“Benciku adalah candu, dan obsesinya adalah penjara paling mematikan.”
Ceisya, seorang santriwati tengil sekaligus hacker cerdas, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Ceisyra Valenor—tokoh antagonis yang seharusnya mati tragis.
Namun takdir berubah…
Kaelthas Virelion, penguasa dunia bawah yang dingin dan kejam, justru terobsesi padanya—bahkan menikahinya secara rahasia.
Di tengah fitnah licik sang adik, Clarisse, serta ancaman Axton—rival berbahaya yang mulai kehilangan kendali karena dirinya—Ceisya terjebak dalam permainan yang mematikan.
Haruskah ia melarikan diri dari sangkar emas itu…
atau bertahan dalam perlindungan berbahaya dari pria posesif yang siap menghancurkan dunia demi dirinya?
“Kamu adalah napasku, Ceisyra. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu dariku.”
Takdir, obsesi, dan kekuasaan bertabrakan.
Mampukah Ceisya mengendalikan nasibnya sendiri… atau justru tenggelam dalam obsesi yang semakin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan Sang Penguasa dan Retaknya Topeng Malaikat
Pukul 10:30 pagi.
Deru mesin mobil mewah berwarna hitam pekat meluncur halus, membelah jalanan aspal menuju gerbang utama mansion keluarga Valenor. Kilau bodinya yang sehitam malam memantulkan cahaya matahari pagi, menciptakan kesan elegan sekaligus mengintimidasi bagi siapa pun yang berani meliriknya. Mobil itu bukan sekadar kendaraan; itu adalah simbol kekuasaan yang berjalan.
Di kursi belakang, seorang pria duduk dengan ketenangan yang mematikan. Tubuhnya tegap, dibalut setelan jas hitam custom-made yang membungkus bahu kokohnya dengan sempurna. Aura dominasinya begitu kuat, seolah oksigen di dalam mobil itu tersedot habis hanya oleh kehadirannya. Wajahnya adalah mahakarya—rahang tegas sekeras granit, hidung mancung, dan mata tajam sedingin es yang seolah mampu menembus rahasia terdalam seseorang.
Dialah Kaelthas Virelion. Pria yang memegang kendali atas jalur logistik dan ekonomi dunia. Satu jentikan jarinya bisa membuat sebuah perusahaan raksasa bangkrut dalam semalam.
“Sudah sampai di mansion Valenor, Tuan,” ucap sopir dengan suara yang sangat hati-hati, bahkan hampir berbisik. Ada ketegangan yang selalu menyelimuti siapa pun yang berada di dekat Kaelthas.
Kaelthas tidak langsung menjawab. Tatapannya lurus ke depan, dingin dan tak tersentuh. “Ceisyra Valenor,” gumamnya pelan. Suaranya rendah, memiliki getaran bariton yang berat. “Wanita yang hanya tahu cara membuat masalah.”
Asisten pribadinya yang duduk di kursi depan segera membuka tablet. “Benar, Tuan. Berdasarkan laporan terakhir, Nona Ceisyra semakin temperamental. Dia sering menghabiskan uang untuk barang mewah yang tidak berguna, berdandan sangat menor, dan selalu membuat keributan di setiap pesta yang ia datangi.”
Kaelthas menyipitkan mata, ada kilatan muak yang melintas cepat. “Lalu bagaimana dengan adiknya? Clarisse?”
“Nona Clarisse? Dia adalah kebalikannya, Tuan. Lembut, santun, dan sangat disayangi oleh seluruh relasi bisnis keluarga Valenor. Banyak yang bilang dia adalah malaikat tanpa sayap,” jawab sang asisten tanpa ragu.
Kaelthas menyandarkan punggungnya, lalu menyunggingkan senyum tipis yang tidak mencapai mata. “Sempurna,” gumamnya. “Terlalu sempurna untuk menjadi nyata.”
Mobil berhenti tepat di depan tangga utama. Puluhan pelayan dan pengawal sudah berbaris rapi seperti prajurit, menundukkan kepala sangat dalam saat pintu mobil dibuka. Kaelthas keluar, dan seketika itu juga, suhu di sekitar seolah turun beberapa derajat.
Langkah kakinya yang mantap menciptakan irama yang menekan mental siapa pun yang mendengar.
