Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.
Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.
Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Malam semakin larut ketika mobil hitam milik Harsa perlahan memasuki halaman rumah Pratama. Mesin dimatikan, namun pria itu tidak segera turun. Ia melirik jam tangan di pergelangan tangannya, pukul sebelas malam. Rasa lelah tergambar jelas di wajahnya setelah seharian bergelut dengan pekerjaan.
Saat hendak membuka pintu mobil, pandangannya tertuju pada jendela ruang tamu. Lampu masih menyala terang, menembus tirai tipis yang menutupi kaca. Harsa mengerutkan kening, firasatnya langsung mengatakan satu hal.
“Jangan bilang dia masih menungguku,” gumamnya dengan nada tidak suka.
Dengan langkah cepat dan sedikit tergesa, Harsa memasuki rumah. Suasana di dalam begitu sunyi, hanya suara detak jam yang terdengar jelas. Ketika ia melangkah ke ruang tamu, dugaannya terbukti.
Arsyi tertidur di sofa. Tubuh wanita itu sedikit meringkuk dengan selimut tipis yang menutupi sebagian tubuhnya. Di atas meja terdapat secangkir teh yang telah dingin, menandakan bahwa ia telah menunggu cukup lama. Wajahnya terlihat lelah, namun tetap memancarkan ketenangan.
Namun, alih-alih merasa tersentuh, rahang Harsa justru mengeras. Kemarahan perlahan memenuhi dadanya. Ia merasa bahwa Arsyi telah mengabaikan batasan yang dengan jelas ia tetapkan.
Dengan langkah tegas, Harsa mendekat dan menepuk bahu Arsyi dengan cukup keras.
“Arsyi, bangun!” ucapnya dengan nada dingin namun tajam.
Arsyi tersentak kaget. Matanya terbuka perlahan, mencoba menyesuaikan diri dengan keadaan di sekitarnya. Ketika melihat sosok Harsa di hadapannya, ia segera duduk tegak.
“Kak Harsa … Kakak sudah pulang?” tanyanya dengan suara serak karena baru terbangun.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Harsa tanpa basa-basi.
Arsyi tampak kebingungan. “Saya … menunggu Kak Harsa pulang.”
Jawaban itu justru semakin memancing emosi Harsa. Ia menghela napas kasar sebelum berkata dengan nada yang lebih tinggi.
“Aku sudah bilang, kamu tidak perlu menungguku!” tegasnya.
Arsyi terdiam, terkejut dengan reaksi tersebut. “Saya hanya ingin memastikan Kak Harsa pulang dengan selamat,” jawabnya pelan.
Namun, Harsa menggeleng dengan kesal. “Aku tidak membutuhkan itu. Ada pelayan di rumah ini, dan aku sudah terbiasa mengurus semuanya sendiri. Kamu tidak perlu melakukan hal-hal seperti ini.”
Arsyi menunduk, jemarinya saling menggenggam untuk menahan kegugupan. “Saya hanya ingin menjalankan peran saya sebagai istri…”
“Cukup!” potong Harsa dengan tegas.
Suasana ruang tamu seketika menjadi sangat tegang.
“Aku tidak ingin kamu salah paham tentang pernikahan ini,” lanjutnya dengan nada dingin. “Jangan melakukan hal-hal yang membuatmu berharap lebih. Pernikahan ini terjadi bukan karena keinginanku.”
Kata-kata itu terasa seperti pisau yang kembali mengiris hati Arsyi. Ia sudah mengetahui kenyataan tersebut, namun mendengarnya berulang kali tetap saja menyakitkan.
“Saya tidak berharap apa-apa, Kak,” ucap Arsyi dengan suara bergetar, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang.
Harsa menghela napas panjang, mencoba meredam emosinya, namun tetap mempertahankan sikap tegas. “Bagus kalau begitu. Jadi mulai sekarang, berhentilah menungguku. Fokus saja pada Melodi. Itu sudah lebih dari cukup.”
Arsyi hanya mampu mengangguk pelan. “Baik, Kak. Maaf jika saya membuat Kak Harsa tidak nyaman.”
Harsa tidak memberikan tanggapan lebih lanjut. Ia hanya menatap Arsyi sejenak, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan menuju tangga tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi.
Suara langkah kakinya yang menjauh meninggalkan gema kesunyian di ruang tamu.
Arsyi tetap duduk di sofa, tubuhnya terasa lemas. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh perlahan membasahi pipinya. Ia menatap secangkir teh dingin di atas meja, simbol dari penantiannya yang tidak diharapkan.
Dengan tangan gemetar, ia berbisik pelan kepada dirinya sendiri, “Aku hanya ingin melakukan yang terbaik…”
Setelah beberapa saat, Arsyi bangkit dan mematikan lampu ruang tamu. Langkahnya terasa berat saat berjalan menuju kamar, membawa luka yang kembali tergores oleh kata-kata suaminya.
Sementara itu, di lantai atas, Harsa bersandar di balik pintu kamarnya yang telah tertutup. Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan gejolak emosinya. Di balik kemarahannya, tersimpan perasaan bersalah yang enggan ia akui. Namun, bayang-bayang Nadin masih terlalu kuat untuk ia lepaskan.
Malam itu, jarak di antara Harsa dan Arsyi kembali terasa semakin lebar, dipenuhi oleh kesalahpahaman, luka, dan perasaan yang belum menemukan tempatnya.
caramu sungguh busuk, Ran
kalo sampe kena berarti oblod sih 😂😂