Syahira tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Dipaksa masuk sebuah Kampus yang menjurus segalanya tentang agama yang diyakininya. ia mengikuti satu keyakinan mengikuti ayahnya. Ia harus menghadapi dunia yang sama sekali asing baginya. Hafalan panjang, kitab tebal dan Dosen,..yang tidak memberi ruang untuk gagal. Masalahnya bukan itu,..melainkan yang menjadi faktor utama adalah ada pada sang Dosen itu sendiri yang mengajarnya yaitu Abang iparnya sendiri. Ditengah tekanan yang terus menumpuk, kedekatan yang tidak seharusnya,..justru malah tumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka lupa ada seseorang yang sudah lebih dulu menyimpan luka.
Kakaknya yang bernama Feryal wanita tomboy satu ini yang terlihat kuat tapi sebenarnya ia begitu rapuh telah banyak menyimpan luka sejak dirinya masih kecil. dan ketika sebuah kebenaran akhirnya terkuak, pilihannya harus dibuat, bukan siapa yang paling dicintai melainkan siapa yang tetap dipilih, bahkan setelah semuanya hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
Pulang dari kampus sore itu, langkah Syahira terasa lebih lambat dari biasanya. Langit mulai berubah warna, jingga lembut yang menyapu di ufuk barat.
Sementara angin sore berhembus pelan seolah olah ikut menenangkan pikirannya yang masih sibuk mencerna akan banyak hal.yanh ia pikirkan selama ini.
Percakapannya dengan Bilal diruang dosen tadi terus terngiang terutama kalimat tentang hati yang terus terngiang, terutama kalimat tentang hati yang harus di pimpin, bukan dibuatkan memimpin tanpa arah.
Dan sesampainya dirumah, suasana terasa jauh lebih ramai dari biasanya
dari ruang tengah terdengar suara Feryal yang sedang berdebat ringan dengan Fahrizal. Bukan karena pertengkaran melainkan adu argumen yang dibumbui candaan.Syahira tersenyum kecil sebelum melangkah masuk.
"Abi ini kuno ah." protes Feryal sambil menyilangkan tangan di dada. "masa iya aku dilarang ikut komunitas akhir pekan cuma karena pulangnya malam sih?."
"Bukan gitu Fey, kamu itu kan masalahnya lagi tinggal sama Abi, apa kata suamimu nanti kalau sampai kamu sering keluyuran terus dan pulang larut. Kamu itu kan sudah menikah tidak baik perempuan bersuami seperti itu. Selama kamu ada dirumah Abi, Abi berhak kasih tau kamu, jangan sampai kamu kenapa napa nanti suamimu malah menyalahkan Abi kalau Abi terlalu memanjakan kamu hmm."
"Abi cuma pengen kamu pulang dengan aman.*
"Tapi Bi,..Fey bukan anak kecil."
"Justru kamu bukan anak kecil lagi harus lebih ekstra Abi kasih tau kamu, atau gini aja kamu izin aja sama suamimu,..karena walau gimana dia yang lebih berhak memutuskan kamu boleh atau tidaknya,..bukan Abi!." tegas Abi Fahrizal.
Syahira terkekeh pelan, kehadirannya itu langsung disadari keduanya. Feryal menoleh lebih dulu.
"Nah Ra,..coba kasih tau Abi dong kalau kakak kan udah cukup dewasa buat pulang malam."
Syahira meletakan tasnya, lali duduk disamping sang kakak, "enggak kak, aku kalau jadi Abi juga bakal khawatir, apalagi kakak masih suka ke tempat balapan, Abi sama aku yang bakal kena tegur Abang ipar kak, kalo kakak pulang sampai hampir pagi terus, dikira kita enggak suka kasih tau kakak selama disini."
"Enggak pokoknya enggak setuju aku, bener kata Abi." tegas Syahira. Dan Abi Fahrizal langsung mengacungkan jempolnya pada anak bungsunya itu.
Dan keduanya pun bertos ria. Sedangkan Feryal mendesah dramatis.
"Pengkhianatan dirumah sendiri, curang banget."
Fahrizal tertawa kecil, "Satu suara buat Abi wlee."
"Dua lawan satu mah mana adil bi," gerutu Feryal meski sudut bibirnya terangkat.
Suasana hangat seperti itu selalu menjadi hal yang Syahira syukuri. Ditengah segala kebingungan yang sedang ia hadapi, rumah tetap menjadi tempat paling aman untuk kembali.
Namun, ketika tawa perlahan mereda, pandangan Syahira tertuju pada Feryal. Ada sesuatu yang berbeda dari kakaknya akhir akhir ini. Di balik sikap santainya, tersimpan banyak hal yang belum terucap.
Feryal memang pandai menyembunyikan luka dibalik candaan.
"Kak, acara komunitas apa?" tanya Syahira. Feryal bersandar santai. " Diskusi lintas iman gitu Ra, temanya soal toleransi dan perjalanan menemukan keyakinan, baguskan temanya kakak tertarik banget."