Di aula utama, keluarga Valenor sudah menunggu dengan penuh hormat. Bastian dan Clara Valenor berdiri dengan wajah formal yang dipaksakan. Di samping mereka, Clarisse berdiri dengan gaun putih yang cantik, matanya yang sembab sengaja dipamerkan untuk menarik simpati sang tunangan kakaknya.
Namun, perhatian Kaelthas justru teralih ke sisi lain ruangan. Di sana, seorang gadis berdiri dengan tenang. Sangat tenang. Ia tidak memakai gaun terbuka yang mencolok seperti biasanya. Sebaliknya, ia mengenakan pakaian sederhana yang tertutup, dengan kain jilbab yang membingkai wajahnya dengan anggun. Tanpa riasan menor, tanpa perhiasan berlebihan. Hanya wajah yang bersih dan mata yang menatap balik dengan keberanian yang tak terduga.
Itu Ceisya. Jiwa santriwati yang kini menempati raga Ceisyra.
Kaelthas berhenti melangkah. Tatapannya terkunci pada gadis itu. Hening mencekam menyelimuti aula.
“Dia?” gumam Kaelthas pelan.
Asistennya tampak ragu, ia mengecek kembali foto di tabletnya. “Iya, Tuan... itu benar Nona Ceisyra. Tapi... penampilannya berubah drastis.”
Kaelthas menyipitkan matanya. Informasi yang ia terima pagi tadi sangat kontras dengan realita di depannya. Gadis ini tidak terlihat seperti pengacau temperamental. Ia terlihat seperti air tenang yang menghanyutkan.
Ceisya yang menyadari sedang dihakimi oleh tatapan tajam Kaelthas hanya mengangkat sebelah alisnya. Ia tidak menunduk ketakutan seperti pelayan lainnya. Sebaliknya, ia justru tersenyum tipis—senyum tengil khasnya.
“Tatapannya tajam banget, seperti mau membelah orang,” gumam Ceisya santai. Suaranya tidak keras, tapi di ruangan sesunyi itu, kata-katanya terdengar jelas oleh semua orang.
Clara tersentak, pelayan-pelayan menahan napas. "Berani sekali dia bicara begitu di depan Kaelthas Virelion!" batin Clara.
Namun, alih-alih meledak marah karena tidak dihormati, sudut bibir Kaelthas justru terangkat satu milimeter. “Menarik,” ucapnya pelan, hampir tak terdengar.
Bastian segera berdehem, mencoba memecah kecanggungan. “Tuan Kaelthas, terima kasih sudah menyempatkan waktu. Kami ingin membicarakan kejadian malang yang menimpa Clarisse—”
“Aku ingin bicara dengannya,” potong Kaelthas tanpa menoleh pada Bastian. Matanya tetap tertuju pada Ceisya. “Sendiri. Di ruang kerja.”
Suasana langsung membeku. Clarisse meremas ujung gaunnya, matanya menatap Ceisya dengan kilatan iri yang coba ia sembunyikan di balik wajah rapuhnya.
Beberapa menit kemudian, di dalam ruang kerja yang kedap suara.
Pintu tertutup rapat. Ceisya berjalan dengan santai, tanpa beban. Ia tidak menunggu dipersilakan, melainkan langsung menarik kursi dan duduk dengan posisi yang sangat rileks.
“Jadi?” ucap Ceisya ringan, memecah keheningan. “Mau tanya-tanya soal insiden tangga, atau cuma mau mengagumi wajahku dari dekat, Tuan Penguasa?”
Kaelthas berdiri tegak di depan meja besar, menatap Ceisya seolah sedang membedah sebuah teka-teki rumit. “Kamu berbeda. Sangat berbeda dari laporan yang aku terima.”
Ceisya terkekeh, ia menyandarkan punggungnya ke kursi empuk itu. “Ya, aku juga baru sadar kalau aku memang sekeren itu. Berarti informasimu sampah, Tuan. Lain kali, pecat saja informanmu.”
Hening sejenak. Keberanian Ceisya benar-benar di luar nalar Kaelthas.
“Informasi tentangmu mengatakan kamu mendorong Clarisse karena cemburu padaku,” lanjut Kaelthas dengan nada dingin yang mengancam.
“Kalau aku bilang tidak?” balas Ceisya cepat, matanya menatap balik tanpa ada keraguan sedikit pun.
Kaelthas melangkah mendekat, memberikan tekanan aura yang luar biasa. “Aku pria logistik dan ekonomi. Aku tidak tertarik pada kata-kata atau air mata. Aku hanya percaya pada data dan fakta.”
