Satu gelas anggur dari orang tak dikenal mengubah hidup Poppy selamanya. Terjebak dalam konspirasi gelap di sebuah kelab malam, seniman tato ini terbangun di pelukan Vicky, seorang penguasa yang tak ia kenal.
Delapan bulan kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di bangsal rumah sakit dalam situasi yang memilukan. Di tengah duka kehilangan bayinya, Poppy justru menjadi penyelamat bagi anak Vicky dan Yayuk—istri Vicky yang tak berdaya karena harus menjalani kemoterapi. Poppy kini terjebak di antara kebencian pada pria yang merenggut kesuciannya dan ikatan batin dengan bayi yang ia susui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eouny Jeje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyiksa bayimu sendiri
Sesampainya di ruang menyusui, keheningan ruangan itu justru membuat rasa frustrasi Vicky makin membubung. Ia menimang bayi Ara dengan kaku. Kadang bayi itu tampak tenang dan tertidur sesaat karena goyangan tangan miliknya. Namun, tak lama kemudian bayi Ara akan kembali merengek gelisah. Bibir mungilnya terus bergerak-gerak, mengesek ke dada Vicky, seolah dengan putus asa mencari kehangatan dan aroma ujung payudara yang sempat ia kenali sebelumnya. Aroma milik Poppy.
Melihat kepanikan terselubung di wajah sang pilar emas, Suster Amelia memberanikan diri untuk bersuara, "Pak Vicky... dalam waktu dekat, beberapa ibu susu pengganti akan segera datang ke rumah sakit."
Vicky menghentikan langkahnya. Tatapannya menajam, mengunci Suster Amelia dengan aura dingin yang pekat.
"Aku tidak butuh mereka," desis Vicky rendah. "Aku hanya ingin Poppy."
Suster Amelia menelan ludah yang mendadak terasa menyumbat tenggorokan. Dengan tangan gemetar, ia memperlihatkan layar ponselnya yang menyerah. "T-tetapi... saya sama sekali tidak bisa menghubunginya lagi, Pak. Nomornya benar-benar sudah tidak aktif."
Vicky memejamkan matanya sejenak. Saat kelopak mata itu kembali terbuka, sorot hangatnya telah sirna, menyisakan tatapan nyalang yang begitu tajam. Ia menatap wajah mungil Bayi Ara yang memerah, lalu sebuah tawa konyol nan sarkas lolos dari bibirnya.
Sakha, kau tidak mengizinkan Poppy menyusui bayi Ara. Bukankah itu artinya kau sedang menyiksa bayimu sendiri? Jangan lupa, bayi ini adalah darah dagingmu dan Poppy.
Vicky merogoh saku dan mengambil ponselnya. Rencana awal yang melintas di otaknya adalah memerintahkan orang-orangnya untuk melacak keberadaan Poppy saat ini juga, lalu menculiknya hanya demi memuaskan rasa haus bayi ini. Namun, sebuah pemikiran licik mendadak memutar balik niatnya.
"Kau, kemari," panggil Vicky dingin.
Suster Amelia melangkah mendekat dengan sangat pelan. Aura di sekitar pria itu sudah berkali-kali lipat membeku, membuat nyalinya menciut.
"Ambil bayi ini," perintah Vicky datar.
Suster Amelia buru-buru menerima Bayi Ara ke dalam dekapannya. Vicky hanya melirik sekilas, seolah kehangatan yang ia tunjukkan pada bayi itu sebelumnya hanyalah sebuah sandiwara belaka.
"Kau tahu? Jika orang tua kandungnya sendiri saja tega menyiksanya, maka aku akan mendukung mereka. Kita biarkan saja," desis Vicky kejam.
Tangan Suster Amelia bergetar hebat mendengar ucapan itu. Namun, melihat kondisi Bayi Ara, rasa iba yang mendalam mengalahkan ketakutannya. "S-saya akan tetap mencoba mencari ibu susu pengganti malam ini, Pak..."
"Aku serahkan itu padamu," sahut Vicky acuh tak acuh. Ia meloloskan kedua tangannya ke dalam saku celana, lalu berbalik memunggungi sang suster. "Aku hanya ingin melihat, sejauh mana darah di dalam tubuh bayi itu mampu memanggil ibunya kembali."
Seolah mengerti sedang ditelantarkan, Bayi Ara tiba-tiba menangis sangat keras. Suaranya melengking frustrasi, melemah karena lemas dan rasa haus yang mulai mengintai energinya.
Deg!
Jantung Vicky mendadak berdetak kacau. Ada rasa sakit asing yang tiba-tiba meremas dadanya saat mendengar jeritan pilu itu. Langkah kakinya tertahan kaku. Ia menahan napas, mencoba menepis reaksi tubuhnya sendiri.
Aku bukan ayah biologisnya. Sakha saja tidak peduli. Jika bajingan itu senang menyiksa darah dagingnya sendiri, maka aku akan membiarkan siksaan itu datang dengan sendirinya.
