Di tengah panas Kalimantan yang tak kunjung reda, Budi Santoso-seorang sales biasa di Palangkaraya menemukan kehidupan yang berubah drastis setelah sebuah “sistem” misterius muncul di kepalanya. Awalnya hanya alat untuk naik level dan bertahan hidup, sistem itu kini menjadi satu-satunya harapannya saat alam mulai bermutasi dengan kejam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Budi dan Rina jalan pelan di pinggir jalan tanpa ngomong sepatah kata pun. Suasana awkward banget setelah kejadian di pabrik tadi.
Setelah beberapa menit, Rina nggak tahan lagi. Dia berhenti, lirik Budi, “Kamu nggak punya apa-apa yang mau dibilang ke aku?”
Budi mikir sebentar, lalu jawab santai, “Ya, jaga diri baik-baik aja.”
Rina langsung kesel. Cowok ini emang selalu bisa bikin orang naik darah. Rina pengen banget jitak dia, tapi sayangnya nggak kuat.
“Terus?” Rina desak lagi, gigit bibir bawahnya. Kelihatan dia lagi pengen balas dendam.
Budi mulai kesal. Dia lirik Rina aneh, “Emangnya kamu pengen aku bilang apa?”
Rina menghela napas dalam hati. “Iya juga sih… mau bilang apa? Hubungan kita cuma temen serumah, atau paling cuma one night stand. Lagian bentar lagi berpisah, mungkin nggak bakal ketemu lagi. Ngapain diperpanjang?”
Mereka lanjut jalan diam-diam. Nggak ada yang buka suara lagi.
Cuaca makin dingin. Angin lembab bertiup kencang, bawa bau tanah basah. Tiba-tiba tetes air sebesar kacang jatuh ke kepala mereka. Nggak lama kemudian, hujan deras banget—kayak kucing sama anjing lagi ribut.
Budi langsung lepas kaosnya, tarik ke atas kepala Rina buat nutupin. “Cepet cari tempat berteduh. Hujannya gila.”
“Ada pabrik tua di depan situ,” Rina nunjuk sambil pegang kaos Budi di kepalanya. Dadanya hangat.
“Oke, ayo!”
Pabrik itu udah rusak parah, keliatan lama ditinggalin. Nggak ada papan nama, pintu geser listriknya berkarat dan terbuka lebar.
Mereka lari masuk. Tapi tetep aja basah kuyup sampe ke tulang.
Baju hijau muda Rina nempel ketat ke badan, nunjukin lekuk tubuhnya yang jelas dan menggoda.
Mungkin karena lagi di tempat sepi, atau karena mereka tahu mungkin ini terakhir kali ketemu, api nafsu langsung menyala ganas. Nggak jelas siapa yang mulai duluan, tapi tiba-tiba badan mereka udah saling tempel. Mereka ciuman dalam, napas tersengal-sengal. Kulit bergesekan, panas makin membara.
Badai di luar nutupin semua suara yang mereka keluarin.
Hujan pelan-pelan reda.
Rina meringkuk di dada Budi. Baju hijau mudanya udah berantakan total.
“Kita bakal ketemu lagi nggak?” Rina bisik pelan.
“Pasti!” Budi hibur, meski suaranya nggak yakin.
“Tapi beneran?” Dunia ini makin kacau tiap hari. Hewan mutan terus berevolusi, nggak ada yang bisa prediksi masa depan. Manusia mungkin menang pake teknologi canggih, tapi dunia bakal rusak parah dulu penuh asap dan kehancuran.
Pada akhirnya, semuanya cuma soal keberuntungan. Di masa kayak gini, orang cuma bisa bertahan dan berharap.
Begitu hujan berhenti, Budi berdiri. “Aku pergi.”
Rina lihat punggung Budi makin menjauh, jadi titik kecil di kejauhan. Air matanya nggak bisa ditahan lagi, netes pelan ke pipi.
Dia nggak ngerti kenapa. Cuma kenal sebentar, tapi Budi udah nancap dalam-dalam di hatinya. Mungkin karena Budi selalu ada pas dia sendirian dan takut. Atau karena rasa aman yang dia rasain deket dia. Atau mungkin cuma karena mereka sering terlibat secara fisik.
Perasaan itu kayak gunung berapi meledak hebat, panas membara, lalu tiba-tiba padam begitu Budi pergi.
Budi jalan ke jalan raya. Jalur bukit kayaknya udah dibuka lagi, udah ada beberapa mobil lewat.
Dia nunggu setengah jam sampe akhirnya dateng bus umum yang kosong. Dia naik, duduk di belakang.