Ceisya tersenyum lebih lebar, ia bangkit dari duduknya. “Bagus. Kita punya pemikiran yang sama. Aku juga paling benci drama yang nggak ada datanya.”
Tanpa permisi, Ceisya berjalan ke arah meja kerja yang ada di sana. Ia melihat sebuah laptop high-end milik keluarga Valenor. Dengan gerakan cepat yang terlatih—hasil dari seringnya ia mengutak-atik komputer di kantor pesantren dulu—jemari Ceisya menari di atas keyboard.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Kaelthas, ia sedikit terkejut melihat kecepatan tangan gadis itu.
“Membuktikan sesuatu. Karena kamu bilang kamu suka fakta, kan?” jawab Ceisya santai.
Dalam hitungan detik, Ceisya berhasil menembus sistem keamanan mansion Valenor yang sebenarnya cukup rumit. Layar laptop itu berkedip, menampilkan puluhan jendela rekaman CCTV.
Kaelthas menyipitkan mata. “Kamu meretas sistem keamanan rumahmu sendiri?”
“Anggap saja aku punya hobi aneh.” jawab Ceisya tanpa menoleh. Ia mengklik salah satu file rekaman dari hari kejadian. “Nah, lihat ini baik-baik, Tuan Virelion. Jangan sampai berkedip.”
Video mulai diputar. Di layar terlihat area tangga besar. Clarisse berdiri di sana, sementara Ceisyra (tubuh lama) berdiri agak jauh darinya, sedang beradu mulut. Namun, perhatikan baik-baik saat Ceisyra hendak berbalik pergi.
Clarisse justru mundur sendiri. Kakinya bergerak seolah sengaja kehilangan keseimbangan. Ia menjatuhkan dirinya ke arah belakang dengan posisi yang sangat terkontrol—posisi yang memastikan dia tidak akan terluka parah, tapi akan terlihat sangat mengenaskan. Itu adalah akting yang sempurna.
Ruangan itu mendadak sunyi sesunyi kuburan.
Ceisya bersandar santai di pinggir meja, melipat tangannya di dada sambil menatap layar yang menunjukkan Clarisse yang sedang menangis di bawah tangga. “Nah,” gumam Ceisya pelan. “Kalau aku yang mendorong, secara hukum fisika, dia harusnya jatuh ke depan, bukan ke belakang dengan gaya seestetik itu. Jadi... kamu masih mau percaya drama air mata atau rekaman digital ini?”
Kaelthas tidak menjawab. Tatapannya berpindah dari layar laptop ke wajah Ceisya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ada sesuatu yang berkilat di mata Kaelthas. Bukan kebencian, bukan kebosanan.
Tapi rasa tertarik yang sangat berbahaya.
“Berani sekali,” gumam Kaelthas rendah.
Ceisya tersenyum tipis. “Selalu. Buat apa takut kalau benar? Di pesantren, aku diajari untuk jujur meskipun pahit.”
Tiba-tiba— BRAK!
Pintu ruang kerja terbuka dengan keras. Bastian, Clara, dan Clarisse masuk dengan wajah panik.
"Mereka rupanya tidak tahan menunggu di luar." gumam Ceisya
“Ceisyra! Apa yang kamu lakukan?! Jangan mengganggu Tuan Kaelthas dengan kegilaanmu!” bentak ayahnya.
Ceisya tidak panik. Ia hanya menunjuk ke arah layar laptop dengan dagunya. “Aku cuma lagi memperlihatkan film pendek yang menarik, Ayah. Judulnya: Malaikat yang Pandai Melompat.”
Clarisse menatap layar. Wajahnya yang semula pucat sedih langsung berubah menjadi pucat pasi ketakutan. Untuk sesaat, topeng lembutnya retak seribu. Ia gemetar, menyadari rahasianya terbongkar di depan pria yang ingin ia miliki.
Kaelthas masih berdiri diam, namun tatapannya kini hanya tertuju pada Ceisya. Seolah-olah orang lain di ruangan itu hanyalah pajangan. Ia baru saja menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada jalur logistik mana pun di dunia.
Sesuatu yang... tidak akan pernah ia bayangkan.
kok kejam amat
menarik banget alurnya 😃
seperti biasa kutunggu cerita tamat dulu baru ku baca