Pikiran Vicky kian menggelap, namun kakinya terasa seberat timah untuk melangkah pergi. Ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela rumah sakit, menatap pekatnya langit malam yang kian larut. Seketika, rasa jijik bergejolak di dalam dadanya saat membayangkan apa yang sedang dilakukan Poppy dan Sakha di luar sana.
Kalian berdua bisa menikmati malam dengan tenang, sementara bayi kalian merengek kelaparan seperti orang gila di sini.
Vicky menatap kelam ke luar jendela. Tangannya mengepal begitu kuat di dalam saku celana, hingga urat-urat di punggung tangannya menegang. Seakan kini, justru hatinyalah yang terlempar dan jatuh ke dalam kobaran api neraka yang panas. Dada Vicky bergemuruh hebat hanya karena membayangkan skenario di otaknya: bagaimana jika saat ini Sakha tiba-tiba mengikis jarak dengan Poppy, mendekatkan wajah, lalu mencium dan melumat bibir wanita itu dengan penuh dominasi?
Rahang Vicky mengeras hingga giginya bergemertak saling beradu. "Apa yang sedang kau lumat, Sakha? Apa yang kau banggakan?" desisnya pada diri sendiri, mencoba mematikan rasa. "Poppy hanyalah wanita bekas banyak orang. Dia tidak berharga."
Menggunakan sisa-sisa harga dirinya, Vicky mencoba bersikap tenang. Ia melangkah menyusuri lorong rumah sakit yang sepi dengan gestur tegar, perlahan meninggalkan Bayi Ara yang suaranya kian samar di kejauhan. Vicky meyakinkan dirinya sendiri bahwa rasa sakit di dadanya tadi hanyalah sekadar geliat empati dan nurani sesaat karena mendengar tangisan bayi polos. Tidak lebih.
Namun, ironisnya, makin jauh jarak yang ia bentang dari Bayi Ara, makin tersiksa pula batinnya. Rasa bersalah dan sesak itu menggerogotinya pelan tapi pasti. Meski begitu, ego Vicky terlalu tinggi; ia tetap mengayunkan kaki, berpura-pura menganggap remeh rasa iba yang mengusik jiwanya.
"Yang pantas diketuk hatinya adalah kau, Sakha. Kau dan Poppy," gumam Vicky dengan senyum sinis yang dipaksakan di sudut bibirnya. "Dengar saja sendiri bagaimana bayi kalian menjerit bodoh karena kebiadaban orang tua kandungnya."
Vicky melangkah masuk ke dalam ruang rawat inap dengan raut wajah yang kembali datar, menyembunyikan semua badai di dalam kepalanya. Yayuk, yang awalnya berbaring lemas, segera terjaga dan menatap suaminya dengan tatapan penuh rasa ingin tahu yang cemas.
"Apakah Ara sudah tenang, Vicky?"
"Sudah," jawab Vicky singkat, berbohong demi menenangkan sang istri.
"Oh, syukurlah..." Yayuk mendesah lega, beban di pundaknya seolah terangkat.
"Lanjutkan tidurmu, sayang."
Vicky kemudian berjalan menuju sofa penunggu pasien. Ia merebahkan tubuhnya yang terasa kaku, lalu perlahan memejamkan mata. Namun, bayangan tentang bagaimana Bayi Ara tersiksa kelaparan terus saja menghantui kegelapan di balik kelopak matanya. Jeritan pilu itu seolah bergema di dinding dadanya, membuatnya sesak hingga ia tidak benar-benar bisa terlelap.
Vicky membuka matanya kembali. Ia menatap lurus ke arah jam dinding, memperhatikan bagaimana jarum-jarum itu berputar lambat, menandakan waktu yang kian larut.
Apakah Poppy akan kembali?
Deg!
Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Vicky, ia merasakan desakan yang begitu kuat untuk mengharapkan kehadiran wanita itu. Ego dan kebenciannya mendadak runtuh, setidaknya demi keselamatan Bayi Ara. Untuk pertama kalinya, ia menginginkan Poppy datang bukan sebagai mangsa, melainkan sebagai penyelamat bagi bayi kecil yang malang itu.
Poppy, bayi Ara membutuhkanmu... batin Vicky, suaranya parau di dalam hati yang sunyi. Ambil dia. Apakah kau sama sekali tidak punya rasa kasihan? Dia bisa saja mati tersiksa. Kau pikir , ia sekuat itu Poppy...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
rencana licik apa lagi yg dia susun coba
wis mboh lah mumet aq
sadar diri juga kali ya Anna
hadeh tp gmg2 Vicky ini terlalu tajam KLO Gomo g pengen tak tampol ja pke wajan
Vicky semakin nékad saja
tnpa Shaka tau mlh ketemu si gila
demi sebuah pertemua yg di kira g sengaja rupanya ada campur tangan dia
ohhh sunguh gila
bilang aja udah terpesona sampe bikin ulah vgila
akun q g bisa di pulihakn harus pke SIM-card sedangkan itu perlua ke gerai oprator seperti GraPARI gitu KK padahal jauh
kau akan menyesalinya wahai vicky gila
adihh kk jee piye iki