Pas bus lewat tempat kejadian kemarin, dua bus mogok udah nggak ada. Cuma noda darah kering yang nunjukin pernah ada insiden di situ.
Muara Teweh masih sepi dan suram, nggak ada tanda-tanda pulih. Kepanikan masih merajalela di seluruh kota.
Budi berhasil beli tiket bus antar kota dan check-in pisau panjangnya. Dia balik badan, lihat kota terakhir kali, lalu naik bus tanpa ragu lagi, balik ke kota asalnya.
TPA di gerbang timur bau busuk banget, campur air limbah mengalir. Tempat itu penuh gubuk-gubuk reyot dan ruangan besi sederhana. Kontras banget sama gedung-gedung tinggi mewah di deket situ.
Ini kawasan kumuh kota. Orang biasanya menghindar ke sini.
Tapi sekarang mulai hidup lagi.
Lima belas hari setelah Budi balik, kondisi kota nggak membaik malah makin parah. Tentara dan polisi sering patroli, kendaraan lapis baja kadang lewat.
Bensin dan solar udah diambil alih tentara. Selain mobil pemerintah atau militer, hampir nggak ada kendaraan sipil lagi di jalan.
Banyak usaha tutup gara-gara tagihan naik, bahan baku susah, transportasi macet, listrik sering mati. Orang-orang mulai cari nafkah sendiri. Daging dan makanan langka, harganya melambung. Banyak yang punya skill bertarung mulai gabung kelompok berburu.
TPA jadi kota dalam kota buat makhluk hidup yang kumpul. Buat mereka, ini gudang makanan tak terbatas. Pasti narik banyak kucing, anjing, tikus.
Tapi setelah beberapa kali razia tentara, hewan besar kayak anjing liar hampir hilang. Tinggal tikus-tikus kecil yang susah ditangkep.
Meski begitu, tetep bahaya. Tikus-tikus itu seukuran kucing biasa, agresif, dan pintar. Selalu muncul rame-rame. Satu gigitan bisa bikin lubang berdarah. Empat-lima ekor aja cukup bunuh orang dewasa kuat.
Makanya pemburu biasanya berburu rame tiga sampai lima orang, bahkan ada tim belasan orang. Jarang banget ada pemburu solo kayak Budi.
Dia pake sepatu bot tentara, celana jeans kasar, jaket tipis nutupin rompi antipeluru dari kulit ular. Pisau panjang di tangan kanan, dia jalan masuk ke TPA.
Budi sering ke sini, skill bertarungnya udah terkenal. Begitu dateng, banyak yang langsung ngelilingin.
“Saudara Budi, tolong kasih daging dong. Keluarga ku udah lama nggak makan daging, anak-anak ngidam banget. Satu kaki tikus aja cukup, aku bayar. Mau dua atau lima ratus juga oke,” seorang bapak paruh baya mukanya lesu bilang, maksa masuk ke lingkaran.
Karena ada permintaan, TPA jadi pasar ramai. Tiap hari banyak yang nunggu pemburu sukses buat jualan. Tapi jarang ada pemburu yang nerima pesenan sebelum berburu. Di seluruh TPA, cuma segelintir orang atau tim yang bisa gitu kebanyakan orang hebat, dan banyak yang bawa senjata.
Cara dapetin senjata udah jadi rahasia umum. Punya koneksi aja bisa dapet. Kebanyakan pistol, jarang yang lebih gede.
“Harga naik terus sekarang. Aku punya duit tapi nggak bisa beli apa-apa, buat apa?” cowok gemuk pake jas bilang sambil nyinyir. “Aku tuker makanan aja. Lima kilo makanan jadi satu kilo daging, aku tuker semua, tatap muka. Buka lebar!”
Orang-orang lihat, ada empat cowok kekar bawa senjata jaga lebih dari sepuluh karung makanan 50 kilo. Dua di antaranya bahkan bawa pistol di pinggang.
Ada yang kenal, nyengir, “Pak Zaki, kok nggak lanjutin perusahaan software-nya? Malah jualan makanan? Mundur banget ya?”
“Perusahaan software? Buat apa? Bisnis gede yang bisa kasih makanan kayak gini baru bisnis terbesar sekarang!” Zaki nggak peduli rahasia bisnisnya. Udah banyak pengusaha kayak gini. Tambah saingan juga nggak masalah. Lagian buka bisnis gini butuh modal dan koneksi.
Budi diam aja, lihat keramaian itu dari kejauhan. Dia tahu dunia ini udah berubah total. Dan dia harus bertahan, apa pun caranya.