Syahira terdiam sejenak begitu pula Fahrizal yang langsung menatap putri sulungnya dengan ekspresi yang sulit diartikan tidak ada penolakan disana, hanya kekhawatiran yang halus.
"Aku cuma ingin belajar lebih banyak, "lanjut Feryal kali ini nadanya lebih lembut. "bukan karena aku ragu. Justru karena aku ingin semakin yakin dengan pilihan yang sudah aku ambil."
Fahrizal mengangguk perlahan. "Kalau ini tujuanmu, Abi cuma bisa mendukung selama kamu masih bisa tetap menjaga dirimu."
"Terima kasih Bi." sahut Feryal dengan kedua netranya yang melembut. Syahira memandang kakaknya dengan rasa kagum, ia tahu perjalanan Feryal menuju keyakinannya bukanlah hal yang mudah, ada banyak pertanyaan bahkan banyak luka dan banyaknya pengorbanan yang harus dilalui. Tapi justru karena itulah keyakinan yang akhirnya dipilih Feryal terasa begitu kuat.
Dan malam itu Syahira menyadari akan satu hal bahwasanya setiap orang yang sedang berjuang dengan caranya masing masin. Ada yang berjuang dalam memahami hatinya tapi ada juga yang berjuang dalam mempertahankan keyakinannya juga dalam menerima masa lalu sambil tetap melangkah ke depan.
Fahrizal sedang duduk diteras dengan secangkir kopi ditangannya ketika Syahira tiba. Pria paruh baya itu pun menoleh, lalu tersenyum begitu melihat putrinya membuka pagar.
"Tumben jalannya lesu gitu Syara, biasanya kalau pulang dari kampus langkah kamu tuh cepet banget dari orang kayak dikejar debt collector" goda abi Fahrizal.
Syahira tersenyum kecil, "lagi menikmati sore aja kok Bi."
"Nikmatin sore apa nikmatin isi pikiran kamu sendiri Ra?," Syahira terkekeh pelan. Ia meletakkan tasnya di kursi teras, lalu duduk di samping ayahnya.
Untuk beberapa saat, keduanya hanya diam, menikmati semilir angin dan warna langit yang perlahan berubah semakin temaram. "Abi," panggil Syahira akhirnya.
"Hm?."
"Menurut Abi apa seseorang bisa merasa sekat dengan orang yang seharusnya menjaga jarak?"
Fahrizal menoleh, ia tidak langsung menjawab, sebaliknya, ia memandangi putrinya beberapa detik, seperti memastikan sesuatu apa yang sebenarnya sedang ia tanyakan.
"Bisa," jawabannya tenang, "namanya juga hati, kadang ia tumbuh tanpa meminta izin lebih dulu."
Syahira menunduk, dengan jemarinya yang saling bertaut, "kalau begitu, apa itu salah."
"Perasaannya belum tentu salah," ujar Fahrizal lembut. "Yang menentukan adalah bagaimana kita menyikapinya. Hati boleh merasakan, tapi akal dan iman tetap harus memimpin."
Syahira terdiam, jawaban itu terasa sangat sederhana, tetapi begitu tepat mengenai kegelisahannya.
"Jadi, bukan tentang mengingkari atas ala yang kamu rasakan," lanjut Fahrizal, "melainkan tentang bagaimana cara kita memastikan perasaan kita itu tidak akan membawa kita pada sebuah jal yang berkaitan dengan kekeliruan."
"Bisa dipahami penjelasan Abi?."
"Iya Bi," Syahira mengangguk pelan, dan di dalam hatinya seperti ada sesuatu yang perlahan menemukan sebuah bentuk, sebelum sepenuhnya jelas, tapi setidaknya tidak lagi seburam sebelumnya.
Di kejauhan, azan magrib mulai berkumandang, Fahrizal berdiri sambil menepuk bahu putrinya dengan lembut.
"Ayo, masuk. Kadang jawaban yang paling terbaik itu datang setelah kita mendekat kepadaNya.
Syahira pun tersenyum, "Iya Bi."
Dan sore itu, di tengah langit yang beranjak gelap, Syahira merasa satu hal: tidak semua kebingungan harus segera diselesaikan di hari itu juga.
Karena sejatinya beberapa di antaranya hanya perlu dijalani dengan sabar dan tawakal, sampai waktunya sendiri yang menjelaskan segalanya.
Dan ia berharap semua akan berjalan dengan baik tanpa harus ada yang terluka. Begitulah pikirnya, Syahira pun berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya yang berada dilantai dua bersebalahan dengan kamar Feryal kakaknya.
Ia pun menutup pintu kamarnya pelan lalu setelahnya menaruh tas dan bukunya ke atas meja belajarnya, dan berjalan menuju kasurnya merebahkan tubuhnya lebih dulu.