IG & Tiktok : Tulisan_Nic
Naufal Adhitama (32), dokter anestesi yang hangat dan mudah bergaul, dikenal sebagai playboy karena sering dekat dengan banyak perempuan.
Meski begitu, ia percaya pernikahan harus berlandaskan cinta—bukan sekadar komitmen tanpa rasa.
Hingga ia bertemu Anin Ratri Maharani (27), perempuan dengan luka masa lalu dan trauma pada pria playboy akibat keluarga yang hancur.
Untuk pertama kalinya, Naufal ingin bertahan.
Namun saat cinta itu mulai tumbuh dan mereka ingin melangkah ke pernikahan, masa lalu dan rasa takut justru menjadi ujian terbesar.
Bisakah cinta mereka bertahan, atau justru hancur sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
"Kok nggak ada adegan jambak-jambakan tadi Sayang?"
Naufal merasa heran dengan sikap Anin yang terlihat biasa-biasa saja setelah kejadian bertemu Rachel tadi.
"Emang harus banget begitu?" Anin balik bertanya.
"Kamu nggak ada cemburu-cemburunya emang?"
"Ya cemburu, mana mungkin aku nggak cemburu. Tapi, mau sebesar apa cemburunya aku, emang bisa jadi jaminan buat kamu nggak selingkuh? Nggak kan? Kalo ada niatan selingkuh mah selingkuh aja, mau aku cemburu atau nggak, nggak akan ngubah niatan kamu. Jadi ya aku terserah kamu aja, dan aku tinggal kasih opsi sama kamu." terang Anin santai, bahkan sekarang ia mulai melihat-lihat etalase blazer di toko khusus busana wanita.
Naufal tersenyum, pemikiran yang cerdas dan masuk akal. Anin emang beda, dan dia semakin suka.
"Aku kira kamu bakal marah-marah, atau berantem gitu sama si Rachel tadi. Padahal kan seru tuh kalo sampe jambak-jambakan." ujar Naufal.
"Dih, ngapain? Situ oke?!" sindir Anin.
"Oke banget, tuh buktinya banyak yang tergila-gila sama aku." jawab Naufal dengan begitu pongahnya.
Anin menatap Naufal dengan malas, gimana mau menyangkal? Jika faktanya memang benar.
"Eh...sebentar sayang, tadi kamu bilang kamu kasih opsi sama aku. Emang apa opsinya?"
"Opsinya, biarin aku pergi dan jangan ganggu aku lagi." jawab Anin tegas.
Naufal tercekat, opsi yang di berikan Anin terdengar konsekuensi yang menyeramkan baginya.
"Ih nggak mau, orang aku dapetin kamunya susah, mana mungkin aku biarin kamu pergi gitu aja." timpal Naufal.
"Makanya jangan ganjen, dan coba-coba selingkuh!" ujar Anin sewot.
"Janji sayang, janji. Asal aku di kasih. Parkiran tadi sepi loh Yang." timpal Naufal dengan seringai di bibirnya.
Lantas Anin mendelik kesal, dan Naufal pun ciut melihat tatapan kekasihnya itu.
"An...Anin...ih sayang...sakit!"
"Brengsek! Bajingan! " Pekik Anin yang mengejutkan Naufal, ia juga meringis karna pukulan-pukulan tangan Anin di punggungnya.
"Aduh, iyaa...Sayang...iya maaf" Ujap Naufal sambil meringis menahan sakit.
"Kamu kira aku cewek gampangan? Aku udah cukup sabar buat nggak marah-marah soal si cewek bernama ecel-ecel itu tadi ya, tapi sekarang sikap kamu malah kayak setan!" Bentak Anin tanpa ampun.
"Yang tadi itu cuma becandaan sayang, nggak beneran. Kamu ih, tega sama pacar sendiri maennya fisik." keluh Naufal yang merasa pukulan Anin tadi memang benar-benar terasa sakit di punggungnya.
Anin pun mengepalkan tangannya kuat-kuat, lantas menghembuskan nafasnya perlahan-lahan. Kini ia mulai sedikit tenang.
"Becandaan, tapi kamu berharapnya aku mau kan?!" Bentak Anin, namun kini suaranya sedikit turun.
Lantas Naufal teringat seseorang, yang sama persis dengan Anin saat memarahinya.
"Sayang kamu kalo begitu, aku jadi inget seseorang. Dan kamu tuh sama persis sama dia." timpal Naufal.
"Aku nggak suka ya, kamu sama-samain sama mantan-mantan pacar atau FWB-an kamu itu." sergah Anin ketus.
"Nggak, bukan itu. Tapi kamu itu sama persis sama Albie. Beneran. Marah-marah nya kamu, terus cueknya kamu. Kok bisa ya, kamu itu jadi Albie versi cewek?" ujar Naufal heran.
