Menjadi istri pengganti tidaklah mudah, apalagi ketika kamu hanyalah wanita yang menggantikan posisi kakakmu sendiri.
Alih-alih mendapatkan kasih sayang dan cinta dari suaminya, Kinanti justru harus menerima perlakuan kasar yang terus-menerus menyakitinya.
Kinanti tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan menggantikan posisi sang kakak yang kabur bersama kekasihnya sehari sebelum akad nikah dengan pria bernama Yudha.
Demi keselamatan ayahnya dan masa depan kedua adik kembarnya, Kinanti terpaksa mengikhlaskan dan merelakan impiannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Pernikahan yang telah berlangsung selama delapan tahun tidak pernah memberinya kebahagiaan. Namun, Kinanti memilih untuk tetap bertahan, bersabar, dan ikhlas menjalani kehidupan rumah tangganya.
Hingga sebuah kecelakaan tak terduga menimpa suaminya, Yudha Manggala.
Sejak saat itu, kehidupan pernikahan mereka berubah seratus delapan puluh derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 9
Beberapa saat kemudian...
Kinanti membereskan dapur dan mencuci peralatan makan yang baru saja mereka gunakan. Tangannya sibuk membilas piring, tetapi pikirannya masih dipenuhi kejadian beberapa menit sebelumnya.
Namun, kedatangan Yudha ke dapur membuat tubuhnya seketika menegang.
“Mas Yudha kenapa ke dapur? Jangan ke sini, Mas. Tempatnya agak kotor dan berantakan,” ucap Kinanti tergesa-gesa. Dia bahkan berusaha menghalangi langkah suaminya agar tidak semakin mendekat.
Kinanti kembali teringat pada kebiasaan Yudha dahulu yang enggan menginjakkan kaki ke dapur.
Bagi Yudha, dapur adalah tempat yang membuatnya tidak nyaman. Bau bumbu yang menyengat selalu menjadi alasan baginya untuk memarahi Kinanti.
Dahulu, jangankan membantu mencuci piring atau sekadar menemani Kinanti memasak, melihat istrinya terlalu lama berada di dapur saja sudah cukup membuat emosinya tersulut.
“Kamu itu kalau masak kenapa seisi rumah harus penuh dengan bau bumbu, hah?!”
Bentakan Yudha masih begitu jelas dalam ingatan Kinanti.
“Aku paling nggak suka kalau jalan di sekitar dapur, tapi hidungku harus mencium bau bumbu yang menyengat seperti ini!” bentak Yudha sembari menutup hidungnya dengan jijik.
Bumbu dapur itu seakan-akan adalah bisa mencemari dan mengotori udara di sekitarnya.
“Kalau nggak bisa masak tanpa membuat rumah bau, lebih baik jangan masak sekalian!” hardiknya.
Saat itu Kinanti hanya bisa menundukkan kepala.
Dia tidak pernah berani membantah. Bahkan untuk sekadar mengatakan bahwa memasak adalah bagian dari tanggung jawabnya sebagai seorang istri pun dia tidak sanggup.
Sebab, sedikit saja Kinanti menjawab perkataan Yudha, amarah lelaki itu bisa semakin menjadi-jadi bahkan parahnya memukul istrinya.
“Nggak apa-apa, kok,” sahut Yudha santai.
“Aku malah senang melihatmu kalau sedang cuci piring.” ucapnya kemudian.
Yudha kemudian mendekat dan tanpa merasa jijik sedikit pun, dia membantu Kinanti menata piring-piring yang sudah bersih ke dalam lemari kabinet.
Kinanti terdiam.
Matanya mengikuti setiap gerakan Yudha.
Sikap lelaki itu benar-benar berbeda.
Dahulu, Yudha bahkan tidak peduli ketika Kinanti harus membereskan dapur seorang diri setelah memasak untuknya.
Pernah suatu malam Kinanti memasak berbagai makanan kesukaan Yudha. Dia bahkan menunggu suaminya pulang hingga larut malam hanya untuk memastikan makanan tersebut masih hangat ketika Yudha tiba.
Namun, bukannya mendapat ucapan terima kasih, Kinanti justru mendapat kemarahan.
“Kenapa rumah bau begini?” tanyanya dengan nada yang ketus.
“Aku sudah bilang berapa kali, aku nggak suka bau bumbu!” bentak Yudha lagi.
“Memangnya kamu nggak bisa berpikir sedikit? Aku pulang kerja ingin istirahat, bukan malah disambut bau masakan seperti ini!”
