujan yang mengisi ruangan.
Alya menarik napas pelan, memejamkan matanya perlahan. Ia tahu, cepat atau lambat, masa lalunya akan menyeretnya kembali. Dan mungkin, hari itu sudah terlalu dekat.
Tiga Tahun Lalu - Bandung.
Langit sore berwarna abu-abu, Alya duduk di bangku taman kampus, buku terbuka di pangkuannya, tapi matanya tidak membaca satu kata pun.
Di sampingnya, Nisa terus berbicara dengan penuh semangat.
"Ly, kamu dengar gak sih? Katanya, dosen baru itu galak banget!"
Alya hanya mengangguk pelan.
"Ly?" Nisa meliriknya. "Kamu kenapa sih? Dari tadi bengong terus."
"Aku cape," jawab Alya singkat.
Sudah beberapa hari ini, ia merasa sedang diawasi. Bukan perasaan biasa, tapi ini berbeda dari biasanya. Seperti ada mata yang selalu mengikuti setiap langkahnya.
"Alya."
Suara itu membuat tubuhnya menegang, perlahan Alya mulai menoleh. Seorang pria berdiri beberapa meter dari mereka.
Pria itu tinggi, berpakaian rapi, tapi tatapannya begitu dingin.
"Nisa," bisiknya pelan. "Aku harus pergi sekarang."
"Eh, tapi kenapa?"
"Aku pergi dulu."
Tanpa menunggu jawaban, Alya berdiri dan berjalan cepat. Jantungnya berdegup semakin cepat, ia tidak berani menoleh.
Alya tidak ingin memastikan, apakah pria itu benar-benar mengikutinya?
Karena dalam hatinya, ia sudah tahu jawabannya.
Malam itu, pintu rumah kecil Alya terbuka dengan keras. Ia masuk dengan napas yang terengah.
"Ibu!"
Tidak ada jawaban.
"Ibu?!"
Perasaan buruk langsung menyerangnya, ia melangkah masuk ke ruang tengah, dan dunia seolah berhenti.
Kursi terbalik, barang-barang berserakan. Dan Alya langsung terpaku saat melihat apa yang ada di depannya.
"Ibu!"
Suara Alya bergetar, tidak ada siapa pun. Tapi jejak kekacauan itu cukup untuk menjelaskan satu hal.
Seseorang telah datang, dan membawa sesuatu, atau seseorang. Alya mundur perlahan, tangannya gemetar.
"Tidak... tidak... tidak..."
Air mata mulai jatuh tanpa bisa ia tahan, tiba-tiba ada suara dari arah belakangnya.
"Jangan bergerak."
Alya membeku, ia perlahan menoleh. Pria yang sama, berdiri di ambang pintu. Tatapannya begitu dingin.
"Si-siapa kamu?" suara Alya hampir tidak terdengar.
Pria itu tidak langsung menjawab, ia hanya menatap Alya beberapa detik.
"Apa kamu gadis yang bernama, Alya Maheswari?"
"A-apa yang kalian lakukan pada ibuku?!"
Pria itu melangkah mendekat, "Tenang saja, ibumu baik-baik saja."
"Bohong!"
"Dia akan baik-baik saja, selama kamu bisa bekerja sama dengan kami."
Alya menatap pria itu dengan mata yang berkaca-kaca. "Kerja sama? Apa maksudmu?"
Pria itu tersenyum tipis, "Kamu akan ikut dengan kamu."
"Aku tidak mau!"
Pria itu tidak terkejut dengan jawaban Alya, seolah sudah memperkirakan jawabannya.
"Kalau begitu..." suaranya datar. "...jangan salahkan aku, jika ibumu akan menanggung akibatnya."
Tubuh Alya langsung lemas, ia terdiam. Pikirannya kacau, dan ia tidak punya pilihan.
"A-apa yang harus aku lakukan?"
Alya tersentak, dan membuka mata. Napasnya tidak teratur. Tangannya masih gemetar, kenangan itu selalu datang seperti mimpi buruk yang tidak pernah selesai.
Dan yang paling menyakitkan, ia tidak pernah benar-benar tahu siapa mereka. Atau, untuk siapa ia dipaksa melakukan semua itu.
"Alya."
Suara Arkan menariknya kembali ke dalam kenyataan, Alya menoleh, dan untuk pertama kalinya, Arkan melihat sesuatu yang berbeda dulu matanya. Bukan ketakutan, tapi seperti luka yang dalam.
"Siapa yang sudah membuatmu seperti itu?"
Alya terdiam, karena jika ia mulai bicara, segalanya bisa hancur begitu saja, termasuk dirinya sendiri.
"Tidak semua luka perlu diceritakan," jawab Alya akhirnya.
Arkan menatapnya tajam, "Aku tidak suka ada sebuah rahasia denganku."
"Tapi aku bukan bagian dari duniamu, Tuan Virello."
"Sekarang kamu sudah menjadi bagian dari hidupku."
Kalimat itu terdengar seperti pernyataan, sekaligus sebuah ancaman.
Alya menoleh ke arah jendela, "Terkadang," katanya pelan. "Masa lalu tidak benar-benar pergi begitu saja."
Arkan memperhatikan Alya dengan tatapan yang sulit diartikan, seolah ia menyadari bahwa wanita di hadapannya bukan sekedar gadis lemah, yang bisa ia kendalikan kapan saja.
Ada sesuatu yang lebih dalam, lebih gelap, dan mungkin lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.