Wajah Anin yang tadinya ketus, entah kenapa jadi tersenyum meski terlihat samar-samar. Tapi Naufal tetap menyadarinya.
"Kok kamu senyum pas aku bilang kamu mirip Albie? Atau jangan-jangan..."
Anin lantas kembali ke mode juteknya "Nggak, siapa yang senyum." sanggah nya cepat.
"Ih orang aku lihat, kamu senyum-senyum tadi. Wah...bibit pelakor nih. Kamu suka ya sama Albie?" tuduh Naufal dengan tatapan menyelidik.
Anin terkejut,
"Enak aja, nggak ada ya begitu. Mana mungkin aku suka sama Albie yang jelas-jelas dia mau menikah sama Qistina." timpal Anin, lantas ia membuang muka.
"Nah kan, itu apa tuh? Buang muka, mau nyembunyiinn perasaan kan? Sayang...sayang, kamu tuh padahal punya pacar cakepnya kaya aku, kok malah sukanya sama suaminya orang. Sama sekali nggak ekspect aku sama kamu." lagi-lagi Naufal berniat menggoda pacarnya. Naufal memang tengil anaknya, suka banget bikin kesal.
Anin pun spontan mendekat, lantas mencium pipi Naufal cepat. Hingga membuat Naufal terkejut dengan ciuman tiba-tiba yang di dapatnya. Spontan matanya membulat, kemudian senyuman lebar terlukis di wajahnya.
"Orang aku sukanya sama kamu" ujar Anin rendah.
"Ehm...pacar aku sudah mulai berani ya bikin aku salting. Gimana kalo aku bales kamu?" timpal Naufal dengan menaikkan kedua alisnya.
Seketika Anin menghindar, "Nggak, aku nggak mau!"
Naufal pun tertawa terbahak-bahak, bahagia sekali rasanya. Lantas ia mengeluarkan kartu AMEX dari dompetnya. "Aku balesnya pake ini, gimana? Kamu kan baru di angkat manager sayang, jadi kamu butuh baju baru buat kerja. Ya kan? Anggep aja ini hadiah buat kamu dari aku karna sudah bekerja keras sampe kamu di angkat jadi manajer." ujarnya.
Anin mana bisa menolak, memang sedari tadi ia juga kepikiran untuk membeli beberapa setelan blazer dan beberapa blouse untuknya mulai bekerja dengan jabatan yang baru di perolehnya. Ia pun mengangguk setuju.
Lantas langkah mereka berhenti di sebuah toko butik khusus busana wanita.
"Selamat datang, silahkan untuk melihat-lihat koleksi terbaru kami." sapa seorang karyawati di butik tersebut.
Anin memicingkan mata, kalau di lihat dari tampilan butik ini sudah di pastikan kalau harga-harga di sana sudah pasti mahal-mahal. Terlihat dari kualitas busana yang terpajang, memang bukan dari bahan yang asal-asalan.
Naufal melirik Anin sekilas, menyadari keragu-raguan kekasihnya itu. Lantas ia menarik tangan Anin, agar ia tidak perlu merasa begitu.
"Sayang, yang ini bagus." tunjuk Naufal, seraya mengambil sebuah blazer yang serasi dengan inernya.
"Iya Pak, ini adalah rancangan terbaru dari D'Chars." timpal karyawati itu.
"Oh...D'Chars ya, pantesan. Memang selalu keren sih rancangannya." imbuh Naufal.
"Emang D'Chars siapa? Kaya kenal aja." sela Anin.
"Ya kenal lah, ini tuh punyanya Kak Diana. Istrinya Bang Daniel, kakak sepupunya Albie. Nanti deh kita ke butiknya dia langsung. Nanti aku kenalin sama Kak Diana."
Anin mengangguk-angguk, 'O...jadi kerabat mereka sekaya ini juga ya...' batinnya.
Lantas mereka pun memilih beberapa setelan blazer yang di bantu oleh karyawati tersebut. Setelah di kira cukup, mereka pun menuju butik untuk mencari tujuan utama Naufal mengajak Anin belanja. Yaitu Couple set buat kondangan ke pernikahan Albie dan Qistina.
"Sayang, sebelah sini." tarik Naufal tiba-tiba.
"He...? Emangnya kenapa?"
"Nggak kenapa-napa, ke sini aja dulu."
"Apa sih, di sebelah sini kan area keperluan bayi. Ngapain kita ke sana?"
"Ih...nurut sama pacar sekali-sekali kenapa sih? Udah sini ikut aja."
Lantas Anin pun memutar bola matanya, instingnya bergerak lebih cepat.
"HTS-an kamu yang mana lagi yang kamu lihat?!" bentak Anin.
"Itu...sayang, bukan HTS-an tapi, mantan." ujar Naufal, nyengir.
Seketika Anin menginjak kaki Naufal, lantas berjalan cepat meninggalkan Naufal yang meringis kesakitan.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis🤍