Kinanti hanya diam sambil menahan air mata.
Bahkan ketika air matanya jatuh, Yudha tidak pernah merasa bersalah.
Seolah-olah perasaan istrinya bukan sesuatu yang perlu dipedulikan.
Seolah-olah Kinanti tidak berhak merasa lelah, sedih, ataupun terluka.
Karena itulah, sejak kejadian tersebut, Kinanti selalu memasak ketika suaminya tidak berada di rumah.
Dia tidak ingin membuat Yudha terganggu dengan aroma masakan.
Dia terbiasa menyelesaikan semuanya seorang diri.
Memendam semua perkataan kasar.
Menelan semua perlakuan buruk.
Dan menangis diam-diam agar tidak ada seorang pun yang mengetahui betapa hancurnya hatinya.
Kini lelaki yang sama justru berdiri di sampingnya dan mengatakan bahwa dia senang melihat Kinanti mencuci piring.
Kinanti merasa asing.
Sangat asing.
Yudha yang dahulu begitu kasar dan tanpa hati nurani seolah telah menghilang.
Tetapi Kinanti tahu satu hal.
Lelaki yang sekarang berdiri di hadapannya bukanlah Yudha yang selama delapan tahun dia kenal.
Ingatan lelaki itu telah hilang.
Yudha yang sekarang tidak mengingat bagaimana dia pernah membentak istrinya, merendahkan Kinanti, bahkan membuat perempuan itu merasa tidak berharga sebagai seorang istri.
Kinanti tiba-tiba terdiam.
Ingatan tentang perkataan Yudha beberapa minggu lalu kembali berputar-putar di kepalanya.
“Kamu itu kalau masak kenapa seisi rumah penuh dengan bau bumbu!? Aku paling nggak suka kalau jalan di sekitar dapur, sedangkan dapur mengeluarkan bau bumbu yang menyengat hidung!”
Perkataan itu masih terngiang jelas di telinga Kinanti.
Yudha yang melihat Kinanti tiba-tiba bengong langsung mendekat.
Tanpa banyak berpikir, dia melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.
“Kenapa?” tanyanya lembut. “Apa ada yang salah dengan ucapanku?”
Kinanti terdiam ketika merasakan pelukan itu.
Tubuhnya kaku.
Dia tidak membalas pelukan tersebut.
Yudha bahkan sempat menghirup aroma lembut dari rambut Kinanti yang malam itu tidak mengenakan hijab.
Kebetulan Mang Dede dan Bibi Mina, asisten rumah tangga mereka, sedang mudik sehingga Kinanti merasa lebih bebas berada di rumah tanpa mengenakan hijab.
Namun, bukannya merasa nyaman, Kinanti justru perlahan melepaskan tangan Yudha dari pinggangnya.
Pelukan itu terasa asing.
Bahkan terlalu asing.
Di dalam hatinya, Kinanti merasa pelukan tersebut palsu.
Bukan karena Yudha benar-benar mencintainya.
Bukan karena lelaki itu tiba-tiba menyadari betapa berharganya dirinya.
Melainkan karena Yudha sedang kehilangan ingatan.
Kinanti takut ketika ingatan lelaki itu kembali, semua kelembutan ini akan lenyap.
Yudha akan kembali menjadi lelaki yang sama.
Lelaki yang mudah marah.
Lelaki yang tidak pernah berpikir dua kali sebelum melontarkan kata-kata yang menyakitkan.
Lelaki yang selama bertahun-tahun membuat Kinanti belajar untuk takut hanya dari suara langkah kakinya.
“Nggak apa-apa, kok, Mas,” jawab Kinanti pelan. “Mas ke kamar saja dan beristirahat. Pasti capek setelah seharian bekerja di kantor.”
Kinanti kembali mencuci tangannya, berusaha menghindari tatapan suaminya.
“Untuk pekerjaan rumah, insyaallah aku masih sanggup mengurusnya sendiri.”
Yudha menatap wajah istrinya dengan sorot mata yang sulit dijelaskan.
Ada kebingungan di sana.
Dia tidak mengerti mengapa perempuan yang seharusnya menjadi orang terdekatnya justru selalu menjaga jarak.
“Kalau begitu, aku tungguin kamu di atas.”
Yudha tersenyum.
“Aku kangen banget sama istriku yang nggak ada duanya ini.”
Kinanti hanya diam. Tidak ada senyum yang menyambut ucapan tersebut.
Yudha kemudian tertawa kecil, meskipun terdengar agak sumbang setelah melihat sikap dingin Kinanti.
Tanpa banyak bicara, dia meninggalkan Kinanti dan berjalan menuju lantai dua, tempat kamar mereka berada.
Kinanti hanya terdiam tanpa ekspresi.
Sikap dingin itu membuat Yudha semakin bertanya-tanya.
Apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya?
Mengapa Kinanti yang sekarang begitu berbeda?
Mengapa setiap kali dirinya mendekat, Kinanti justru menjauh?
Mengapa setiap kali dirinya mencoba menunjukkan kasih sayang, perempuan itu seolah takut untuk menerimanya?
Yudha ingin bertanya.
Namun, entah mengapa dia tidak berani mengutarakannya secara langsung.
Sesampainya di kamar, Yudha duduk di ujung ranjang.
Wajahnya terlihat lesu.
Pikirannya terus dipenuhi sikap Kinanti yang dingin dan cuek kepadanya.
“Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu, Kinanti?” gumamnya pelan.
Tanpa sengaja, tangannya menyenggol laci meja di samping ranjang hingga laci tersebut terbuka.
Yudha hendak menutupnya kembali.
Namun, matanya menangkap sebuah map yang tersimpan di dalam laci.
Keningnya berkerut.
Dia mengambil map tersebut dan membukanya.
Betapa terkejutnya Yudha ketika mengetahui isi map itu.
“Surat cerai...” cicitnya.
Seketika tubuhnya menegang.
Tangannya menggenggam map tersebut semakin erat.
Dadanya terasa sesak.
Ada rasa marah, sedih, kecewa, sekaligus takut yang bercampur menjadi satu.
Lebih mengejutkan lagi, surat tersebut sudah dibubuhi tanda tangan Kinanti.
Yudha mengepalkan tangannya.
“Jadi ini alasan kamu bersikap seperti itu kepadaku?”
Dia menatap surat tersebut dengan mata berkaca-kaca.
“Selama ini kamu ingin meninggalkanku?”
Rahang Yudha mengeras.
“Aku nggak akan mengizinkan kamu pergi, Kinanti.”
Napasnya terdengar berat.
“Aku nggak sudi bercerai denganmu!”
Yudha menundukkan kepalanya.
“Selamanya, hanya kamu wanita yang aku cintai. Hanya kamu yang ingin aku jadikan istriku.”
Namun, kalimat itu justru terasa menyakitkan bagi dirinya sendiri.
Sebab, jauh di dalam hatinya, ada pertanyaan yang tidak bisa dia jawab.
Kalau memang dia mencintai Kinanti sebesar itu, lalu mengapa istrinya sampai ingin meninggalkannya?
Apa yang sudah dia lakukan?
Kesalahan seperti apa yang pernah diperbuatnya hingga Kinanti memilih perceraian?
Yudha menarik napas panjang, berusaha menenangkan gejolak di dalam hatinya.
Dia tahu, kalau saat ini dia langsung menanyakan surat tersebut kepada Kinanti, mungkin istrinya akan semakin menjauh.
Dia tidak ingin membuat Kinanti semakin takut.
Karena itu, Yudha memutuskan untuk menyimpan rahasia tersebut.
Dia akan berpura-pura tidak pernah menemukan surat cerai itu.
“Kinanti Azzahra...” gumamnya dengan suara lirih.
“Aku akan berusaha membuatmu jatuh cinta kepadaku lagi.”
Yudha menatap kosong ke arah pintu kamar.
“Aku akan membuatmu percaya bahwa aku benar-benar ingin berubah.”
“Aku nggak akan memberimu alasan untuk meninggalkanku.”
Dia menggenggam surat cerai itu erat-erat.
“Kalau dulu aku pernah menyakitimu, kali ini aku akan membuatmu tahu seperti apa rasanya dicintai oleh suamimu sendiri.”
Malam semakin larut.
Seperti biasanya, Kinanti melakukan perawatan sebelum tidur.
Setelah selesai, dia masuk ke kamar dan hendak menarik selimut.
Namun, langkahnya terhenti.
Matanya langsung tertuju pada sebuah kotak beludru berwarna biru yang tergeletak rapi di atas bantal.
Di samping kotak itu terdapat secarik kertas.
Kinanti mengernyitkan keningnya, “Ini apa?”